Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 8 Jatuh Cinta Berjuta Rasanya


__ADS_3

"Ayo kita berangkat!! hati-hati dijalan ya...jangan kebut-kebutan di jalan."


Ibu melambaikan tangan didepan pintu mengantarkan kepergian kami.


"Nia pegangan dong, ntar kamu jatuh."


"Susah mas...satu tanganku kan pegangin bekal kita," aku berkilah.


"Kan masih ada satu tangan yang lain Nia..."


"Hadeuh..kok aku jadi deg-degan gini ya!"


"Ayo cepatan kita sudah ditinggal nih... i...iya...Aduh malunya..." untung kami paling belakang kalau tidak bisa ribut trio kwek-kwek.


"Bu kami pamit dulu, Assalamualaikum.."


"Iya hati-hati di jalan...jaga Nia ya, Sofwan dia tidak bisa berenang jangan biarkan dia main air ketengah ntar dia kelelep! Waalaikum salam."


Aduh...kok jadi keringat dingin gini sih..norak..norak.


"Memang kamu tidak pengen belajar berenang ya Nia, Sofwan membuka percakapan karena sedari tadi kami tidak bersuara."


"Dulu aku pernah belajar berenang, tapi hampir nyangkut dijala nelayan yang dipasang dipinggir-pinggir tonggak kayu itu lho."


"Ha..ha..ha..Kayak anak ikan duyung kejerat dong.."


"Bukan anaknya duyung tapi neneknya duyung." Ha..ha..ha.


"Terus..bully terus..tidak dirumah tidak dijalan terus saja melakukan pembullyan."


"Maaf yang..habis kamu tuh lucu kalo marah..suka ceplas-ceplos."


"Yang..yang...kuyang maksud loe.."


Aku cemberut mendengar dia sepanjang jalan terus menggodaku.


"Mas..mas..lihat..sandalnya Wati lepas tuh..."


"Dasar dodol..tu anak..kita berhenti dulu mas."


"Kakak kenapa sih kok bisa lepas sandalnya...adiknya Wati si Deden menggerutu."


"loe napa Ti...ngantukkah?" aku menegurnya.


"Iya nih...ngantuk berat rasanya, apalagi ditiup angin semriwing-semriwing, tidak terasa lolos nih sandal dari kaki."


"Untung bukan kakak yang lolos dari motor, kalau tidak Deden bisa diamuk emak sama bapak dirumah."


"Ayo ah..dudah siang nih..kapan kita sampainya kalau berhenti kelamaan."


"Iya bang Sofwan maaf ya...kak Wati nih awas ya kalau buat masalah lagi..ntar ta tinggal sekalian dijalan."


"Iya...iya, maaf bang Sofwan...Nia, maafkan kakak ya adikku sayang.."


"Bang Sofwan punya korek kayu kah?"


"Untuk apa den nanya korek..kan abang tidak merokok."


"Buat ganjel matanya kak Wati biar tidak merem lagi dijalan."


"Ah..Kamu den..memang matanya kakak ini pintu apa harus diganjal segala, ayo ah..tu Nia sama bang Sofwan sudah jauh didepan."

__ADS_1


"Tini sama Tuti malah sudah tidak kelihatan kayak kutu nyelip dirambut saja, cepat bener hilangnya mereka."


"Deden bisa lebih cepat kak...kakak mau liat?"


"Tidak usah macam-macam ya den..kakak mau refresing kepantai bukan mau menghadap malaikat maut...jangan yang aneh-aneh kamu ya...awas memang.."


"Akhirnya sampai juga didepan gerbang pantai, kalian lama amat den? Kami berseru."


"Iya kak Wati mengancam terus sepanjang jalan supaya jangan laju-laju, ya mau tidak mau jalannya merayap kayak keong."


Kami masuk beriringan. Hawa laut yang khas begitu terasa bagi kami yang tinggal didaerah pegunungan ini.


"Sampai juga akhirnya...jam berapa ini, Tin?"


"Sudah setengah satu..jauh juga perjalanan kita ya hampir satu jam setengah."


"iya..itukan karena kak Wati membuat banyak masalah sepanjang jalan."


"Tidak lama kuhajar juga kamu ya den...Wati mengejar adiknya."


"Mas aku sholat sebentar ya. Itu ada mushola. Kalian cari tempat untuk ampar tikar aja dulu."


"Titip bawakan bekalnya ya mas...aku tidak lama kok."


Aku bergabung bersama mereka dan bergantian dengan mereka sholatnya. Hanya Wati yang berhalangan hari ini.


"Waduh...kamu tidak bisa ikut berendam ti...ntar airnya merah semua kayak dikasih kesumba, kataku."


"Itu sudah, tadi waktu pulang dari tempatmu tidak ada tanda-tanda halangan..sialan betul."


