Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 125 Permohonan Miko


__ADS_3

"Kamu masih sama seperti pertama kita bertemu dulu mba Nia...Masih ayu, masih lemah lembut."


"Hanya pada saat kamu tertidur begini, aku bisa sepuasnya memandang wajahmu."


"Yah...ayah mau kemana? Arah rumah kita bukan ke sana yah!!! Arah yang ayah tuju itu arah ke gunung."


Miko hanya menoleh saat Nia meneriakan namanya. Dia tersenyum pada Sania lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


Miko terus menuju jalan mendaki kearah puncak gunung itu. Sania berusaha mengejar suaminya yang semakin jauh meninggalkannya.


Anehnya seberapapun usaha Sania untuk mengejar Miko, tetap saja dia tak bisa mendekati suaminya itu.


Begitu sampai di puncak gunung, Miko berhenti dan berbalik memandang ke bawah kearah Sania yang kepayahan mendaki ke atas untuk menyusulnya.


Sania memandang ke atas kepada suaminya. Dilihatnya Miko yang memakai baju putih dan celana juga putih polos. Miko berdiri membelakangi matahari pagi yang baru saja terbit. Wajah dan tubuhnya tampak bersinar dia terlihat tampan sekali, jauh lebih tampan dari sebelumnya.


"Ayah ayo turun...bunda ngga bisa nyusul ke atas, yah..."


Miko tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Sania dan bersamaan dengan datangnya kabut di puncak gunung lalu tubuh Miko tersapu kabut dan menghilang dalam sekelipan mata.


"Ayah...ayahhhhhh...."


Hosh...hosh....


"Mba ada apa mba? Mba Nia gelisah sekali tidurnya, tangan mba Nia menggapai-gapai seperti hendak meraih sesuatu."


"Miko, Sultan...saya bermimpi aneh sekali." Lalu Sania menceritakan soal mimpinya tadi.


Sultan mendengarkan sambil memikirkan sesuatu.


"Dulu aku pernah bermimpi hal serupa, aku melihat anak dan istriku memakai pakaian serba putih pergi meninggalkanku sambil melambaikan tangan mereka, tak selang sebulan setelah itu mereka berdua meninggal karena kecelakaan maut itu.


"Tapi bisa saja yang dialami mba Nia ini hanya bunga tidur belaka." Sultan membatin lagi.


"Semoga saja ini bukan firasat buruk ya Sultan." Sania tampak gusar sekali.


"Semoga mba, semoga juga Miko akan baik-baik saja."


*


*


Setelah dua hari tak sadarkan diri, pada hari ketiga Miko mulai sadar.


"Bun, maafkan ayah jika selama ini selalu saja merepotkan bunda."


"Yah, bunda tak merasa direpotkan oleh ayah...sudahlah mendingan ayah ngga usah berpikir yang aneh-aneh..."


"Bunda, gimana kabar anak-anak bun?"


"Mereka baik-baik saja yah, mereka selalu berdoa semoga ayah cepat sembuh."


"Siapa yang menemani bunda menjaga ayah di sini?"

__ADS_1


"Theo dan Sultan yah, jawabku."


"Apa Sultan masih ada di luar bun? Ada yang ingin ayah bicarakan empat mata dengannya."


Deg...tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan sikap Miko. Biasanya mereka jarang akur jika bertemu.


"Tolong panggilkan Sultan bun...tak usah khawatir, kami ngga akan bertengkar kok." Miko tersenyum melihat keraguanku.


Akhirnya aku menuruti permintaannya untuk menemui Sultan di ruang tunggu.


"Sultan..."


Sultan yang tengah asyik berkutat dengan laptopnya berhenti dan memandangku.


"Iya, ada apa mba?"


"Miko memanggimu ke dalam Sultan...ada yang ingin dia bicarakan padamu."


Sultan menutup laptopnya lalu dia mengikuti Sania ke dalam.


Miko melihat Sania dan Sultan sambil tersenyum.


"Bisakah bunda tinggalkan ayah dan Sultan berdua bun? Ada yang ingin ayah bicarakan berdua saja dengan Sultan."


"Ngga apa-apa bun, hanya pembicaraan para lelaki aja kok..." Miko tersenyum melihat keraguanku.


Akhirnya dengan berat hati aku melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.


"Sultan, ada yang ingin kutanyakan kepadamu, aku harap kamu menjawab dengan sejujur-jujurnya." Dengan susah payah Miko berbicara.


