
"Bun...bunda...."
Dina berteriak dari arah dapur. Aku yang sedang menina bobokan si kembar jadi terkejut.
"Ada apa Dina? Kenapa berteriak-teriak sudah malam begini? Nanti ayah dan adikmu terbangun mendengar teriakanmu..."
Aku segera mendekati Dina yang berdiri di pojok meja makan.
"Ayah bun..." Dina menunjuk ke lantai.
"Astaghfirullah...Ayah...*
Dengan cepat aku mengangkat kepala Miko. yang tergeletak di lantai. Dahinya kulihat memar, mungkin terbentur meja sebelum dia terjatuh tak sadarkan diri.
"Yah...ayah sadar yah...." Aku menepuk pelan pipinya. Wajah Miko terlihat semakin pucat.
"Dina...ayahmu tak bisa dibiarkan begini, tolong ambilkan ponsel bunda nak...bunda mau telepon Theo asisten ayahmu dulu."
"Ayahmu harus segera dibawa ke rumah sakit."
Drrtttt...drrtttt
"Assalamualaikum...Theo cepat datang kemari ya...bapak pingsan...tolong antar ibu ke rumah sakit!!"
"Ngga pakai lama ya Theo, ibu tunggu...!!!"
"Dina tolong ambilkan bantal dulu, bunda mau menyiapkan pakaian ganti, mana tau di rumah sakit nanti disuruh menginap."
10 menit kemudian Theo datang dengan motornya dan langsung saja masuk ke dalam.
"Kenapa bapak bisa pingsan bu?"
"Ishh...Theo bikin kaget saja, sudah ngga Assalamualaikum main samber aja kayak geledek."
"Maaf bu, saya juga panik tadi mendengarnya."
"Ya sudah itu kunci mobil di meja, kamu panaskan dulu mesin mobil ya, terus bantu saya mengangkat bapak, kita harus cepat ke rumah sakit."
"Dina, bunda titip adik-adikmu dulu ya nak...bunda antar ayah ke rumah sakit dulu, bunda sangat khawatir dengan keadaan ayahmu."
Sepanjang perjalanan air mata Sania terus menetes membasahi pipi dan sebagian jatuh di wajah Miko.
"Sebenarnya kenapa pak bos bisa jatuh pingsan lagi bu?" Theo mencairkan suasana.
"Mungkin bapak terlalu capek Theo, sejak siang bapak ngga ada istirahat membantu ibu pindahan ke rumah lama."
"Kamu tau sifat bosmu kan? Selalu memaksakan diri agar tampak kuat agar tidak di bilang sakit-sakitan."
"Ibu sudah melarang, tapi tetep aja ngeyel."
"Terus tadi kenapa bapak bisa tergeletak pingsan dekat meja makan bu?"
"Mungkin tadi bapak mau minum, Theo...terus tiba-tiba kepalanya pusing, mungkin karena itu bapak langsung jatuh pingsan.
*
*
__ADS_1
Kami tiba di rumah sakit sudah pukul 9 malam. Untung Dr. Alvin adalah dokter jaga hari ini, jadi Miko langsung mendapatkan penanganan di ruang UGD.
"Segera kita pindahkan ke ruang ICU aja mba Nia, kondisi Miko cukup kritis..." Kata Dr..Alvin.
"Tapi suami saya ngga akan kenapa-napa kan dokter?" Aku mulai merasa cemas.
"Insyaallah mba, kita berdoa aja pada Allah."
"Ya Allah...selamatkan suami hamba!! Jujur hamba belum siap kehilangan dia, baru saja kami bersama setelah setahun rumah tangga kami di tempa badai prahara."
Aku ikut sakit melihat Miko tergeletak di ruangan ICU dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya.
"Theo, bisakah ibu minta tolong jaga bapak sebentar? Tadi ibu sudah memasukan pakaian ganti ke dalam tas, tapi karena mau buru-buru ke rumah sakit jadi malah lupa di bawa."
"Ibu mau pulang dulu mau ambil tas sekalian mau lihat anak-anak sebentar."
"Ibu mau naik apa pulang ke rumah? Ini sudah jam 10 malam lho bu!!"
"Saya naik ojek online aja biar cepat sampainya."
