Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 253 Niko Bertemu Sania


__ADS_3

Andina sempat tersenyum kecil membayangkan persahabatannya dengan Nathan dulu. Tanpa dia sadari seseorang sedang mengamatinya dari jendela ruang kelas dan begitu terpesona dengan senyuman Andina yang jarang sekali dia lihat.


"Kamu itu cantik sekali...wajahmu persis seperti salah satu girl band dari negeri ginseng, hanya sayang...senyum manis dan wajah imut serta cantikmu harus kamu sembunyikan dibalik sikapmu yang dingin membeku seperti salju yang tak pernah mencair di pegunungan Himalaya sana."


Plakkk...


Adaww...


Leo membeliakan mata antara kaget juga kesal pada temannya yang selalu datang pada saat momen-momen yang tidak tepat.


"Kamu mau jadi penguntit atau pengintip?" kata Tejo teman sebangku Leo sambil tertawa melihat wajah Leo yang memerah.


"Siapa sih yang kamu intip?" Tejo ikut menjulurkan kepalanya.


"Hah...kamu mengintip Salju Himalaya?? ngga salah??? Vina cantik luar biasa dan dia sangat memujamu seperti dia memuja Jungkook." Kata Tejo.


"Jongkok?? ngapain jongkok dipuja?" tanya Leo, dia memang tidak begitu menyukai para boyband dan girlband dari negeri Ginseng itu.


"Ish...ngga update banget sih kamu ini?? kamu ini berasal dari planet mana dan hidup di zaman apa terus tiba-tiba nyasar di tahun 2023 ini?" kata Tejo kesal.


"Jo...namanya aku ngga suka mau diapain lagi?? aku tuh sukanya seperti itu!!" tunjuk Leo pada Dina.


"Jangan sampai Vina mendengar celotehanmu itu ya, Leo...bakal ngamuk dia nanti??" kata Tejo.


"Aku sudah bilang berkali-kali...aku dan Vina itu ngga ada hubungan apa-apa...memang para orang tua telah menjodohkan aku dan Vina tetapi memangnya para orang tua yang akan menjalani hidup? bukan tho..." kata Leo.


"Kan...gara-gara aku mendengar ceramahmu nih aku kehilangan Salju Himalayaku!!" jawab Leo kesal.


"Leo..."


Belum habis kekesalan Leo pada Tejo, datang lagi Vina dan Susi menghampiri.


"Aduh...datang lagi Maklampir dan Gerandong cucunya, nih!! Kabur aja ah..." lalu Leo cepat-cepat menyelinap pergi.


"Lho Jo...Leo tadi kemana??" tanya Vina pada Tejo.


"Tadi dia di sini terus begitu dia melihatmu datang, katanya dia jadi kebelet boker.' Jawab Tejo polos.


"Kurang ajar tuh cowok, ntar aku laporkan om Willy biar dia tau rasa!!" Kata Vina geram karena Leo.selalu menghindarinya.


****


"Syifa...Juned..."


Syifa dan Juned menghentikan sepeda mereka di pinggir jalan saat ada seseorang memanggilnya.


"Lho...om Niko...kakek Jonathan!! kok bisa ada di sini?" tanya Juned.


"Mestinya om Niko dan kakek Jonathan yang bertanya, kok kalian bisa di sini??" kata Niko.


"Kita kan tinggal di sekitar sini, upsss..." Syifa langsung terdiam saat dia keceplosan bicara dan mengkeret saat mata Juned melotot padanya.


"Jadi kalian pindah ke daerah ini, jauh sekali?? ayo sekarang bawa kakek menemui bundamu, kakek dan om Niko sudah kangen sama kalian!!" kata kakek Jonathan tak terbantah oleh Juned dan Syifa.


Sepeda mereka dinaikan di belakang, Niko sama Juned duduk di belakang sementara Syifa dan kakek Jonathan duduk di depan.

__ADS_1


Tak lama mobil pick-up berhenti di depan rumah.


Kok rumah kalian sepi?? pada kemanaan??" tanya Niko melihat sekitarnya.


"Paling bunda dan kak Dina masih di tempat fotokopi dan tante Della jam segini masih di rumah makan!!" jawab Syifa.


Niko dan Jonathan duduk di teras sambil menunggu Syifa memanggil bundanya.


Tak lama Sania datang menggendong Raftar dan Syifa mrnggandeng Miko dan Miki.


"Kakek....Ayah Niko..." teriak Miko dan Miki berbarengan sambil lari memeluk kakek dan pamannya.


Miko dan Miki memang aneh, dia tidak mau memanggil Riko dengan sebutan papah seperti yang lain, tetapi dia memanggil ayah pada Niko yang notabene hanya pamannya karena Niko selalu mengajarkan mereka berdua untuk memanggil ayah padanya.


"Bagus ya Nia..." kata Niko.


"Kamu boleh membenciku, tapi tolong jangan jauhkan aku dengan para ponakanku dan jangan jauhkan mereka dari kakek mereka sendiri."


"Aku menyayangi mereka, Nia...walaupun kita tidak berjodoh, tapi tolong jangan putuskan tali silaturahmi di antara kita!!" kata Niko lagi.


"Sudah...sudah...apa kabarmu, nak??" tanya Jonathan sambil menepuk pelan bahu Sania.


"Ini jagoan kakek apa kabar??" tanya Jonathan pada Raftar yang melengket seperti cicak di badan bundanya.


