Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 101 Suara Hati


__ADS_3

"Sultan...Sultan..."


"Iya mas? Ono opo tho...bikin Sultan kaget aja!!"


"La koe...mas celuk ngga ada respon blas..." Ada apa Sultan? Cerita sama mas mu ini...jangan cerita karo mbakyu kamu itu, nasehatnya malah menyesatkan."


"Ngga ada apa-apa, mas..."


"Lho biasanya libur-libur gini, pikiran kamu itu mau jalan ke tempatnya Sania terus..."


"Tadi malam Nia sama Dina sudah mulai bekerja di kafekah?"


"Sudah, mas!!"


"Kamu tidak mengantar mereka pulang?"


"Mereka sudah ada yang antar jemput, mas!!"


"Oh, iya? Siapa?"


"Ya, suaminya lah mas...masa tukang ojek."


"Santai dong Sultan, bilang suami itu jangan sambil ngotot dan melotot ke mas mu ini dong?"


"O...mas ngerti...kamu cemburukan? Kan sudah mas bilang dari kemarin-kemarin tho, leh...Sania itu wanita yang masih bersuami...jaga jarak dengannya...nanti kamu malah sakit sendiri."


"Kan...kan...kalo mas kasih nasehat, malah tengkurepan gitu."


"Sultan dengerin kok mas, hanya saja kepala Sultan agak pusing."


"Ya, sudah istirahat saja...lagian mumpung anak sekolah libur, jadi kamu juga bisa beristirahat."


"Kenapa dengan Sultan, yah?" Tini yang sedang mencuci piring menghentikan pekerjaannya, melihat suaminya terduduk lesu di kursi ruang makan.


"Ayah kasihan sama Sultan, bu!! Baru aja semingguan ini dia ceria, sekarang sudah murung kembali."


"Pasti karena kehadiran Miko mouse di rumah Sania, kan?" Kata Tini.


"Ibu juga sih...sudah tau Sania masih punya suami, malah Sultan didorong-dorong untuk ngejar Sania...ngga jelas lho, ibu ini."


"Niat ibu kan baik yah, mau mendekatkan mereka berdua...yang satu teman baiknya ibu, dan yang satu adik ipar, ibu."


"Miko mouse...Miki mouse kali...emang Miko tikus..."


"Habis ibu kesal banget sama tu orang...kenapa sih harus balik lagi?"


"Ya namanya aja status mereka masih sah sebagai suami istri, bu...wajarlah jika Miko mencari keberadaan istrinya, wong dia masih cinta."


"Masih cinta kok nikah lagi..." Tini mencibir sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Kok kayaknya ibu dendam banget sih sama Miko?"

__ADS_1


Ya, iyalah...pertama dulu sebelum menikah, Miko sudah janji pada kami untuk menjaga Sania...yang kedua, ibu itu paling benci laki-laki tukang kawin!!"


"Dengan alasan menjaga amanat, dengan seenaknya mau nikah lagi malah dibawa pulang ke rumah lagi."


"Untung Nia, kalo ibu yang digituin...????" Sreng...sreng...Tini mengasah pisau di tangannya.


"Kalo ibu memang kenapa? Goda suaminya sambil senyum-senyum.


"Habis itu burung perkutut akan ibu pangkas sampai keakar-akarnya." Sambil Tini melotot kearah suaminya.


"Ya, jangan melotot kearah anunya ayah juga kali bu!! Memang anunya ayah salah apa?"


"Yang salah Miko, kok ayah juga kena imbasnya."


"Kan ayah sama-sama laki-laki...siapa tau mau niat ikutan jejak si Miko."


"Memang kalau sama-sama laki-laki harus sama gitu...ayah itu orangnya setia bu!!"


"Iya, awas aja setianya itu...setiap tikungan ada."


"Oalah...lama-lama duduk di sini, salah-salah malah burung ayah ntar yang di potong...ini namanya lain gatal lain yang digaruk...marahnya sama siapa? Imbasnya ke siapa!!"


*


*


"Ayah...bunda bilang ayah hari ini ngga pulang ke rumahkah? baju kerja ayah itu ngga ganti mulai kemarin."


"Ayah malas pulang, Dina...ayah mau di sini saja dengan kalian."


"Yang di katakan Dina itu benar..." Aku keluar membawakannya secangkir kopi dan pisang goreng.


"Pulanglah...aku tidak mau kamu bermasalah dengan istri mudamu."


