
Lalu kakek Sanusi mengajak Johan ke kampung sebelah mengunjungi sahabatnya pak Abdullah dan kebetulan anak pak Abdullah yang bekerja di kota pulang menjenguk ayahnya yang sakit-sakitan.
Johan dan Santos menutup mulutnya bersamaan begitu pula dengan Ahmed saat melihat anak laki-laki pak Abdullah itu.
"Abang Riko??? kok abang ada di sini??" tanya Ahmed.
"Tuan muda Riko??" kata Johan dan Santos bersamaan.
"Tuan Riko?" kata pemuda itu bingung.
"Bukan..." kata kakek Sanusi cepat.
"Dia adalah Asdar anaknya pak Abdullah ini!!" jawab kakek Sanusi.
"Mirip...sangat mirip...yang membedakan hanya sorot mata dan senyumnya saja!!" kata Johan kepada Santos.
"Assalamualaikum, sahabatku?? bagaimana dengan kabarmu?" kata kakek Sanusi.
"Waalaikum Salam Sanusi, seperti yang kamu lihat sekarang ini!!" kata pak Abdullah.
"Apa kabarmu Asdar?? kerja di mana kamu sekarang nak??" tanya kakek Sanusi.
Asdar menyalami dan mencium tangan kakek Sanusi.
"Asdar kerja di kedai makan kek, terkadang jika Asdar terlalu sibuk maka Asdar tidak pulang kerumah menemui ayah."
"Kamu sakit apa Abdullah?" tanya kakek Sanusi pada sahabatnya itu.
"Gagal ginjal, jadi setiap seminggu dua kali aku harus cuci darah, dan Asdar harus banting tulang mencukupi kehidupan kami karena gaji pensiunanku tidaklah cukup." Kata pak Abdullah sementara kakek Sanusi hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Setelah itu mereka semua pamit pulang. Di perjalanan pulang tampak kakek Sanusi memberi pengarahan serius pada Johan dan Santos dan mereka tampak mengangguk mengerti.
Besoknya saat Asdar sedang beristirahat setelah sholat dan makan siang, bos kedai memanggilnya karena ada dua orang yang mencarinya.
"Lho...abang...abang ini yang kemarin datang kerumah bapak saya kan??" tanya Asdar.
Kami sudah meminta ijin pada bosmu untuk membawamu keluar sebentar karena ada yang ingin kami bicarakan denganmu tapi tudak di sini!!" kata Santos sementara Johan diam menyimak pembicaraan mereka.
Mereka lalu keluar menuju pantai agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh orang lain.
"Jadi begitu Asdar...kita bisa saling membantu dan menguntungkan."
"Kerjamu tak berat hanya berpura-pura untuk menjadi tuan muda kami dan menggantikan perannya di sini sementara dia akan pulang ke tempat keluarganya di Indonesia." Jelas Santos.
"Dengan pekerjaanmu yang sekarang kamu bisa membiayai operasi ayahmu, Asdar!!" Akhirnya Johan buka suara.
Mereka akhirnya membuat kesepakatan setelah berhenti dari pekerjaannya, Asdar dibawa menemui Riko yang membuat mereka berdua sama-sama terkejut.
*****
****Flashback off****
Riko terharu mendengar penuturan kakek Sanusi. Dia bangga pada Johan dan Santos yang berusaha mencari cara agar dia bisa menemukan kebahagiaannya.
Asdarpun terus berusaha untuk menjadi Riko walaupun tak sesempurna Riko yang asli paling tidak mendekati sempurna.
Rikopun harus memakai identitas Asdar agar perjalanannya ke Indonesia berjalan mulus.
*
__ADS_1
*
Mereka mulai belajar bertukar peran. Asdar mulai masuk dibawa oleh Johan ke dalam perusahaan dan ke dalam mansion keluarga Baskoro begitu pula sebaliknya.
"Riko, sedang apa kamu di dapur?" sebuah suara mengejutkan Riko.
Asdar yang berperan sebagai Rikopun kaget mendengar suara yang menyapanya.
Seorang wanita setengah baya masuk ke dapur dan memandang Asdar dengan tatapan teduh.
"Ibu...Riko hanya ingin membuat secangkir teh jahe..." ucap Asdar.
"Kok tumben, biasanya kamu selalu meminta tolong bibi membuatkannya untukmu!!" kata ibu Intan.
"Sesekali tidak merepotkan siapapun ngga apa-apa tho, bu!!" kata Asdar kalem.
Ibu intan sejenak termangu saat menatap mata Asdar tetapi cepat di tepisnya rasa aneh itu.
Asdarpun cepat-cepat berlalu dari dapur membawa tehnya naik lift menuju lantai 3.
"Ada yang berbeda dengan anak itu, hari ini dia lebih lembut dan kalem.dari Riko yang biasanya." Kata ibu Intan.
"Haduh...untung saja aku bisa bersikap senormal mungkin di hadapan ibunya Riko, baru berhadapan dengan ibunya saja aku sudah gugup apalagi berhadapan dengan istri dan ayahnya??" Ya Allah...semoga aku bisa melewati semua ini demi kelancaran operasi ayah!!" gumam Asdar.
