Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 63 Tumbuh Tapi Tak Bisa Lagi Berbunga


__ADS_3

Pihak keluarga kami sudah menyetujui rencana pernikahan kami. Aku juga sudah tidak bisa mundur dari ucapanku sendiri. Suka tak suka...cinta tak cinta...semua harus aku jalani.


Mungkin perasaan sayang bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, tapi tak bisa lagi berbunga seperti dulu.


"Saya nikahkan Sofwan Prayoga bin sumarjo dengan Anggita Natasya binti Irawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."


"Saya terima nikahnya Anggita Natasya binti Irawan dengan mas kawin tersebut, tunai..."


"Sah...serentak beberapa undangan berteriak...Alhamdulillah..."


Hari ini, aku resmi mempersunting Anggita sebagai istri keduaku. Harapan para yang hadir semua kali ini adalah...semoga pernikahanku yang kedua ini akan berakhir hanya dengan kematian, bukan lagi dengan perceraian.


Pernikahan kami dilangsungkan secara sederhana...hanya teman dan kerabat dekat saja yang diundang.


"Pah...Mamah bahagia sekali hari ini..."Anggita memelukku erat.


"Kok Pah..."


"Iyalah...secara sekarang kita sudah menikah...jadi panggilannya juga bukan mas lagi seperti dulu."


"Iya terserah ajalah..mas ikut aja..."


"Lho...kok mas lagi...papah dong..." Anggita tersenyum menggodaku.


"Mamah keluar duluan gih...kepala papah agak pusing...papah istirahat sebentar ya! Nanti papah nyusul mamah keluar."


"Oh iya...papah minum dulu obatnya ya...baru tidurlah dulu..."


"Iya mah...terima kasih atas pengertian dan perhatianmu selama ini padaku..."


Aku membaringkan diri sebentar untuk menghilangkan rasa sakit di kepalaku.


"Hampa....perasaan apa ini? Mengapa setelah menikah, aku sama sekali tak bahagia?"


"Apa ini? Mengapa ada air bening menetes dari kedua kelopak mataku?"


"Aku meneteskan air mata...tapi mengapa? Semestinya hari ini aku bahagia, bukannya bersedih seperti ini!"


"Aku seperti merasa ada seseorang yang menjerit dalam kesedihannya sedang meratapi aku...tapi siapa?"


"Mengapa aku juga merasa terluka hati dan perasaanku?"


Tanpa Sofwan dan Anggita tau, Nuri dan Anya mengirimkan video dan foto-foto pernikahan mereka kepada Sania.


Sania terluka...menjerit dalam diamnya...perasaan itulah tadi yang dirasakan oleh Sofwan. Secara, walaupun mereka sudah tidak bersama lagi, tapi ikatan cinta itu secara tak langsung masih ada.


Rasa hampa itulah gambaran hati Sania...pupus sudah harapannya untuk bisa berkumpul bersama dengan suami tercinta lagi.


Dan rasa itulah yang bagai maghnet telak langsung mengenai jauh ke dalam hati Sofwan tanpa dia bisa lagi menyadarinya, siapa orang yang sudah terluka itu.

__ADS_1


"Suamimu kemana, Anggit?" Tegur pak Irawan kepada anaknya.


"Istirahat sebentar, yah...tadi kepalanya agak sakit..."


"Terus kenapa kamu di sini? Temani suamimu sana..."


"Tidak apa-apa yah...paling sebentar mas Sofwan juga keluar kamar."


"Nanti malam sakit kepala mas Sofwan akan hilang, mbak...apalagi nanti malam mau menjebol gawang mbak Anggit..." Angga menggoda kakaknya.


"Nah kan panjang umur...itu orangnya keluar kamar."


"Mas Sofwan...nanti malam ngegol gawang mbak Anggit, pelan-pelan aja yah...ntar besok mbak Anggit ngga bisa jalan lagi..."


"Hah....maksudnya apa Ngga..." Sofwan tampak kebingungan.


"Angga...apaan sih...?"


Kami semua tertawa...hanya Sofwan saja yang masih agak kebingungan, walaupun ikut juga tertawa.


*


*


Puluhan kilo meter dari rumah yang kini tampak bahagia itu, seorang wanita yang badannya penuh cipratan lumpur sedang duduk sendiri meratapi diri dan nasibnya.


Tadi dia menerima pesan whatsapp dari nomor tak dikenal...dengan cepat dia mencuci kaki dan tangannya.


Pekerjaannya sudah selesai...rencananya sore ini setelah selesai mencetak bata, dia akan mengambil upah kerjanya.


