
Kali ini aku benar-benar tak lagi bisa menahan air mataku. Jika dulu setelah berpisah dengan mas Sofwan, aku tak lagi bisa menangis, sekarang entah kenapa sumur air mata dihatiku terisi kembali.
Melihatku menangis, Miko meraih tubuhku dan memelukku erat.
"Jangan menangis beb...aku tak sanggup melihatmu sedih dan terluka seperti ini... diciuminya kepalaku dan keningku berulang-ulang."
"Aku mencintaimu kak...sangat...rasa itu tak akan pernah berubah dari dulu bahkan sampai kapan pun."
"Tapi aku juga harus sadar...cinta tak harus memiliki kan? Walaupun sakit..."
Miko menangis dalam hati..."19 tahun aku berusaha untuk menemukanmu kak...Tapi setelah bertemu, mengapa semua harus jadi seperti ini, ya Allah..."
"Wanita yang kucintai sudah tidak lagi sendiri dan mungkin juga sudah tidak mencintaiku lagi."
Aku merasakan badan Miko bergetar hebat...dia berusaha mengendalikan gejolak perasaannya. Setegar-tegarnya dia, tapi dia juga manusia biasa.
Tangan-tangannya yang memeluk dan membelaiku terasa bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Miko sayangku....aku menengadahkan kepalaku memandangnya."
Dia sudah tak mampu menjawab, dia hanya mampu memejamkan mata dengan derasnya air mata yang keluar dari dua kelopak matanya yang terpejam.
Miko berusaha untuk menguasai hati dan perasaannya. Diapun sangat terluka...dan aku sangat tau itu.
Aku sudah hapal bagaimana jika Miko tenggelam dalam emosi jiwanya, dia akan terisak dalam diam dan berusaha teriak walau hanya dalam hati.
"Miko...aku mengguncang lengannya perlahan, untuk mengembalikan kesadarannya."
"Jangan menangis begitu, Ko....melihatmu terpukul begini malah membuatku juga terluka."
Aku mencium pipinya dan mengecup bibirnya. Miko membuka kedua matanya yang basah dengan air mata.
"Aku memang cengeng kak, dan kamu tau itu sejak dulu...itu karena aku sangat mencintaimu..."
Dia balas menciumku dan balas mengecup bibirku.
Kami hanya bisa terdiam, hanya bibir kami yang bicara mengungkapkan semua gejolak perasaan kami.
"Inginnya aku memilikimu seutuhnya malam ini kak...agar kamu tak bisa lagi pergi dariku...agar aku bisa memilikimu selamanya...tapi jika aku melakukan itu...aku namanya manusia yang egois, yang hanya memikirkan diriku dan nafsu semata."
"Ko...jangan pergi lagi..."
__ADS_1
Miko tersentak mendengar ucapanku barusan. Dia sontak menghentikan kecupannya.
"Kak Nia ngomong apa barusan? Miko tidak jelas mendengarnya...bisakah diulangi sekali lagi?"
"Jangan pergi, Ko...kak Nia tak akan sanggup jika harus kehilangan Miko lagi."
Dia memegang kedua pipiku dengan telapak tangannya...menatapku dalam-dalam seolah mencari kebenaran semua kata-kataku tadi.
"Kamu tidak asal bicarakan beb? Bukan karena hanya ingin menyenangkan hatiku saja kan?"
Aku menggeleng. " Mungkin jodohku dan mas Sofwan sudah habis sampai di sini saja...bagaimanapun aku berusaha berontak untuk memungkiri kenyataan yang ada, tapi semua memang sudah terjadi."
"Dia kini menjadi bagian dari masa laluku dan kamu adalah masa depanku."
"Dulu aku berpikir bahwa kamulah bagian dari masa laluku dan dia lah masa depanku, ternyata Allah hanya menghadirkan dia dalam hidupku hanya sesaat kemudian membawanya pergi lagi."
"Kita tak tahu apa sebenarnya rencana Allah untuk kita berdua kak...aku juga sebenarnya sudah putus harapan untuk bisa bertemu dan bersamamu lagi."
"Dalam setiap doaku, aku hanya meminta...jika Allah masih berkenan memberiku jodoh, aku hanya ingin kamulah yang menjadi jodoh pendamping hidupku."
"Lupakan dia kak, melupakannya bukan berarti juga mengajarkan kebencian pada anak-anak tentang ayahnya...mereka tetap berhak tau tentang ayahnya, suatu hari kelak mereka akan mengerti mengapa kedua orang tuanya harus berpisah."
