Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 230 Masih Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Apa kata bunda, tante??? mengapa bunda nampak sangat panik?" tanya Dina.


"Bapakmu, Dina...bapakmu kecelakaan di jalan tol sekarang tengah kritis di rumah sakit!!" kata kak Della juga ikut panik.


"Kenapa dengan bapak, tante?? bapak kecelakaan??" teriak Juned dan Syifa bersamaan.


"Bapak, dek!! bapak kita kecelakaan dan sekarang keadaannya sedang kritis."Jawab Dina.


"Bagaimanapun bencinya dia pada Sofwan karena terlalu sering menyakiti bundanya, tetapi biar bagaimanapun Sofwan tetap bapak mereka.


Dengan buru-buru mereka pulang kerumah dan Sania sudah berangkat dengan Hans kerumah sakit.


Hans melaju dengan cepat membelah jalanan membuat Sania berpegangan erat pada bahunya.


Tak sampai sepuluh menit mereka tiba di parkiran rumah sakit. Nia tidak langsung turun, tetapi mengatur napasnya terlebih dahulu.


Setelah itu mereka berdua menuju ke IGD untuk mencari Sofwan karena menurut suster Ayu, Sofwan belum dipindah kan dari ruang IGD ternyata Sofwan sudah di pindahkan ke ICU.


Sania terduduk lemas melihat keadaan mantan suaminya itu. Menurut dokter tadi Sofwan mengalami pendarahan di otaknya akibat kerasnya benturan saat kecelakaan tadi.


"Dokter, dengan siapa tadi pak Sofwan di dalam mobil? apa ada korban yang lainnya?" tanya Sania.


Dia takut yang dikatakan meninggal oleh suster ayu tadi adalah Aisyah


"Tadi korban bersama dengan seorang wanita, bu...mungkin istri korban!!" kata dokter yang menangani di IGD tadi.


"Istri?? apa mas Sofwan sudah menikah diam-diam?" ada sekelumit rasa sakit di hatinya. Entah mengapa mendengar Sofwan bersama dengan seorang wanita di mobilmya membuat hatinya sakit.


"Lalu bagaimana dengan keadaan wanita itu dokter??" tanya Sania.


"Wanita yang bersama dengan pak Sofwan langsung meninggal di tempat!"


"Apa saya bisa melihat wanita yang bersamanya itu dokter??" kata Sania.


"Ada di kamar jenazah, bu...tanyakan saja pada orang yang bertugas di sana!!" saran dokter itu.


"Ayo Hans...temani saya dulu ke kamar jenazah!!" lalu Sania menyeret tangan Hans menuju kesana.


Setelah bertanya pada petugas dan ditunjukan olehnya, Sania membuka kain penutup jenazah itu.


"Apa ibu kenal wanita ini?" tanya Hans sambil mengerenyitkan dahinya melihat luka melintang di kening dan bagian dada yang setengah melesak terkena benturan keras itu.


"Tidak Hans...saya tidak mengenalnya, barangkali dia memang istri mas Sofwan." Kata Sania.


"Berkali-kali menyakiti hati dan perasaanku, berkali-kali juga kumaafkan...apakah karena dia maka mas tidak jadi rujuk denganku waktu itu??" batin Sania berteriak dan tak terasa tetesan air mata lolos dari bening bola matanya.


"Sudah bu, ayo kita keluar!!" kata Hans sambil merangkul Sania takut tiba-tiba wanita itu jatuh pingsan lagi.


Sania dan Hans kembali ke ruang ICU. Keadaan Sofwan tetap sama dengan banyak alat bantu yang menunjangnya. Monitor terus berbunyi. Jika tidak mengingat bahwa Sofwan pernah mengisi hari-harinya selama bertahun-tahun, jika tidak mengingat Sofwan adalah bapak dari anak-anaknya, ingin sekali rasanya Sania memaki dan menyumpahi laki-laki laknat itu, hatinya teramat sakit, dia jadi seperti ini karena laki-laki yang terkapar tak berdaya di dalam ruang kaca itu.


"Siapa yang bernama Sania???" seorang suster keluar dari ruangan Sofwan dan berdiri di depan pintu.


