
"Om Sultan seling bawain kita nasi goleng tapi sekalang om Sultan ngga pelnah datang ke sini lagi, apa om Sultan malah sama Miko kalena Miko cengeng ya!!" kata Miki.
Hati Niko menangis melihat kepolosan dua ponakan kecilnya yang sama sekali tak mengerti bahwa Sultan telah pergi dan tak mungkin akan kembali lagi.
"Ngga apa-apa sayang, ayah Niko dan bang Juma yang akan datang setiap hari kesini nemeni Miki sama Miko yang ganteng juga adek Raftar ya!!" kata Niko.
"Baiklah ayah...." sorak mereka senang.
"Seandainya ngga ada kejadian aku menikahi Maya, tentu aku sekarang sudah hidup bahagia bersama dengan Sania dan anak-anak...mungkin sekarang Sania juga sudah hamil dan melahirkan anakku.
"Yah...kita nanti malam kerumah sakit lagi kah?" tanya Juma.
"Iya, kita akan kesana...kenapa memangnya Juma??" tanya Niko.
"Dina mau ikut bersama kita, katanya dia kangen sama bundanya...kita bawa mobil aja kali yah!!" jawab Juma.
"Terserah kamu saja, Juma...memangnya Dina sudah tidak marah lagi padamu??" tanya Niko.
"Kan Dina marahnya ke ayah, tapi Juma yang kena imbasnya..." kata Juma cemberut.
"Itu semua gara-gara ibumu!!" ketus Niko kesal ingat kejadian itu.
"Sudahlah yah...diambil hikmahnya aja!!" kata Juma pelan yang membuat Niko juga jadi terdiam.
*****
"Hei chef...3 hari ini kulihat kamu bengong aja seperti ayam ketelan karet." Tiwi menepuk bahu Hans sewaktu jam istirahat.
"Ibu kapan masuk kembali sih, Wi!!" tanyanya kepada Tiwi.
"Paling senin depan ibu sudah kerja lagi, Hans...kenapa?? kangen sama ibukah?? tanya Tiwi membuat Hans jadi tersipu.
"Memang salah ya jika aku menanyakan kapan ibu bos kita itu masuk kerja kembali." tanya Hans.
"Tentu tidak salah Hans, yang salah kalau kamu naksir ibu, itu baru salah!!" kata Tiwi lagi.
Hans tampak terdiam mendengar perkataan Tiwi.
"Ibu Sania itu kasian ya, Wi...punya bayi tetapi sudah ditinggal oleh suaminya...kemana sih suaminya ibu Sania itu?? tega amat meninggalkan istri secantik dan sebaik ibu Sania!!"
"Ya mana aku tau, Hans...kenapa kamu ngga langsung bertanya pada orangnya sendiri??"
"Idih...rupanya ada yang lagi kangen!!! jatuh cinta...berjuta rasanya...mau siang, mau malam terbayang wajahnya!!" Shinta begitu datang langsung menggoda chef muda itu.
Wajah Hans tampak semakin merah seperti kepiting rebus. Apalagi mendengar teman-temannya semua menggoda dirinya.
Tidak ada yang tau bahwa hati gadis di samping Hans merasa sakit.
Tiwi...sejak pertama dia bekerja di kafe ini dia sudah jatuh hati pada sosok Hans, chef muda yang sederhana yang juga merupakan orang kepercayaan Sultan semasa hidupnya.
"Hans tau kah kamu bahwa aku sudah jatuh hati padamu saat pertama kali melihatmu??" bisik hati Tiwi.
Sebenarnya Hans mengenal Sania cukup lama. Sejak Sania hamil si kembar dan bekerja di kafe bersama Dina sebagai kasir dan penyanyi di kafe.
Saat itu dia melihat Sultan begitu perhatian pada Sania sehingga membuatnya mengubur dalam-dalam rasa ketertarikannya terhadap janda cantik yang mampu menggetarkan hatinya itu.
Lalu setelah itu Sania pergi dan memilih kembali pada suaminya. Bukan hanya Sultan saja yang kecewa tetapi Hans lebih kecewa.
