Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 156 Alasan Untuk Berpisah


__ADS_3

"Kok Sania pak? Ini lho namanya Dewi!!" Ralat Santi.


"Astaghfirullah..." Seketika Sofwan jadi terdiam.


"Maaf...maaf...saya salah sebut, maksud saya Dewi!! Dia tersenyum menutupi kesalahan sebutnya tadi.


Mereka bertiga berlalu melewati Dewi, Fitri dan Santi yang masih terbengong-bengong.


"Sania siapa sih maksud pak Sofwan?" Kata Fitri dan Santi bersamaan.


"Mantannya kali!!" Jawab Dewi sambil memandang kearah Sofwan tadi.


"Kok jantungku berdetak kencang banget ya? Biasanya aku begini kalau pas akhir bulan mau bayar ini dan itu tapi belum gajian, tapi ini liat pak Sofwan lewat aku kok jadi grogi dan salah tingkah ya?" Dewi bergumam pelan takut kedengaran dua temannya.


"Siapa tadi Sania yang disebutkan olehnya? Pasti seseorang yang istimewa baginya!!" Gumam Dewi lagi.


"Apa aku suka pada pak Sofwan ya? Idih.. Janganlah, tampaknya pak Sofwan juga bukan tipe laki-laki yang mudah tertarik pada wanita lain."


"Wan, tampaknya Dewi itu tadi suka sama kamu ya?" Sandro berbisik pada Sofwan.


"Ya mana aku tau San...kalau aku sih biasa aja!! Karena wajahnya saja yang mirip dengan wanita masa laluku."


"Aku bukan orang yang gampang tertarik dengan wanita lain San, cukup sekali kesalahan yang kubuat yang mengakibatkan aku harus kehilangan orang yang kucintai."


Selama acara di hari minggu itu berlangsung, Dewi tak pernah berada jauh-jauh dari tempat yang sekiranya dia bisa melihat Sofwan.


Sofwan sendiri tampak bersemangat dan sangat menikmati momen kebersamaan dengan Aisyah.


Dia tak sibuk menoleh kanan kiri...fokusnya hanya sibuk menyemangati Aisyah yang sedang ikut lomba di acara family gathering itu.


Sementara agak jauh dari tempat acara, pak Irawan sedang bersama dengan Anggita.


"Kenapa kamu tidak bersama dengan anak suamimu, Anggit?" Tanya pak Irawan pada putrinya


"Aisyah selalu ketakutan jika berada dekat dengan Anggit yah?" Desah Anggita.


"Ya sudahlah, kamu dekati secara perlahan-lahan saja nak...mungkin putrimu itu masih trauma akibat perilakumu yang labil dulu."


"Sofwan aja sekarang sepertinya menjaga jarak dari Anggita yah!!" Anggita menunduk memandangi rumput-rumput du bawah kakinya.


"Tugasmu kini semakin berat nak, ya mengambil hati dan cinta suamimu lagi dan juga mengambil hati Aisyah lagi supaya dia mau bersamamu kembali.

__ADS_1


"Hai...Kamu Anggita kan?" Sapa sebuah suara di belakang mereka. Anggita dan pak Irawan menoleh.


"Budi, Lintang...apa kabar?" Para orang tua itu saling berpelukan sementara laki-laki muda yang dipanggil Lintang itu menghampiri Anggita.


"Hei...Anggita apa kabarmu?" Lintang menyodorkan tangannya dan Anggita menyambutnya.


"Kamu ini, nikah kok ngga undang-undang...aku minta maaf juga ya karena kudengar kamu belum lama mengalami kecelakaan.


"Iya Lin, akibatnya kedua kakiku harus kurelakan untuk diamputasi."


"Aku turut prihatin, lalu mana suamimu? Kudengar kamu juga sudah mempunyai seorang putri." Tanya Lintang.


"Suamiku sedang bermain di sana mengajak putri kami sekalian ikut lomba."


"Kamu sendiri Lin, ngga kepikiran untuk mencari jodoh kah?" Anggita sambil bertanya sambil matanya mencari-cari keberadaan suami dan putrinya.


"Kan kamu tau kalau sejak di SMA dulu aku tuh sudah suka sama kamu." Lintang menatap wajah Anggita.


"Terakhir kabar yang kudengar kamu pindah tugas ke Balikpapan tak lama lagi kudengar kabar kamu telah menikahi pasienmu sendiri."


