Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 82 Dilema


__ADS_3

Aku, Alena dan paman Leon duduk bersama di ruang tamu. Kata paman, ada yang ingin beliau sampaikan padaku dan Alena.


"Alena...Miko..." Paman mulai membuka percakapan.


"Miko, i'm sorry...there is something uncle wants to tell you."


"Apa itu, paman?" Kataku.


"Miko, paman Leonmu ini sudah tua nak...dan Alena itu sendirian, paman takut suatu hari paman meninggal, Alena tak ada lagi yang menjaga.


"Uncle has one request for you...marry Alena!!"


Bagai mendengar suara petir di depan hidungku, aku terkejut bukan main.


"Tapi Miko sudah menikah, paman!!! Paman Leon dan Alenapun tau itu."


"Paman tau Miko, sangat tau...tapi paman tidak punya pilihan lain selain menikahkan Alena denganmu."


"Paman akan pergi dengan tenang jika melihat Alena ada yang menjaganya."


"Tapi paman, bagaimana aku bisa menikahi Alena? Aku hanya menganggapnya adik saja, lagi pula Miko sangat mencintai Sania istri Miko."


"Paman hanya percaya padamu, Miko...kabulkanlah permintaan pamanmu ini, please...!!!"


Lemas rasanya seluruh tubuhku mendengar permintaan pamanku ini. Aku juga tak mungkin menolaknya, aku banyak berhutang budi padanya, dan tak mungkin juga aku membiarkan Alena seorang diri jika paman benar-benar tak ada.


"Paman sebenarnya sakit apa? Aku masih berusaha untuk mengelak.


"Ayah mengidap kanker stadium akhir, bang! kali ini Alena yang menjawab dengan sedih.


"Ditambah lagi ayah jatuh terbanting di kamar mandi."


Aku seperti makan buah simalakama, sama sekali tak ada pilihan untukku.


Apa yang harus kukatakan pada istriku di Indonesia? Kalau pada akhirnya kepergianku kemari hanya untuk menikah lagi?


"Please think about Miko, uncle really looking forward to your answer."


Aku benar-benar dilema...kepalaku mendadak terasa sakit memikirkan semua ini.


"Bunda...apa yang harus ayah katakan? Ayah sangat mencintai bunda dan anak-anak, tapi ayah juga tak bisa menolak permintaan orang yang sudah banyak berjasa dalam kehidupanku?"


Aku berdiri di balkon lantai dua rumahku, pikiranku melayang kemana-mana. Tiba-tiba satu tangan menepuk lembut pundakku.


"Bang...Alena tau abang keberatan dengan permintaan ayah, jika abang tidak bisa menganggap Alena lebih, menikahlah dengan Alena karena ayah."

__ADS_1


Aku berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri di sampingku. Gadis yang dulu masih kugendong-gendong...kini telah berubah menjadi wanita 23 tahun yang sangat cantik.


Memang beralasan sih kekhawatiran paman Leon, karena mereka berdua juga tidak mempunyai keluarga lagi selain aku.


"Tapi bagaimana caranya abang menjelaskan semua kepada istri abang di Indonesia, Alena?"


"Abang sangat mencintainya, dia sudah terlalu banyak menderita, apakah harus merasakan penderitaan lagi?"


"Jelaskan pelan-pelan padanya tentang keadaan kita, bang...Alena tau kak Sania seorang wanita yang sangat baik, semoga dia bisa memahaminya."


"Bicara sih gampang, tapi prakteknya yang susah...secara tak ada wanita yang rela melihat suaminya menikah lagi."


"Yang rela hidup di poligami hanya karena sebuah keadaan?"


Inilah aku sekarang, di makan bapak yang mati tapi ngga di makan ibu yang mati."Tuhan? apa yang kini harus aku lakukan?" Antara cinta dan balas jasa sungguh membuatku dilema.


Drrttt...ddrrttt....


"Assalamualaikum, ayah..."


Terdengar suara merdu istriku tercinta yang ada jauh di sana.


"Ayah sudah sampaikah? Bagaimana keadaan di sana? Apakah baik-baik saja?"