Dia tak bisa lagi menatap dan mengagumi si cantik itu dan mendengarkan suara lembut dan merdunya saat bernyanyi. Yang selalu menyenandungkan kepedihannya lewat lagu yang dibawakannya dan menghipnotis para pengunjung yang mendengarkan suaranya.
Dia sempat marah...dia kecewa tetapi bukan pada Sania, lebih tepatnya kepada laki-laki itu.
Dia lebih rela Sania bersama dengan Sultan sebagai bosnya setidaknya dia masih dapat mencintai walau hanya dalam diamnya.
__ADS_1
"Sekarang kamu malah melamun sih!!" goda Shinta.
"Sudah...nanti sore sepulang kerja kita mampir dulu kerumah sakit...gitu aja susah banget!!" kata Shinta.
"Eh tapi suaranya Dina putri sulungnya ibu Sania itu bagus banget ya!!" kata Shinta lagi.
"Kalian berdua belum pernah mendengar suaranya ibu Sania menyanyi ya!! dulu ibu menjadi kasir dan merangkap terkadang sebagai penyanyi dan pak Sultan almarhum yang menggiring dengan gitarnya." Kata Hans.
"Kita mau makan dulu ya Hans...ayo Wi!!" ajak Shinta.
Dengan berat hati Tiwi mengikuti Shinta, padahal dia masih ingin berduaan dengan Hans.
****
"Bagaimana kabar istri dan anak-anakku di Indonesia, Johan !!" tanya Riko pada sosok laki-laki yang dipanggil Johan itu.
"Istri anda belum pulang dari rumah sakit, tuan!! kalau anak-anak anda semuanya baik hanya bayi kecil itu saja kemarin tampak rewel mungkin karena jauh dari ibunya." Jawab Johan.
"Kasihan mereka itu Johan, rasanya aku mau gila jika begini terus!!" Riko memijit keningnya.
"Bersabarlah, tuan...intinya mereka masih bisa selamat dari ancaman tuan besar!!" kata Johan.
"Kamu benar Johan, itu yang terpenting!! aku tak ingin keluargaku celaka karena keegoisanku."
"Riko..."
Ibu Intan menghampiri putranya yang sedang menelpon itu.
Riko dilihatnya tak pernah merasa bahagia lagi, jarang bicara kecuali untuk hal-hal yang penting saja.
"Ada apa bu? apa ibu memerlukan sesuatu?" tanya Riko menoleh pada ibunya yang berdiri mematung di depan pintu kamar putranya.
"Tidak ada...ibu hanya ingin melihat keadaanmu saja!! sejak pulang dari Indonesia dua hari yang lalu, ibu lihat kamu bertambah murung!!"
"Istri Riko sedang sakit dan dirawat di rumah sakit sementara putra Riko yang mereka beri nama Raftar sekarang sedang rewel, mungkin pertama jauh dari bundanya juga mungkin dia sekarang lagi gencar-gencarnya mau belajar tiarap!!"
Senyum Riko tak dapat di sembunyikannya mengingat kelucuan bayi mungil itu.
"Apa ibu boleh melihat foto putramu?" tanya ibu Intan dengan mata berbinar.
Tanpa banyak bicara Riko memperlihatkan sesosok bayi gembul yang menggemaskan pada ibunya.
"Wah...Raftar mirip sekali denganmu sewaktu masih bayi, Riko...coba lihat rambut ikalnya itu benar-benar jiplakanmu waktu bayi."
Mata ibu Intan berbinar bahagia melihat foto cucunya itu.
"Demi merekalah Riko tak berani menjenguk, bu...Riko takut akan ancaman ayah untuk mencelakakan mereka!!"
Wajah Riko kembali murung. Jelas terlihat gurat luka di wajah dan matanya.
"Besok ayahmu pergi selama seminggu mengurus bisnisnya di Singapura...seberangkatnya ayahmu, kita bisa mencuri waktu terbang ke Indonesia!!" kata ibu Intan.
"Ibu serius??? bagaimana jika ketauan ayah dan para mata-matanya." Tanya Riko lagi.
"Kamu tak usah khawatir, ibu yang akan mengurus semua itu!!" jawab ibu Intan menenangkan putranya.
"Kamu bersiaplah!!" Ibu Intan menepuk bahu putranya yang terlihat sangat bahagia.