"Tak bisakah nanti menunggu kamu sembuh dulu baru kita bicara, Miko?" Sultanpun tak sampai hati melihat kondisi Miko yang demikian, tapi memaksa untuk membicarakan sesuatu.


"Ini sangat penting bagiku, Sultan...karena aku tak ingin jatuh ke tangan yang salah."


"Apa maksudnya Miko ini ya??" Sultan membatin.


"Sultan, jawablah dengan jujur...apakah kamu mencintai istriku?"


Deg....Sultan langsung menelan salivanya.


"Jawab saja Sultan, aku ingin dengar jawaban langsung dan jujur dari mulutmu sendiri."


Agak lama Sultan terdiam sebelum dia menjawab pertanyaan Miko yang menurutnya teramat sulit untuk dijawab.


"Iya...aku memang mencintai Sania!!! Rasa yang awalnya hanya kasihan lalu menjadi suka dan akhirnya menjadi cinta."


"Lalu bagaimana dengan anak-anak? Apakah kamu hanya mencintai Sania saja ataukah kamu juga mencintai anak-anaknya?"


"Tentu aku juga mencintai anak-anaknya...jika aku tak mencintai anak-anak, untuk apa aku wira-wiri ke sana kemari mengurus keperluan mereka selama Sania di rumah sakit!!"


"Sultan, bolehkah aku meminta tolong padamu? Ini permintaan tolong seorang sahabat."


"Apa itu Miko?"

__ADS_1


"Jika aku tiada nanti, maukah kamu menikah dengan istriku agar kamu bisa lebih leluasa menjaga mereka?"


"Aku percaya padamu, itu sebabnya aku memohon bantuanmu."


"Kamu jangan bicara seperti itu Miko, kamu akan sembuh...berpikirlah yang positif saja, jangan berpikiran yang negatif."


"Entahlah Sultan, tapi firasatku mengatakan bahwa hidupku tak akan lama lagi." Miko terbatuk-batuk sebentar.


"Karena menurut dokter perkembangan sel tumor di otakku sangatlah cepat dan sudah menyebar ke jaringan terdekat di dalam otakku."


"Mungkin dalam beberapa hari ini aku akan di operasi untuk mengangkat sebagian ataupun keseluruhan tumor ganas yang merusak sel-sel sehat di dalam otakku."


"Operasi berlangsung cukup lama Sultan, bisa memakan waktu kurang lebih 3 sampai 5 jam."


"Dan aku takut jika aku tak akan sanggup melewati masa-masa kritisku itu."


"Oleh sebab itu aku memohon padamu Sultan, jika aku tiada nanti...menikahlah dengan Sania, lindungilah dia dan anak-anakku...sayangi mereka seperti kamu menyayangi anak-anakmu sendiri."


"Kasihan mereka sudah tak memiliki siapapun lagi, Sultan."


"Aku yang mereka harapkan untuk memberikan perlindungan sudah tak mampu lagi menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami untuk istrinya dan ayah untuk anak-anaknya."


Air mata Miko menetes membanjiri kedua pipinya dan meleleh membasahi bantalnya."


"Berjanjilah Sultan..."


Miko menggenggam tangan Sultan. Tangan yang dulu kekar sekarang sudah ringkih seperti tinggal kulit pembungkus tulang saja.


"Aku tak bisa Miko...aku tak bisa melakukannya."


"Tolonglah Sultan, ini permohonan terakhirku."


"Ya Allah...berat sekali permintaanmu Miko, dan mba Saniapun belum tentu menyetujuinya."


"Aku yang akan bicara memberikan pengertian padanya Sultan, tugasmu hanya mengiyakan dan menyetujui permohonanku."


Akhirnya walaupun dengan berat hati Sultan menyetujui permintaan yang sangat berat itu.


Setelah itu Sultan keluar dengan wajah yang berselimutkan mendung.


"Sultan, sudah selesai bicara 4 matanya?" Sapaku saat kami berselisihan di ruang tunggu.


"Sudah mba!!"


"Kenapa wajahmu murung begitu Sultan? Apa ada kata-kata Miko yang menyakiti hatimu?"


"Jika ada perkataannya yang telah menyakitimu...aku sebagai istrinya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Sultan!!"


"Tidak ada mba, Miko hanya membicarakan sesuatu saja...nanti mba Sania pasti akan diberi tahu olehnya."


***Bersambung...


Happy reading dan happy weekend guys...jangan pernah lupa setelah membaca untuk menekan like, memberi komen, tekan vote dan favorit serta rate nya jangan lupa ya...😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2