
"Nona....maukah kamu masuk dulu berteduh di dalam mobil boks saya sambil menunggu hujan reda? Nanti saya akan membantu untuk melihat kerusakan mobilmu."
Si cantik itu tampak ragu...mungkin dia takut kalau Jonathan itu bukan orang baik-baik!!
"Jangan takut, nona...saya bukan orang jahat!! Saya hanya kasihan melihatmu hujan-hujanan begini."
"Ayo...itu mobil boks saya!!"
Akhirnya gadis cantik itu mengikutiku masuk ke mobil.
"Ini..." Aku menyodorkan handuk bersih yang selalu kubawa.
"Keringkan wajah dan tubuhmu lalu tutup dengan jaketku ini."
"Tapi kamu punya tempat duduk jadinya basah!!" Dia ragu-ragu sejenak sambil menatapku dengan mata hazelnya.
"Tenang saja...tidak akan ditangkap polisi kok!!" Aku tersenyum menggodanya.
"Nama kamu siapa?" Dia bertanya padaku.
"Oh iya kenalkan, nama saya Jonathan Saputra..."Aku mengulurkan tanganku.
"Mira Maharani."
"Bahasa indonesiamu terbolak-balik...kamu lama di luar negeri ya!!" Tanyaku.
"Sepuluh tahun..." Jawabnya singkat.
Hatsi...hatsi....
Tiba-tiba Mira bersin-bersin mungkin kehujanan tadi.
"Waduh gawat, kamu flu apalagi dengan baju basah begini, sebaiknya kamu ikut saya ke kontrakan saja ya...kamu bisa pakai baju saya sementara dulu agar flumu tidak bertambah parah."
"Kontrakan?? Apa itu kontrakan??" Dia bingung.
"Home...my home..." Kataku ikut bingung, maklum bahasa inggrisku kacau balau juga.
Akhirnya dia menerima ajakanku. Apalagi kulihat tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
"Lalu saya punya mobil, bagaimana?"
"Kamu tenang saja Mira, nanti saya teleponkan bengkel untuk datang mengecek kondisi mobilmu, oke!!"
Akhirnya dia hanya mengangguk dan diam. Sesekali kulirik wajah cantik yang duduk di sebelahku ini.
"Nah itu rumah kontrakan saya...mari kita masuk!!" Ajakku sambil memayunginya agar tidak terkena hujan.
"Thank you Jona, "katanya."
Aku tersenyum geli mendengar dia memanggil potongan namaku.
Aku masuk ke kamar dan mengambilkan baju milikku.
__ADS_1
"Pakailah...aku menyodorkan kepadanya."
"Saya harua memakai ini??" Mira membolak-balikkan baju tersebut.
"Tapi ini baju laki-laki..."Katanya lagi.
"Ya iyalah baju laki-laki...sayakan tinggal sendiri dan belum punya istri...ehmmmm mungkin kamu mau menjadi istri saya?" Candaku.
Tapi aku tak menyangka kalau si cantik itu menanggapi candaanku dengan serius.
"Menjadi istrimu? Are you serious? Really?"
Kini ganti aku yang kelabakan sendiri. Masa iya gadis secantik bidadari ini mau menjadi istri pemuda miskin sepertiku?
"Kamu bohong...kamu tidak serius mengatakan itu!!" Katanya.
"Bukan begitu Mira, tapi saya ini hanya seorang pemuda miskin, kita berbeda bagaikan langit dan bumi."
"Jona orang baik dan jujur, saya suka dengan sifatmu itu."
"Ya tapi, mana mungkin orang tuamu mau menerima saya?" Kataku lagi.
"Ah sudahlah...sebaiknya kamu ganti pakaian basahmu dengan pakaian kering ini, saya akan membuatkan teh hangat dan mie rebus untukmu."
Aku bergegas ke dapur sekalian menghilangkan rasa gugupku. Jujur aku juga belum pernah pacaran, waktuku banyak kuhabiskan untuk bekerja dan di panti tempat aku di besarkan dulu.
"Aku mimpi apa semalam ya? Kok tiba-tiba ada bidadari cantik yang mau menerimaku sebagai suaminya?"
Aku membawa dua mangkuk mie rebus ke meja makan dan segelas teh hangat untuk Mira.
"Jangan takut, saya tak menaruh apapun dalam makanan dan minumanmu..." Aku langsung mengusir keraguan di matanya."