****
"Kak, kenapa ya sejak kemarin mata kiri atas Sania berkedut terus? apa Sania akan bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak bertemu tau-tau dipertemukan lagi?" tanya Sania di meja makan.
Iya Sania baru dua jam lalu pulang dari rumah sakit dengan dijemput oleh Niko.
__ADS_1
"Digigit semut kali matamu itu, Nia!!" kata kak Della ngasal.
"Kamu dengar mitos dari mana bahwa mata kiri atas kedutan itu berarti mau bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak kita lihat?" kata Della.
"Dari almarhumah ibu dulu...terus sewaktu mas Sofwan membawa kak Della pulang kerumah waktu itu dari 3 hari sebelumnya mata Nia juga berkedut sama persis seperti sekarang!!" jawab sang adik.
"Yah kita lihat saja nanti kebenarannya, dek!!" kata kak Della.
Huhuhu...
Miko masuk kedalam rumah sambil menangis keras.
"Miko ada apa kok menangis, sayang??" tanya Sania pada anak kembarnya itu.
"Bun, rambut Miko dijambak sama Raftar di teras tadi!!" lapor Syifa.
"Oalah...Raftar kok jadi bar-bar gini?" kata Della lalu mengambil alih menggendong Raftar dari tangan Syifa.
Nen...nen...nen
Bayi Raftar berceloteh seolah tanpa dosa membuat Della jadi gemas pada pipi gembul itu.
"Mengapa kamu senyum-senyum melihat ponselmu, Riko??" kata ibunya.
Riko memberikan ponselnya memperlihatkan video pendek Raftar sedang menjambak-jambak rambut kakaknya.
Mau tak mau ibu Intan juga terkekeh geli melihat kelakuan cucunya itu.
"Itu anak hasil pernikahan Nia dengan Miko bu!!" kata Riko menjelaskan.
"Apa dia bercerai dari suaminya itu?" tanya ibu Intan.
Riko menggeleng pelan.
"Hidup Sania itu sudah terlampau banyak menderita, bu!!"
"Dengan suami pertamanya dia ditinggalkan menikah dengan wanita lain setelah sebelumnya suaminya itu mengalami amnesia dan berkat campur tangan jahat dari para kakaknya, mereka berhasil memisahkan paksa Sania dari suaminya."
"Suami keduanya setelah menikah siri dengan wanita lain akhirnya meninggal karena terkena kanker otak."
"Lalu sekarang saat menikah dengan Riko, ayah lah yang menjadi rintangan cinta kami berdua...sebenarnya kami salah apa bu?? Riko dari kecil sangat mencintai Sania semakin dewasa rasa cinta itu bukannya luntur malah semakin tumbuh bersemi."
"Bertahun-tahun Riko berusaha mencarinya, saat menemukan dia Riko sangat bahagia, nyatanya kebahagiaan Riko cuma sesaat."
"Dia wanita yang mampu membuat Riko berubah, dari seorang player menjadi pria baik-baik...itu semua karena Sania!!"
"Apalagi sekarang Riko sudah punya anak dari wanita yang sangat Riko cintai...jadi sebenarnya di mana letak kesalahan kami berdua sehingga ayah tak mengijinkan kami bersama bahkan mengancam kami...mengapa bu?? mengapa???
Air mata Riko sudah luruh sejak tadi dia berkali-kali menciumi ponsel yang ada video putranya yang dikirim oleh anak buah yang dia tugaskan di Indonesia.
"Jika ayah sampai mencelakai Sania dan keluarganya, maka Riko tak akan segan-segan untuk membuat perhitungan walaupun Riko harus melawan ayah kandung Riko sendiri."
Matanya yang tadi basah oleh air mata kini memancarkan tatapan maut yang mengerikan.
"Sabar ya sayang...ibu akan selalu ada bersamamu, ibu juga tau kok kalau Sania itu wanita yang baik...mungkin usia kalian memang jauh berbeda tapi apalah arti usia karena bagi ibu, itu hanyalah sebuah angka belaka!!"
*
*
***Bersambung....
Akankah Riko dan ibu Intan pergi ke Indonesia menemui Sania dan Raftar??
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ya...berikan like, komen, vote, favorit, dan ratenya๐๐๐