Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 14 Menjemput Bahagia


__ADS_3

Sejak subuh di rumahku sudah ramai. Rencana ibu hanya acara akad nikah biasa, namun beberapa tetangga dekat yang tau pada datang kemari saling bantu membantu.


Termasuk ketiga temanku, mereka bertiga menginap disini. Sementara para ibu sibuk di dapur.


Beginilah perbedaan tinggal di kota sama di kampung seperti tempatku. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan mereka masih tinggi.


Awalnya..."Assalamualaikum bu Kamsiah..."


"Waalaikum salam"...eh ibunya Tini sama Wati...mari masuk bu..."


"Ibu ini lho...mau ada acara ngga bilang-bilang...Kita kan bisa saling tolong menolong."


"Hanya acara akad nikah yang di sini bu, tapi resepsinya biar ditempat keluarga Sofwan saja."


"Ngga apa-apa paling-paling acara makan dan kumpul bersama tetangga dekat bu."


Setelah warga lain dikabari oleh ibunya Wati yang rencananya hanya acara syukuran biasa menjadi tidak biasa.


Tenda dan kursi-kursi semua bahan-bahan pokok banyak dibantu tetangga sekitar. Aku bersyukur hidup dilingkungan yang warganya masih peduli satu dengan yang lain.


"Nah...sudah cantik..." Tini melihat hasil akhir karyanya di wajahku."


Kebaya brokat putih, jarik batik dan jilbab putih. Tini sengaja memberi sentuhan make-up yang natural di wajahku, biar ngga kelihatan menor tapi tetap anggun dan cantik.


"Nia...kita bertiga pulang mandi dulu ya...sebelum keluarga Sofwan dan penghulu datang kita sudah kemari lagi."


"Terimakasih ya teman-teman...aku bahagia punya teman-teman yang baik seperti kalian."


Aku memeluk mereka bertiga dengan terharu.


"Kami juga senang...kita berempat berteman sejak kecil dan sekarang teman sepermainan kecil hingga dewasa akan menikah menjemput bahagianya." Tuti menghapus air matanya terharu.


"Ya sudah kita siap-siap dulu ntar kita balik lagi."


Aku duduk ditepi pembaringan. Di luar ramai para ibu yang memasak sambil bersenda gurau.


Aku tadi ditelpon mas Sofwan, bahwa mereka dan rombongan kemungkinan akan tiba sekitar jam 8 pagi.


"Mandi ajakah mas Sofwan itu? gumamku sambil tersenyum."


"Secara lho dia malas mandi pagi-pagi." Terbayang juga mereka harus berangkat setelah sholat subuh kemari yah...semoga tidak ada aral melintanglah.


*


*


Aku duduk dengan perasaan gugup di samping mas Sofwan. Di hadapan kami duduk seorang penghulu. Di belakang ada ibuku, orang tua dan kakak-kakak perempuannya, para tamu dan teman-temanku. Mantan bosku dan teman-temanku yang bekerja di pabrik dulu juga datang semua.


Aku bahagia juga terharu. Akad nikah yang direncanakan secara sederhana malah jadi meriah seperti ini walaupun tak seramai acara resepsi yang nanti akan diadakan di kediaman mas Sofwan.


"Sah...kata penghulu..."


"Sah...kata orang banyak."


Aku mencium punggung tangan mas Sofwan dan dia mencium keningku.

__ADS_1


"Alhamdulillah...para tamu menyalami kami."


Tiga sahabatku dan teman-temanku serta mantan bosku dipabrik semua menyalamiku dan para wanita memelukku terharu.


"Selamat ya Nia, doa kami untukmu... semoga menjadi keluarga samawa...."


Karena tamu terus berdatangan hingga sore jadi keluarga memutuskan untuk kembali besok pagi.


Malamnya ibu dibantu para ibu-ibu tetangga lalu berbenah membereskan sisa-sisa acara dari pagi hingga sore. Mereka melarangku dan mas Sofwan untuk membantu.


Kami berbincang-bincang di ruang tamu hingga larut malam.


Tapi ada yang mengganjal dalam hati dan pikiranku. Aku ingin menanyakannya pada suamiku, tapi kurang tepat rasanya jika sekarang aku menanyakannya.


Ketiga saudara perempuan mas Sofwan. Terutama kak Nuri dan kak Anya. Pandangan mata mereka selalu menatap sinis padaku.


"Hanya perasaanku saja atau bagaimana ya?" aku tak berani suudzon pada orang lain nanti, malah dosa. Iya kalau terbukti kalau tidak gimana?


Apalagi mereka berdua memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan alasan ada keperluan mendesak.


Jadi hanya tinggal mertuaku dan kak Juwita yang memilih untuk pulang besok bersama ibu dan aku.


"Bagaimana sekarang perasaanmu dek?" Mas Sofwan duduk di samping pembaringan, memandangku yang sedang membersihkan make-up dari wajahku.


