
"Coba saja kalau kamu berani, aku akan datang mencakar-cakar mulut lancangmu itu!!" kata Maya sambil bergegas pergi!!"
"Aku takut sekali mendengarnya!!" kata Tini tertawa mengejek Maya.
"Kurang ajar wanita tadi itu, berani-beraninya dia mengejekku seperti itu!!" kata Maya sambil melangkah pergi dengan hati yang geram.
Dia kembali ke rumah, saat dia melewati kios bunga dilihatnya Niko sedang melayani pembeli dua orang gadis muda.
Maya bertambah kesal saat melihat dua orang gadis muda itu terlihat sangat centil pada suaminya.
Dia mampir lalu menyapa mereka, "jika kalian sudah selesai membeli, cepatlah keluar dari sini dan bergantian dengan pembeli lainnya, masih banyak pembeli yang harus dilayani suami saya dan bukan hanya kalian." Ketusnya.
"Maya..." sentak Niko.
"Maaf ya...dia memang suka sensitif orangnya!!" kata Niko pada kedua gadis tadi.
"Mas..." kata Maya tak suka dikatakan seperti itu di depan orang banyak oleh suaminya sendiri.
Setelah pembeli itu pergi, Niko menatap Maya dengan datar dan dingin lalu menegurnya, "dari mana kamu dan mau apa kamu kesini?" katanya.
"Aku habis dari rumah janda gatal itu, aku ingin melabraknya...berani-beraninya dia menggoda suamiku, untung tidak tidak ketemu, kalau ketemu habis dia!" kata Maya.
"Kamu yang habis, jika kamu berani menyentuhnya walau hanya sehelai rambutnya saja maka kamu yang akan berakhir di rumah sakit, dan itu kupastikan akan aku lakukan dengan tanganku sendiri!! paham kamu!!" bentak Riko.
Maya meringis kesakitan saat tangan besar Niko meremas dagunya lalu menghempaskannya dengan penuh amarah.
"Tega kamu mas...yang istrimu itu siapa? aku atau dia?" tanya Maya hampir menangis.
Niko meninggalkannya tanpa ekspresi sama sekali.
Tak jauh berbeda dengan keadaan rumah tangga Niko dan Maya, kehidupan rumah tangga nikah paksa Afifah dan Riko pun setiap hari hanya dibumbui pertengkaran dan keributan di antara keduanya.
Sifat arogan Riko setelah berpisah dari pawangnya kembali menjadi-jadi.
Seperti pagi yang penuh drama ini sudah seperti di sinetron saja.
Riko mau berangkat bekerja tetapi baju kerjanya sama sekali belum disiapkan oleh Afifah, sementara Afifah masih tidur di kamarnya. Terpaksa dia harus menyiapkan semua keperluannya sendiri.
Turun ke ruang makan lagi-lagi mendapat sambutan yang tak menyenangkan dari sang ayah.
__ADS_1
"Mana istrimu, Riko?? tidak kamu ajak makan sekalian? kalian ini gimana sih? sudah menikah tapi tidur terpisah, kapan bisa punya anak? ayah ingin cucu ayah berasal dari keluarga yang jelas asal usulnya, bukan seperti anak dan istrimu yang ada di Indonesia itu!!" kata pak Baskoro sementara ibunya hanya diam saja.
Tak...
Riko membanting pisau dan garpu ke atas meja tanpa sempat sesuap pun masuk ke dalam tenggorokannya lalu berdiri membawa tas kerjanya tanpa berpamitan lagi pada kedua orang tuanya.
"Riko..." bentak pak Baskoro.
"Ngga ada sopan-sopannya kamu dengan orang tua ya?? inikah yang diajarkan istri yang seperti tantemu itu??"
Riko berbalik seandainya yang bicara itu bukan ayahnya, sudah sejak tadi dia habisi.
"Riko mau pergi bekerja mencari nafkah untuk menantu idaman ayah yang masih tidur di kamarnya, karena kalau tidak salah dia baru pulang pukul dua dini hari entah dugem dengan siapa, Riko tak peduli."
