Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 58 Mencari Masalah Saja


__ADS_3

"Heh...Sania...bagus ya kelakuanmu sekarang..."


Dengan gaya sombong dan angkuhnya, Nuri berdiri di depan meja Miko dan Sania


Miko sudah hampir berdiri untuk balas melabraknya, tapi dengan cepat kutahan tangannya.


"Maksudnya kak Nuri apa?" Aku tetap berusaha bicara dengan lemah lembut.


"Belum ada setahun bercerai dengan Sofwan...kamu sudah ngga tahan untuk mencari yang baru lagi...kamu taruh di mana otakmu itu?"


Dengan tenang aku berdiri dan menjawabnya....


"Memang itu semua menjadi masalah buat kak Nuri? Bukankah kak Nuri setahun lalu yang membawa surat cerai dan memaksaku untuk menanda tanganinya?"


"Lalu mengapa sekarang kok mempermasalahkan aku bersama dengan yang lain? Toh kami juga sudah setahun bercerai."


"Suami mengalami gangguan jiwa...kamu malah enak-enak di sini pacaran..."


"Yang enak-enak itu siapa kak? Di saat aku dan anak-anakku terpuruk, kami nyaris kelaparan, tak ada satupun keluarga dari suamiku datang menolong...tapi dia datang mengulurkan tangannya untuk menolongku."


"Asal kak Nuri tau...siapa yang melarang aku menjenguk suamiku, siapa yang berusaha memutuskan ikatan pernikahan kami?"


"Itu karena aku tak sudi punya adik ipar sepertimu..."


"Ya sudah...terus masalah kak Nuri apa sekarang?"


"Sudah berani sekarang kamu melawanku, Sania...dasar adik ipar tak tau di untung."


"Sejak kapan kak Nuri menganggapku sebagai adik ipar? Bukannya aku selalu di hina dan dicaci maki?"


"Karena kamu memang pantas menerimanya..."


"Cukup bu..." Akhirnya Miko berdiri dari duduknya, setelah sekian lama dia mencoba bersabar untuk tak ikut campur.


"Dia tak pantas menerima caci maki dari siapapun...apalagi dari orang sepertimu..."


"Kamu diam...jangan ikut campur urusan keluarga kami."


"Dia bukan lagi bagian dari keluarga kalian...karena sebentar lagi dia akan menjadi istri saya."


"Istri? Kamu tau dia wanita yang sudah bersuami?"


"Suaminya yang mana maksud anda? Suami yang sudah menceraikan paksa dan sekarang sudah bersama perempuan lain, bahkan perempuan itu sedang mengandung?"


"Kak...dulu aku membiarkan kalian menghinaku tanpa aku mau membalasnya...bukan karena aku takut...tapi karena aku menghormati kalian sebagai kakak dari suamiku.


"Tapi sekarang? Jangan sekali-kali lagi kalian menghinaku."


"Kak Anton maaf...aku tau kak Anton orang baik...tolong bawalah istri anda dari meja kami...kami di sini mau makan dan bukan mau meributkan hal-hal tak berguna begini."

__ADS_1


"Ayolah mah...jangan buat malu dengan ribut-ribut disini?"


"Papah diam...mamah belum puas untuk mempermalukan perempuan ini."


"Calon istri saya tak perlu merasa malu, nyonya Nuri yang terhormat...karena kami tidak membuat keributan apapun di sini..."


"Bukannya dari tadi kau yang mencak-mencak datang ke meja kami sambil marah-marah ngga jelas?"


"Ayo mah sudah...papah malu banget...semua mata melihat kita dengan pandangan mencibir."


"Tolong bawa istrinya pak...sebelum kami memanggil keamanan di sini."


Wajah kak Anton merah padam karena malu dengan kelakuan istrinya.


"Terserah mamah deh...tapi jangan salahkan papah...kalau papah tinggal sendiri disini...Pulang aja naik angkot ke rumah."


Tanpa menoleh lagi kak Anton balik kemejanya...setelah membayar harga makanan yang dipesan dia lalu pulang tanpa mengajak istrinya.


Tentu kak Nuri takutlah...orang seumur-umur dia ngga pernah naik angkot...mau ngga mau dia ikut pergi menyusul suaminya, setelah memandang penuh kebencian kepadaku.


