
"Kenapa bisa terjadi begitu, Nia? Terus bagaimana jika Miko sampai tau tentang hal ini?"
"Inilah yang sedang kupikirkan, Tin..." Air mataku turun semakin deras.
"Kalau menurut saranku, kamu lebih baik jujur saja...tapi nanti dulu kalian bicarakan, jangan sampai parasit itu tau masalahmu...nanti dia semakin berkembang biak."
"Tapi gimana ceritanya, Nia? Kan bang Sofwan itu amnesia dan tak mengingat lagi masa lalunya."
"Ceritanya panjang, Tin...intinya ingatan mas Sofwan kembali saat menyaksikan pernikahanku dan Miko."
"Sejak itu mas Sofwan selalu berusaha mendekatiku untuk rujuk kembali...tapi ngga mungkinlah...secara Miko dan Anggita mau dikemanakan? Mau dibuang ke laut?"
"Puncaknya pada malam itu, saat mas Sofwan tau aku sudah mau meresignkan diri...dia menjadi tertekan kembali."
"Makanya aku tidak langsung membawanya pulang, kamu kan tau aku ngga bisa bawa mobil."
"Iya...iya...nanti yang ada, kamu bawa anak orang masuk icu." Kata Tini.
"Aku membawanya ke penginapan dekat situ dengan maksud untuk menenangkan hati dan pikirannya."
"Iya Nia...kamu bukan hanya menenangkan jiwanya tapi juga raganya, begitukan maksudmu?" Aku hanya mengangguk tak lagi bisa menjawab.
"Apa kamu yakin itu anak bang Sofwan!! Bisa saja kan sebelum kamu berhubungan dengan bang Sofwan, sudah ada lebih dulu benih Miko di dalam rahimmu?"
"Itu aku tidak tau, Tin...karena beberapa hari sebelum kejadian naas itu..."
"Naas tapi menyenangkan, Nia?" Seloroh Tini memotong kata-kataku.
"Kamu ini Tin...dilanjutkan, atau ngga ceritaku ini?" Aku cemberut.
"Iya maaf...monggo silakan dilanjutkan..."
"Sebelum kejadian naas itu, aku memang sudah tidak datang bulan lagi."
"Terus aku juga merasakan mual dan sakit kepala yang hebat...lha, kupikir asam lambungku yang naik."
"Tapi setelah aku dan mas Sofwan berhubungan malam itu, rasa mual dan rasa pengen muntahku berangsur hilang."
"Lalu beberapa hari kemudian, Miko mengalami gejala yang aku alami."
"Terus kamu sudah berusaha mencari tau, apakah bang Sofwan mengalami gejala yang sama seperti yang Miko alami?"
"Karena setahuku, kamu itu kalau hamil paling enak...selalu bang Sofwan yang sengsara setengah mati."
"Kamu gila ya Tin, kalau sampai mas Sofwan tau aku hamil anaknya lagi... kamu pikir dia akan melepaskan begitu saja?"
"Iya juga sih...bang Sofwan itu sebenarnya tipe lelaki yang baik dan bertanggung jawab...hanya karena perasaan tertekan oleh ekonomi dan oleh keluarganya, membuatnya jadi depresi berat."
__ADS_1
"Tapi sumpah...kamu memang kalau hamil enak banget...kamu yang hamilnya, bang Sofwan yang ngidamnya."
"Kurasa itu juga yang telah dialami oleh Miko."
"Haduh...coba aku dulu, ngidamnya parah...setiap hari suami mau diajak berantem aja bawaannya." Kata Tini.
"Iya, makanya dua anakmu seperti preman...semua anak mau diajak berantem kalau ketemu mereka.'
"Itu sudah, sampai pusing aku dengan kelakuan mereka."
"Makanya aku bingung Tin, yang sedang ku kandung ini anak siapa?"
"Apa jangan-jangan anakmu kembar, Nia?"
"Karena aku pernah membaca di internet juga pernah mendengar orang-orang di kampungku bercerita."
"Bisa jadi dua sel telur terpisah dibuahi oleh dua ****** lalu menempel di rahimmu... baru di tunjang juga usiamu sudah di atas 35 tahun bisa memiliki kemungkinan punya bayi kembar itu, dua kali lipat."
"Tapi kalau mereka kembar berarti wajah mereka mirip dong, Tin?"
"Tidak selalu, Nia...kalau dia di buahi oleh dua ****** yang berbeda...mereka akan memiliki dua plasenta pula."
