
"Assalamualaikum....Nia...."
Siang itu aku kedatangan tamu istimewa. Teman-teman rempongku dulu, Wati dan Tuti.
'Akhirnya kita bisa menjadi tetangga lagi, babyku..." Tuti memelukku erat.
"Kok tetangga sih? Rumah kita masih berjauhan kan?" Kata Wati.
"Kalau tetangga itu artinya kita tinggal bersebelahan, dong???"
"Haduh...mulai lagi si tukang membahas berkomentar, kata Tini."
Aku memeluk Tuti dan Wati. "Kami senang bisa berkumpul lagi...tapi juga sekaligus sedih melihat nasib pernikahanmu yang baru seumur jagung, Nia."
"Mungkin inilah takdir yang harus ku jalani, teman-temanku." Aku berusaha tabah.
"Ya, sudah kita tidak perlu membahas itu...kita bahas yang happy aja, oke? Kata Tini.
"Sekarang apa yang kamu perlukan untuk sekarang ini, Nia?"
"Aku perlu tv, kulkas, kompor dan gasnya juga piring, gelas dan sendok. Karena semua barang kutinggalkan di rumah Miko."
"Haduh....begitu diberikan penawaran langsung ngelunjak!!! Cibir Wati.
"Kan tadi ditawarkan, kataku."
"Akan kami usahakan hari ini temanku, kata Tuti lagi."
"Eh, Tini..adik iparmu itu jomblokan?" Kata Wati.
"Maksudmu si Sultankah?"
"Ya iyalah...emang kamu punya adik ipar berapa? Yang ada juga suamimu...ngga mungkinlah aku menanyakan suamimu, ngga ada untungnya buatku!!" Cibir Wati.
"Iya, semenjak istri dan anaknya meninggal lima tahun lalu, Sultan selalu menutup diri."
"Karena kasihan sama adik bungsunya, suamiku memintanya datang kemari dan akhirnya bisa mengajar menjadi guru bahasa inggris di SMP di kota ini."
"Kenapa tidak kita jodohkan saja dia dengan Sania?" Kata Wati.
"Stres lho Wati ini, Nia itukan belum bercerai dari Miko...kamu mau adikku di cap sebagai perebut bini orang?" Kata Tini menoyor kepala Wati dengan gemas.
"Kan maksudku nanti, Tini...karena aku yakin rumah tangga mereka tak akan bertahan lama lagi."
__ADS_1
"Kami tak perlu bertanya tentang masalahmu, teman...tapi melihat keadaanmu keluar dari rumah bersama anak-anakmu tanpa membawa barang apapun selain beberapa potong baju, berarti rumah tanggamu sedang mengalami guncangan hebat, bahkan mungkin lebih hebat dari yang dulu."
"Apapun masalahmu, kami para sahabatmu akan selalu ada di sampingmu."
"Tin...mumpung kehamilanku belum begitu besar, aku mau minta tolong di carikan pekerjaan dong...supaya aku dan anak-anakku masih bisa melanjutkan hidup."
"Ah, iya...Suamiku dan Sultan sedang mengelola sebuah kafe...kayaknya masih membutuhkan seorang kasir deh...terus setiap sabtu dan minggu biasanya ada band lokal yang datang ataupun jika ada yang menyanyi biasanya Sultan yang main piano atau gitarnya.
"Suaranya Dina bagus tuh...juga dia pintar main gitar walaupun usianya masih 11 tahun. Ngga apa-apa untuk mengisi acara di hari sabtu dan minggu."
"Terima kasih banget, Tin...aku memang sangat membutuhkan pekerjaan itu."
Bebanku terasa berkurang dengan kehadiran teman-temanku di sini. Aku juga bisa ikut tertawa bersama mereka. Serasa kembali ke masa saat aku belum bersama mas Sofwan dulu...terasa bahagia...tanpa beban tanpa masalah!!!"
*
*
Sementara di tempat kediamannya, sejak di tinggal istri dan anak-anaknya...Miko sering uring-uringan sendiri.
Bawaannya mau marah, emosi, kesal, bercampur menjadi satu. Tentu sasarannya adalah Alena...
"Alena...kerjamu hanya meminta uang saja...shoping saja...tidak adakah pekerjaanmu yang lain, selain itu?"
