
"Bun...jangan berdiri di situ nanti jatuh keair lho..."
"Ngga yah, bunda di pinggir aja kok."
"Ayah...lihat deh...diseberang sungai itu ada bunga yang bagus...bunda mau keseberang sana ya, yah!!"
"Lewat sini aja, nanti ayah antar keseberang."
"Oke yah..."
"Bun...awaaasss..."
"Ayaaahhh....tolongin bunda, yah...bunda ngga bisa berenang..."
"Aduh gimana ini, mana arus sungainya deras banget lagi..."
"Bertahan, bun...ayah akan segera menolong bunda...raih tangan ayah, bun!!!"
Sejengkal lagi aku bisa meraih tangan istriku, tiba-tiba ada gulungan air dari hulu sungai datang menghantam Sania.
Tangan yang hampir kuraih terlepas dan Sania hanyut terbawa derasnya air sungai.
"Bundddaa....jangan tinggalkan ayah sendirian di sini, bun..."
"Ngos...ngos..." Aku terbangun dari tidurku. " Astagfirullah...aku mimpi buruk sekali..."
Aku melihat istriku hanyut terbawa arus sungai yang deras. Aku duduk di tepi ranjang. Masih ada sisa-sisa air mataku saat aku menangis kehilangannya.
"Mimpi tadi seperti suatu pertanda untukku...Ya Allah, apapun yang terjadi, tolong jangan pisahkan kami berdua, aku terlalu mencintainya..."
Sementara akupun bermimpi yang sama, aku mimpi Miko hanyut terbawa arus sungai dan tak bisa kutemui lagi.
"Ayah...apa yang akan terjadi? Semoga ini hanya bunga tidur belaka."
Aku bangun dari tempat tidurku, jam masih menunjukan pukul 2 dini hari, dari pada aku merasa galau seperti ini, lebih baik aku bawa sholat saja.
Entah mengapa semenjak ayah berangkat ke Singapura tiga hari lalu, perasaanku selalu risau tak menentu. Setiap malam aku selalu bermimpi buruk.
Aku tak mau berpikiran buruk, tapi aku sungguh tak ingin pernikahanku yang kedua ini akan berakhir dengan tragis lagi.
Di sujudku aku bermohon dan berserah diri kepada yang Kuasa. Aku hanya manusia yang lemah yang tanpa perlindungan dan bimbinganNya, aku bukan apa-apa.
Hatiku terasa agak tenang, aku takut untuk melanjutkan tidur kembali. Kuambil Alquran dan membacanya sambil menunggu Azan subuh berkumandang.
__ADS_1
Aku tak tau berapa lama habis bermimpi buruk tadi lalu aku tertidur. Tiba-tiba Alena masuk kekamarku sambil menangis dan membangunkanku dengan paksa.
"Bang...wake up...wake up...hurry up, bang..."
Aku bangun sambil tergagap. " Ada apa, Alena? What's going on?"
"Ayah bang...ayah tadi mau bangun dari tidurnya, ayah mau minum...tapi tiba-tiba ayah jatuh tersungkur dan pingsan."
"Karena mendengar suara gelas pecah... Alena terbangun, bang!!"
"Untung malam ini Alena menjaga ayah di kamar...kalau ngga? Alena tidak tau lagi apa yang akan terjadi."
"Kita langsung bawa ke rumah sakit saja, Alena...abang takut terjadi apa-apa dengan paman."
Aku membasuh wajahku di kamar mandi lalu dengan cepat kusiapkan mobil. Kugendong paman Leon menuju mobil, kamu pangku kepala paman ya, abang menyetir di depan.
Alena tak hentinya menangis di dalam mobil, sementara paman belum sadarkan diri juga.
"Alena...kamu diamlah dan tenanglah, mendengarmu menangis abang tambah panik...nanti abang tak fokus bawa mobilnya."
Sampai di ruang ugd rumah sakit, paman di baringkan dan dengan cepat di tangani oleh dokter Evan yang juga adalah sahabatku di SMA dulu.
Dia menghela napas panjang. "Kalian telah terlambat!!! Pamanmu sudah meninggal kira-kira setengah jam yang lalu."
