
Gadis bertubuh mungil itu tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Saat keluarganya memeluknya satu persatu.
"Kak, jangan lupa janjinya ya??" ucap Juned.
"Siap bos...sepulang dari sini kita semua singgah ke kafe es krim." kata Dina.
"Hore...." Juned, Syifa dan si kembar berteriak kegirangan.
"Selamat ya atas kemenangannya, Dina!!" Revan mengulurkan tangannya.
Karena dia melihat Revan memberi selamat kepadanya dengan tulus akhirnya dia menerima uluran tangan itu.
5 bulan kemudian....
"Mah, sekarang sudah enakan ngga mual lagi kan kalau cium bau masakan kak Della?" tanya Riko di suatu pagi.
"Memangnya papah sudah ngga mau masakin buat mamah lagi ya!!" kataku cemberut.
"Bukan begitu sayang, tapi akhir-akhir ini papah sering keluar kota menyelesaikan pekerjaan kantor." jawab Riko.
"Kasihan mamah jika mau makan harus nunggu masakan papah dulu, nanti anak kita malah kurang gizi jadinya!!"
"Iya, mamah sudah enakan kok...sudah bisa masuk makanan walaupun bukan papah yang masak." Jawabku.
Riko mendekat dan berjongkok di depan perut istrinya. Dielusnya kandungan yang baru menginjak 4 bulan itu dengan penuh kasih sayang.
"Jangan suka nakal-nakal di dalam sana ya sayang, kasihan mamah kamu jadi ngga bisa ngapa-ngapain...papah berangkat kerja dulu ya!!! ingat jangan rewel nanti mamahmu ikutan rewel juga!!"
"Mah, papah berangkat dulu ya!!! mungkin papah pulangnya agak malam, kalau sudah lelah tidur aja duluan dan kalau sudah lapar ngga usah nunggu papah, mamah makan aja duluan."
Aku hanya mengangguk saja.
Sepeninggal Riko, anak-anakpun pamit untuk pergi sekolah. Aku melakukan pekerjaan kecil di halaman saat kulihat Sultan melintas dengan motornya.
"Pagi bumil...makin cantik aja!! sapa Sultan lalu menghentikan motornya.
"Pagi pak guru!! tumben pagi-pagi sudah lewat kemari?" tanyaku.
"Aku tadi lewat warung nasi pecel, aku ingat kamu suka sekali nasi pecel...tenang aja bumbunya kupisah kok ngga kucampur sama nasinya!!"
Mataku tampak berkilat melihat makanan kesukaanku itu...
"Ini malah jadi tetangga siaga ya?" ucap kak Della sambil menggunting tanaman.
"Makanya cari istri sana, biar ada yang diurusi juga!!" goda kak Della.
"Ngga ada yang cocok mba!!" kata Sultan.
__ADS_1
"Ya kamu yang dilirik cuma Sania terus, tapi saat dia sendiri kamu ngga ada inisiatif untuk mendekatinya."
"Kakak, jangan ngomong begitu ah...namanya juga ngga jodoh!!" kataku.
"Ya sudah, aku pergi mengajar dulu ya Nia, kak Della!!" lalu Sultan pamit untuk bersiap berangkat kerja.
*
*
Ddrrtt...ddrrtttt
📱"Assalamualaikum, selamat malam!!"
📱"Waalaikum Salam...ini dengan siapa? Rikonya mana?"
📱"Riko sedang mandi, nah itu sudah keluar dari kamar mandi!!"
"Pah, ada telepon!!" kataku.
"Dari siapa, mah?" tanya Riko.
Aku hanya mengangkat bahu karena aku memang belum sempat menanyakan siapa yang menelpon barusan.
Riko segera mengambil alih ponsel dari tanganku, sementara aku kembali sibuk melipat pakaian Riko yang sudah disetrika.
📱"Assalamualaikum...oh ibu!! apa kabarnya ibu sama ayah di Kuala Lumpur sana?"
📱"Kenapa Riko harus dipikirkan bu, Riko sudah dewasa, sudah menikah dan istri Riko juga tengah mengandung anak Riko!!"
📱"Ayahmu sekarang sedang dirawat di ruang ICU, apakah kamu tak ingin pulang menjenguk ayahmu?? siapa tau dengan adanya dirimu bisa membuat ayahmu berkurang penyakitnya.
Riko tampak bimbang, di sisi lain dia ingin pulang menjenguk ayahnya tetapi di sisi lain istrinya sedang hamil anaknya...dia tidak bisa berpisah lama-lama dari Sania.
