
Manusia bisa berencana tapi Allah yang menentukan. Semestinya rombongan kami akan berangkat hari ini, tetapi penyakit jantung ibu kambuh.
Ibu bersikeras agar aku pergi dan jangan mengkhawatirkan penyakit ibu.
Dari pihak keluarga mas Sofwan pun merencanakan agar resepsinya di mundurkan, tapi ibu tetap bersikeras agar dilanjutkan saja walau tanpa beliau.
Akhirnya dengan berat hati kami berangkat. Kutinggalkan ibu dengan hati was-was.
Masih ada dua hari lagi resepsi kami akan diselenggarakan, tapi pikiranku terpecah belah.
"Segera setelah resepsi, besoknya kita pulang dek". Mas Sofwan menghiburku.
Menunggu dua hari rasanya seperti dua tahun lamanya dan membuatku sangat tak nyaman.
Karena kedua kakak perempuan mas Sofwan sangat tidak bersahabat. Mereka menganggapku seperti orang asing di rumah ini.
Jika mas Sofwan belum masuk kedalam rumah karena ikut sibuk membantu persiapan resepsi kami, aku ikut membantu ibu-ibu di dapur.
"Itu istrinya Sofwan?" bisik salah seorang ibu.
"Iya...katanya umur istrinya itu lebih tua empat tahun."
Lalu kudengar juga kak Anya spontan berkata, "Iya...perawan tua..." lalu mereka tertawa seolah aku tak ada di situ.
"Makan dulu Nia...mulai pagi kamu belum makan." kata ibu mertuaku.
"Iya bu...saya tunggu mas Sofwan dulu."
"Memang harus begitu...pengantin itu harus bisa menahan lapar sebab bakal berdiri seharian."
"Toh seharian tak makan juga tidak akan membuatmu mati, " sindir kak Nuri padaku.
Aku duduk di dalam kamar. Pikiranku melayang kepada ibu. Semoga ibu baik-baik saja kutinggalkan tiga harian ini.
"Makanlah..." mas Sofwan masuk dan menyodorkan piring berisi makanan padaku.
"Mas tahu perutmu belum ada terisi makanan mulai pagi."
"Sabar ya...besok resepsi pernikahan kita,
lalu lusa kita akan pulang."
Dipandangnya istri tercinta itu makan. Hatinya terenyuh. Secara tak sengaja siang tadi telinganya sendiri mendengar gunjingan para ibu-ibu di dapur.
Ditambah lagi suara-suara sumbang kedua kakaknya menambah ramai hinaan mereka pada istrinya.
Hanya kak Juwita yang diam tak berkomentar apapun.Tapi hebatnya tak didengarnya sedikitpun keluhan dan aduan dari mulut sang istri.
"Maafkan mas Sofwan, Nia."
"Bukannya mas tidak mau membelamu tapi jika mas angkat bicara malah akan tambah panas suasananya."
"Mas sendiri tidak tau, apa salahmu?"
"Mungkin semua ini salah mas Sofwan kenapa mencintaimu sehingga membawamu masuk kedalam semua masalah ini."
"Kok mas malah melamun?" memang mas sudah makan?"
Sapaannya mengagetkan dan membuyarkan lamunanku. "Eh iya...tadi mas makan duluan, kamu makanlah."
"Kamu harus jaga kesehatan dan jangan sampai sakit agar besok rencana kita berjalan lancar agar kita juga bisa cepat pulang."
"Iya mas..."
"Mas...bolehkah aku bertanya?"
"Selesaikan dulu makanmu nanti baru bicara lagi."
"Kalau kurang nanti mas ambilkan lagi makanannya."
Kami terdiam. Sementara aku menghabiskan makananku.
"Apa yang mau kamu tanyakan pada mas?"
Aku tak langsung menanyakannya. Aku meneguk dulu setengah minumanku.
__ADS_1
Aku menatapnya beberapa saat sebelum membuka pertanyaan.
"Siapa Dinara itu mas?"
"Sepertinya para ibu-ibu di dapur tadi juga kedua kakakmu amat memujanya."
"Mereka sibuk membandingkan Dinara denganku mas?"
Suamiku menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku.
"Kamu tau kenapa mas sampai pergi jauh dari rumah dan mencari hidup di kampung orang?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Semua karena wanita yang bernama Dinara itu."
"Kami dijodohkan sejak kecil."
"Aku sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, begitupun sebaliknya dengan Dinara."
"Kebetulan ayah Dinara adalah teman kerja bapak dulu. Jadi mereka sepakat untuk menjodohkan kami berdua."
"Mas yang waktu itu baru tamat SMK baru diberi tau kalau kami dijodohkan."
"Tentu mas sangat keberatan...kita bukan hidup di zaman Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya yang harus dijodohkan segala."
"Dulu ibu dan bapak menentang keputusan mas untuk merantau, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menyadari bahwa tidak seharusnya anak laki-laki itu dikekang di dalam rumah."
"Akhirnya perjodohan itupun lambat laun terlupakan."
"Tapi tampaknya kakak-kakakmu menyukainya mas."
"Ya iyalah mendukung, Dinara itu adalah adik sepupu dari mas Bram suami kak Nuri."
"Jika nanti mas bertemu lagi dengannya, apa yang akan mas lakukan?"
"Ya ngga melakukan apa-apalah, lagian dari dulu aku hanya menganggapnya teman saja."
