
"Memang kamu mau diapakan oleh mereka?" tanya tante Della.
"Masa tangan Dina mau dipegang-pegang, ya Dina cekal aja tangannya sampai bunyi kletek...gitu!!" Della sampai mengerenyit mendengar cerita Dina lalu dia geleng-geleng kepala.
"Waduh...bisa lurus lagi ngga itu tangan ya? tante jadi ngeri sama kalian bertiga ini!!"
"Dina ikut karate, Juned ikut pencak silat, Syifa ikut taekwondo...terus nanti sikembar Miko dan Miki mau ikut apa, leh??" tanya tante Della sambil menciumi pipi gembul Miko dan Miki di pangkuannya.
"Mau ikut balet tante...iya dek!!" kata Dina sambil mencium pipi adiknya.
"Ngawur aja kamu Din, kenapa ngga ikut nyinden sekalian?" mereka berdua tertawa, sementara dua bocil gembul yang ditertawakan anteng aja.
*
*
"Tin, kenapa Sultan kok sering juga pingsan sekarang?" tanyaku sambil mengunyah gorengan Tini.
"Wah tobasnya tante Tini enak banget ya bun!!" kata Juned yang ikut mengantarkanku kerumah Tini.
"Tobas siapa, Juned?" selingkuhannya tantemu kah?" suami Tini yang baru selesai sholat maghrib ikut nimbrung di ruang tamu.
"Om ngga tau tobas?" kata Juned.
"ini yang kita makan tobas namanya!!"
"ini kan tahu bakso, Juned bukan tobas!!" sela suamiTini.
"Kata bunda dan ayah Miko dulu tahu bakso itu singkatannya tobas karena bunda suka banget makan tobas saat sedang hamil Miko dan Miki."
"Bun, Juned kangen sama ayah Miko...kita pergi nyekar kemakam ayah yuk bun!!" Juned mengagetkan aku yang sedang melamun.
Saat hamil Miko dan Miki karena aku memang hanya suka makan tahu bakso, setiap pulang kerja Miko selalu membelikanku...itu sebelum kami berpisah gara-gara hadirnya Alena di dalam rumah tangga kami.
Setelah itu Sultanlah yang selalu membelikan untukku jika dia pulang dari mengajar.
Terkadang jika ingat itu semua timbul kembali rasa kesal, rasa benci di hatiku pada almarhum suamiku!!"
"Astaghfirullah..." aku segera beristighfar, Miko telah tiada...tak sepantasnya aku mengingat luka di masa lalu yang telah lama berlalu.
"Nanti ya Juned jika bunda ada waktu, kita pasti akan nyekar kemakam ayah!!" kataku.
"Anakmu itu sayang banget sama Miko ya Nia?" kata Tini ikut gabung bersama kami.
"Iya, dulu Miko sangat memanjakannya...apapun yang diminta oleh Juned selalu berusaha dipenuhinya!! walaupun Dina, Juned dan Syifa hanyalah anak tiiri tetapi Miko sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri."
"Pada dasarnya Miko dan Niko itu baik Nia, mereka suka ngga tegaan sama orang lain...justru kelemahan mereka itulah yang dimanfaatkan Alena dulu dan Maya sekarang!!"
"Mereka tidak bisa berkata tidak untuk membantu orang lain!!" jawab suami Tini.
"Iya, karena ayah sama-sama laki-laki...makanya dibela terus mau salah mau benar pokoknya bela aja...awas aja jika ayah mengambil contoh Miko dan Niko, ibu sunat lagi itu otong sampai keujung-ujungnya!!" kata Tini dengan kesal.
"Wih...kalau sampai keujungnya habis dong bu punya ayah nanti, ayah bakalan ngga punya aset berharga lagi!!" suami Tini bergidik ngeri mendengar penuturan istrinya itu.
"Aku mau lihat Sultan sebentar di kamarnya ya Tin...siapa tau dia memerlukan sesuatu." kataku.
Aku mengetuk pintu perlahan dan kulihat Sultan duduk bersender di ranjangnya.
"Boleh aku masuk? tanyaku diambang pintu.
"Masuklah, kamu seperti orang lain saja!!" jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah lebih baik?" tanyaku sambil duduk di tepi pembaringan menghadapnya.
"Sudah jauh lebih baik, Nia...tadi dadaku terasa sesak dan sakit sekali rasanya."
"Kamu jangan terlalu capek dan jangan banyak pikiran Sultan, nanti sakit jantungmu kambuh lagi."
"Aku kupaskan buah ya!! kamu mau makan? nanti aku suapi!!" kataku.
"Aku pengen makan buah aja, lagi ngga pengen makan nasi." jawabnya.
Aku beranjak dari dudukku mengambil pisau dan apel di atas nakas. Aku mencucinya lalu mengupaskan untuk Sultan.
"Nia, enak ya jika punya istri...jadi bisa berbagi cerita dan masalah, susah dan senang...jadi tidak menanggung sendiri semua beban." katanya sambil mengunyah apel yang kusodorkan ke dalam mulutnya.
"Iya lah, kenapa kamu tidak mencari pendamping hidupmu? apa kamu belum bisa melupakan anak dan istrimu?" kataku sambil mengelap mulutnya dengan tisue di tanganku.
Dia menatapku dalam sebelum menjawab pertanyaanku.
"Belum ada yang pas di hati!!" jawabnya.
"Sultan, usia kita sudah semakin matang...bukan waktunya lagi hanya sekedar mencari pacar, tetapi mencari pendamping hidup yang bisa diajak senang dan susah bersama."
