
"Assalamualaikum...."
Mbak Fina, Rahmat, mbak Mega dan beberapa karyawan lain menjulurkan kepala dari balik pintu.
Mereka semua kaget melihat Miko ada di dalam sedang menungguku. Kecuali mbak Fina karena dia sudah tau kalau Miko adalah pacarku.
"Eh ada pak Miko...sedang besuk juga pak..." Kata mbak Mega.
"Iya...Saya nginap di sini lagi nungguin calon istri saya."
"Calon istri pak...kami kok ngga tau sih kalau mbak Nia itu calon istri pak Miko?"
"Kami memang sengaja merahasiakannya sampai waktunya tiba nanti."
"Duduklah...Miko yang tadinya duduk di sofa lalu pindah ke samping tempat tidurku."
"Bagaimana keadaanmu, Nia? Mbak Fina menggenggam tanganku...
"Sudah agak baikan mbak...mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang."
"Cepat sembuh mbak...Pantas pak Miko sering uring-uringan di kantor, rupanya pujaan hati lagi sakit tho..." Mas Akbar menggoda Miko.
"Iyakah sayang? Kamu sering marah-marah di kantor?"
"Aku hanya pusing, tidak ada kamu di sampingku."
"So sweet...Akbar dan Mega saling berpelukan..."
"Hehhh...bukan muhrim...mbak Fina melerainya."
"Oh iya...ngapain kamu peluk-peluk aku, Bar?"
"Bukannya situ yang meluk aku tadi.."
Melihat kedatangan teman-teman kantor, dan mendengar tawa dan canda mereka membuat aku jadi terhibur.
Satu jam kemudian mereka pamit pulang. Tinggal aku berdua dengan Miko.
"Beb...kamu mau makan roti? Aku suapi ya..."
"Aku tidak lapar, Ko...apa kamu tadi pulang ke rumah?"
"Iya...tadi anak-anak lagi bermain game di kamar."
"Syukurlah kalau begitu...aku kangen mereka, Ko!!!"
"Makanya cepat sembuh...banyak makan dan jangan banyak pikiran."
"Ko...bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tanyalah...selagi aku bisa aku akan menjawabnya."
"Seriuskah niatmu untuk menikahiku?"
"Aku seriuslah...hanya saja aku baru mau menikahimu setelah kamu benar-benar bisa move-on dari Sofwan."
"Karena aku tak mau kamu menikahiku hanya karena kamu melarikan diri dari kenyataan masa lalumu."
"Karena jika aku hanya kamu jadikan pelarianmu, kita berdua yang akan menderita."
"Beb...aku mau tanya kepadamu...masihkah ada rasa cintamu kepadaku, seperti pertama kita bertemu dulu?"
"Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu, Ko...tapi kamu juga tau Sofwan sudah bersamaku selama 9 tahun dan memberikan 3 orang anak padaku
"Tentu juga tak mudah bagiku untuk melupakannya...ķuharap kamu sabar menungguku, Ko!"
"Aku akan berusaha sabar menunggumu sampai kapanpun."
__ADS_1
Miko memelukku erat. Memberikan dukungan moril padaku. "Aku bukan dia yang pergi di saat kamu butuhkan, aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh aku."
"Assalamualaikum..."
"Siapa itu beb?"
"Aku lupa bilang, teman-teman lamaku akan datang membesukku."
Tuti, Tini dan Wati masuk.
Mereka langsung terpana ketika di dalam ruangan mereka bertemu Miko.
Aku duduk bersender dan tersenyum pada mereka.
"Susahkah tadi menemukan ruangan ini?"
"Agak sih...eh Nia...Inikah yang di bilang Juned calon ayahnya?"
"Hah...wajahku memerah mendengar perkataan Wati yang dari dulu memang suka to the point."
"Iya...saya memang calon suaminya Nia...calon ayah anak-anaknya.
"Mas...Nia ini sahabat baik kami...jika kamu memang serius dengannya, jagalah dia dan anak-anaknya."
"Jangan seperti mantan suaminya dulu.."
"Nia...Tadi di koridor rumah sakit, kami bertemu seseorang yang mirip sekali dengan bang Sofwan."
"Tapi kami lihat dia berdua dengan seorang wanita yang sedang hamil."
"Makanya tadi kami ribut sepanjang koridor."
"Mbaknya melihat mereka mau kemana? Miko bertanya."
"Mereka membawa tas pakaian, sepertinya sih habis dirawat disini juga."
Tini, Wati, dan Tuti terperangah mendengarnya. "Jadi bang Sofwan memang sudah benar-benar sembuh?" Tini meyakinkan pertanyaannya.
"Lalu mengapa dia tadi tak mengenali kami?" Wati kembali bertanya.
"Jangan kata kalian, sedangkan anak dan istrinya saja dia tak lagi bisa mengenalinya kok!"
"Haduh....parah bang Sofwan ya....yang sabar ya Nia..." Ketiga sahabatku memelukku erat.
"Dia sudah sangat sabar mbak...hingga jadi seperti ini keadaannya." Miko menatapku prihatin.