"Saya suster!!" kataku dengan suar serak.


"Pasien berkali-kali mengigau memanggil nama Sania...ibu kah yang bernama Sania??" tanyanya.


"Iya Suster, saya yang bernama Sania!!" jawabku.


Akhirnya aku masuk ke dalam dan duduk di depan pembaringan Sofwan.

__ADS_1


"Ada apa mas mencariku??" kataku sambil menggenggam tangannya.


"Mau memamerkan istri baru mas Sofwan padaku??" dia sudah meninggal mas, tak usah kamu pamerkan lagi, mau menanyakan tentang dia padaku?? maaf aku tak tau apa-apa?? jika kamu ingin menyusulnya, maka susul lah aku juga sudah tak peduli padamu."


Rasa sakit yang menggumpal akhirnya meledak menjadi luapan emosi yang membuncah.


Dari sudut mata Sofwan yang masih terbaring koma tampak menetes air mata.


Rupanya telinganya masih merespon ucapan Sania walaupun matanya tertutup dan tubuhnya tak bergerak.


Karena tak sanggup berlama-lama di situ akhirnya Sania keluar sambil bahunya bergetar menahan tangisannya.


Hans menyambutnya di muka pintu membawanya duduk di kursi dan membiarkan wanita rapuh itu menangis dalam dekapannya.


Setelah perasaannya tenang, Hans melepaskan dekapannya lalu memberikannya sebotol air mineral.


"Saya ngga sanggup begini terus, Hans...saya lelah dengan semua ini!!" isaknya pilu.


Hans menatap wanita yang duduk di sampingnya dengan wajah yang masih bersimbah dengan air mata.


"Bu, yang kuat ya...saya selalu akan ada untuk ibu di saat ibu membutuhkan bantuan saya...seperti itukan dulu pak Sultan almarhum, bu?? selalu ada untuk ibu kapanpun dan di manapun."


"Terima kasih ya, Hans...!!" kata Sania.


"Aduhhh..."


Tiba-tiba Sania merintih merasakan sakit di kepalanya kambuh kembali.


"Bu..."


Hans melihat lelehan darah mengalir dari kedua hidung bangir itu, dengan cepat Hans menjepit hidung Sania dan sedikit mendongakan kepala Sania lalu dia membuka hodie yang dipakainya untuk mengelap darah yang sempat merembes.


Sania merasakan matanya berkunang-kunang, dia berusaha menjaga kesadarannya agar tidak sampai hilang, setelah darah tak lagi menetes, Hans merengkuh kepala itu dan menyenderkan ke bahunya.


Tak lama dengkuran halus terdengar dari wanita malang itu, dia tengah tertidur dalam posisi bersandar di bahu Hans.


"Bu...andai saja ibu belum menikah dengan Riko, andai saja Riko tak kembali lagi, apakah ibu akan mengijinkanku untuk bersama dengan ibu selamanya??" entah keberanian dari mana sehingga lelaki itu berkali-kali mengecup pucuk kepala Sania.


"Tapi untuk apa juga menikah jika harus berjauhan seperti sekarang ini, pisah hidup kagak...pisah mati juga kagak...kok seperti digantung tak ada kepastian." Geram Hans.


Tanpa mereka berdua sadari seseorang tengah mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada Riko di Kuala Lumpur.


Sialan!!!!"


Riko berteriak di kamarnya saat dia membuka galeri dan terpampanglah gambar Sania yang tengah dirangkul oleh Hans.


"Dasar wanita tidak bisa dipercaya...dan siapa laki-laki yang telah berani merangkul istriku itu??"


Riko benar-benar sangat marah. Tinjunya mengepal erat hingga urat-urat di tangannya tampak bertonjolan.


Dia segera menelpon pada orang si pengirim gambar itu yang tak lain adalah anak buahnya sendiri.


📱"Halo...di mana posisi mereka ini??


📱"Mereka sedang di rumah sakit, bos...kalau tak salah dengar tadi seseorang yang tengah di tunggu oleh istri bos dan laki-laki yang merangkulnya itu sedang sekarat di ruang ICU.


📱"Yang sedang di tunggu oleh istriku?? siapa??


