
"Dulu bang Mikoku yang telah kamu ambil, sekarang Niko juga mau kamu ambil? Oh...tidak bisa...kamu menggali kuburanmu sendiri kak Sania, aku Alena...aku tak akan pernah lagi membiarkan kamu mengambil orang yang ku suka." Alena menyeringai.
"Kok kamu ada di sini? Ngga jadi belanjanya?" Riko tiba-tiba muncul di belakang Alena dan mengagetkannya.
"Sudah nih!!" Alena menunjukan dua paper bag yang di bawanya.
"Kamu sendiri sudah beli semua kebutuhan dapur?" Tanya Alena pada Riko.
"Belum semua sih, aku sudah ngga mood mau belanja...kita makan aja dulu yuk!!" Riko menuju ke kafe di tempat Sofwan juga sedang makan siang.
Mereka duduk tak jauh dari Sofwan duduk. Mata Alena yang sejak masuk ke kafe tadi bertubrukan pandang dengan Sofwan tak melepaskan tatapan memandang lelaki tampan itu.
Sofwan sendiri tak begitu peduli pada tatapan genit Alena padanya. Dia masih sibuk menikmati makan siangnya yang tertunda saat sedari tadi dia sibuk memperhatikan Niko dan Sania.
"Shiittt...dia sama sekali tak melirik sedikitpun padaku...apa aku kurang cantik dan sexy ya?" Batin Alena.
Tak lama Sofwan selesai makan dan segera berdiri dari duduknya. Saat melewati kursi yang di duduki Alena, Alena sempat melihat sekilas bed yang ada di kantong Sofwan.
"Sofwan P. Sekar Jaya Group....oke, suatu hari kita akan bertemu lagi ganteng!!" Alena menyeringai.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Al?" Riko menatap Alena.
"Aku sedang bahagia hari ini..." Jawab Alena.
"Ko...Riko...." Alena menepuk bahu laki-laki cinta satu malamnya itu.
"Kamu kenapa sih kok dari tadi kalau tidak melamun, kalau ngga selalu menarik napas panjang...seperti ada yang tengah kamu pikirkan? Sampai aku bertanyapun kamu tidak mendengarkannya!!" Alena menatap Riko yang tampak galau sambil mengaduk es jeruk di gelasnya.
"Aku kehilangan cintaku!!" Kata Riko pelan.
"What??? Kehilangan cinta? Player sepertimu?" Alena tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Aku bukan player Al, kejadian bersamamu itu adalah sebuah kesalahan...buktinya aku tak ingin mengulanginya lagi denganmu." Riko menjawab perkataan Alena.
"Tadi aku sudah menemuinya bahkan bertabrakan dengannya setelah belasan tahun aku tak lagi melihatnya, tapi entah kenapa otakku mendadak error sehingga aku tak bisa dengan cepat mengenalinya!! Setelah dia berlalu dan menghilang lagi, baru aku sadar bahwa dialah wanita yang kucari-cari selama ini." Riko kelihatan bertambah galau.
"Ya sudah, kamu berdoa saja semoga kalian bisa bertemu lagi!!" Alena menyemangatinya.
*
*
__ADS_1
Tak terasa 1000 hari kepergian Miko. Malam ini akan diadakan tahlilan di rumah besar keluarga.
"Bun, ayo kita turun...di bawah acara sudah hampir di mulai." Dina membuka pintu kamarku dan dilihatnya aku masih duduk di tepi pembaringan.
Bukannya aku tidak mau turun, tetapi tadi kepalaku terasa sangat pusing!! Dan darah itu mengalir keluar lagi dari hidungku.
Sudah beberapa bulan ini aku mengalami gejala seperti ini. Sebelum Miko meninggal aku juga pernah mengalaminya, tetapi jarang-jarang.
Sekarang aku malah sering mengalaminya, padahal dua hari lalu saat di mall aku mengalami gejala serupa, sekarang terjadi lagi.
Untung pada saat Dina masuk ke kamar, mimisanku sudah berhenti. Aku hanya duduk untuk menghilangkan sakit di kepalaku.
