
Wajah Niko sudah merah menahan amarah. Selama ini yang mampu mengendalikan hawa amarahnya hanya Jonathan dan Sania, kini Sania sudah meninggalkannya karena kesalahan yang telah diperbuatnya.
Juma cepat mengambil ponsel dari tangan ayahnya, dari pada ponselnya jadi sasaran kemarahan Niko dengan membantingnya atau melemparnya kelantai??
"Kebiasaan main putus aja..." gerutu Maya kesal.
"Jalan apa yang harus aku ambil agar Niko mengijinkanku untuk menjual penginapan ini?"
"Sayang...gimana kata suami tercintamu itu? dia mau menjual penginapan ini?" Darma datang dan langsung memeluk Maya dari belakang.
"Belum sayang, sulit sekali untuk membujuknya!!" kata Maya sambil cemberut.
"Jangan putus asa sayang, terus berusaha...sekarang kita ngadem di kamar aja yuk, mumpung sepi!!" senyum mesum Darma mengembang.
"iiihhh kamu sayang...mesum aja pikiranmu!!" kata Maya tapi dia juga akhirnya terpengaruh pada ciuman panas Darma di lehernya.
*
*
"Cantik...hei cantik...!!"
Revan mengejar Dina yang baru pulang dari sekolah dan menuju parkiran motor.
Dina menghentikan langkahnya menoleh kekiri dan kekanan. Tak ada siapapun di tempat itu selain dia, lalu dia menoleh pada seseorang yang memanggil namanya.
"Hufftt cowok rese ini lagi, siapa ya waktu itu namanya? lupa aku!!" gumam Dina.
"Hei Dina!!"
Revan berhenti di depan Dina. Napasnya tampak ngos-ngosan karena berlari tadi.
"Iya?? ada apa kamu mengejarku?" tanya Dina.
"Kamu masih ingat aku kan?" tanya Revan.
"Ngga...lagian ngga ada untungnya juga untukku mengingat namamu!!" kata Dina.
"Dasar cewek jutek...tapi aku suka banget sama gayamu!!" Revan tersenyum.
"Oh ya? kalau tidak ada keperluan lain minggirlah...aku buru-buru mau pulang!!" jawab Dina.
"Aku mau mengajakmu jalan, kamu mau kan?" tanya Revan antusias.
"Maaf aku tak punya waktu, aku harus berlatih keras untuk persiapan pertandinganku nanti!!" jawab Dina.
"Lagi pula aku tak mengenalmu, apa jaminannya kamu tidak akan berbuat jahat padaku??" tambah Dina lagi.
__ADS_1
"Sudah, minggirlah...aku harus pulang!! banyak pekerjaan yang menungguku di rumah, waktuku habis terbuang percuma berdiri di sini."
Lalu Dina melangkah menuju motornya dan meninggalkan Revan sendiri. Dia hanya terpaku menatap punggung remaja cantik itu.
Di depan Dina status keplay boyannya seolah luntur tak bersisa. Gadis itu tak pernah menatap kagum pada ketampanannya.
"Huh...jauh-jauh dari kampus kemari menemuinya jadi sia-sia dong!!" Revan terdengar menggerutu.
Tak jauh dari sana tampak Juma tersenyum senang saat mendengar Dina menolak ajakan Revan.
Dia memang selalu menunggu Dina berlatih sepulang sekolah dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Dina.
Dia sangat senang melihat Dina memukul dan menendang samsak di ruang latihan.
Saat Dina beranjak pulang, barulah dia ikut pulang juga menyusul Dina diam-diam.
Dina melajukan motornya memotong jalan. Karena jika lewat jalan raya sangatlah macet di jam...jam seperti sekarang ini, dia akan terlambat sampai di rumah.
"Perasaan mobil hitam di belakang motorku itu sedari jalan besar tadi terus membuntutiku!!" batin Dina.
"Mau main...main denganku rupanya!!"
Dina seketika menambah kecepatan laju motornya, karena jalannya agak kecil membuat mobil di belakangnya kesulitan untuk mengikutinya.
Sampai di penghujung jalan potong itu, Dina berbelok dan menyembunyikan motornya. Dan dia sendiri juga diam mengawasi.
"Lho itukan Angel yang akan menjadi lawanku di pertandingan sekolah dua hari lagi?" batin Dina.