"Lumayan...2000 biji bata...semuanya 200 ribu rupiah...Bisa untuk membeli buku Lks Dina...sisanya bisa untuk menutupi kebutuhan dapur."


Lalu pesan whatsapp itu masuk dan meluluh lantakan hati dan perasaannya.


"Dilihatnya senyum bahagia Sofwan dan Anggita yang memamerkan cincin pernikahan di jari manis mereka dan memamerkan sepasang buku nikah mereka.


Dia duduk tersandar di tiang penyangga gubuk pencetakan bata...hatinya hancur...hidupnya...jangan ditanya lagi...separuh jiwanya seperti telah


pergi bersama dengan cintanya.


Belum kering lukanya karena surat cerai yang dengan terpaksa harus ditanda tanganinya...kini terkirim lagi foto dan video pernikahan dari mantan suami yang masih sangat di cintainya.


Dia menangis duduk sendirian sampai ada tangan mungil yang menepuk bahunya.


"Mamak kenapa masih di sini? Ini sudah hampir maghrib...hujan gerimis pula...ayo kita pulang?"


Dina membawakanku payung...tapi dia tercekat melihat mataku yang sembab dengan air mata. Diraihnya ponselku yang terjatuh di tanah dan dilihatnya.


Kulihat rahangnya mengeras...kening bocah berumur hampir 9 tahun itu berkerut dalam.

__ADS_1


"Ini foto dan video bapak kan, mak?"


"Jika menikah dengan orang lain akan membuat bapak sembuh dan bahagia, ya...biarkan saja..."


"Toh kami sudah terbiasa hanya hidup dengan mamak saja...biarkan saja bapak pergi, mak!"


"Ayo kita pulang...mamak harus istirahat...supaya mamak tetap sehat, kami tidak mau melihat mamak yang kami cintai sakit."


Kejadian itu berlangsung kurang lebih sebulan sebelum aku mendapatkan pekerjaan sebagai office girl.


Aku memang sakit...aku memang terluka...tapi aku mempunyai 3 dokter andalan yang mampu mengobati segala lukaku dengan ke kocakan mereka.


"Teganya para kakak iparku ini...sepertinya mereka teramat bahagia, menari di atas penderitaanku."


Dengan langkah gontai aku mengikuti Dina anakku pulang ke rumah.


Sebenarnya aku sangat lapar...aku hanya sarapan tadi pagi...aku memilih untuk tidak makan siang, karena beras di rumah hanya cukup untuk makan siang ke tiga anakku.


Perih di perutku masih kalah dengan rasa perih di hatiku. Aku berusaha tegar, tapi wanita mana juga yang tak akan terluka hatinya, baru saja bercerai, tapi sang mantan sudah menikah lagi.


"Kalian tega semua kepadaku...semoga suatu hari kelak karma akan datang menghakimi kalian semua."


"Aku membenci kalian semua..."


Itulah jeritan suara hatiku, di barengi suara petir yang sekarang sambar menyambar dilangit, seolah turut merasakan kesakitan dan kesedihanku.


Berbeda dengan keadaan Sania di sini yang terperangkap dalam luka dan duka...di sana Sofwan dan Anggita, bergelut melewati malam yang dingin.


Malam yang dingin berubah menjadi malam yang panas untuk mereka. Berpacu melewati malam menuju kenikmatan.


Butiran-butiran peluh membanjiri tubuh mereka berdua. Desah napas dan rintihan seolah berlomba dengan gemuruh hujan yang turun dari langit.


Hingga akhirnya mereka berdua terbadai kelelahan di atas tempat tidur. Setelah menikmati malam panas yang panjang, setelah hampir berjam-jam bergulat melawan hawa nafsu yang selama ini terpendam.


"Terima kasih sayang...Sofwan mengecup kening istrinya yang berbaring kelelahan di sampingnya."


"Masih terasa sakit?" Anggita membuka matanya yang tadi terpejam, berusaha mengatur napasnya yang memburu.


""Awalnya aja pah...setelahnya mamah tidak merasakan sakit lagi...berganti dengan rasa nikmat yang tiada tara."


"Ya sudah...cukup malam ini ya...kita istirahat dulu..."


"Tapi kalau nanti mamah pengen, boleh minta lagi kan pah?"


"Apapun untuk istriku tercinta..." Bukannya berhenti untuk beristirahat, mereka malah mengulang kembali adegan panasnya dari awal lagi.


***Bersambung....


Sebenarnya author tak tega untuk menulisnya...Seolah-olah juga ikut merasakan sakit yang menimpa Sania..😪😪

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya...Vote dan favoritnya jika berkenan...Terima kasih***...


__ADS_2