Aku ikut turun ke ruang tengah tempat tahlil mau dilaksanakan. Pak ustadz yang ditunggu juga sudah datang. Ketiga sahabatku sibuk di dapur, di sana juga sudah ada Sultan duduk di dekat Niko dan Jonathan.
Aku duduk di dekat pintu tengah bersama anak-anak, saat mataku menangkap sosok tamu membawa seorang anak perempuan.
"Bapak..." Teriak Juned lalu lari menyambut kedatangan Sofwan dan Aisyah.
"Dina? Siapa yang memberi tahu bapakmu jika hari ini ada tahlilan di rumah kita?" Tatapan mataku langsung menelisik padanya.
"Maaf bun, Dina yang menelpon bapak supaya datang!!" Dina menundukan wajahnya.
Aku hanya menghela napas mendengarnya. Sungguh sebenarnya aku tak ingin lagi berjumpa dengan mas Sofwan, cukup sudah karena semua tentangnya sudah berakhir.
Tes...tes
"Darah? Darah dari hidungku menetes lagi?" Darah menetes membasahi gamis biru lautku.
Sofwan dan Sultan kalah cepat dengan Niko yang segera berdiri dan menghampiriku.
"Kamu ngga apa-apa? Mimisanmu keluar lagi!! Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja." Niko menjepit hidungku agar darah itu berhenti.
"Dina, bawa bunda ke kamar nak...sepertinya bundamu ini kurang sehat!!" Niko segera menyuruh Dina membawaku kembali ke kamar.
"Aku ngga apa-apa Ko!! Aku duduk di sini saja sampai selesai." Ucapku pada Niko.
"Bun, jangan membantah...masuklah!! Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, beristirahatlah di kamar." Wajah Niko tampak serius sehingga membuatku tidak bisa membantah lagi
Walaupun hanya sesaat kejadian itu, tapi cukup membuat Sultan dan Sofwan tersayat hatinya. Kemesraan yang ditunjukan oleh Niko membuat wajah keduanya memerah.
Wati, Tuti dan Tini yang juga duduk di balik tembok ruangan saling berbisik...
__ADS_1
"Wah bakal ada perang nuklir nih!! Bisik Wati pada kedua sahabatnya.
"Lihat wajah Sofwan dan Sultan sudah seperti jeroan direbus!!" Bisik Wati lagi.
"Sudah diam aja...jangan membuat suasana bertambah panas!!" Kata Tuti.
Dina membantuku pergi ke kamar seperti yang di perintahkan Niko.
"Bunda lebih baik istirahat saja dulu, Dina lihat beberapa hari ini keadaan bunda tampak kurang begitu sehat."
Dina lalu menemaniku di tempat tidur hingga aku perlahan tertidur.
*
*
Aku sepertinya pernah datang ketempat ini!! Padang ilalang yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya ilalang setinggi pingganglah yang nampak.
"Bunda?"
Aku menoleh mencari sumber suara itu. Tepat di belakangku berdirilah Miko, bapak dan ibuku. Mereka memakai baju putih dari jenis satin yang sangat halus.
"Ibu...bapak...ayah!!!" Aku sangat senang bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang sangat kucintai dan kurindukan.
"Bunda sayang...apa bunda sudah siap ikut dengan kami?" Tanya Miko sambil tersenyum.
Aku terdiam dan berpikir sambil menatap mereka satu persatu.
"Ayah, bunda kangen sama kalian...tapi jika bunda pergi sekarang, mereka berlima nanti dengan siapa?"
"Kan ayah tau sikembar masih kecil, Dina, Juned dan Syifa juga masih memerlukan bunda dalam hidup mereka."
Ibu dan bapakku tersenyum mendengar perkataanku.
"Nia, kami bertiga tidak akan memaksamu untuk pergi dengan kami, dan jika kamu sudah siap maka kami akan datang menjemputmu."
Ibu dan bapak memelukku erat. Lalu Miko juga memelukku erat. Diciumnya pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Happy reading💖💖 Jangan lupa jejaknya ya!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya. Terima kasih🙏🙏