"Mau apa dia dan gengnya mengikutiku? apakah ingin mencelakakan aku? agar dia bisa menang telak di pertandingan final nanti?" Dina terus membatin dan masih diam di tempat persembunyiannya.
"Sialan...kemana gadis bodoh itu? cepat sekali menghilangnya?" Angel tampak mengepalkan tangannya. Sementara ketiga temannyapun turut mengedarkan pandangan kesekitar mereka.
"Sebenarnya kamu mau apa sih mencegat dia, Angel?" tanya salah seorang dari mereka yang bernama kathy.
Dina mulai membuka ponselnya dan merekam percakapan mereka.
"Aku ingin jadi yang nomor satu, Kathy....aku ingin sekolah kita tak terkalahkan...karena beberapa tahun ini sekolah kita selalu memegang juara umum di pertandingan karate tingkat sekolah."
"Terus kamu mau apa mencegatnya? mau menculiknya?" kata Elis salah seorang temannya yang lain.
"Kamu tidak tau aja pukulan dan tendangan Andina itu cepat, tepat dan mematikan."
"Semua yang pernah berhadapan dengannya tau pasti bagaimana kerasnya pukulan gadis itu...entah makan apa gadis itu sehingga mempunyai pukulan dan tendangan yang sangat keras seperti itu."
"Lalu maksudmu kita mau mengeroyok dia? agar dia cacat dan tak bisa ikut bertanding lagi?" tanya Zara.
"Wah parah kamu Angel, jika ketauan kamu bisa langsung di diskualifikasi!!" kata Kathy dan Elis bersamaan.
__ADS_1
"Ya sudah, masih ada dua hari lagi berarti masih ada kesempatan untuk mencelakai gadis bodoh itu!!"
Lalu Angel dan gengnya kembali ke mobil dan berlalu.
Dina menyeringai mendengar percakapan keempat orang gadis yang salah satunya akan dia hadapi di pertandingan final dua hari lagi.
"Angel oh Angel...kita lihat saja nanti siapa yang akan kalah sebelum bertanding!!" Dina menyimpan kembali ponselnya setelah berhasil merekam percakapan keempatnya tadi.
"Kalianlah yang sengaja mencari gara-gara denganku!! jangan panggil namaku Andina Salzabila jika tidak bisa membuat kalian bertekuk lutut denganku!!"
Dia kembali menstarter motornya dan melaju menuju pulang kerumah.
Di halaman depan tampak kakek Ubud dibantu oleh tante Della sedang merawat tanaman sementara bundanya, Juned, Syifa, si kembar dan Om Riko sedang duduk sambil bersenda gurau di teras.
"Bunda, walaupun usia bunda dan om Riko jauh selisihnya tapi Dina lihat bunda dan om Riko begitu akur...Dina tau bahwa penyakit bunda sangat kecil kemungkinan untuk disembuhkan, Dina berharap bunda selalu bahagia di sisa akhir hidup bunda...Dina ikhlas melepaskan bunda jika bunda akan pergi suatu hari nanti."
"Terlalu banyak penderitaan, kesedihan dan kesengsaraan yang bunda alami selama bertahun-tahun ini, dan Dina benci jika mengingat satu persatu mereka yang telah menyakiti hati bundaku tercinta."
Tak terasa air mata mengalir ke pipi gadis cantik yang tangguh itu. Dengan cepat dihapusnya sebelum dia memasuki pekarangan rumah.
"Kakak...kakak datang..." ucap si kembar lari menyongsong kakaknya itu.
"Kok sore banget pulangnya, Dina!!" kakek Ubud yang pertama kali menyapanya.
"Iya kek, tadi Dina berlatih dulu untuk persiapan pertandingan dua hari lagi!!" jawab Dina.
"Dina, masuk dan mandi sana dulu biar segaran!!" kata Sania dari teras.
"Iya bun..."
Lalu dia melangkah masuk untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
"Dina tampaknya belum sepenuhnya bisa menerima papah ya, mah??" kata Riko pelan.
"Bukan begitu pah, dia hanya takut bundanya akan kecewa dan gagal lagi!!" ujarku.
"Mamah itu beruntung punya anak-anak seperti mereka yang sayang sama mamah!!" ucap Riko lagi.
"Iya pah, mereka selalu ada untuk mamah di saat suka dan duka, di saat senang dan.susah!!" kataku sambil tersenyum memandang anak-anakku satu persatu.
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya readers...terima kasih🙏🙏
__ADS_1