"Seingatku kembar yang tidak mirip itu namanya kembar non identik, Nia."
"Kita lihat sajalah nanti jika kamu melahirkan kelak."
"Tergantung Nia, intinya kalian harus bicara berdua jangan sampai ada beo pengganggu itu, nanti dia berkicau seperti perkutut."
"Wah...sudah jam setengah sebelas, Tin...Juned pulang jam sebelas, aku mau jemput Juned dulu, ya!!!"
"Hati-hati di jalan...jika kamu membutuhkan bantuan kami, kami bertiga siap membantumu sebisa kami, Nia!!"
"Sampaikan salamku untuk Tuti dan Wati, ya...aku kangen pengen kumpul kalian lagi seperti dulu."
Tini tak menjawab...dia memelukku erat tapi matanya sudah banjir dengan air mata. Hatinya trenyuh melihat penderitaan sahabatnya yang seperti tak pernah berujung.
Aku dan Syifa menuju ke sekolah Juned. Rasanya berat mau pulang ke rumah yang seperti tak nyaman lagi untuk di huni.
*
*
Sementara di tempat Sofwan. "Nia ini kutunggu sampai malam tapi ngga ada juga, bilangnya mau mengajak ke hotel tempat aku melihat Miko itu!!!"
"Bahkan ponselnya tak bisa dihubungi, di luar jangkauan terus."
"Atau Miko sudah pulang ke rumah bersama perempuan itu, ya..."
__ADS_1
"Kalau memang benar begitu, kasiannya hidup mantan istriku ini...denganku dia tersakiti, dan dengan suaminya yang baru dia juga tersakiti."
Sofwan menutup wajahnya. "Maafkan mas ya dek...semua ini terjadi berawal dari mas Sofwan."
"Seandainya mas bisa memutar kembali atau bisa menghentikan waktu...akan mas lakukan untuk bisa membawamu kembali bersama dengan mas Sofwan."
"Mana besok sore aku sudah harus ke Yogya menemui Anggita dan Aisyah?"
Sofwan bangkit dari duduknya. Pokoknya hari ini aku harus bisa menemui Sania, mau melewati Miko sekalipun aku tak peduli...aku bisa beralasan untuk menjenguk anak-anakku."
Dan di tempat kerjanya Mikopun sedang gelisah.
:Sudah lewat jam sebelas, mestinya bunda sudah pulang ke rumah...tapi kok ngga ada telpon ayah, ya?"
"Ponselnya kuhubungi tidak aktif."
"Bunda benar-benar marah padaku...aku sendiri juga bingung mau melakukan apa?"
Sehabis menjemput Juned, kami bertiga tak langsung pulang ke rumah. Sehabis mengajak makan bakso, aku mengajak anak-anak berjalan-jalan ke pantai.
"Bunda...kok kita tidak langsung pulang sepelti biasanya? Juned bertanya padaku.
"Kakak...bunda itu malas pulang kalena malas ketemu tante istlinya ayah Miko." Jawab Syifa.
"Bun...kenapa kita tidak pulang lagi aja ke tempat kita yang dulu? Ayah Miko juga sudah tidak sayang lagi sama kita, jadi untuk apa kita tetap tinggal di sana?"
"Ayah Miko masih sayang kok sama kita, Juned..." Aku berusaha menanamkan pikiran yang positif padanya."
"Kalo ayah masih sayang sama bunda dan sama kita...tak mungkin ayah datang dali Singapula membawa bunda balu lagi!!"
"Juned juga ngga suka sama tante itu, Juned sama Syifa di pelototi telus sama dia."
"Tapi bibi dan ayahkan sayang sama kita, kak!!"
"Kita nunggu kak Dina pulang sekolah sambil main di pantai aja ya, bun...Enakan di sini dali pada di lumah..."
"Aku berdiri mematung....anak sekecil Syifa dan Juned aja mengerti kalau tinggal di rumah sudah tidak ada lagi ketenangan, apa lagi aku?"
"Ya, Allah...apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebenarnya aku amat lelah...baru kemarin aku hampir kehilangan bayiku, mestinya hari ini aku bisa beristirahat dengan tenang di rumah...tapi sekarang?"
Untuk menghilangkan penatku aku duduk di pasir beralaskan sandalku dan bersender pada pohon kelapa.
Rasanya aku ingin sekali berbaring, tubuhku benar-benar lelah sekali.
***Bersambung...
Happy reading...jangan lupa selalu kumohon dukungannya. Like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏M***
__ADS_1