Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 234 Melepaskanmu


__ADS_3

"Kulihat dari wajahnya tadi, dia benar-benar memang ingin menendang kakimu jika tidak dicegah oleh ibunya."


Nuri terdiam mendengar ucapan adiknya itu...tetapi entah mengapa dia selalu saja membenci sania, padahal Sania tak penah membenci mereka semua.


"Dokter...dokter..." tiba-tiba teriakan Anya menggema dan segera keluar untuk memanggil seorang perawat.


Nuri berjalan tertatih dibantu dengan tongkatnya dan Juwita bergegas masuk ke dalam ruangan menyusul kakaknya.


Dokter datang dengan beberapa perawat masuk ke ruangan ICU.


Sofwan sadar dan perlahan membuka matanya. Orang yang pertama kali disebutkan olehnya adalah Sania.


Semua berkumpul di situ termasuk Aisyah dan pak Irawan yang setia juga ikut menjaga mantan menantunya itu.


Aisyah sejak datang kerumah sakit ini selalu menangis dan dengan setia selalu duduk di samping papanya dan selalu menggenggam tangan Sofwan dengan erat.


"Bisakah yang namanya Sania masuk sebentar??" kata perawat saat berdiri di muka pintu.


"Tampaknya ada sesuatu yang ingin di sampaikan pasien padanya karena sejak masih koma pun ketap dia mengigau memanggil nama Sania.


"Tidak bisa...tidak bisa...perempuan itu kena kutukan, saya tak mengijinkan adik saya untuk bertemu dengannya lagi." Kata Nuri.


"Kakak!!" bentak Juwita yang kesal sedari awal datang ke rumah sakit ini dengan kelakuan kakaknya yang menurutnya terlalu lebay.


"Kak Nuri mau menanggung beban Sofwan jika sampai terjadi sesuatu padanya dan dia belum sempat ungkapkan dengan orang yang dia maksud??"


Lalu tanpa menunggu persetujuan dari kakak dan adiknya, Juwita segera menghubungi Sania.


Pagi ini Sania sudah tampil cantik dengan baju biru navi dipadukan kulot berwarna krem dan kerudung senada.


Tadi pagi Riko pamit pergi ke perusahaannya yang letaknya di kota S sekitar dua jam perjalanan dari kota B.


Sania juga sudah siap berangkat ke kafe. Semenjak ada masalah ini dia jadi jarang ke kafe dia hanya mempercayakan kepada Hans, Tiwi dan Shinta untuk menjalankan tugasnya.


Dina dan adik-adiknya sudah berangkat kesekolah. Raftar pergi dengan kak Della karena jika dia melihat Sania sudah pakai baju rapi begitu pasti bayi berumur 8 bulan itu akan menangis dan tak mau lepas dari gendongan bundanya.


Seperti tadi pagi, rupanya Raftar tau bahwa papanya akan pergi lagi, maka bayi lucu dan gembul itu pagi-pagi sudah bangun dan menggelendot di gendongan papanya.


Drrttt...ddrrttt


Ponsel di atas meja tamu berdering. Sania yang semula hendak mengambil minum ke dapur tak jadi lalu dia menerima panggilan telepon dulu.


"Panggilan dari nomor tak dikenal!!" gumam Sania. Tapi dia berinisiatif untuk tetap menerimanya.


πŸ“±"Assalamualaikum..."


πŸ“±"Waalaikum Salam..." Sania kah?"


πŸ“±"iya...ini dengan siapa ya??"


πŸ“±"ini kak Juwita, cepatlah kamu datang kerumah sakit, Sofwan sudah sadar dan ingin bertemu dan bicara denganmu.


πŸ“±"Benarkah mas Sofwan sudah sadar?? baiklah aku akan kerumah sakit, kak!!"


Saat panggilan telepon sudah terputus, Sania bergegas mengambil kunci motor, mengunci pintu depan, dan bergegas menaiki motot maticnya menuju kerumah sakit tempat mantannya itu dirawat.


"Hans...ibu tadi telepon, agak siangan datang kekafenya karena pak Sofwan sudah sadar dan ibu mau kerumah sakit dulu." Kata Shinta memberitahukan Hans.


Hans yang sejak pagi nampak ceria mendengar Sania mau datang kekafe lagi jadi lesu kembali.


Shinta menepuk bahunya...:"Sabar...dan kamu harus bisa lebih bersabar lagi sampai suami ibu Sania kembali ke Kuala Lumpur."


