
"Lumayan capek hari ini...setelah belajar beberapa hari ini akhirnya aku bisa juga."
Aku menggantung celemek kerjaku, biasanya kupakai kalau bekerja supaya baju tidak terkena cipratan lumpur. Aku ngga mau mas Sofwan tau pekerjaanku.
Lumayan setengah harian ini aku bisa dapat 250 biji. Mungkin belum secepat ibu Sri, tapi sudah lumayanlah.
Sudah pukul 14.00 sejam lagi mas Sofwan pulang, cepat-cepat kubersihkan tangan dan kakiku juga kaki dan tangan Dina.
Kakiku terasa pegal karena berdiri terus dan tanganku terasa agak ngilu, tapi aku ikhlas menjalaninya, agar ada pemasukan uang untuk keluargaku.
"Mbak Nia...kenapa ngga jujur aja sama suaminya...nanti kalau kerja sembunyi-sembunyi terus begini nanti pas ketahuan, mas Sofwannya malah marah lho..."
"Iya bu pasti akan saya bilang ke suami tentang pekerjaan saya, tapi kayaknya ngga sekarang.
Aku teringat kata-kata ibu Sri tadi siang. Aku pasti akan bilang tapi jika waktunya sudah tepat.
"Assalamualaikum...hei anak bapak sudah mandi, sudah wangi lagi..." Aku sampai tidak menyadari kalau Dina sudah bermain diluar pintu.
"Oh mas sudah pulang?" Aku beringsut bangun dari baring-baringku dan menyambutnya.
"Mas lihat beberapa hari ini wajahmu tampak lelah sekali dek?"
"Hah...." Aku yang tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu jadi tergagap.
Aku memang ingin jujur tentang pekerjaanku, tapi tidak sekarang.
"Aku hanya lelah biasa aja mas...paling cuma kecapean.
Aku mengambilkan segelas air dingin buat mas Sofwan, sambil kuringkas sepatu dan kugantung seragam kerjanya.
"Dek...kayaknya mas harus cari kerja tambahan untuk menambah uang dapur."
"Mas emangnya ngga capek mas...ingat mas juga harus jaga kesehatan.:
"Mas kalau aku ngomong jujur, apa mas bakal marahkah?"
"Tergantung...kalau kamu ngomong jujurnya itu suka sama laki-laki lain, ya marahlah aku."
"Ya ela mas...jauh betul pemikirannya sampai kemana-mana...bukan itu mas."
"Aku cuma mau ngomong kalau beberapa hari ini aku tuh ikut mencetak bata merah dibelakang rumah kontrakan kita ini, mas."
Aku agak ragu mengatakan pada suamiku, takut-takut dia akan marah padaku.
"Terus Dina kamu titip siapa kalau kamu bekerja dek?"
"Ya ikutlah mas...dia mainan saja di dekatku."
__ADS_1
"Mas tidak pernah melarangmu, asalkan kamu bisa membagi waktu saja...dan yang terpenting Dina jangan sampai sakit.:
"Terima kasih mas...aku tersenyum lega sekarang."
*
*
"Assalamualaikum...ya kak Juwita..."
"Bagaimana kabarmu di sana dek? Kok ngga pernah telepon kakak, tidak pernah main kemari lagi?"
"Bagaimana kabarnya anak dan istrimu?"
Aku pura-pura sibuk melipat pakaian, padahal telingaku juga fokus mendengarkan percakapan mas Sofwan dan kak Juwita.
Kakak iparku yang satu ini masih mending, walaupun orangnya diam dan jutek, tapi perhatiannya kepada adik dan iparnya masih ada.
"Kabar kamj baik kak...maaf Sofwan belum bisa membawa anak istri berkunjung kesana, selama sikap kak Anya dan kak Nuri belum berubah pada Sania."
Terdengar helaan napas panjang dari sana..."Entahlah Wan...Kakak juga bingung mesti ngapain."
"Terus kabar bapak gimana kak? Apakah baik-baik saja?"
"Alhamdulillah bapak baik Wan."
"Ya sudah...syukurlah kamu sekeluarga baik-baik saja...kakak tutup dulu ya!"
Jika sudah begitu aku tak berani mengganggunya. Cepat kuselesaikan lipatan pakaianku lalu aku menyusul Dina tidur.
*
*
"Alhamdulillah...hari ini aku bisa menyelesaikan cetakanku hingga pas 1000 biji bata...berarti aku nanti sore bisa ambil upahku sebesar seratus ribu.