"Apasih bun? Kayak bunda lain istri ayah juga...Bunda juga istri ayah...istri sah nya ayah lagi."


"Sarapanlah dulu, habis itu pulanglah dulu sana!!"


Nada bicaraku sudah mulai melunak, tidak seperti biasanya ketus dan tak ramah.


Dia mencomot pisang goreng dan menyeruput kopi yang sudah kusediakan untuknya.


"Ayah kangen kopi dan pisang goreng buatan bunda, buatan bunda beda rasanya dengan buatan bibi."


"Panggilah kata ayah seperti dulu, bun...jangan aku-aku dan kamu-kamu seperti ini."


"Ayah...Juned minta belikan mainan balu yah...bosen di sini ngga ada apa-apa!!"


"Juned..." Aku melototkan mata padanya.


"Biar saja bun..."

__ADS_1


"Juned nanti minta temenin bunda beli sendiri ya, nak!! Kalau ayah yang belikan takut nanti salah-salah."


"Ya sudah bun, ayah pulang dulu...ntar ayah main kemari lagi."


Lalu dia mengambil amplop dari kantongnya. "Ini jatah uang belanja bunda dan uang jajan anak-anak, bun."


"Tidak usah repot-repot...simpan saja uangmu itu...Alena lebih membutuhkannya."


"Bunda dan anak-anak lebih membutuhkannya, ayah tidak mau melihat istri dan anak-anak ayah kelaparan di luar sana."


"Bunda boleh bekerja, ayah tidak pernah melarang...hanya saja ingat, bunda itu sedang hamil...jangan terlalu capek."


Dia bersimpuh di depan perutku yang mulai keliatan menonjol.


"Ayah pulang dulu ya...jangan nakal di dalam sana ya, nak..." Dia mengelus perutku.


Aku memejamkan mata lalu beralih memandang kearah lain. Jujur hatiku sakit melihat dan mengingat kenyataan bahwa sekarang Miko sudah tidak sepenuhnya milikku seperti dulu lagi."


Dia harus adil untuk berbagi kasih, cinta dan sayangnya. Karena sekarang istrinya ada dua.


"Tragisnya perjalanan cintaku..." Aku membatin dalam hati.


"Aku harus rela di duakan oleh laki-laki yang dulu begitu memujaku dan sudah berjanji kalau hanya ada aku di hatinya sampai maut memisahkan."


Kini kenyataannya sekarang jauh berbeda, janji hanya tinggal janji...dia yang berjanji tapi dia juga yang mengingkari.


"Ayah pergi dulu ya..." Dia mencium kening dan pipiku berulang-ulang kali lalu dia mencium anak-anak.


Dengan langkah gontai dia keluar pintu menuju ke halaman tempat dia memarkirkan mobilnya.


"Ayah pulang dulu ya...Dina jaga bunda dan adik-adik ya, nak..."


Dia melambaikan tangannya dan mobilnya yang dikendarainya perlahan hilang di kelokan jalan kampung.


Aku terduduk...aku sudah tidak kuasa lagi menahan air mataku. Kata-kata ayah pulang yang diucapkan Miko tadi begitu melukai perasaanku.


Suamiku pulang ke rumah, di mana dulu kami berbagi cinta dan kasih sayang bersama di sana.


Dan di sana sudah menunggu maduku. Di pelabuhan tempatku berlabuh dulu, kini juga sudah ada kapal yang lain ikut berlabuh.


Sebenarnya, wanita mana yang sanggup untuk di duakan walau dengan alasan apapun...tapi keadaan sudah mengharuskan demikian. Dalam hidup, takdir sudah berbicara. Inilah garis kehidupan yang harus kujalani.


"Yang sabar, bun!!" Dina memelukku erat dan menghapus air mata yang meluncur tiada henti di pipiku.


"Dina yakin, ayah juga tidak menginginkan hal ini terjadi...ayah begitu mencintai bunda...seperti halnya bapak yang juga masih sangat mencintai bunda...tapi mereka juga tidak berdaya, bun!!!"


Tanpa kami sadari, dari kejauhan juga tampak sepasang mata yang mengawasi dengan hati yang sedih pula.


Dia ingin menghibur...dia ingin memberi semangat dan kekuatan...tapi apa daya, dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.


***Bersambung....

__ADS_1


Salam Jumat Mubarok...


dukungannya selalu ya guys...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2