*****
"Alhamdulillah...aku bisa tiba di Indonesia tanpa kurang suatu apapun." Kata Riko.
"Tunggulah sayang, papah akan cari mamah dan Raftar sampai ketemu...papah tidak bisa hidup tanpa mamah dan Raftar!! " batin Riko.
Pertama-tama Riko menuju kerumahnya yang telah lama dia tinggalkan.
Dulu sempat Alena tinggal di sana saat Riko meninggalkannya dan menikah dengan Sania lalu memutuskan untuk tinggal bersama dengan keluarga barunya.
Tak ada yang berubah dari rumahnya itu. Setelah membersihkan diri Riko mulai berpikir dari mana dia akan memulai mencari keberadaan istrinya itu.
Sementara itu di tempat kediamannya...
"Hans...bagaimana perkembangan di kafe??" tanya Sania pada Hans.
Mereka yang tengah duduk santai di teras sambil menikmati sore.
"Sejauh ini lancar saja bu hanya ada beberapa orang yang datang mencari ibu!!" kata Hans.
"Mencari saya??" tanya Sania.
"Iya...pak Niko dan pak Jonathan dan ada beberapa orang lagi yang saya tidak kenal!!" jawab Hans.
"Lalu apa kata mereka yang ada di kafe??" tanya Sania lagi.
"Ya mereka ngga ngomong apa-apa kan mereka ngga tau ibu pindah kemana hanya saya aja yang tau, bu!!" ucap Hans.
"Dia tak lagi mencariku...ah, untuk apa juga dia mencariku toh sekarang dia sudah menikah dengan wanita pilihan keluarganya!!" batin Sania sedih.
"Bu...ibu kenapa?? Ibu sepertinya kepikiran sesuatu?" tanya Hans melihat perubahan wajah Sania yang tiba-tiba berubah mendung.
"Tidak, Hans...saya tidak apa-apa kok!!" Sania tersenyum berusaha menutupi kegundahan hatinya.
*
__ADS_1
*
Riko sedang mengendarai mobilnya entah dia tak tau tujuannya kemana. Sudah berjam-jam dia menghilangkan bad moodnya. Sudah dua minggu dia di Indonesia, belum juga dia menemukan keberadaan keluarganya.
Riko singgah di warung pinggir jalan bermaksud membeli air mineral.
"Lho itu seperti Juned dan Syifa ya??" batin Riko tak lepas memandangi Juned yang sedang mengisi bensin di warung tak jauh dari Riko membeli air mineral.
Sengaja Riko tak menyapa kedua anak tirinya itu, dia berinisiatif mengikuti mereka saja dari jarak tertentu.
Tampaknya Juned dan Syifa memang tidak menyadari jika mereka sedang diikuti. Mereka berdua yang baru pulang dari pasar terus saja tertawa dan bercanda.
Riko merasa berdebar tak karuan. Ada rasa kangen rasa sedih dan entah berbagai macam rasa bercampur menjadi satu di hatinya.
Kedua anak Sania itu berhenti di sebuah rumah tunggal yang terletak di ujung jalan.
Mereka turun dan Riko pun menepikan mobilnya mengawasi.
Tak lama dari dalam rumah keluar bocah lelaki yang baru belajar jalan tertatih-tatih dikejar oleh...
"Bidadariku..." seru Riko tertahan antara senang dan haru.
"Raftar...pelan-pelan...jangan kencang-kencang larinya sayang!!" teriak Sania.
Tapi si kecil yang mucil itu terus lari ke jalan dan berhenti tepat di depan mobil Riko.
Di situ bocah lucu itu mengoceh, obing...obing...papah...papah..."
"Lain sayang...itu bukan mobil papah...ayo kita masuk ke dalam rumah!!" ajak Sania sambil berusaha menggendong Raftar.
"Mamah..."
Sania berhenti dan tertegun. Mimpikah dia?? ahhh, tak mungkin!!!
"Mamah!!" suara Riko terdengar serak karena menahan sesuatu yang menggumpal di dadanya.
Sania tak menoleh dia berusaha lari sambil menggendong Raftar menjauh dari mobil merah itu.
Sebuah tangan kokoh menangkapnya dan membawa ibu dan anak itu kedalam pelukannya.
"Mah...ini papah!!" kata Riko memeluk dan menciumi wajah istri dan putranya itu.
"Menjauh dariku...aku membencimu!!!" teriak Sania sambil meronta melepaskan diri.
"Sayang...sayang...cup...cup..." kata Riko masih berusaha memeluk erat Sania dan Raftar berusaha menenangkan perasaan wanitanya itu.
Entah karena terlampau lelah meronta akhirnya Sania hanya terisak di dalam dekapan suaminya.
"Papah jahat..." isak Sania tertahan. Air matanya terus mengalir tiada henti di pipinya.
"Riko..."
Kak Della yang mendengar suara ribut-ribut di luar serentak menyusul keluar rumah bersama Juned dan Syifa.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Entah karena masih berjodoh atau apa walaupun sudah terpisah jauh akhirnya mereka dipertemukan kembali!!
Jangan lupa selalu dukungannya ya reader agar penulis receh ini tetap selalu semangat dalam berkarya.