
"Ih...apa sih Ko? Memang aku masih bocah pakai acara ngemil segala?" Aku sewot kembali sehingga yang tadinya aku terbawa perasaan melihat Niko memeluk sikembar, sekarang aku malah jadi lupa dan kembali kesal oleh ulah Niko.
"Badanmu itu kan sekarang rada kurusan, jangan sampai nanti orang di luaran sana mengatakan kamu tidak diberi cemilan." Niko mengoreksi perkataannya tapi tetap saja ada nada olokan terselip di setiap kata-katanya.
Jika bukan iparku aja, sudah kulempar Niko pakai sandal. Sekarang sudah ketahuan sifat asli Niko yang usil, suka menggoda, suka mengganggu walaupun dia juga tipe orang yang perhatian dan penyayang.
*
*
"Riko...aku bosan di rumah terus, aku pengen jalan-jalan!!" Alena merengek pada Riko karena sebulanan ini dia tidak diperbolehkan Riko untuk pergi kemanapun semenjak ketahuan Alena ngelayap ngga pulang-pulang tempo hari.
"Kamu mau pergi kemana lagi Alena?" Riko bicara tapi matanya tak lepas dari laptop yang ada di depannya.
Riko adalah seorang pengacara muda yang sukses, ganteng dan mapan. Wanita mana yang tidak akan terpesona oleh ketampanan berondong muda itu termasuk Alena.
Hanya sayang cukup kejadian malam itu Riko berhubungan dengannya, bahkan sekarang digodapun Riko tak mau lagi karena dia bilang saat itu dia melakukannya karena khilaf.
Tentu bagi Alena tak masalah yang terpenting uang dari Riko selalu lancar dan soal urusan kepuasan, dia bisa mencari di luar sana.
Sebenarnya incaran Alena adalah menggoda Niko yang notabene sangat mirip dengan Miko, laki-laki yang mampu membuatnya tergila-gila.
Tapi Niko sama keras kepalanya dengan Miko bahkan lebih keras lagi watak dan perangainya.
"Jika dulu aku tak bisa mendapatkan Miko, maka kini Niko harus kudapatkan." Begitulah tekad Alena.
"Memang kamu mau pergi kemana Alena?" Tanya Riko lalu menatap Alena.
"Aku mau pergi ke mall mau cuci mata...bosan di rumah terus." Jawab Alena.
"Okelah aku akan menemanimu, aku juga akan ke supermarket membeli kebutuhan bulanan!!" Kata Riko lagi.
"Bersiaplah...kita akan berangkat sekalian makan di luar mumpung hari ini aku free." Riko menutup laptopnya dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.
Mereka menuju mall yang ada supermarketnya sekalian. Alena pergi melihat-lihat dan berbelanja di mall sementara Riko pergi ke supermarket yang letaknya memang berdekatan.
Brak....
__ADS_1
Riko bertabrakan dengan seseorang saat akan mengambil kereta belanjaan.
"Maaf!!" Riko mengulurkan tangannya untuk menolong seorang wanita yang tadi sempat terjatuh saat ditabraknya.
"Tidak apa-apa...saya yang salah karena tadi kepala saya mendadak sakit jadi saya sedikit lengah."
"Hidung mba nya berdarah...mba mimisan ya?" Riko memperhatikan wanita yang di tabraknya tadi, juga memperhatikan hidungnya yang mengeluarkan darah.
""Mimisan? Saya tidak mimisan!!' Wanita itu seketika tampak panik apalagi saat Riko memberikan tisue padanya.
Riko menatap lekat-lekat wajah ayu yang ada di hadapannya.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini, tapi di mana ya?? Tahi lalat di pipi dan di dagu??" Riko membatin.
Dia berkali-kali mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
"Apakah mba sakit?" Kata Riko.
Dua mata mereka bertemu lalu mata wanita ayu itu turun memandang kalung perak yang berliontin bentuk love di leher Riko.
"Kalung itu? Aku pernah membelikannya dulu untuk seseorang tapi apa mungkin itu dia?" Batin wanita itu.
Ternyata wanita itu adalah Sania. Niko tadi menyuruhnya menunggu sebentar tidak usah ikut berkeliling untuk berbelanja karena Sania mengeluh kepalanya sedang pusing.
