
"Bagaimana keadaan istrimu Sofwan? Anggita sudah mau memberikan asi kepada Aisyah kah?"
"Belum yah..." Sofwan menjawab prihatin.
"Jangan kata memberi asi untuk Aisyah...melihat saya dan Aisyah mendekat aja, dia langsung mengamuk...melempar apapun yang ada didekatnya."
"Anggita benar-benar shock karena telah kehilangan kedua kakinya, yah!!"
"Kamu yang sabar aja, Sofwan...ini memang cobaan terberat untuk rumah tangga kalian."
"Iya yah," Sofwan mengangguk lesu.
Terus terang dia sangat lelah. Pulang bekerja dia harus mengurus Aisyah. Tidak mungkin semua tanggung jawab harus dia berikan kepada babysitter. Dia ingin putrinya juga mendapatkan kasih sayangnya karena ibunya sudah tidak peduli lagi kepada putri mereka.
Pasca kecelakaan yang mengharuskan kaki Anggita di amputasi, Anggita benar-benar tidak mau didekati lagi...dia seolah hanyut dalam dunianya sendiri.
Untungnya mereka tinggal di rumah pak Irawan. Tentu saja pak Irawan tidak ingin ada apa-apa yang menimpa cucu kesayangannya. Tapi tetap saja Sofwan tidak bisa melepaskan sepenuhnya kepada seorang babysitter.
Seperti sore ini sepulang kantor, dia mendapati istrinya tengah termenung di taman belakang. Dia segera ke kamar putrinya. Dilihatnya Aisyah sedang tertidur pulas di boksnya.
"Papah akan berusaha menjagamu sebaik mungkin Ais...papa tidak ingin nasibmu seperti ketiga kakak-kakakmu dulu, yang tak pernah mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari papah."
Sofwan mencium putrinya, lalu dia menuju taman belakang untuk menjenguk Anggita.
"Mamah...apa kabar hari ini? Mamah sudah terlihat lebih segar!"
"Bagaimana mamah mau terlihat segeran, pah? Untuk pergi kemana-mana aja, mamah harus duduk di kursi roda ini?" Anggita mulai menangis lagi.
"Cup...cup...sudah mah, jangan menangis terus...selama papah ada di rumah, papah yang akan merawat mamah ya!!!"
Dia memeluk istrinya yang sudah agak tenang hari ini, tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu berteriak histeris.
"Mamah sudah makan? Mau papah buatkan mie goreng atau nasi goreng kesukaan mamah? Atau kita mau pergi makan di luar?"
"Mamah ngga nafsu makan pah, mamah mau duduk di sini aja memandang matahari terbenam."
"Papah masuk aja, ganti baju sana...sekarang papah harus bisa mengurus diri sendiri ya...mamah ngga bisa banyak membantu lagi sekarang."
"Papah bisa mengurus diri sendiri mah, papah yang juga akan mengurus mamah selama papah di rumah."
Anggita diam di kursi rodanya. Hanya air mata yang terus meluncur di pipinya yang terlihat semakin tirus dan pucat.
"Papah mau mandi dan mengurusi cucian kotor dulu ya mah, kalau mamah perlu apa-apa panggil saja papah."
"Pembantu di rumah pak Irawan memang pulang sore hari, begitu juga dengan babysitter Aisyah. Besok pagi-pagi sekali baru mereka datang lagi.
__ADS_1
"Maafkan mamah ya, pah...sekarang mamah sudah tidak bisa berfungsi sebagai istri yang baik lagi."
"Jangan kata mengurus papah dan Aisyah, sedangkan keperluan mamah aja diurusi bibi dan papah."
Pak Irawan memandang menantunya yang sedang mencuci baju istri dan putrinya. Hatinya sangat iba. Sofwan memang tidak mau bajunya serta baju istri dan putrinya dicuci oleh pembantu. Dia lebih baik mencuci sendiri.
Sofwan memang orang yang teliti, dia tidak mau ada noda apapun di pakaiannya atau juga masih tertinggal bau apapun.
Karena dia ingat Sania dulu selalu memperhatikan baju-bajunya dengan teliti. Istrinya dulu tergolong cerewet kalau sudah menyangkut tentang penampilan. Dia selalu ingin keluarganya tampil dengan baju yang rapi dan bersih walaupun itu bukan lagi baju baru.
Selesai mencuci dan menjemur, dia balik ke kamar Aisyah.