"Iya, saya percaya sama kamu!! Katanya. Lalu kami makan mie rebus itu dalam diam.
Aku sudah menelpon bengkel langgananku untuk mengecek mobil Mira.
"Mira, mobilmu sudah bagus lagi...kamu bisa pulang...mari saya antar ke mobilmu..."
Akhirnya aku mengantarkan dia ke tempat tadi mobilnya di tinggalkan.
"Kamu hati-hati ya Mira, langsung pulang..." Kataku.
"Jona...apakah kita bisa bertemu lagi nanti?" Dia menatapku sebelum masuk ke mobilnya.
"Jika kita memang di takdirkan untuk berjodoh, pasti kelak kita akan bertemu lagi."
Lalu aku menutup pintu mobilnya. Dan menunggu hingga mobilnya hilang dari pandangan mataku baru aku beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
*
*
"Apa? Are you crazy? Belum juga genap sebulan di Indonesia, kamu sudah kepincut dan minta nikah?"
__ADS_1
"Papi...Jonathan tidak seperti laki-laki lain yang pernah Mira temui...Jonathan orang baik papi..."
"Mira...kamu putri papi satu-satunya, kami ingin melihat kau bahagia sampai kakek nenek...bukan hanya kebahagiaan sesaat."
"Cinta tidak membuat perut kenyang, Mira...cam kan itu."
"Papi jahat..." Sambil menangis Mira lari ke kamarnya dan membanting pintu kamar sekeras-kerasnya.
"Lihat anakmu yang manja dan keras kepala itu, mi!! Ini akibat mami terlalu memanjakannya selama bertahun-tahun dia ada di New York."
"Kita memberikannya pendidikan tinggi agar bisa memimpin perusahaan, bukan untuk menikah dengan gembel yang tak jelas bibit, bebet dan bobotnya."
"Apa kata para kolega papi jika putri papi satu-satunya menikah dengan laki-laki yang tak jelas?"
Di dalam kamarnya Mira menangis karena kesal, jengkel bercampur sedih.
Selama ini dia tak pernah membantah apapun perkataan papinya, tapi ini masalah percintaannya...dia ingin bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri...bisa bebas untuk mencintai dan dicintai.
"Mi...besok keluarga pak Samuel akan berkunjung kemari, sekalian mengenalkan putra tunggalnya Alvino...tepatnya dokter Alvino Sarendra."
"Apa kita beri tahu dulu putri kita, pi?" Tanya sang istri.
"Lebih baik jangan dulu mi, Mira nanti malah membantah kita lagi."
"Kalau mami terserah baiknya papi aja gimana..."
Mereka tidak tau bahwa di balik pintu, Mira menguping semua pembicaraan mereka. Dadanya terasa sesak menahan tangis.
"Aku tidak mau dijodohkan...Aku hanya ingin menikah dengan Jonathan Saputra dan bukan denga Alvino Sarendra."
"Sebaiknya malam ini aku harus segera pergi dari rumah ini...aku harus pergi menemui Jonathan."
Dengan berbekal beberapa potong pakaian yang sengaja dimasukannya ke dalam tas kresek, jadi seolah-olah dia sedang menunggu truk sampah untuk membuang sampah.
Dengan mengendap-endap dia melewati pintu dapur. Dia mengintip keluar. Aman...sekuriti di rumahnya sedang menonton televisi di posnya dan pagar gerbang terbuka sedikit, cukup muat untuk tubuh mungilnya.
Di dalam kamarnya tadi dia sudah memesan ojek online. Tak lama dia berdiri di luar gerbang, ojek online pesanannya telah datang.
Buru-buru dia naik agar tak tetlihat dari dalam rumah.
*
*
Jonathan baru pulang sehabis mengantar pesanan barang.
"Haduh...hari turun hujan melulu akhir-akhir ini..."
"Syukurlah...gajiku bulan ini sudah keluar." Dia berjalan menerobos hujan dengan membawa dua kantong kresek untuk kebutuhan dapur.
"Kok seperti ada orang duduk di teras depan? Siapa ya? Bukan hantukan? Mana ini malam jumat lagi!!"
Perlahan Jonathan mendekati sosok yang duduk di samping pintu sambil memegang ke dua lututnya itu....
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa untuk memberi dukungannya ya guys!!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya. Terima kasih🙏🙏