Lalu Riko melanjutkan langkahnya keluar dan langsung naik ke mobil yang mesinnya sudah di panaskan oleh sekuriti di rumah mereka.
Riko memang menyetir mobil sendiri kemanapun tanpa seorang supir.
"Apa maksud Riko tadi?? Afifah baru pulang pukul dua dini hari tadi?" tanyanya pada sang istri yang sejak tadi diam.
Sejak Afifah masuk dalam keluarga ini dan menjadi menantu mereka, ibu Intan hanya bicara jika perlu saja selebihnya dia hanya diam membisu.
Ahhhh...
Pak Baskoro merasa sangat geram karena dia merasa tak dihargai lagi sebagai kepala keluarga.
Semalam Riko memang turun ke lantai 1 menuju dapur untuk mencari minuman dingin dikulkas utama.
Sengaja lampu memang tidak dia hidupkan.
Tak lama dia mendengar pintu ruang tamu terbuka dan masuklah sosok Afifah sambil berjalan sedikit terhuyung.
Afifah terlihat celingukan lalu kemudian setelah dirasa aman barulah dia naik lift ke lantai 3 langsung menuju kamarnya tanpa dia tau sepasang mata tengah mengawasinya dalam gelap.
Afifah tak bisa melihat jelas kondisi rumah yang gelap karena dia datang dari luar yang terang.
Sementara karena posisi mata Riko sudah terbiasa dengan keadaan gelap di sekelilingnya, dengan mudah dia bisa mengenali Afifah.
"Pukul dua dini hari...jika kamu memang perempuan baik-baik, tak mungkin kamu berkeliaran di luar sana sendirian kecuali kamu perempuan panggilan!!" batin Riko.
__ADS_1
"Inikah sosok menantu idaman ayah?? dari luarnya saja tampak seperti wanita berkelas dan wanita baik-baik, tetapi nyatanya?" gumam Riko.
Aku benar-benar muak dengan wanita seperti Afifah ini yang sok alim dan sok jaim...." kata Riko kesal.
Dia tiba di kantornya dengan keadaan sangat tidak bersemangat. Johan menyambutnya.
"Ada kabar apa yang anak buahmu dapatkan di indonesia tentang keluargaku, Jhon??" tanya Riko pada asistennya itu.
"Tak ada tuan, keluarga anda seperti lenyap di telan bumi. Sudah tiga bulan saya mengerahkan anak buah saya dan menyebar orang juga tetapi hasilnya nol." Jawab Johan.
"Jhon, saya mau kabur dari negara ini...bisakah kamu membantu saya?? saya sudah tak tahan berpisah dengan keluarga saya sekian lamanya tanpa mendengar kabar mereka lagi?? saya ingin mencari mereka dengan kemampuan saya sendiri." Kata Riko.
"Tuan, sebenarnya ada yang ingin saya perlihatkan pada anda!!" kata Johan.
"Apa itu Jhon?? sesuatu yang pentingkah?" tanya Riko tak bersemangat menanggapinya.
"Santo...tolong bawa pria itu kemari!!" perintah Johan pada Santo anak buahnya.
Tak lama terdengar ketukan di pintu ruangan Riko.
"Masuk saja Santo!!" perintah Johan dari dalam sementara Riko hanya berdiam diri tak mengerti dengan apa yang akan di lakukan Johan dan Santo.
Santo masuk bersama seseorang yang memakai masker dan berkaca mata. Dari perawakan dan bentuk tubuh, potongannya sangat mirip dengan Riko.
Santo menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam setelah memastikan tak ada yang mengikuti mereka.
Buka masker dan kaca matamu Asdar!!" perintah Santo pada laki-laki di sampingnya.
Mata Riko membulat sempurna melihat siapa yang berdiri di depan mereka.
Dia menepuk pipinya berkali-kali bahkan mengucek matanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang mengigau ataupun salah mata, begitu pula orang yang tengah berdiri di depannya. Johan pun juga terdiam sambil membandingkan!!"
*
*
***Bersambung...
Siapa kira-kira laki-laki bernama Asdar yang sudah dibawa Santo masuk ke dalam ruangan Riko?
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya readerπππππ