Aku menangis dalam diam, haruskah aku mengabulkan permintaan terakhir dari pamanku tiga hari yang lalu?
Kalau aku menolaknya dan mengabaikannya, alangkah tak tahu berterima kasihnya aku pada pamanku, atas semua yang telah beliau lakukan selama ini padaku.
*
*
Di pemakaman ini telah sepi, hanya tinggal aku dan Alena yang duduk di depan pusara pamanku yang masih basah.
Aku memeluk Alena yang masih menangis berusaha untuk tetap menenangkannya.
Semalaman aku tak bisa memicingkan mata barang sekejappun. Selain ikut bersama para pelayat yang lain di rumah ini untuk memandikan dan mengafani paman...aku juga terus berpikir pada permintaan terakhir pamanku.
"Ya, Allah...jika ini memang jalan yang terbaik...aku ikhlas menjalaninya. Aku sudah pasrah apapun yang akan terjadi nanti, akan aku terima berikut konsekuensinya.
"Alena...di depan pusara ayahmu yang juga sudah abang anggap sebagai ayah, abang janji untuk memenuhi permintaan terakhir paman untuk menikahimu."
Alena mendongakkan wajahnya menatapku. "Abang serius ingin menikahiku? Lalu bagaimana dengan kak Sania?"
__ADS_1
"Akan abang jelaskan pelan-pelan padanya, semoga dia bisa mengerti." Walau dalam hati sendiri aku tak yakin kalau Nia bisa menerima keputusan ini.
"kita akan menikah di Singapura sambil abang mencari penjaga rumah yang baru, dan abang harap setibanya di Indonesia nanti, kamu bisa bersikap sewajarnya."
"Abang tak ingin melukai hati dan perasaan istri abang, sambil berusaha mencari cara untuk membicarakan hal ini baik-baik."
Hatiku terlanjur membeku, tapi tak ada cara lain selain menikahi Alena dan membawanya pulang ke Indonesia.
"Mungkin Alena akan aku kontrakan dulu di tempat lain, agar tidak ada keributan dulu."
*
*
Kami menikah siri...dan mulai hari ini Alena telah resmi menjadi istri ke duaku. Sungguh suatu pernikahan yang sama sekali tak kuinginkan. Aku juga sudah dapat penjaga rumah yang baru sebagai pengganti paman Leon.
"Alena...dua hari lagi kita akan pulang ke Indonesia, tapi abang tak akan membawa Alena pulang ke rumah abang, ya...kita akan cari rumah kontrakan dulu di sana."
"Terserah abang saja, Alena ikut saja bang."
"Ya sudah, kamu istirahatlah di kamar...abang akan tidur di sofa ruang tamu saja."
Sementara itu di Indonesia...Bletak...pyar...!!!" aku kaget setengah mati saat foto pernikahan kami di dinding tiba-tiba jatuh dan pecah berantakan.
"Ya Allah...pertanda buruk apa ini? kenapa bingkai foto ini bisa jatuh sendiri?"
"Kenapa kacanya retak hanya di wajah suamiku?"
"Ada apa bun? apa yang jatuh?" Dina keluar dari kamar saat mendengar benda terbanting dan pecah.
"Kok pigura ini bisa jatuh sendiri bun? Pakunya lepas kah? Mana kacanya pecah pas di bagian wajah ayah lagi...sampai remuk begini."
Aku mengumpulkan sisa-sisa pecahan kaca di lantai sementara Dina mengambil sapu dan serok di halaman belakang.
"Aduh...." Tanganku tertusuk remahan pecahan kaca dan mengeluarkan darah cukup banyak. Tampaknya luka di tanganku cukup dalam.
"Astaghfirullah bunda...sabar dulu, kenapa?? Dina kan masih ambil sapu di belakang...jadi luka gini kan?"
"Dina ambilkan kotak p3k dulu, ya...bersihkan dulu lukanya."
Perasaanku semakin tak menentu. Tanganku yang terluka, tapi kenapa hatiku yang terasa perih?
***Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan favoritnya...dukunglah terus agar author tetap semangat dalam berkarya...terima kasih🙏🙏🙏***