📱"Sakit ayahmu sudah parah, Riko...pulanglah sebentar untuk menjenguk ayahmu di ruang ICU ini."
📱"Nanti Riko bicarakan dulu dengan istri Riko, bu!!"
📱"Ya sudah ibu tunggu kepulanganmu, Riko...Assalamualaikum!!"
📱"Waalaikum Salam"
Riko termangu. Dia ingin sekali pulang menjenguk ayahnya...apalagi sudah 5 bulan semenjak dia dan Sania menikah, hubungan orang tua dan anak itu tidak begitu baik akibat Riko menentang keluarganya tempo hari.
"Apa yang papah pikirkan? pulanglah saja...di sini kan mamah tidak sendirian juga!!" kataku memberi masukan padanya.
"Tapi mah, mamah sedang hamil...papah takut di sana akan lama, nanti mamah di sini bagaimana?" Tanyanya dengan risau.
__ADS_1
"Insya Allah mamah ngga akan apa-apa pah!!" pergilah jenguk orang tuamu!!" ucapku pada Riko.
Akhirnya dia menyetujui juga berangkat ke Kuala Lumpur walaupun dengan berat hati meninggalkanku dan anak-anak.
****
Besoknya Riko memutuskan untuk pergi setelah dia mengajukan permohonan cuti dadakan karena orang tuanya sedang sakit.
"Mamah dan anak-anak ngga usah ikut mengantar ke bandara...biar papah naik taxi online saja dari sini!!" katanya dengan rasa berat.
Semua menyalaminya. Aku sebenarnya merasa teramat sedih melepasnya apalagi dalam kondisiku seperti ini...tapi aku tak mau egois, Riko juga masih mempunyai kedua orang tua.
"Sayang...hati-hati jaga diri dan anak-anak ya?? di rumah jangan terlalu capek, papah usahakan akan menelpon sesering mungkin agar papah tau kondisi mamah di sini!!"
"Papah ngga akan lama di sana, papah ngga bisa lama-lama jauh dari mamah dan keluarga." Sekali lagi sebelum pergi dia mengelus-elus perutku. Entah mengapa rasanya begitu berat baginya untuk melangkah keluar rumah meninggalkan keluarganya di sini.
Dengan di antar Sania dan anak-anak di pintu pagar, Riko melambaikan tangan dari dalam taxi online dan perlahan taxi itu membawanya pergi ke bandara.
"Papah ngga akan pergi lama kan, bun?" tanya Syifa.
"Ngga sayang, setelah kakek sembuh dari sakitnya, pasti ayah akan balik lagi kemari." kataku kepada Syifa.
"Berapa lama perjalanan papah ke Kuala Lumpur, bun?" tanya Dina.
"Paling sore papah sudah tiba di tempat tujuan, Dina!! kita doakan saja biar papahmende selamat di perjalanan ya!!" kataku.
*
*
"Kenapa aku kok diminta langsung pulang ke rumah ya? kok ngga langsung ke rumah sakit?" batin Riko saat dia ditelepon ibunya untuk langsung pulang ke rumah dulu.
Semakin mendekati rumah besar tempat tinggal keluarga mereka di sana semakin hati Riko berdebar tak biasa. Dia merasa ada sesuatu yang bakal terjadi tapi apa?
"Lho....kok ada janur kuning melengkung di depan gerbang? siapa yang mau menikah ya? katanya ayah lagi sakit, kok mau diadakan resepsi? tapi resepsi siapa? aku kan anak tunggal, atau ada keluarga ayah atau ibu yang akan menikah di sini kali ya??"
"Pak saya turun di luar gerbang aja, biar kedalamnya saya jalan kaki!!" kata Riko setelah membayar ongkos dia yang hanya menggunakan tas punggungpun turun.
Jarak dari gerbang ke dalam istana kecil milik keluarga Riko sedikit jauh. Di halaman rumah mereka yang luas sepanjang jalan di tanami pohon cemara yang di hiasi oleh lampu kelap-kelip.
"Kok sepi ya? hanya ada satpam yang menjaga di gerbang luar saja!!" gumam Riko. Hatinya sejak tadi sudah tak enak tapi dia mencoba untuk berpikir positif saja.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Apa yang tengah dirasakan Riko? apa pula maksud ibunya untuk menyuruh putranya itu pulang ke rumah dan bukan langsung ke rumah sakit?
Yuk...ikuti terus ya guys...tinggal beberapa episode lagi kutukan cinta mau tamat, lho😊😊 jangan lupa dukungannya ya, like, komen, vote, favorite dan rate nya ya...🙏🙏