"Sebaiknya kita fokus karena hari ini ada pesanan kateringan untuk acara sunatan...jadi fokuskan dulu pada pekerjaan kita!!" kata Shinta lagi.

__ADS_1


Kembali pada Sania yang tengah melaju membelah pagi menuju ke rumah sakit xxx.


Begitu memasuki ruangan tunggu semua pasang mata menatap kearahnya.


Juwita sudah menunggu kedatangan Sania agar tidak lagi diganggu oleh Nuri dan Anya.


"Bunda..." teriak Aisyah menyongsong Sania lalu menangis memeluk wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya itu.


"Aisyah dengan siapa kemari??" tanyanya pada Aisyah sambil memeluk gadis kecil itu.


"Dengan kakek dan bibi, bunda!!" lalu seorang lelaki setengah tua datang mendekati kami.


"Assalamualaikum..." sapanya ramah.


"Waalaikum Salam!!" jawab Sania sambil menundukan sedikit kepalanya dengan sopan.


"Inikah mantan istri Sofwan?? cantik dan lemah lembut tutur kata dan bahasanya, pantas Aisyah yang anak tirinya saja menyayangi dia melebihi sayangnya Aisyah pada ibu kandungnya sendiri!!" batin pak Irawan.


"Masuklah nak, tampaknya ada yang ingin Sofwan sampaikan padamu!!" kata pak Irawan.


"Ayo Aisyah...biarkan bundamu itu masuk dulu kedalam dan bicara dengan papamu ya!!"


Lalu pak Irawan membawa Aisyah agar aku bisa masuk kedalam.


Sementara di luar Nuri dan Anya sudah merah, kuning, hijau seperti pelangi wajahnya menahan kesal pada Sania.


"Assalamualaikum, mas Sofwan!!" Sania lalu duduk di samping Sofwan yang susah payah hendak menoleh kearahnya.


"Ada apa mas?? adakah yang ingin mas sampaikan padaku?" tanya Sania sambil menggenggam erat tangan Sofwan.


Dengan susah payah Sofwan bicara merangkai kata.


"Dek...mas minta maaf yang sebesar-besarnya ya!! tolong jangan benci mas Sofwan, karena hanya dengan maaf dari wanita yang selalu mas sakiti hati dan perasaannya serta mas Sofwan sia-siakan hidupnya, maka mas baru bisa pergi dengan tenang." Kata Sofwan sambil terbata-bata.


"Kamu jangan salah paham, dek!! mas satu mobil dengan Vivi bukan karena keinginan mas Sofwan, tetapi mas yang hari itu sudah berjanji untuk mengajakmu dan anak-anak untuk pergi jalan-jalan, tiba-tiba di dalam mobil sudah ada Vivi."


"Kami bertengkar hebat, mas jelas menolak ajakannya untuk kembali padanya karena sedari awal tidur dengannya karena minuman yang mas minum telah dimasukannya obat perang*sang."


"Vivi tidak terima, anak yang dikandungnya tega dia gugurkan agar bisa bersama dengan mas Sofwan lagi!!"


"Dia berusaha merebut setir mobil dari tangan mas hingga mobil mas hilang kendali dan menabrak pembatas jalan."


"Sekali lagi maafkan mas ya dek, jauh dari dalam hati mas Sofwan, rasa sayang dan cinta mas ke kamu tak akan pernah hilang, tetapi mungkin kehidupan saja yang memang tak pernah mengijinkan kita untuk bersatu, sehingga ada saja halangan yang memisahkan kita!!"


Uhuk...uhuk...


Sofwan terbatuk-batuk setelah menyelesaikan kata demi kata yang dia rangkai dengan susah payah.


"Tolong jaga anak-anak dengan baik ya, dek!! juga titip Aisyah...sekali-kali tengoklah dia karena dia sangat menyayangimu melebihi dia menyayangi Anggita ibu kandungnya."


"Maafkan mas yang selama ini selalu membuatmu menangis dan terluka, maafkan mas selama hidup bersamamu tak pernah menjadi suami yang baik bagimu dan bapak yang baik untuk Dina, Juned dan Syifa."


"Selama hidup dengan mas Sofwan, hidup kalian selalu menderita dan kekurangan."


Sofwan terus menangis sambil menggenggam erat tangan Sania.


