
Aku tersentak dari tidurku mendengar Juned berteriak tepat di samping telinga kiriku.
"Mak...bangun...Syifa nyebul kepalet..."
"Haduh...kenapa Juned membawa adik Syifa main sampai keparit nak?"
Aku bergegas keluar dan melihat Syifa sudah penuh kena beceknya air comberan.
"Makanya apa kata mamak itu dituruti, kalau nakal begini jadinya kan?"
"Lagian kalian berdua mau pergi main kemana siang bolong begini? Kan sudah mamak suruh tidur siang."
Aku memandikan Syifa dan Juned bersamaan. Lalu menyuruh mereka untuk tidur siang.
"Habis ini langsung tidur ya, jangan mainan lagi tunggu kak Dina pulang sekolah."
"Mamak mau menyetak bata lagi ya...mumpung hari masih siang."
Setelah mereka pulas tertidur, perlahan kutinggalkan mereka. Aku menuju ketempat pencetakan yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakanku.
Awal aku melakukan pekerjaan ini seluruh tanganku lebam semua, karena terkadang tergencet cetakan bata merah yang lumayan berat. Tapi Alhamdulillah setelah beberapa hari aku bisa melakukannya.
Memang tak mudah untuk mendapatkan 1000 biji batu bata. Karena perhitungan uangnya adalah 1000 biji baru dapat 100 ribu rupiah.
Dulu butuh waktu 5 hari baru bisa kudapatkan 1000 biji, tapi Alhamdulillah sekarang 2 hari pun dapat. Semakin cepat pekerjaanku selesai, maka semakin cepat aku mendapatkan uang untuk keperluan hidup kami sehari-hari.
Sudah 2 bulan sejak mas Sofwan dibawa pergi oleh kakak-kakaknya untuk dirawat di rumah sakit jiwa, dan sampai sekarang aku sama sekali tak bisa menghubungi suamiku sendiri.
Bahkan hanya untuk sekedar bertanya kabarnya pun tak lagi diijinkan oleh mereka.
Dan selama itu pula aku harus berjuang mati-matian bekerja apapun yang penting halal untuk menghidupi anak-anakku.
Awalnya semua terasa berat kurasakan mencari nafkah seorang diri, tapi kekuatanku tumbuh melihat anak-anakku dan harapanku untuk melihat suamiku sembuh kembali dan bisa berkumpul dengan kami lagi.
Bahkan caci maki itu masih jelas terngiang di telingaku.
"Dasar istri bodoh tak berguna...mengurus suami saja tidak becus...apa saja yang kamu lakukan sehingga adik kami bisa jadi seperti ini?"
Waktu pak rt menyaranku untuk memberitahukan keadaan mas Sofwan pada keluarganya membuahkan hasil yang sangat luar biasa untukku.
Hinaan, cacian dan makian dan bahkan hampir tamparan mendarat di wajahku. Untung warga dengan sigap menahan dan melindungiku.
Tapi ancaman dari kak Nuri dan kak Anya benar-benar terbukti.
"Jangan lagi berusaha menghubunginya, bahkan hanya untuk sekedar bertanya kabarnya, kamu mengerti?"
"Kami tambah membencimu, apalagi melihat penderitaan adik kami seperti ini."
__ADS_1
Hatiku sakit...perasaanku hancur...tahu apa mereka tentang hidup kami karena selama ini hanya mertuakulah yang peduli pada hidup kami.
Dan setelah mertuaku meninggal, hubungan keluargapun seolah terputus. Mas Sofwanpun seperti sengaja memutuskan hubungan dengan kakak-kakaknya karena dia tidak mau melihatku selalu disindir bahkan tak jarang dimaki-maki.
Sampai detik ini aku tak tahu, apakah mas Sofwan sudah sembuh atau masih sakit.
Aku paham dan mengerti kehidupan ekonomi kami semakin sulit apalagi semenjak mas Sofwan di pecat dari pekerjaan pertamanya dulu.
Sewaktu dia dirawat di rumah sakit, karena terlalu sering sakit-sakitan perusahaan memecatnya.
Itu sewaktu Dina masih berumur 6 bulan. Pada akhirnya suamiku kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan kami. Sampai motorpun terjual ditambah lagi anakku Dina, fisiknya tidak sekuat adik-adiknya.
Walaupun pada akhirnya dia mendapatkan pekerjaan sebagai cleaning service di sebuah rumah sakit swasta.
Gajinya memang tidak sebesar di tempat pekerjaan dulu, tapi mas Sofwan selalu mengajarkanku untuk bersyukur.
"Seberapapun rejeki yang kita dapatkan, kita itu mesti bersyukur kepada yang Maha memberi."
Itulah nasehat suamiku yang selalu kuingat hingga detik ini.