"Oh...anak papah bangun ya...kenapa? Aisyah ngompol?"
Pak Irawan masuk juga kedalam kamar. "Sudah, biar ayah yang mengurus...kamu istirahat dulu sana...sejak pulang tadi ayah perhatikan, kamu ngga ada duduk sama sekali."
Aku merenggangkan badanku. Istri dan anakku sudah tertidur.
"Aku mau ke balkon lantai atas dulu ah...aku mau menelpon anak-anakku.
Lama...baru telepon diangkat. "Assalamualaikum...."
Deg....hatiku berdetak keras, yang mengangkat itu Sania. Suara yang sangat aku rindukan. Sudah dua bulan lebih aku tidak lagi melihat ataupun mendengar suaranya.
"Waalaikum salam...Ini mas Sofwan, dek!! Bagaimana kabarmu dan anak-anak? Baik-baik sajakan?"
"Kok rame banget sih, dek? Itu di mana?"
"Di kafe mas...aku dan Dina bekerja di sini, tapi kita sudah mau pulang kok."
"Apa dek? Bekerja di kafe? Apa Miko sudah tidak sanggup lagi membiayai kaliankah? sampai malam-malam gini kamu dan anak-anak masih keluyuran di luar rumah?"
"Aduh aku ke bablasan bicara, jangan sampai mas Sofwan tau aku sedang hamil dan sekarang tidak tinggal di rumah Miko lagi."
"Nah itu Dina, mas mau bicara dengan dia kan?" Aku mengangsurkan handphone ke Dina.
"Halo? Iya pak? "
"Coba video call Dina, bapak mau liat kamu dan bundamu ada di mana!!"
Suara Sofwan sudah mulai meninggi mendengar mantan istri dan anaknya jam segini masih di luar rumah.
Dengan terpaksa Dina melakukan panggilan video call.
Hati Sofwan menangis melihat anaknya ada di lingkungan seperti itu sudah malam begini.
__ADS_1
Dina keluar dulu, ada yang mau bapak bicarakan denganmu tapi jangan sampai didengar oleh bundamu.
Aku yang lagi sibuk di kasir bersama Sultan, tidak begitu memperhatikan Dina.
"Dina...bapak tau kamu selalu jujur dalam berbicara...coba jelaskan ke bapak kenapa kalian bisa kerja sampai malam begini?"
Akhirnya Dina menjelaskan permasalahan dari awal hingga akhir.
Gigi Sofwan bergemeletuk menahan gejolak amarahnya. "Jahanam kau Miko, teganya kamu menelantarkan anak istriku."
"Pak?"
"Iya, Dina?"
"Bunda sekarang sedang hamil enam bulan."
Prang...gelas di tangan Sofwan terlepas jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah....bundamu hamil tapi masih bekerja sampai malam begini?"
Mata Sofwan memerah menahan kebencian yang memuncak sampai ke ubun-ubunnya.
"Ingat Miko...aku akan membunuhmu jika sampai terjadi apa-apa dengan Saniaku..." Tangannya sampai bergetar memegang ponselnya.
"Ya sudah, Dina tutup dulu teleponnya...besok akan bapak transfer uang buat kebutuhan kalian."
"Sania hamil? Anak siapa yang ada dalam kandungannya? Jangan-jangan itu anakku. Jangan-jangan malam kami berhubungan itu...?"
"Aku harus mencari tau, liat saja kamu, Miko..."
Sofwan kembali menekan nomor tujuannya. Sekarang Mikolah yang menjadi sasarannya.
"Halo..." Suara dari seberang sana.
"Hei Miko, ini Sofwan...saya sudah tau semua yang terjadi...ingat, dulu saya pernah bilang...saya akan membunuhmu jika sesuatu terjadi dengan Sania dan anak-anaknya.
"Saya masih sangat mencintainya, sejujurnya saya tidak pernah rela dia hidup bersamamu, apalagi untuk kamu sakiti seperti ini."
"Ceraikan dia, biarkan dia sendiri lagi seperti dulu...dari pada batinnya terus kamu siksa."
Belum sempat Miko menjawab, Sofwan sudah memutuskan sambungan teleponnya.
"Sialan kamu Sofwan...berani-beraninya kamu mengancamku..." Miko melempar handphonenya ke tempat tidur dengan penuh emosi.
***Bersambung....
__ADS_1
Dukungannya selalu ya guys....like, vote, favorit dan ratenya....๐๐terima kasih๐๐