"Makanya kamu jangan suka mengumpat terus, gitukan jadinya," kulihat dia tambah kesal.


"Bau garamnya nyengat ya dipantai ini, Kataku."


"Terus kalau nyengat kenapa? kamu mau masak disini?" Sofwan menggodaku.


"Kalau perasaanku sih bau ikan asin yang nyengat dari tadi, sampai mekar lubang hidungku," Wati menimpali.


"Makanya jangan pakai perasaan melulu Ti..." sela Tini.


"Kalau pakai perasaan mah...bukannya lubang hidungmu sudah mekar dari sananya biarpun tidak mencium bau ikan asinpun!!"


"Kampret loh Tin....gini-gini gue bangga dengan ni hidung, banyak dilirik cowok sebabnya."


"What...hdhdha...kami tertawa riuh mendengar celoteh Wati yang spontan".


"Cepetan yuk...aku pengen main air...kepantai tidak mandi-mandi rugi rasanya..."Deden langsung cepat-cepat menyelesaikan makannya.


"Ayo mas aku pengen jalan-jalan dipinggir pantai cari keong," kataku.


"Ini keong, ngapain cari keong lagi," Sofwan menunjuk Wati.


"Itu mah keong racun bang, ntar kita keracunan kalau megang dia." hihihi..Tuti dan Tini tertawa bersamaan.


"Bully terus..anggap saja aku tidak ada...bagus ya..."


Aku dan Sofwan berjalan menyusuri pantai. Jalan berdua dengannya gini membuat hatiku jadi berbunga-bunga.


Tuti, Tini dan Deden asyik teriak-teriak main air. Sudah persis seperti ayam yang baru di lepas dari kandangnya. Hanya Wati yang cemberut karena tak bisa bermain air sama seperti yang lain.


"Mas kayaknya mandi seperti mereka asyik tuh..." aku menunjuk pada mereka yang asyik mandi sampai ketengah laut.

__ADS_1


"Jangan...mas tidak izinkan, sebab ibu menitipkan kamu sama mas untuk dijaga nanti kamu kelelep lagi."


"Kita ngobrol dibawah pohon ini saja ya, emang enak seperti mereka...kamu liat saja begitu selesai keluar dari air, gosong...gosong dah tuh muka."


"Matahari dipantai terasa lebih panas dari pada ditempat kita yang masih banyak perbukitan."


Kami duduk berdua, saling diam tak tahu harus memulai obrolan apa.


"Nia, mas ngga ingin lama-lama pacaran begini, takut khilaf, dan takut dosa."


"Mas ingin mengenalkanmu pada keluarga besar mas."


"Tapi aku takut mas, takut mereka tidak bisa terima keadaanku apa adanya."


"Insyaallah mereka akan menerimamu Nia."


"Kamu perempuan yang baik, dibalik ketegasanmu, tersimpan berjuta kelembutan dan perhatianmu."


"Dan dari awal hatiku sudah yakin untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku."


"Wanita yang ada bukan hanya disaat senang tapi akan selalu ada juga disaat aku susah."


"Kamu mau kan menikah denganku, Nia?"


"Aku tidak bisa memutuskan sendiri mas, aku juga harus membicarakannya dengan ibu terlebih dahulu."


"Terserah kamu saja Nia, bila perlu kita berdua menghadap ibu ya!"


Aku mengangguk. Entah berjuta rasa yang ada di dalam hatiku. Aku sulit mengungkapkannya, yang jelas saat ini aku begitu bahagia.


"Ya sudah, yuk kita gabung dengan mereka."


"Kita siap-siap pulang yuk...sudah sore, perjalanan juga jauh."


Aku dan Sofwan juga Wati menunggu Tuti, Tini, dan Deden berganti baju dahulu.


"Kok kamu cemberut aja Wati?" mas Sofwan menegur Wati yang manyun terus.


"Bagaimana aku tidak kesel bang...yang lain enak-enakan main air, aku cuma numpang duduk doang."


"Memang kenapa sih tidak ikutan nyebur?"


"Biasa mas tamu bulanannya datang tak diundang," aku menjelaskannya.


"Ya usir dong...kata mas Sofwan enteng." Suruh datang lagi kalau kita sudah balik kerumah.


Aku mendelik padanya dan Wati semakin manyun.


"Apasih mas ini tidak jelas...aku mencubit lengannya."


"Sudah kamu tenang aja Wati, tuh Nia tidak berenang anteng-anteng saja."


"Kalo Nia mah lain bang...dia kan memang tidak bisa berenang."


"Ayo kita pulang...ajak Deden, ntar kita kemalaman dijalan."


Kami pulang, di hatiku terselip kebahagian yang tak terkira. Semoga rasa ini akan tetap ada sampai kapanpun. Itulah doa dan harapanku.


Bersambung....


...Jangan lupa like dan komen 😊🙏...

__ADS_1


__ADS_2