Aku senang banget...ini uang upah pertamaku yang aku dapatkan lagi semenjak aku menikah dengan mas Sofwan.
Aku memang harus bisa membantu kondisi keuangan ekonomi kami. Kasihan mas Sofwan, selama mengontrak rumah ini, dia jadi jarang di rumah...kalau ngga lembur, ya mencari kerjaan sampingan lain.
"Alhamdulillah mbak Nia...nanti suatu hari pasti bisa lebih cepat kerjanya...iya bu Sri, terima kasih banyak juga atas bantuan ibu selama ini pada saya."
"Sama-sama mbak, saya juga senang bisa membantu."
*
*
__ADS_1
Siang itu aku menemui ibu Kiki di lantai 3, karena kemarin aku sempat menelponnya, tanya-tanya siapa tau ada kerjaan tambahan yang bisa kukerjakan.
Tok...tok...tok..."Masuk aja Wan...."
"Permisi bu...aku masuk dan menutup pintu kembali."
"Formal amat Wan..." Dia tersenyum padaku.
"Bukan begitu...saya hanya tidak enak jika dilihat karyawanmu yang lain...saya kan hanya cleaning service di sini."
"Ya kalau ngga enak kasih kucing aja, Wan...lagian kalau kamu cuma cleaning service kenapa? Kerjaanmu lho tidak hina..."
Aku diam...itulah sifat yang kusuka dari Kiki sejak dulu...dia tidak pernah memandang sebelah mata kepada siapapun.
"Bener Wan, kamu mau cari kerjaan sampingan...apa ngga capek, habis pulang kerja di sini terus lanjut kerja lagi?"
"Dimana-mana yang namanya kerja itu pasti capek ah Ki, tapi ya mau gimana lagi?"
"Ada sih...kebeneran Kafeku yang baru lagi mencari orang. Kamu bisa ku kenakan yang jam 16.00 sore sampai jam 12.00 malam."
"Alhamdulillah...mulai kapan saya bisa mulai bekerja , Ki?"
"Ya terserah kamu...mau mulai sore nanti juga bisa, nanti tinggal ku teleponkan supervisornya.
"Okelah...nanti saya telepon orang di rumah supaya ngga nunggu-nunggu."
"Oke deh...nanti langsung aja kamu datang ke alamat yang ku sharelock ke handphonemu ya..."
Aku berdiri..."Terima kasih atas bantuanmu ya Ki..." Aku menjabat tangannya.
"Sama-sama Wan...kitakan teman...tolong menolong itu wajarlah..."
Setelah Sofwan keluar ruangannya, Kiki hanya membatin
"Aku dengan senang hati bisa membantumu, Wan...aku senang bisa sedekat ini denganmu sekarang...padahal dulu yang ku tau kamu itu orang yang cuek."
"Teman suamiku yang ku tahu paling cuek ya cuma kamu...dulu sebelum aku menikah...semua teman laki-laki termasuk almarhum suamiku semua berusaha menarik perhatianku, tapi tidak untukmu...kamu malah dekat dan menjalin hubungan dengan Vivi.
Saat itu rasanya aku kecewa sekali...sedih...sakit hati...apalagi saat Vivi mengumumkan bahwa kalian pacaran. Sampai akhirnya karena kekecewaanku padamu, aku memilih mas Hermawan sebagai pendamping hidupku.
"Sekarang, aku sudah sendiri...dan kamupun sudah tidak bersama dengan Vivi lagi, tapi sekarang kamu malah sudah menikah dan punya anak."
Kiki menangkupkan kedua tangan kewajahnya, mengingat semua kenangan yang telah lalu.
"Kamu sekarang sudah bahagia...kamu rela sampai mencari kerja tambahan begini untuk keluargamu...wanita seperti apa sih dia? Yang mampu meluluhkan kerasnya hatimu?"
"Setahuku dulu hatimu itu tak tergapai oleh siapapun...Vivi hanya beruntung bisa pacaran denganmu hanya karena kedua orang tua kalian berteman, tapi itupun tidak serta merta membuatmu menjadi luluh."
__ADS_1
"Waktu aku mendengar kalian putus, aku sangat bahagia, entah mengapa waktu itu aku masih berharap bisa dekat denganmu walaupun aku sudah bertunangan dengan mas Hermawan."
Bersambung...Jangan lupa like, komen, favoritenya ya teman-teman...Agar author tetap semangat menulisnya...Terima kasih🙏🙏