Sania yang telah menyadari mungkin hidup mantan suaminya itu tak akan lama lagi, hanya bisa menangis.


Apalagi kata demi kata yang Sofwan ucapkan semakin lama semakin melemah dan kurang jelas.


"Peluk mas dek, dan katakan jujur dari hatimu yang paling dalam kalau kamu masih mencintai mas Sofwan!!" katanya setengah berbisik.


Sania benar-benar sudah tak bisa lagi menahan derai air matanya. Dipeluknya tubuh lemah itu.

__ADS_1


"Sania masih cinta sama mas Sofwan...Sania masih sangat sayang!!"


Akhirnya kata-kata yang bertahun-tahun dipendam dalam hatinya terkuak sudah semuanya.


"Tetapi jika mas Sofwan ingin pergi, Sania ikhlas melepas kepergian mas Sofwan, tunggu Nia ya mas...suatu hari nanti Nia akan menyusul kepergian mas Sofwan."


Senyum Sofwan mengembang. Dia begitu bahagia mendengarnya walaupun semua sudah terlambat.


"Mas pergi duluan ya dek, jika semua urusanmu di dunia sudah selesai, mas akan datang kembali menjemputmu!!"


Bibir dingin itu mencium kening dan kedua pipi Sania dengan penuh kasih sayang, persis seperti saat-saat pertama dulu dia memperjuangkan cinta wanita cantik yang telah dia sia-siakan itu.


Pelukan Sofwan semakin lama semakin melemah, begitu pula dengan Sania. Tubuhnya sejak Sofwan mengecup pipi dan keningnya tadi, dia sudah jatuh tak sadarkan diri dalam keadaan mereka saling berpelukan.


Dokter, perawat dan yang lainnya melihat kondisi mereka berdua yang ada di dalam terlihat panik.


Dokter dan perawat masuk kedalam.


"Ibu Sania pingsan dalam keadaan duduk, dokter!!" ucap seorang perawat.


Mereka berusaha memindahkan Sania, tetapi tangan mereka yang saling menggenggam erat sulit sekali untuk dilepaskan.


Setelah dengan perjuangan akhirnya kepala Sania bisa diangkat dari dada Sofwan.


Dokter yang memang sedari awal juga sudah tau akan keadaan Sofwan, sudah melepas semua alat bantu di tubuh lelaki itu agar dia lebih mudah berinteraksi dengan Sania.


"Dia sudah pergi...!" katanya pada perawat di sampingnya.


Dia tampak tersenyum bahagia, mungkin dia sudah melepaskan semua beban yang menghimpit dan menghambat kepergiannya.


Maaf dari sang mantanlah yang dinantinya untuk memudahkan perjalanannya.


Dokter menarik kain hingga menutupi seluruh wajah Sofwan.


Semua yang ada di luar tampak histeris mengiringi kepergian Sofwan.


Aisyah dengan tabahnya terisak dalam pelukan kakeknya.


Sofwan telah meninggalkan semua rasa sakitnya, pengabulan permintaan maafnya dari sang mantan membuatnya mantap untuk pergi meninggalkan dunia ini.


Dina, Juned dan Syifa ditelepon di sekolah. Mereka bertiga juga shock mendengar bahwa bapaknya telah meninggal.


Dina dan Juned juga tampak bersalah karena sempat membenci bapaknya itu.


Syifa dari dijemput hingga sampai kerumah sakit terus menangis.


Ketiga kakak Sofwan memutuskan untuk membawa adik mereka untuk dimakamkan di daerah tempat tinggal mereka.


Dengan alasan agar mereka mudah mengurus pemakaman adiknya.


"Maafkan Dina dan Juned serta Syifa ya, pak!! semoga amal ibadah bapak diterima disisiNya...kami bertiga juga sudah memaafkan semua kesalahan bapak, selamat jalan ya pak...Alfatehah untuk bapak."


Dina, Juned dan Syifa bergantian mencium tangan Sofwan untuk yang terakhir kali sebelum dimandikan, diazankan dan siap dibawa dengan mobil ambulan pulang kekampung halaman Sofwan. Sementara Nia yang sudah siuman juga tampak lebih tegar untuk melepaskan sang mantan itu.


"Selamat jalan mas, tunggu Nia ya...suatu hari jemput Nia kembali jika semua urusan Nia sudah selesai!!


*


*


Maaf darimu meringankan perjalanan terakhirku😭😭


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya!!πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2