📱"Kalau tidak salah tadi namanya Sofwan Prayoga...dia sekarat, sementara wanita yang bersamanya di saat kecelakaan langsung meninggal di tempat kejadian.

__ADS_1


📱"Dia bersama dengan seorang wanita?? lalu siapa laki-laki uang berani lancang memeluk istriku ltu??


📱"Dia adalah salah satu karyawan di kafe ibu Sania, bos!! dia tadi yang menolong ibu Sania.


📱"Ya sudah...kabari aku terus perkembangannya...aku tak ingin terjadi hal-hal yang tal diinginkan pada istriku.


Kemarahan Riko sedikit berkurang saat mendengar kronologi kejadiannya dari anak buah yang dia tugaskan untuk menjaga dan melindungi anak dan istrinya.


"Mungkin lusa papah akan balik lagi ke Indonesia, mah...bersabarlah menunggu papah kembali."


"Sofwan, anggaplah itu semua karma dari perbuatanmu di masa lalu pada wanitaku itu!!"


Senyum mengerikan Riko terpatri di wajahnya. Sedikit banyak dia tau cerita masa lalu Sofwan dan Sania, betapa menderitanya wanita yang di kasihinya itu akibat perbuatan Sofwan dan keluarganya.


"Maafkan papah ya mah...tadi sempat suudzon pada mamah...papah percaya mamah tak akan selingkuhi papah." ucap Riko.


Tak lama Dina datang bersama Juned naik motor. Kak Della tak bisa datang karena harus menjaga Raftar dan si kembar juga menemani Syifa yang terus menangis mendengar bapaknya kecelskaan.


"Bun...gimana perkembangan bapak?" tanya Dina sementara Juned mengintip ke dalam melalui riang kaca.


"Belum ada kemajuan, Dina...bagaimana dengan adik-adikmu?" tanya Sania sedih.


"Ngga usah khawatir bun, kan ada tante Della yang menjaga adik-adik." Kata Sania.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih bun?? dan Dina dengar tadi bapak bersama seorang wanita saat kecelakaan itu terjadi."


"Bunda tak tau siapa wanita itu yang jelas tadi dokter mengatakan bahwa wanitanya langsung meninggal di tempat kejadian.


Dina hanya geleng-geleng kepala antara kesal ada kasihanpun ada mendengar cerita Sania.


"Benar-benar tidak berubah sejak dulu selalu saja menyakiti hati bundaku!!" kata Dina.


Sementara di Yogyakarta...


Pak Irawan mertua Sofwan sangat terguncang mendengar kecelakaan tunggal yang terjadi pada menantunya itu.


Dua berniat ke Balikpapan untuk menjenguk Sofwan sekaligus menjenguk Aisyah.


Anggita ibu Aisyah mantan istri kedua Sofwan ingin ikut tetapi usia kandungannya dengan suaminya yang sekarang sudah tinggal menunggu hari saja.


"Besok ayah akan terbang ke balikpapan dengan penerbangan yang pertama dan akan langsung kerumah sakit yang tadi sudah diberi tau oleh baby sitter Aisyah di Balikpapan.


Sementara keluarga Sofwan juga sudah diberi tahukan tentang keadasn Sofwan yang sedang kritis di rumah sakit.


Juwita menelpon Anya dan memberitahukan untuk bersiap-siap agar besok pagi mereka langsung berangkat.


Nuri yang sedang berada di tempat keluarga dari suaminya almarhum pun sudah diberi tahu oleh Anya.


"Jangan sampai semua ini ada hubungannya denganmu Sania...jika kudengar semua kecelakaan ini ada hubungannya denganmu, awas saja...aku akan buat perhitungan denganmu!!" kata Nuri yang rupanya masih menyimpan dendam kesumat pada Sania.


"Dia begitu membenci mantan iparnya itu, entah mengapa setiap kali mengingat Sania, darahnya langsung mendidih kembali.


Dia selalu merasa ini semua terjadi karena kutukan yang menempel pada Sania.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akankah Sofwan sadar dari komanya atau kaj sebaliknya???


Ikuti terus kisah selanjutnya ya guys...semoga tak pernah bosan membaca novelku ini ya 🙏🙏


__ADS_2