"Kok tiba-tiba jadi manggil adek sih mas?"


"Lha iyalah manggil adek, masa mas panggil kakak?"


"Lagian kalau mas Sofwan ada dikamar gini...gimana aku mau buka hijabku dan ganti baju?"


"Ya, aku ngga terbiasa aja ada orang lain di kamar ini selain ibu, jadi ya mohon maaf jangan tersinggung."


"Ya sudah mas duluan yang ganti baju, setelah mas keluar baru kamu ganti baju juga."


"Tapi harus di biasakan ya...mas kan sudah jadi suamimu."


"Nggeh mas ku...Nia akan pelan-pelan mencobanya."


"Lagian baru ada dalam satu kamar, nanti kalau tidur dalam satu ranjang gimana?"


Wajahku merah seperti udang rebus mendengar perkataan mas Sofwan.


"Mau ngapain satu ranjang sama Nia?"


"Ya minta jatahlah...sudah kewajiban mas sebagai suami untuk memberi dan kamu sebagai istri menerima."


"Itulah tujuan kita menikah...menyatukan dua hati yang berbeda agar kita bisa seiring sejalan dalam mengarungi bahtera rumah tangga."


"Kamu mengertikan dek...?"


"Ngga..." kataku...seraya tersenyum menggodanya.


"Mas mu ini sudah ceramah panjang lebar dari tadi kamu ngga mengerti juga? mas cium juga nanti ya!"


"Eh iya mas...tiba-tiba aku jadi mengerti..." Kataku!

__ADS_1


Daripada dia menciumku? sumpah aku belum siap sama sekali.


Apalagi kedekatan kami bukan seperti muda-mudi pada umumnya. Jalan sana sini berduaan, gandengan tangan, berpelukan...Haduh amit-amit..." pikirku.


Kami banyak menghabiskan waktu di rumah dengan ibu. Kalau pun jalan ngga pernah berdua, selalu jalan ramai- ramai dengan trio ulat bulu dan pasangan mereka masing- masing.


"Menjelang hari penentuan itu saja kami membeli cincin pernikahan kami berdua, juga pada waktu mengurus berkas-berkas pernikahan.


Setelah ganti baju dia permisi keluar mau menemani orang tua dan kakaknya serta ibu di ruang tamu.


Tak lama akupun keluar. Di ruang tamu sudah di ampar kasur busa supaya keluarga mas Sofwan bisa beristirahat.


Padahal jika dituruti aku sangat lelah dan mengantuk. Tapi tiba-tiba terbersit pikiran buruk. Bagaimana tiba-tiba saat aku sedang tidur, mas Sofwan lalu bobo cantik juga di sebelahku? aduh....


Aku merasa sangat jengah...walaupun aku tau itu sudah menjadi kewajibanku untuk melayani suami secara lahir dan batin.


"Eh, pengantin baru kok pada nongkrong disini?" kata ibu mertuaku.


"Iya bu...katanya Nia masih takut sama Sofwan." Mas Sofwan melirik tersenyum menggodaku.


"Makanya nanti pelan-pelan aja nak...biar istrimu ngga takut sama kamu." Kata bapaknya.


"Pelan-pelan gimana pak...belum di mulai aja Sofwan sudah diusir dari kamar...malu katanya."


Mereka semua tertawa menggodaku membuatku jadi salah tingkah.


"Biasanya istri pemalu itu hebat lho Sofwan di tempat tidur."


"Iyakah pak? Sofwan jadi ngga sabar pengen lekas-lekas nyobain."


"Malam ini kita coba yuk dek...pelan-pelan aja siapa tau bisa langsung."


"Langsung apa Sofwan...goda bapaknya..."


"Langsung jebol gawang lah pak...habis apa lagi?"


Pengennya kucubit lengannya kuat-kuat sangking menahan malu. Enteng betul mulutnya mengucap begitu, di hadapan keluarga dan ibuku lagi.


"Eits ngga sekarang..." kata ibu mertuaku.


"Besok resepsi pernikahan kalian, kalian akan menghabiskan hampir semua waktu di pelaminan."


"Jangan sampai Nia kamu buat tidak bisa berjalan normal dan tidak kuat berdiri ya."


"Apa nanti kata tamu undangan melihatnya."


Maksud ibu mertuaku ini apa ya? aku berpikir tapi kok otakku seakan lambat sekali loadingnya. Tidak dapat mencerna apa yang beliau katakan. Tapi mau bertanya aku malu...nanti aku jadi bahan guyonan lagi seperti tadi.


"Ya sudah, biar malam ini Nia tidur dengan ibunya. Terakhir, sebelum mulai besok kalian akan tidur bersama."


"Dan Sofwan kumpul tidur disini dengan kita-kita."


***Bersambung....


Bantu like dan komennya ya🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2