"Maaf mas...tadi saya dan mba nya bertabrakan di dekat pintu, karena hidungnya mengeluarkan darah sepertl mimisan jadi kita duduk sebentar di sini." Riko menjelaskan.
"Nia...sejak kapan kamu mimisan seperti ini? Tanya Niko sambil menegakan badanku dan mencondongkannya sedikit kedepan. Dicubitnya dua lubang hidungku kurang lebih lima menitan agar darahnya berhenti.
"Aku tidak ingat Ko, kayaknya baru dua tiga bulan ini deh!!" Jawabku.
"Oh iya, terima kasih sudah menolong ipar saya ya..." Niko mengajakku berdiri dan berlalu setelah darah di hidungku berhenti mengalir.
"Terima kasih ya sudah menolong, saya permisi dulu!!" Kataku.
"Ko, sepertinya aku pernah melihat pemuda yang tadi tapi di mana ya? Aku kok lupa!!" Aku kembali mencoba mengingatnya.
"Sudah lupakan saja, ada aku di sebelahmu masih membicarakan laki-laki lain, tolong hargai perasaanku." Aku diam menimbang ucapan Niko, kulirik dia untuk melihat dia sedang serius atau bercanda, tapi tak ada tanda-tanda mimik bercanda di raut wajahnya.
__ADS_1
"Aku seperti familiar dengan wajah itu, sepertinya aku sangat dekat dengannya, dia...oh...dia kan tante Sania..."
"Laki-laki tadi menyebut namanya Nia, bodohnya aku...sekian tahun kucari setelah bertemu malah kuabaikan begitu saja...sekarang aku harus mencarinya kemana lagi?" Riko tampak menampar-nampar pipinya sendiri menyesali kebodohannya.
"Apa yang mau dibeli sudah lengkap semua, Ko?" Aku meneliti semua belanjaannya sebelum di masukan ke bagasi mobil.
"Sepertinya sudah sesuai dengan catatan yang kamu berikan." Niko memasukan barang belanjaan ke mobil.
"Maaf ya Ko, gara-gara tadi kepalaku pusing jadi kamu yang berbelanja semuanya." Aku menatapnya.
"Sudah...jangan terlalu dipikirkan!!" Niko mengelus kepalaku pelan.
"Kita bawa barang belanjaan pulang dulu baru ke kios, ayah pasti kerepotan mengasuh si kembar yang selalu aktif dan banyak bertanya.
Niko membukakan pintu mobil dan memalang telapak tangannya di atas pintu supaya kepalaku tidak terjeduk saat masuk ke dalam mobil.
Tanpa kami sadari ada dua pasang mata dari dua tempat yang berbeda sedang mengawasi kami. Yang satu menatap dengan perasaan sedih dan yang satu menatap dengan penuh kebencian dan amarah.
Sofwan yang siang itu sedang makan siang di restoran di dekat mall secara tak sengaja melihat kebersamaanku dan Niko.
Dari cara Niko memperlakukanku dan segala kelembutannya membuat Sofwan merasa perih jauh di dalam hatinya.
"Niko, andai kamu tau bahwa aku masih sangat mencintai wanitaku itu...bertahun-tahun berlalu tak pernah mampu mengikis sedikitpun perasaan cintaku padanya."
"Dan kau dengan seenaknya mau mengambil dia dari hatiku, cukup Miko saja jangan kamu juga ikut-ikutan mencintainya." Sofwan menghela napas. Perutnya yang tadi lapar mendadak terasa kenyang.
Dan dari sisi yang lain, Alena juga melihat kebersamaan kami.
"Dasar wanita ga*tal...semua laki-laki mau diclaim menjadi miliknya...apa sih keistimewaan kak Sania itu?"
"Dulu bang Mikoku yang telah kamu ambil, sekarang Niko juga mau kamu ambil? Oh...tidak bisa...kamu menggali kuburanmu sendiri kak Sania, aku Alena...aku tak akan pernah lagi membiarkan kamu mengambil orang yang ku suka." Alena menyeringai.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Happy reading๐๐ jangan lupa tinggalkan selalu jejak ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya!! Terima kasih๐๐๐๐