Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 110 Kesadaran Sania


__ADS_3

"Sofwan, ayah mau minta tolong padamu!! Ada rapat pemegang saham di kota B, kamu wakili ayah dan Angga ya!!!:


"Kamu kan tau ayah sekarang sudah sakit-sakitan, sementara Angga akan meninjau hotel kita yang ada di Batam."


"Terus kalau Sofwan pergi, nanti Anggita dan Aisyah bagaimana yah?"


"Berapa lama sih pertemuannya di sana, yah?"


"Kalau tidak ada halangan mungkin kurang dari seminggu, sebab ayah juga mau meminta tolong kepadamu untuk memantau keadaan perusahaan kita di sana."


"Kalau soal Aisyah dan Anggita, kamu ngga usah khawatir...nanti ayah bisa mencari satu orang lagi untuk menjaga Anggita."


"Kapan Sofwan berangkat ke sana, yah?"


"Kalau bisa sore ini kamu berangkat, sebab pertemuannya itu besok pagi."


Dalam hatinya Sofwan bersorak gembira. Karena itu artinya dia bisa bertemu kembali dengan Sania dan anak-anaknya di sana.


Rasanya sudah lama mereka tidak pernah bertemu lagi. Rindu? Jangan ditanya lagi...rasa rindu itu menggunung, mungkin gunung semerupun kalah tingginya.


"Mah...papah mau berangkat ke kota B nanti sore."


"Ayah meminta papah untuk menghadiri rapat para pemegang saham di sana."


Anggita yang siang itu lagi duduk termenung di atas kursi rodanya di samping Aisyah, menoleh pada suaminya.


"Pah..."


"Hmmmm....ada apa mah?" Sofwan yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper menoleh pada istrinya.


"Papah masih cintakah kepada mantan istri papah itu?"


Deg...jantung Sofwan berdetak keras mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Kok mamah pertanyaannya begitu?"


"Memang ada yang salahkah dengan pertanyaan mamah, pah?"


"Papahkan tidak ingat akan masa lalu papah, mah!!"


"Karena mamah sering melihat papah termenung sendiri memandang ke arah kejauhan seolah papah sedang memendam kerinduan pada seseorang."


Sofwan menghela napas. "Sebaiknya mamah tuh ngga usah berpikiran yang aneh-aneh...fokus untuk kesembuhan mamah saja..."


"Pah...mamah itu bukan lagi istri yang sempurna seperti dulu, yang bisa melayani papah lahir dan batin...mamah sekarang hanyalah wanita cacat yang tak berguna, pah!!" Anggita menangis lagi.


"Mamah...kok ngomongnya gitu sih??? Papah tetap sayang sama mamah walaupun mamah bukan lagi seperti yang dulu."


Sofwan memeluk Anggita erat-erat, mencoba memberikan kekuatan pada istrinya yang semakin hari semakin rapuh.


"Maafkan papah ya mah, semestinya papah ngga boleh egois...Sania adalah masa lalu papah, seberapapun besarnya cinta papah kepadanya...dan mamah serta Aisyah adalah masa depan papah." Sofwan berbisik pilu dalam hati.

__ADS_1


"Cup..cup...sudah...mamah jangan menangis terus...nanti kesehatan mamah ngedrop lagi, lho..."


"Papah juga ngga akan tenang pergi ninggalin mamah kalau begini, kan kasihan ayah jika harus bolak-balik."


"Ayah sudah sering sakit-sakitan mah, jadi papah yang harus menggantikan ayah meninjau semua perusahaannya."


"Mamah doakan aja semoga pekerjaan papah lancar ya!!! Jadi papah bisa cepat balik ke Yogya lagi."


"Papah janji cepat kembali ya!!! Mamah selalu kesepian tanpa papah di samping mamah!!"


"Iya, sayang!!! Papah akan berangkat sore nanti sebab pertemuannya dilaksanakan besok pagi."


"Mamah di rumah baik-baik ya!! Jaga Aisyah anak kita...segera setelah urusan selesai, papah akan balik ke Yogya lagi."


Anggita mengangguk lesu. wajahnya semakin hari semakin pucat. Pipinya yang dulu chubby sekarang menjadi tirus. Matanyapun semakin cekung ke dalam.


"Papah beres-beres dulu ya..."


"Maafkan mamah tidak lagi bisa membantu papah ya...jangankan membantu, berdiri aja mamah sudah ngga bisa lagi."


"Mamah tidak histeris dan tidak menangis lagi aja, papah sudah senang banget mah..."


Dipandanginya suami tercinta yang menyusun sendiri keperluannya dalam koper yang akan dibawa nanti sore dengan perasaan sedih.