"Tak pernah abang mendengar keluhannya...atau dia mengeluarkan suara ketidak setujuannya...dia sosok pribadi yang lemah lembut dan ramah."
"Itu kan kak Sania, bang...Alena kan beda."
"Yah...itulah perbedaanmu dengannya....sekarang abang sangat kehilangannya...dan tak tau harus mencarinya kemana."
Alena cemberut saat keberadaannya selalu dibandingkan dengan Sania.
Miko meninggalkan istri ke duanya itu seorang diri di ruang tamu. Sementara bibi hanya mengawasi dari balik tirai dengan perasaan miris melihat keadaan tuannya sekarang.
"Kasihan bapak...sejak ditinggalkan oleh ibu, hidupnya jadi kacau balau."
"Biarlah itu menjadi pelajaran untuk bapak ke depannya...semoga rumah tangga mereka bisa utuh kembali."
"Tapi entahlah melihat keadaan yang seperti sekarang ini, bibi ragu bisakah mereka bersatu kembali?"
"Karena bapak sudah bertindak di luar batas...wanita mana yang tak akan terluka hatinya jika diperlakukan demikian?"
"Entahlah...tak ada yang tau bagaimana nasib rumah tangga mereka selanjutnya."
__ADS_1
Tak lama Miko ke dapur. "Bi, buatkan saya mie rebus dong?" Dia duduk sambil melamun.
"Kok ngga minta dibuatkan non Alena, pak? Waktu ibu masih ada, ibu yang selalu membuatkan untuk bapak."
"Masakan Alena ngga enak, bi...saya ngga mau makan jika bukan istri saya atau bibi yang masak."
"Ya, jangan begitu pak... non Alena kan istri bapak juga!! Apalagi nanti setelah ibu melahirkan, bapak resmi menceraikan ibu, maka non Alena akan menjadi satu-satunya nyonya Miko di rumah ini."
Miko memandang bibi. "Saya tidak akan pernah menceraikan ibu, bi...tidak akan pernah..."
"Saya akan tetap mempertahankan pernikahan saya, bagaimanapun caranya."
"Bila perlu saya akan bersimpuh di kakinya meminta maaf, bi...saya sungguh menyesal dengan apa yang telah saya lakukan."
"Saya terlalu terbawa emosi dan terbakar api cemburu yang akhirnya membawa saya jadi seperti ini...tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, saya bertindak dengan emosi saya dan bukan dengan nalar serta logika saya."
"Makanlah, pak...dari kemarin bapak belum menyentuh makanan sama sekali."
"Biasanya ibu akan marah besar jika melihat bapak seperti ini."
"Tapi sekarang saya tidak akan pernah mendengar suara marahnya lagi bi..."
"Berdoa saja, pak...semoga ibu dan anak-anak akan kembali ke rumah ini lagi."
Sebenarnya Miko tidak ada selera makan sama sekali, tapi terngiang kembali ucapan Nia yang sering memaksanya untuk makan agar asam lambungnya tidak naik."
"Ayah kangen bunda...ayah kangen anak-anak!!" Sambil makan air mata menetes bercampur bersama kuah mie instan yang di makannya."
Bibi hanya menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa iba.
"Sebenarnya kasihan juga sih melihat keadaan bapak seperti ini...macam orang stres saja layaknya.
"Baru ditinggal tiga hari oleh ibu, apalagi ditinggal seterusnya? Bisa stres beneran kali, pak Miko."
Waktu itu menggebu-gebu untuk membalaskan sakit hati...bibi memang tidak tau apa yang telah terjadi di hari itu, tapi yang nyata membuat ibu terguncang batin dan mentalnya. Jika tidak, tak mungkinlah ibu sampai pergi dari rumah bahkan tak membawa barang apapun.
"Ibu Sania...Dina..Juned...Syifa...kalian sekarang tinggal di mana? Bibi juga sangat mengkhawatirkan keadaan kalian berempat."
***Bersambung...
Itulah sifat manusia jika berpikir hanya mengandalkan emosi sesaat. Pada akhirnya emosi itu yang akan menghancurkan dirimu sendiri.
Happy reading...happy weekend***
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya readers..like, komen, vote dan favoritnya. Terima kasih...