"Hatiku hancur Anggit mendengar kabar itu, kita yang telah bersahabat sejak kecil sampai dewasa sampai kelulusan SMA saat aku yakin untuk menyatakan perasaanku, kamu kemudian pergi."


"Maafkan aku Lintang...tapi sekarang aku sudah bersuami dan punya anak bahkan aku kini telah menjadi wanita yang cacat...apa yang bisa kamu banggakan dari wanita cacat seperti aku?" Anggita menangis merenungi nasibnya sendiri.


Lintang memeluk Anggita berusaha menenangkannya...mereka tak sadar ada sepasang mata yang memandang mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Mungkin inilah jalan kita untuk berpisah Anggita, aku sadar selama ini tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu."


"Aku tau pernikahan kita terjadi diluar kesadaranku saat itu, tapi aku berusaha untuk tetap mencintaimu...walaupun aku tau hatiku tetap mencintai Nia mantan istriku tapi aku berusaha untuk tetap bisa menerimamu."


"Tampaknya dia laki-laki yang baik dan bisa menjagamu serta menerimamu Anggita...kuharap kamu bisa bahagia bersamanya."


Tak ada amarah dalam hati Sofwan, dia ikhlas jika sewaktu-waktu hal ini terjadi. Mungkin dia akan membawa Aisyah pulang ke Balikpapan dan akan memulai hidup baru lagi di sana.


*


*


Sofwan dan Aisyah lebih dulu sampai di rumah. Karena Aisyah tertidur kelelahan, Sofwan meninggalkannya di kamar. Lalu dia menuju kamar Anggita untuk menunggu istrinya itu pulang.


Kurang lebih satu jam menunggu, Anggita datang dan langsung membuka pintu kamarnya dengan wajah yang ceria.Dia tidak tau kalau Sofwan dan Aisyah telah pulang lebih dulu karena motor Sofwan titipkan di parkiran kantor dan dia pulang naik taxi online karena Aisyah yang sudah mengantuk kelelahan.

__ADS_1


Ceklek...


Bukan main terkejutnya Anggita melihat Sofwan ada di dalam kamarnya. Hatinya ketar ketir karena tadi dia pulang diantar oleh Lintang dan Sofwan menyaksikan itu dari jendela kamar Anggita.


"Pa...papah..." Anggita terlihat gugup.


"Duduklah mah, jangan gugup begitu!!" Sofwan menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya agar Anggita duduk di dekatnya.


Semakin tak enaklah hati Anggita melihat wajah suaminya yang datar-datar saja tanpa emosi sama sekali.


Memang selama bertahun-tahun mereka menikah, tak pernah sedikitpun Sofwan berkata kasar padanya.


"Pah...itu tadi..." Anggita berkata dengan terbata-bata.


Sstttt...


Sofwan menempelkan telunjuknya di bibir mungil istrinya itu.


"Papah tau apa yang mau mamah katakan, tetapi sebaliknya mamah ngga tau kan apa yang ingin papah katakan?" Dia bicara dengan lemah lembut tetapi justru terdengar seperti guntur yang akan menyambar gendang telinga Anggita.


"Mah...sudah berapa tahun kita menikah? Kalau tak salah hitung besok adalah ulang tahun pernikahan kita yang ke empat kan?" Anggita hanya mengangguk ambigu.


"Papah minta maaf sama mamah jika selama empat tahun ini belum bisa menjadi suami yang baik yang bisa mencintai mamah sepenuhnya."


"Maksud papah belum bisa mencintai mamah sepenuhnya itu apa?" Tanya Anggita.


"Mah, sudah dua tahun ini papah sembuh dari amnesia papah..."


"Papah jahat telah membohongi mamah selama ini...papah ke...." Dengan cepat Sofwan menempelkan lagi telunjuknya ke bibir istrinya.


"Papah belum selesai bicara mah, hargai papah...tolong biarkan papah selesai bicara dulu."


Dengan nafas memburu menahan emosi akhirnya Anggitapun diam dan kembali mendengarkan apa yang hendak di sampaikan suaminya.


"Papah sebenarnya ingin mengatakan pada mamah dan ayah, tapi papah batalkan karena papah ingin belajar mencintai mamah dan terlepas sepenuhnya dari masa lalu papah!!"


*


*


*****Bersambung\=\=\=\=\=

__ADS_1


Yup...agak bingung sebenarnya menyelesaikan permasalahan Sofwan dan Anggita ini...mohon sarannya ya reader...


Jangan lupa selalu berikan dukungannya, like, komen, vote, favorit dan rate nya yooo...terima kasih🙏🙏


__ADS_2