"Kalian masuklah dulu..." kata Sania mengajak keduanya masuk keruang tamu.


Sementara Sania menyiapkan kue dan minuman dingin untuk Niko dan Jonathan, Syifa dan Juned menemani mereka.


"Ini rumah siapa, Syifa?" tanya Niko pada Syifa.


"Terus Riko bagaimana? apakah papahnya Raftar pernah menjenguk kalian di sini?" tanya Niko.


"Waktu itu sempat dua bulan papah Riko tinggal bersama kami di sini mendirikan rumah makan yang sekarang dibantu kelola oleh tante Della!!" kata Syifa lagi.


"Tetapi sebulan kemarin papah Riko pulang ke Malaysia karena ada urusan keluarga dan sampai sekarang belum kembali!!" kata Juned menambahkan.


Tak lama Sania keluar membawa nampan berisi teko es teh dan camilan.


"Ayah sama Niko makan dulu ya...sebentar Nia siapkan!!" kata Sania.


"Ngga usah repot-repot, Nia..." kata Niko.


"Ngga apa-apa nak, ayah dan Niko sudah kangen pengen makan masakanmu sampai terbawa mimpi!!" kata Jonathan menggoda Niko yang jadi salah tingkah dengan ucapan ayahnya. Sementara Sania hanya tersenyum saja.


Sementara menunggu Sania berkutat di dapur, Jonathan baring-baring di lantai sambil menonton televisi, Niko bermain bersama Raftar, Miko dan Miki.


Syifa membantu bundanya di dapur menyiapkan makanan dan Juned membantu Dina di tempat fotokopi untuk menutup toko.


Tante Della juga sudah selesai di rumah makan. Karena rumah makam mereka hanya buka dari pagi sampai sore saja.


Akhirnya malam itu mereka berkumpul dan makan bersama menggelar tikar di ruang keluarga.


"Ayah...ayah bobo sini sama Miko dan Miki ya!! Miko masih kangen sama ayah...Miki juga!!" kata Miki menimpali ucapan saudara kembarnya.


"Iya yah, menginap saja di sini di luar tampaknya akan turun hujan deras...perjalanan kalian jauh lho..." kata Sania.

__ADS_1


"Iya kek...kita nanti ramai-ramai tidur di luar, ya kan dek??" kata Juned meminta persetujuan Miko dan Miki.


"Iya kek, bobo sini aja ya malam ini!!" kata bocil-bocil itu.


"Atau kamu takut sama istrimu, Niko??" sindir kak Della.


"Ngga lah kak, walaupun kita satu rumah tapi kita juga tidak perbuat yang aneh-aneh!!" kata Niko


"Jadi Maya sudah pindah ke sana ??" tanya Sania.


"Iya...maafkan aku ya.tidak ijin dulu denganmu!!" kata Niko merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Niko...itukan rumah kalian juga..." kata Sania.


"Oh iya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, Nia...mumpung aku di sini dan pas juga lagi ingat!!" kata Niko.


"Apa itu??" tanya Sania.


"Sekitar seminggu lalu saat aku dan ayah pulang sehabis mengantar barang, di jalan kami melihat seorang wanita sedang menggendong balita kayaknya lebih tua sedikit dari Raftar lah."


"Awalnya aku tidak begitu ingat di mana aku pernah melihat wanita itu habis keadaannya sangat lusuh, setelah agak lama mengingat baru aku sadar bahwa wanita itu...pasti kamu juga ngga akan menyangkakan?"


"Wanita itu adalah Alena!" kata Niko.


Uhuk...


Mendengar nama Alena disebutkan, Sania langsung tersedak minumannya sendiri.


"Alena? bukannya dia tinggal di rumah lamanya Riko ya!!" kata Sanis lagi.


"Aku tidak tau tapi yang pasti kata Alena saat Riko dikabarkan meninggal di Malaysia, pak Baskoro ayahnya Riko datang ke rumah itu begitu dia melihat Alena, dia langsung mengusirnya."


"Terus si Alena itu sekarang tinggal di mana?" tanya kak Della setelah sekian lamanya terdiam hanya jadi pendengar akhirnya angkat suara.


"Jangan kamu bilang mengajak Alena pulang ke rumah ya...bisa perang nuklir di rumah itu nanti karena istrimu sama bar-barnya denga Alena!!" kata kak Della.


"Tidak...kami tidak membawanya pulang, karena kasihan akhirnya kami membawanya ke kios untuk bekerja di sana sekalian membuka dan menutup kios serta membersihkannya setiap hari."


"Aku kasihan padanya, Nia...putri kecilnya cacat, mereka berdua sudah seperti gembel numpang tidur di sana sini karena tak punya tempat tinggal." Kata Niko.


"Aku menolongnya semata hanya demi kemanusiaan saja, Nia!!" kata Niko lagi.


Sania hanya tersenyum saja melihat Niko seperti merasa sangat bersalah.


"Sudahlah Niko...aku sama sekali tak marah kok!!" kata Sania.


"Sekali lagi maafkan aku yang telah lancang membawanya, ya Nia!!" Sania hanya tersenyum.dan mengangguk saja.


*


*


***Bersambung...


Bagaimana reaksi Maya jika tau suaminya Niko berani membawa wanita lain??

__ADS_1


Jangan lupa selalu dukungannya untuk author receh iniya reader, agar author bisa terus berkarya...


__ADS_2