Aku juga menelpon bibi untuk minta tolong menjaga anak-anak di rumah selama aku di rumah sakit.
Aku tiba di rumah bertepatan saat bibi diantar oleh menantunya.
"Bapak sakit apa bu? Tadi sore baik-baik aja?" Tanya bibi.
"Bapak sepertinya kecapean bi." Aku memang tidak mau membicarakan soal sakitnya Miko pada bibi.
"Bi, tolong jaga anak-anak ya bi...kasihan bapak di rumah sakit ngga ada yang jaga."
Aku tiba di gerbang pagar saat melihat Sultan sudah menungguku di sana.
"Lho Sultan kok ada di sini??"
"Saya di suruh kak Tini untuk mengantar mba Nia ke rumah sakit." Jawabnya.
"Kok kamu bisa tau?"
"Dina menelpon kak Tini bilang bahwa ayahnya masuk rumah sakit."
"Ayo mba saya antar ke rumah sakit jangan naik taxi malam-malam gini...bahaya."
"Tapi saya ngga enak kalau ada yang list Sultan."
"Mba ini posisinya lagi urgent...kalau kita mikirin ngga enak terus sama orang lain, terus kalau ada apa-apa siapa yang bisa di salahkan?"
"Ayo naik..."
Sultan menaikan tas bawaanku ke depan motor maticnya.
"Ayo mba Nia...tunggu apa lagi...ayo naik buruan."
Pletak...helmku terantuk dengan helm Sultan.
"Mba Nia ngantuk ya...kalau ngantuk pegangan aja sama bahu saya atau pinggang saya mba, takut sudah malam gini jatuh ngga ketauan."
"Tapi Sultan..."
__ADS_1
Ciiiitttt....
Sultan berhenti mendadak lalu menarik tanganku untuk berpegangan.
"Kalau terjadi sesuatu pada mba Nia, bisa di gantung kaki ke atas kepala ke bawah saya oleh kak Tini."
Kami tiba di rumah sakit pada saat yang tepat. Saat Theo hampir mengorok di bangku ruang tunggu.
"Theo...bangun...ini ibu bawakan makan untukmu."
"Aduh maaf bu, saya terlelap habis saya lelah sekali."
Theo memandang Sultan. Sebelum dia bertanya yang macam-macam...aku segera menjelaskan padanya.
"Theo ini Sultan...Sultan ini teman saya dan teman bapak juga."
"Sultan, ini Theo asisten Miko."
Mereka berdua saling berjabatan tangan.
"Makanlah dulu Theo, sudah itu pulanglah...kasihan istrimu kan sedang hamil muda, nanti jika saya ada perlu sesuatu yang membutuhkan bantuan maka kamu akan ini telepon.
"Terima kasih ya bu...!" Theo segera memakan nasi bungkusnya setelah itu dia pamit pulang.
"Sultan..."
"Hmmm"
"Terima kasih ya...selama ini kamu selalu ada buat saya, saat saya sedang terpuruk, saya sedang sedih, kanu selalu menemani saya."
Sultan mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah ku.
"Bukannya kita sebagai manusia wajib tolong menolong mba..."
"Oh iya, apa kamu ngga takut kesiangan besok untuk mengajar jika kamu di sini menemani saya?"
"Saya mengajar besok jam 10 pagi mba, ngga usah khawatir."
"Kalau mba Nia mengantuk, tidurlah..."
"Aku tidur sebentar ya Sultan, aku memang lelah sekali...hari ini kami pindah lagi ke rumah yang lama."
"Terus rumah mba Nia yang sekarang kosong dong!!"
"Iya, tapi setiap dua atau tiga hari sekali aku pasti menjenguk untuk bersih-bersih.
Aku mengampar karpet kecil di lantai. Paling tidak aku ingin mengistirahatkan sejenak hatiku dan pikiranku.
Sultan memandangi wajah Sania yang sebentar saja sudah lelap tertidur.
"Kamu masih sama seperti pertama kita bertemu dulu mba Nia...Masih ayu, masih lemah lembut."
"Hanya pada saat kamu tertidur begini, aku bisa sepuasnya memandang wajahmu."
***Bersambung...
Selalu minta dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1