"Terima kasih ya, Ko...aku bersyukur...di saat aku terpuruk...kamu kembali datang dalam hidupku."
"Ya sudah...kamu istirahatlah...aku akan menjagamu di sini..."
"Tapi kamu ngga akan macem-macemkan, Ko...nanti pas aku pules tidur, kamu buka-buka lagi..."
"Yaela...suudzon amat beb...aku mencintaimu dari hati bukan hanya berdasarkan hawa nafsu belaka...aku akan menjaga kehormatanmu hingga kita menikah kelak..."
"Sudah tidur sana ngga usah berpikir yang aneh...aneh...kulihat wajahmu masih pucat...Istirahatlah semoga besok segar kembali...mumpung besok masih libur."
"Terus kamu sendiri tidak tidur, Ko...aku tau kamu seharian ini juga lelah..."
"Iya nanti kalau sudah ngantuk pasti aku akan tidur di sebelahmu, sekarang aku mau mengecek laporan dulu."
Aku tertidur di sebelah Miko yang asyik mengutak-atik laptopnya.
Miko menyelimuti anak-anak lalu menyelimuti ku...perlahan aku mulai tertidur antara kelelahan dan menanggung kesedihan.
"Kasihan kamu kak...fulu wajah ini begitu polos, cantik dan lugu...aku juga tak tau, padahal usiaku waktu itu baru genap 15 tahun, aku begitu terpesona saat kamu memperkenalkan dirimu sebagai anggota osis."
__ADS_1
"Aku tak pernah absen memandangmu yang wira-wiri ikut memberi pengarahan pada kami para calon siswa baru."
"Dan pipi itu merona merah tersipu malu saat bertemu pandang denganku."
Aku ingat waktu aku dengan berani membacakan puisi cintaku untuknya di depan semua calon murid baru, di depan anggota osis yang lain...tak peduli walau waktu itu aku masih pakai seragam putih biru.
Aku benar-benar menikmati wajah polos dan mata teduhnya yang tersipu malu dan memerah seperti udang rebus. Aku tak peduli berapa banyak sorakan dan teriakan mereka padaku.
Bagaimana aku mengancamnya untuk terus mengganggu dan menjahilinya, jika dia tidak mau menerimaku jadi pacarnya.
Tapi sekarang wajah ini begitu lelah karena menanggung banyak beban hidup dan penderitaan. Walaupun tak mengurangi sedikitpun kelembutan dan perhatiannya.
"Aku tak rela bidadariku kamu buat menderita seperti ini, Sofwan....sedari dulu aku berjuang untuk mendapatkan cinta dan perhatiannya, saat kamu mendapatkan semua darinya, kamu dan keluargamu mencampakkannya."
"Aku tidak rela melihat wanita yang kusayangi tercampakan dan sakit seperti ini..."
"Aku yakin jika suatu hari nanti kamu bisa sembuh dari amnesiamu, kamu pasti akan menyesal."
"Tapi aku berharap, tak usahlah kamu sembuh untuk seterusnya."
Berulang kali dikecupnya pipi itu dan berulang kali pula dikecupnya bibir indah itu dengan penuh kasih sayang.
"Dia sekarang milikku Sofwan...dan tak akan kulepaskan lagi walau apapun yang terjadi...ingat itu..."
"Akhirnya selesai juga laporan bulanan ini....aku menggeliat mengencangkan pinggang dan punggungku."
Setelah mengecek anak-anak, akupun membaringkan badanku di samping Nia. Menghirup aroma wangi rambutnya dan tubuhnya.
Kupandangi wajah ayu itu yang semakin membuatku jatuh cinta.
Tiba-tiba dia berbalik dan memelukku seperti memeluk guling..."Aduh...gawat kalau begini...salah-salah aku tidak bisa mengendalikan diri."
Sebelum semua otot-otot di seluruh tubuhku mengejang, pelan-pelan kulepaskan diri dari rangkulannya...Kuambil satu bantal dan berbaring agak menjauh darinya.
"Haduh...hampir saja dedek kecilku menusuk anaknya orang...aku menarik napas lega.
Kucoba juga memejamkan mata untuk tidur menenangkan semua pikiranku.
***Bersambung...
Happy reading guys...Jangan lupa like, komen, vote dan favoritenya ya....🙏🙏🙏***
__ADS_1