Aku terduduk lemas di kursi. "Sebenarnya apa salahku pada mereka, Ko? Sampai-sampai setelah bercerai dengan mas Sofwan pun, mereka masih membenciku."


"Benci tidak harus mempunyai alasan, beb...mungkin alasannya yah menurut versi mereka sendiri..."


"Haduh...hilang sudah moodku mau makan!" Rasa lapar yang menggelora tadi mendadak hilang berganti jadi rasa kenyang.


"Beb...berapa lama mereka selalu memperlakukanmu seperti itu?"


"Kamu termasuk orang yang sabar...kalau aku yang ada di posisimu, sudah lama kuajak berantem punya kakak ipar model begitu."


"Ko...kadang tak selamanya kita harus membalas hinaan dengan hinaan...makian dengan makian..."


"Berarti kita sama dong dengannya...seperti orang yang tidak punya pendidikan."


"Ngakunya sarjana tapi kelakuan sarjono..."


"Uhuk...Uhuk...Apa beb? Sarjono? Hahaha...kamu ini masih bisa aja bercanda."


"Padahal aku tau...hatimu pasti sangat sakit."


"Iyalah sakit, Ko...tapi inilah hikmah yang kuambil dari semua cobaan hidupku..."


"Aku jadi mampu lebih kuat berdiri dan mampu melindungi keluargaku."


"Iya sih...jadilah mental baja yang selalu bisa melindungi, dan bukan minta selalu untuk dilindungi."


"Sekarang kamu makan ya...sedari tadi kamu berapi-api terus...ntar ini makanan jadi mateng dua kali."


"Habisnya aku juga terbawa emosi, beb...yang perang mulut siapa? Yang jadi kepanasannya siapa!"

__ADS_1


"Tampaknya kalau aku harus uji kesabaran denganmu, pasti aku kalah telak."


*


*


"Mah...papah malu sama sikap mamah yang kekanakan tadi..."


"Bikin malu aja, ribut di depan orang banyak."


"Untung saja..Sania itu mempunyai kesabaran tingkat tinggi, kalau orang lain tadi ngga taulah sudah berantem...berantemlah... Sudah adu tampar kali."


"Dia tidak akan berani menampar mamah, pah..."


"Eitss...jangan bilang begitu mah..."


"Mungkin dia tak mau meladeni ribut denganmu, karena dia masih menghargaimu sebagai mantan kakak iparnya."


"Atau dia memang bukan tipe orang yang suka berantem."


"Dia lebih suka mengalah daripada harus ribut-ribut tak berguna."


"Lagian ya mah, papah itu heran sama mamah...yang penting dia sudah bercerai dari Sofwan, terus apalagi yang di ributkan?"


"Perkara dia mau mencari suami lagi, itu kan urusan dia...bukan menjadi urusan kita lagi."


"Kok kayaknya mamah seperti ngga ikhlas gitu, melihat dia bahagia."


"Sebenarnya papah salut dengan perjuangan hidupnya."


"Suami pergi dalam keadaan mentalnya terganggu, dia harus berjuang menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil..."


"Tanpa satupun pihak keluarga yang prihatin padanya, bukan uluran tangan yang di dapat...malah hinaan yang selalu dia terima."


"Coba mamah pikir, seandainya itu semua menimpa kehidupan mamah dan anak-anak...mampu ngga mamah bertahan seperti dia? Orang kena cipratan minyak panas aja hebohnya sudah satu kampung..."


Nuri diam. Entah diam dan berpikir mencerna semua perkataan suaminya, ataukah diam dan bertambah gondok pada Sania, karena pembelaan Anton tadi.


"Mamah itu mesti bersyukur...sejak kecil ngga pernah hidup susah...jadi jangan selalu memandang sebelah mata pada orang lain."


"Ingat mah...roda kehidupan itu terus berputar...tidak selamanya si miskin akan miskin terus...dan tidak selamanya si kaya juga akan kaya terus."


Melihat istrinya menjadi diam, Anton hanya menghela napas. Terkadang dia pusing juga menghadapi sikap istrinya yang keras kepala itu.


Dia hanya takut, jika karma berbalik suatu hari nanti.


***Bersambung....


Happy reading ya....Jangan lupa like, komen, vote da favoritenya...Agar author tetap semangat menulisnya...Terima kasih...🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2