Dengan cekatan Sofwan menyusun pakaian dan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk keperluan besok.


"Nah...sudah selesai!!" Papah siap-siap dulu ya mah, sebentar lagi papah berangkat ke bandara."


"Papah naik taxi online aja dari rumah ke bandaranya."


Sementara dia? Apakah suaminya akan bertahan hidup bersamanya dalam keadaan dirinya cacat seperti ini? Mungkin sekarang papah bisa bertahan...tapi sampai kapan? Sementara dia tidak bisa lagi melayani suami tampannya itu. Begitulah bisik hati Anggita.


"Kok mamah ngeliati papah begitu amat?"


"Mamah cemburu pah!!"


"Cemburu sama siapa?" Papahkan tidak bersama dengan siapapun..."


"Mamah cemburu pada keadaan, pah!!"


"Mamah ini ada-ada aja..." Sofwan tertawa.


Anggita memandang kagum pada wajah suaminya "Senyumnya tak pernah berubah, tetap sangat manis bahkan lebih manis dari pada pertama kali bertemu dulu." Anggita membatin.


"Hayo...mamah mikirin apa? Sudah...mamah istirahat saja...papah mau mandi dulu ya..."


"Pah..."


"Hmmmm...ada apa mah?"


"Cium mamah, pah...untuk mengobati kerinduan mamah selama papah pergi nanti."

__ADS_1


Sofwan memeluk istrinya, menggendongnya ke atas pembaringan dan ******* bibir istrinya dengan penuh kasih sayang.


*


*


"Bunda...sadarlah...ini sudah memasuki hari ke lima...mengapa bunda belum sadar juga?" Miko menggenggam erat-erat tangan istrinya.


"Bun...sikembar lucu deh...tadi ayah diompolin sama mereka...pas ayah gendong yang satu, yang satunya lagi nangis juga minta gendong...sudah digendong malah ayah dikasih hadiah ompol." Miko tertawa sendiri.


"Putra kita ganteng ya, bunda!!! Nanti kita beri nama siapa ya, bun?"


"Ayah ingin kita berdua yang memberi mereka nama, bun!!! Masa ayah sendirian, kan ngga lucu."


"Ayah nanti pindah ke rumah bunda aja ya...kita besarkan anak-anak bersama seperti dulu."


"Ayah tak bisa jauh dari anak-anak bun...apalagi sekarang sudah ada sikembar...pasti rumah tambah ramai ya, bunda!!"


"Nanti kalau kita sudah tinggal bersama lagi, bunda tidak ayah ijinkan lagi untuk bekerja."


"Fokusnya bunda adalah mengurus anak-anak dan mengurus ayah."


"Pokoknya ayah akan iri, jika bunda sayangnya hanya sama anak-anak aja...ayah juga minta disayangi."


Miko terus mengajak Sania mengobrol, walaupun tak ada respon apapun dari Sania.


Miko terus membisikan kata-kata semangat untuk istrinya tercinta, tak peduli Sania merespon ataupun tidak.


Tiba-tiba Miko melihat jari Sania bergerak perlahan.


"Bunda...bunda sudah sadar?"


"Suster..suster..." Miko berlari keluar memanggi suster.


Seorang dokter jaga dan seorang suster datang ke ruangan Sania.


Perlahan mata Sania terbuka...awalnya dia hanya melihat ke langit-langit kamar yang putih. Kesadarannya belum begitu pulih benar.


Ingatannya belum sepenuhnya kembali. Penglihatannya pun masih samar-samar.


Dia hanya ingat di dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan bapak dan ibunya.


"Sania...ngapain berdiri saja di sini nduk? Kamu ngga dengarkah kalau suamimu itu terus memanggil-manggil namamu?"


"Bu...pak...liat...Sania kan sekarang sudah cantik, sudah pakai baju baru...Sania mau ikut bapak sama ibu pergi...bukankah ibu sama bapak datang kemari mau menjemput Sania??"


"Sania capek bu...pak...Sania lelah dengan hidup Sania!!! Sania ingin ikut ibu sama bapak aja ke rumah kalian yang baru."


Sania berdiri menyambut ke dua orang tuanya bersiap untuk ikut pergi. Karena dia sudah memakai baju putih berbahan satin yang penuh renda-renda putih dan memakai mahkota dari rangkaian bunga melati yang cantik.


***Bersambung....

__ADS_1


Akankah dengan sadarnya Sania, dia akan mengingat kembali kejadian tentang Miko dan Alena sebelum akhirnya dia koma???


Happy reading ya guys...tak pernah lupa selalu mengingatkan untuk selalu memberikan like, komen, vote, favorit dan ratenya...dukungan kalian adalah semangat buat author untuk terus berkarya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2