Tak seindah di awal pernikahan kami dulu, setelah 9 tahun membina rumah tangga, ternyata cobaan datang melanda.
Tak kusangka juga suamiku yang nampak tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Sehingga penyakit kejiwaan itu datang padanya.
"Kamu tahu? adik kami sejak kecil tak pernah merasa kekurangan apapun."
"Dia berani menentang kami para kakaknya, itu karena siapa? itu semua karena kamu..."
Telunjuk kak Anya tepat menunjuk di depan hidungku. Aku berusaha menahan linangan air mata agar tidak jatuh karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun.
Dulu dia selalu membelaku dan selalu melindungiku, tapi sekarang? Dia tertawa-tawa gembira dengan tatapan mata yang kosong.
"Kami berusaha untuk mengobati adik kami, jika Sofwan tidak bisa lagi disembuhkan dari penyakit gangguan jiwanya, maka orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini adalah kamu...!"
"Ayo kita pergi Nya...tak ada gunanya terlalu banyak bicara dengan wanita bodoh ini, tak akan pernah bisa dicerna semua perkataan kita olehnya.
Kak Juwita tidak mengatakan sepatah katapun padaku, lalu diapun melangkah mengikuti kak Nuri dan kak Anya masuk kedalam mobil.
Itulah hari terakhir aku melihatnya, hingga kini aku tak tahu lagi tentang keadaan dan keberadaannya.
"Mak..."Dina mengejutkanku yang sibuk bekerja sambil melamun.
"Dina sudah pulang?"
"Langsung kerumah saja Dina, ganti bajunya langsung digantung ya biar tidak bau."
"Juned dan Syifa mana mak?"
__ADS_1
"Adik-adikmu sedang tidur di rumah, kamu pulang dan makan sana ya!"
"Iya mak, Dina duluan pulang ke rumah ya..."
Kupandang Dina yang berjalan melewatiku bekerja. Gadis cilik umur 8 tahun itu, mirip sekali dengan bapaknya.
Wajahnya, kulit kuning langsatnya, senyumnya dan juga sifat pelindung dan kelembutannya.
Aku menghela napas berat. Anak yang tak pernah mau kuberi uang jajan jika kesekolah. Hanya berbekal minum di botol dan nasi goreng ditempat bekalnya.
Melangkah agak tertatih melawan panasnya terik matahari yang sudah menjelang sore. Mungkin dia lapar dan haus juga lelah dan mengantuk.
"Pak...putri kesayangan dan kebanggaanmu sudah besar."
"Cepat sembuh ya...biar bapak bisa melihat anak-anak kembali."
Sekuat dan setangguh apapun, aku hanya seorang wanita. Aku berusaha tangguh di depan ketiga buah hatiku, tapi di kala sedang sendiri begini, berkutat dengan beratnya pekerjaanku, terkadang akupun lemah.
Pukul 16.30 aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku memang tidak mau sampai kelewat sore. Karena aku harus mandi, sholat ashar dan mengurus rumah.
Biasanya aku pulang bekerja, Dina sudah selesai menyelang air dan memandikan kedua adiknya. Tinggal aku yang mencuci pakaian dan memanaskan makanan. Karena cucian piring kotor sudah dicuci Dina.
"Alhamdulillah..." Dalam waktu 4 hari aku bisa punya uang 200.000 rupiah hasilku mencetak bata.
Bisa kugunakan untuk belanja kebutuhan dapur dan sebagian kusisihkan untuk bayar uang kontrakan rumah.
Di rumah anak-anakku sedang menonton televisi.
"Mamak pulang bawa jajan buat kita kah?" Juned sudah berdiri menyambutku.
Kubagi cemilan yang kubeli dari warung tadi untuk mereka bertiga. Badanku yang lelah dan bercelemong lumpur jadi tak terasa, melihat kebahagiaan mereka.
Selesai mandi dan sholat lalu aku berkumpul dengan ketiga anak-anakku.
"Mak...bapak kapan pulang? sudah lama bapak tidak bersama kita."
Aku menghela napas mendengar pertanyaan Dina. Tidak mungkin aku menceritakan kepada mereka bahwa bapaknya dirawat di rumah sakit jiwa. Dan mungkin kami tidak akan di perbolehkan bertemu lagi.
"Teman-teman Dina di sekolah tahu kalau bapak lagi sakit, mereka turut mendoakan agar bapak cepat sembuh, mak."
"Iya nak...kita banyak berdoa meminta pada Allah, semoga bapak cepat sembuh dan cepat pulang ya..." kubelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Semoga bapak cepat sembuh ya...agar kita bisa berkumpul lagi, bisik hatiku."
***Bersambung...
jangan lupa like dan komennya dan jika berkenan untuk memberikan votenya...terimakasih🙏🙏***
__ADS_1