"Ingin rasanya tadi aku menghadangnya, dan mau langsung bertanya...tapi dia melihat kami kok seperti orang asing?
"Dia tak akan pernah lagi mengenali kita Wati...biarkan saja dia terus begitu, mungkin itulah yang bisa membuatnya bahagia."
"Mungkin selama hidup denganku dan anak-anak dia menderita karena tekanan ekonomi."
"Jadi jika amnesia bisa membuatnya lupa akan masa lalunya, biarkanlah saja...aku sudah ikhlas."
Miko memelukku yang sudah banjir dengan air mata, "Tenang sayang...sudah ya...nanti kamu bisa menggigil dan sesak napas lagi."
Ketiga sahabatkupun sudah meneteskan air mata sejak tadi.
"Mas...kami mohon jaga Nia...karena penderitaannya yang kamu lihat sekarang, belum sebanding dengan banyak penderitaan yang telah dilaluinya."
"Ya sudah...hari sudah malam...kami pulang dulu ya Nia, cepatlah sembuh."
"Cukup sudah penderitaanmu...songsonglah kebahagiaanmu...jangan terus menerus terpuruk seperti sekarang ini."
"Jangan membuat keluarga Sofwan yang jahat itu senang dan bahagia melihat keadaanmu sekarang, bangkitlah kembali...tunjukan pada mereka kamu mampu berdiri tanpa Sofwan."
Nasihat yang diberikan oleh ketiga sahabatku dengan penuh semangat, setidaknya mampu mengembalikan kepercayaan diriku lagi.
__ADS_1
"Memang benar apa kata mereka, bodohnya aku jika terus menerus tenggelam di dalam kesedihanku."
"Mas Sofwan sekarang sudah bahagia, aku tak ingin mengganggunya lagi."
"Lagian kami juga memang sudah bercerai, dia bisa bahagia... lalu mengapa aku tidak?"
"Jangan lupa undang kami jika kalian menikah nanti ya..." Tuti menimpali.
"Pasti mbak...teman-teman Nia, sudah kuanggap sebagai teman-temanku juga."
"Kami pamit pulang ya Nia...jaga dirimu dan anak-anakmu...salam juga ya buat anak-anakmu."
"Oh iya...jadi mereka tinggal di mana selama kamu sakit ini?"
"Mereka tinggal dibrumah Miko, Tini...ada bibi di sana yang menjaga mereka."
:Syukurlah...kami pamit dulu ya...Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."Aku dan Miko menyahut berbarengan.
Kembali lagi kami hanya berdua sepeninggal mereka.
"Kamu mau makan apa? Roti atau buahkah? Atau mau kupesankan makananan?"
"Aku mau makan apa saja, Ko...aku ingin segera sembuh dan cepat keluar dari tempat ini."
Miko tersenyum senang, setidaknya kedatangan para sahabatku dan segudang nasehat mereka mampu membuat semangatku bangkit kembali.
"Begitu dong beb...aku turut senang jika kamu mempunyai semangat untuk sembuh seperti ini."
"Jika kamu sakit terus menerus...kasihan dirimu...kasihan anak-anak...aku juga jadi tak tenang melihat keadaanmu ."
"Semangat dalam dirimu, bisa jadi pemicu untuk mempercepat kesembuhanmu."
"Kamu yang harus menguasai keadaan, bukan keadaan yang menguasaimu."
Miko mengupas apel dan mencucinya...dipotong-potongnya ditaruhnya di piring lalu mulai menyuapiku.
"Ya Allah...bodohnya aku selama ini mengabaikan orang yang sudah tulus menyayangiku."
"Aku selalu memikirkan mas Sofwan, tanpa pernah menimbang perasaan Miko..."
"Aku tau hatinya pasti sakit melihat perlakuanku padanya, tapi demi cintanya... Terus dia tahan dan dia pendam rasa sakitnya."
"Miko..."
"Hmmmm....apa beb...kamu mau minum? Biar kuambilkan dulu ya..."
"Aku mau minta maaf padamu, atas khilafku selama ini..."
Dia berhenti menyuapiku. dipandangnya aku dengan seksama. "Maksudmu, khilaf yang bagaimana beb..."
"Atas khilafku yang selama ini sudah mengacuhkan perasaanmu."
"Aku tau hatimu sakit...tapi tak pernah kamu perlihatkan padaku sedikitpun."
"Aku mencintaimu lebih besar dari cinta Sofwan padamu...aku sudah membuktikannya selama belasan tahun ini."
"Aku tau cinta memang butuh pengorbanan...beb."
"Sudahlah...ayo lanjutkan makanmu...lekas kamu tidur dan beristirahat ya...aku juga mau menelpon mengecek keadaan rumah dulu."
***Bersambung....
Sumpah...Author serasa masuk dalam kehidupan Sania, Miko dan Sofwan. Tapi tak mau membayangkan bagaimana jika itu benar-benar terjadi😭😭
Terus beri dukungan ya...Like, komen, saran yang membangun...jangan lupa jika berkenan vote dan favoritenya...Terima kasih🙏🙏🙏***
__ADS_1