"Haruskah aku menyakiti hati bidadariku dengan mengatakan aku di paksa untuk menikah lagi?"


"Kok ayah diam? Ayah sakit?"


Mataku mengembun, aku tidak bisa membayangkan akan kehilangan kelembutan dan kasih sayangnya untuk selamanya.


"Ayah baik-baik aja, bun...ngga usah khawatir!"


"Suara ayah agak serak, ayah flukah? Jangan terlalu lama di luar rumah, yah...nanti ayah masuk angin lagi."


Butiran bening meluncur begitu saja dari kedua kelopak mataku. Laki-laki cengeng? Aku memang cengeng karena aku takut kehilangan seseorang yang sudah belasan tahun aku perjuangkan.


"Ya sudah, kalau ayah masih capek...teleponnya bunda tutup dulu, ya? Selamat tidur ayah...mimpiin bunda ya...muuaahhh!!"


"Selamat tidur juga sayang, semoga kita masih diberikan jodoh yang panjang yang tak terpisahkan oleh rintangan apapun."


Karena jujur aku tak sanggup jika harus kehilangan dia kembali.


"Itu suara kak Saniakah, bang?" Alena berdiri di sampingku.


"Apa abang sudah bilang akan menikahiku?"

__ADS_1


Aku melotot padanya. "Are you crazy? jangankan bicara lewat telepon, bicara secara langsung aja abang tak sanggup!!"


"Abang sangat mencintainya?" Dia bicara pelan.


"Sangat...abang tak pernah berpikir sedikitpun untuk menggantikan posisinya dengan wanita manapun di sisi abang."


Alena menghela napas berat. "Sebenarnya aku juga tak mau berada di posisi seperti sekarang ini, bang."


"Tapi keadaan yang memaksa demikian, dan aku juga tidak bisa menolak permintaan ayah, mengingat kami tak memiliki siapapun lagi selain bang Miko."


"Sudahlah Alena, go to sleep...masih ada besok untuk kita bicara!" Aku membelai rambutnya.


"I will also go to sleep...good night Alena..."


"Good night too, bang...have a nice dream..."Lalu dia berbalik pergi.


"Bagaimana aku bisa mimpi indah? Mungkin sebentar lagi semua mimpi yang telah kami bangun bersama akan hancur berkeping-keping."


Aku turun kelantai satu untuk mengecek keadaan paman Leon di kamarnya.


Kupandangi wajah tua yang sangat kucintai setelah mami dan papi. Orang yang selalu menyayangiku dan memanjakan aku setelah kedua orang tua, kakak dan kakekku tiada.


Tegakah aku menolak permintaannya untuk menikahi putri semata wayangnya? Kapan lagi aku bisa membalas budi baiknya jika tidak sekarang?


Tapi haruskah aku juga mengorbankan perasaanku dan istriku sendiri?


"Mengapa harus rumah tangga kami yang baru seumur jagung ini yang harus diterpa badai, ya Allah? Cobaan apalagi ini?"


Aku tau istriku sudah sangat menderita hidupnya, baru saja kami hidup bahagia kini datang lagi cobaan melanda.


Aku menutup pintu kamar perlahan agar tidak membangunkan paman Leon. Aku beranjak ke kamarku sendiri.


Kurebahkan kepalaku. Rasanya otakku ini seperti tidak bisa berpikir lagi, semua jalan buntu untukku.


Kubuka galeri ponsel. Kupandangi foto-foto pernikahan aku dan Sania lima bulan yang lalu. Betapa cantik dan anggunnya istriku dalam balutan kebaya brokat putihnya.


Terbayang aku yang gugup saat mengucapkan ijab kabul di depan penghulu...aku kembali tersenyum mengingat masa-masa itu.


Rasanya baru kemarin kami berdua menikah, kini bahtera rumah tangga kami tengah terancam badai.


Jujur saat ini aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, banyak pepatah yang menggambarkan keadaanku saat ini. Maju ke depan masuk kandang singa, mundur ke belakang masuk kandang buaya.


***Bersambung...


Happy reading💙💙 tetap minta dukungannya ya...like, komen, vote dan favoritnya. Semoga selalu terhibur membaca novelku***...

__ADS_1


__ADS_2