"Ada bukan hanya di saat kita senang, tetapi juga ada di saat kita susah dan membutuhkan pegangan hidup seperti sekarang ini."
"Sebenarnya aku sudah lama menemukan tambatan hatiku, Nia!! tapi aku belum berani untuk mengatakan padanya tentang perasaanku."
"Ya kalau kamu suka kenapa tidak kamu katakan saja Sultan...ngga baik memendam perasaan terlalu lama!!" jawabku.
"Aku selalu tak mempunyai keberanian untuk mengatakan padanya jika aku bertemu dengannya!!" Sultan mengalihkan tatapan matanya kelain tak mau bersitatap dengan mataku.
Aku menatap Sultan dalam diam.
"Aku juga sangat mengagumi sosokmu, Sultan!! tapi mana berani aku mengharap lebih? aku tidak mau salah mengartikan kebaikanmu padaku, aku tidak mau membangun harapan setinggi langit yang pada akhirnya akan membuatku jatuh terperosok ke lautan yang paling dalam..." aku hanya bisa membatin sambil menatap Sultan.
Drrtttt...drrttttt
Aku menghentikan kegiatanku menyuapinya. Ku ambil ponsel di kantongku yang terus berdering. Kulihat Riko menelponku.
📱"Assalamualaikum..."
📱"Waalaikum Sayang..." mamah di mana sih? ini papah lagi di rumah mamah, kata Dina mamah menjenguk teman yang sakit...ayo pulang, papah kangen!!"
Rentetan cuitan Riko membuat kepalaku bertambah pusing jadinya.
📱"Ini lagi di rumah teman menjenguk teman yang sakit..."
📱"Teman? laki-laki atau perempuan?"
📱"Sultan, pah!!
📱"Sultan? Sultan yang mana?"
📱"Yang temannya mamah dulu!!"
📱"Sekarang mamah pulang, papah ngga suka mamah berteman dengan laki-laki...mau pulang sendiri atau papah jemput?"
📱"Iisshh...mamah pulang sendiri ajalah!! malu mamah pakai acara dijemput segala, nanti disangka dijemput anak."
📱"Siapa??? siapa yang berani bilang begitu? enak saja suami di bilang anak!!"
📱"Iya sudah tunggu sebentar mamah mau pulang!!"
__ADS_1
📱"Assalamualaikum..."
📱"Waalaikum sayang eh salam..."
Sambungan telepon terputus.
"Siapa Nia?" tanya Sultan gusar.
"Riko!!" jawabku singkat.
"Aku harus pulang Sultan, cepat sembuh ya...jangan suka sakit-sakit, nanti kalau kamu sering sakit siapa yang akan menjagaku?" kubelai pipinya lalu aku pamit meninggalkannya.
Dipegangnya berkali-kali pipi yang dibelai oleh Sania tadi lalu dikecupnya berulang kali tangannya sehabis membelai pipinya sendiri.
"Mengapa kamu tidak peka kalau aku mencintaimu? mengapa berulang kali kamu meninggalkanku bersama dengan laki-laki yang lain? tak ada kah sedikit saja ruang di hatimu kamu sisihkan untuk tempatku berlabuh?"
Mata Sultan nanar memandang keluar jendela, karena jendela kamarnya persis menghadap serambi depan maka dapat dilihatnya Sania dan Juned pergi dengan tergesa-gesa dengan diantar oleh Tini di teras depan.
*
*
"Sayang...kamu dari mana aja sih?" papah ngga suka kalau mamah keluyuran malam-malam begini berduaan aja lagi sama Juned, nanti kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
"Iya pah, maaf ya...lain kali ngga akan mengulangi lagi.'
Aku terpaksa mengalah dari pada ribut kan ngga enak di dengar tetangga."
Dilihatnya aku cemberut didekatinya dan dipeluknya dengan erat.
"Maafkan papah ya mah kalau bicaranya papah agak keras...papah hanya takut ada apa-apa di jalan sudah malam begini."
"Kan jaraknya dekat aja pah, hanya jalan lima menit sudah nyampe..." kataku.
"Iya sudah maafin papah ya...masuk yuk, tadi pulang dari kantor papah belikan ayam bakar kita makan sama-sama biar rame."
"Juned, cuci kaki tanganmu sana dulu lalu panggil adik dan kakakmu juga tante Della kita makan bareng di ruang tamu." Lalu Riko meletakan makanan yang tadi dibelinya.
"Mamah ambil piring dulu ya pah sekalian ambil tikar...papah main taruh aja di lantai!!" omelku padanya.
"Iya sayangku, maaf!!" Riko hanya menanggapinya sambil cengengesan.
"Dasar bocil!!" batinku.
Kami makan bersama di situ hanya Dina dan sikembar yang tidak ikut karena mereka sudah tidur.
"Ko, kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian? ngga enak dilihat tetangga apalagi Sania itu janda, apa nanti kata orang sekitar sini?" ucap Della sambil mengunyah makanannya.
"Sabar ya tante, maunya Riko besok menikah sama mamah Nia, tapi Riko menunggu ibu dan ayah pulang dari Kuala Lumpur dulu."
"Bagaimanapun restu orang tua sangat penting untuk kelanggengan rumah tangga kami berdua."
"Terus bagaimana dengan wanita yang ada di rumahmu itu?" tanya Della lagi.
*
*
***Bersambung...
Setuju ngga ya kedua orang tua Riko dengan pernikahan putranya? ikuti terus lanjutannya ya😊😊
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys🙏🙏