"Sudahlah dek...kamu istirahat saja agar besok kamu bisa fresh."
"Nia saja mas yang bawa kedapur...ngga enak rasanya."
"Sudah...kamu istirahat saja, ya...kalau ngga enak kasih kucing tho dek..."
"Kok kamu yang bawa piring kedapur Sofwan...mana istrimu...enak betul hidupnya berani memerintah suami."
"Apa sih kak Anya...hanya membawa piring kedapur aja lho...lagian kasian Nia seharian bantu-bantu di dapur."
"Ini aja perutnya baru terisi makanan, Sofwan tidak mau istri Sofwan sakit kak!"
Anya mendengus sambil berlalu, dan Sofwan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Tampaknya aku salah membawa Nia masuk ke dalam lingkungan keluarga besarku."
"Semoga saja acara besok berjalan lancar agar kami bisa cepat pulang, lagi pula kasihan jika ibu ditinggal terlalu lama di rumah."
*
*
Aku dan mas Sofwan duduk di pelaminan sebagai raja dan ratu sehari.
Tamu undangan sudah banyak berdatangan. Dan penyanyi keyboard sudah mendendangkan lagu-lagu pembuka.
Sejenak masalahku kemarin aku lupakan. Tak enaklah aku bermuram durja di tengah hari bahagia kami.
Didepan sana kakak-kakak iparku yang sudah berdandan seperti para putri keraton tampak sumringah menyambut para tamu undangan. Begitupun kedua mertuaku.
Sebenarnya aku sedih, ibu tak bisa hadir diacara bahagia kami.
"Hallo cantik...apa kabarmu? Mereka memeluk seorang tamu undangan yang sepertinya sudah kenal lama."
"Mas, siapa itu?" Suamiku mengarahkan pandangan matanya kearah yang kutunjukan dengan isyarat mata."
"Itu Dinara..."
__ADS_1
Saat wanita itu berbalik kearah kami, aku terkejut bukan main.
"Wanita itu yang telah menabrakku waktu itu mas...."
"Kapan dek...kamu salah kali...masa dia berkeliaran sampai di lingkungan kampung kita sana."
"Kok kamu ngga pernah cerita ke mas bahwa kamu pernah ditabrak orang?"
"Kejadiannya waktu Nia mau belanja kewarung pas ibu dan bapak mau datang itu loh, mas."
"Luka lecet di lenganmu yang kamu bilang jatuh itukah?"
"Iya mas."
"Kenapa kamu ngga pernah bilang kalau luka itu bukan jatuh tapi ditabrak orang?"
"Aku hanya tidak ingin membuat mas khawatir."
Dia berjalan dengan anggun menghampiri kami.
Tapi sama denganku, diapun sangat terkejut melihatku.
"Kamu....?" katanya menunjuk tepat didepan hidungku.
"Tak kusangka wanita yang kamu nikahi adalah wanita bar-bar ini, Sofwan!!!"
"Dinara...tolong jangan membuat keributan di acara pernikahan kami."
"Seleramu kampungan banget Sofwan."
Untung suara musik sangat nyaring jadi orang mengira kami hanya berbincang-bincang biasa saja.
"Mungkin istriku hanya orang kampung...tapi aku mencintainya."
Kulihat wajahnya merah menahan amarah.
"Suatu hari nanti kamu akan menyesal membatalkan perjodohan kita Sofwan."
Dia berlalu dari hadapan kami menuju kearah orang tua mas Sofwan.
Aku menggenggam erat tangan suamiku begitu pula dengannya.
"Yang sabar ya...tak usah diambil hati."
"Iya mas...aku berusaha menahan diri kok."
"Aku tidak mau acara pernikahan kita rusak gara-gara dia."
Di depan sana, wanita yang bernama Dinara itu asyik bergunjing dengan teman-temannya yang juga teman sekolah suamiku waktu SMP.
Dan aku tau mereka sedang menggunjingkan aku karena sebentar-sebentar mata mereka melihat kearahku sambil tertawa sinis.
Tampaknya suamiku tau perasaanku. Dia terus menggenggam erat tanganku. Berusaha meredakan emosiku yang kian bergejolak.
Bahuku bergetar menahan amarah, sedih dan kecewa, dan mas Sofwan tau itu.
"Sabar sayang...dia berbisik sementara bibirnya tersenyum kepada para tamu yang mendekat dan memberi ucapan selamat."
"Sudah jangan dilihat...anggap saja mereka patung."
"Selamat menempuh hidup baru ya Sofwan...wah istrinya ayu tenan Wan..." celetuk seorang ibu dan suaminya yang menyalami kami.
"Terimakasih bu...bagi Sofwan memang Nia adalah wanita yang tercantik bu."
Dia sengaja menyaringkan suaranya agar terdengar oleh Dinara dan gengnya yang sedang makan tak jauh dari kami.
"Pinter kamu memilih istri Wan...tak sia-sia kamu pergi kerja jauh dari rumah." Celetuk suami ibunya.
"Ah Pak Dedi bisa aja...Sofwan tersipu malu."
Tanpa dia tau ada sepasang mata yang menatap kami penuh kebencian. Yah mata Dinara.
Bersambung.....
...Jangan lupa like dan komennya ya...Jika berkenan votenya juga...😀😀🙏🙏...
__ADS_1