
Aku memandang sekelilingnya. Rumah kontrakan kami yang baru, dekat dengan pembuatan bata merah.
"Mas...ngga adakah selain tempat ini?"
"Waktu kita ngga banyak dek...hanya tiga hari, biar sementara kita tinggal dulu di sini ya...karena yang murah hanya di sini."
Rumah yang hanya punya 1 ruang tamu, 1 kamar, lalu dapur dan kamar mandi.
Jauh beda dengan rumahku dulu, tapi apa boleh buat semua terpaksa harus dijalani. Dan mulai sekarang pengeluaran bertambah lagi untuk membayar kontrakan rumah.
Kulihat atap dikamar mandi bocor dan di ruang tamu juga agak bocor.
"Nanti yang bocor mas baikin pelan-pelan dek." Seolah mas Sofwan tau keluh di hatiku.
"Kemarin sudah mas bersihkan jadi tinggal menata barang-barang kita aja."
Aku diam saja, rasanya masih bagai mimpi harus pergi meninggalkan rumah yang sudah puluhan tahun ditempati, tiba-tiba harus pindah ketempat asing yang jauh berbeda keadaannya dengan rumah yang dulu.
Kubaringkan Dina di atas lantai yang sudah kualas tikar. Kupasang kipas angin agar Dina bisa nyenyak tidurnya.
Pertumbuhan Dina memang agak lambat, di usianya yang sudah 15 bulan dia belum bisa berjalan.
Sementara Dina tidur, aku membantu mas Sofwan menata barang-barang agar cepat selesai.
Lumayan lama kami berdua menata rumah, pukul 16.00 sore akhirnya pekerjaan kelar juga.
"Kita sholat ashar dulu yuk...nanti malam mas mau laporan kerumah pak rt."
Aku hanya mengangguk tak menjawab. Lalu aku melangkah lebih dahulu ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengambil air wudhu.
Tak lama mas Sofwan menyusul dan membersihkan diri lalu berwudhu. Kami sholat ashar berjamaah seperti biasanya di rumah lama dulu.
*
*
Aku membereskan sisa-sisa makan malam kami, jika dulu dirumah lama kami makan di meja makan, sekarang aku harus membawa makanan keruang tamu dan duduk beralaskan tikar.
"Dek...mas mau pergi kerumah pak rt dulu ya...mau melapor kepindahan kita kemari." Aku hanya mengangguk saja.
Drrtt...Drrttt...ada pesan whatsapp masuk di handphone mas Sofwan. Awalnya aku mau mengambil handphone ini dan membawa keluar untuk memberikan padanya. Tapi deru motor mas Sofwan sudah menjauh.
"Kebiasaannya orang ini...handphonenya pasti selalu tertinggal."
Awalnya aku tak tertarik untuk mengecek pesan itu, tapi setelah kulihat siapa pengirimnya, aku jadi penasaran.
"Vivi Lukitasari..." Aku semakin penasaran untuk membukanya walaupun aku tau sikapku ini lancang sekali.
"Sofwan...Katanya janji mau main kerumah...mama sama papa selalu menanyakanmu tuh..."
__ADS_1
"Papa kangen pengen main catur lagi bareng kamu...dan aku juga kangen sih pengen ngobrol lagi seperti kita masih bersama dulu."
"Deg...sedekat apa hubungan suamiku dengan wanita yang bernama Vivi ini? Seberapa banyak rahasia yang belum kuungkap tentang wanita-wanita yang pernah menjadi mantannya selain Vivi dan Dinara?"
Waktu itu pesan dari mbak Feby, supervisor suamiku...sekarang dari wanita yang lain lagi.
"Wan...jawab dong...kok hanya dibaca doang sih?"
"Maaf mbak...Sofwan nya lagi ngga ada di rumah...tadi pergi keluar dan handphonenya tertinggal..." jawabku.
"Oh gitu...ini dengan siapa ya...?"
"Ini dengan istrinya mbak!"
"Oh maaf kalau begitu, tapi nanti tolong disampaikan ke Sofwan ya kalau dia pulang nanti."
Panaass...banget rasa hatiku...dengan tanpa dosa dia berkata begitu, seolah dianggapnya aku tak ada.
Aku berusaha mengatur napasku yang memburu dan berusaha menenangkan dadaku yang bergemuruh.
Masalah penyitaan rumah aja belum lepas dari pikiranku, sekarang ada muncul masalah baru lagi.
Tapi aku berusaha berpikir positif, karena selama ini tak ada gelagat yang jelek dari mas Sofwan.
"Assalamualaikum..."
"Cuma laporan aja ngapain lama-lama dek?"
"Mas tadi handphonemu tertinggal..." Aku ragu untuk menyampaikan pesan wanita tadi.
"Sengaja mas tinggal dek...orang cuma tempat pak rt aja bawa handphone segala."
"Tadi ada pesan masuk dari seorang wanita mas, dan sipemberi pesan ingin aku menyampaikannya ke mas Sofwan."
Kucoba mencari keterkejutan diwajahnya, mendengar apa yang aku sampaikan.
"Oh dari siapa? Lalu dia mengambil handphone yang kusodorkan dan membuka pesannya."
"Oh dari Vivi...datar saja perkataannya...tak ada raut terkejut atau rasa yang berbeda dari perkataannya."
"Apa pesannya sama kamu dek?"
"Dia bilang, aku disuruh menyampaikan ke mas Sofwan kalau tadi dia w.a."
"Dan kamu tidak mau bertanya dia siapa dek?"
"Jika mas Sofwan tidak mau bercerita, untuk apa aku memaksa? Bukankah kita dulu berjanji untuk saling mempercayai satu dengan yang lain?"
Dia meraih tubuhku dan memelukku. Dikecupnya berkali-kali pucuk kepalaku.
__ADS_1
"Jangankan di dalam kenyataan...di dalam mimpi pun mas tak akan pernah berpikir untuk menduakanmu dek..."
"Dia memang mantan mas dulu waktu di kampus...kami sempat sangat dekat, bahkan mas sangat mengenal baik kedua orang tuanya...tapi namanya tak jodoh pasti ada saja halangannya untuk berpisah."
Aku diam mendengar penjelasan suamiku...kutatap matanya mencari kejujuran di sana. Setahuku jika seseorang itu sedang bicara dusta, dia selalu memandang kearah lain tak mau menatap mata kita saat bicara.
Tapi mas Sofwan bicara sambil menatap dalam-dalam kedua mataku.
Entahlah benar ataupun tidak teoriku, yang jelas hanya dia dan Allahlah yang tau apa dia berkata jujur atau tidak.
"Nia...mas tidak pernah sedikitpun mendengar nada curiga atau cemburu darimu dari kita belum menikah sampai setelah kita menikah sekarang."
"Semua permasalahan selalu kamu bicarakan dengan ketenangan dan kepala dingin, kamu tidak meledak-ledak seperti mantan-mantan mas dulu."
"Itulah yang membuat mas mencintaimu, karena mas tipe orang yang sangat tidak nyaman jika selalu dicurigai."
"Sekali mas bilang hanya cinta dan sayang pada satu wanita, maka janji itulah yang akan mas pegang sampai kapanpun."
"Untuk apa bersama jika di antara kita tidak ada rasa saling percaya dan hanya rasa curiga? Itu membuat tak nyaman dalam menjalin suatu hubungan."
Aku mengangguk saja. Walaupun dalam hati aku berkata, "Aku juga manusia mas...hanya terdiri dari tulang, darah dan daging...tentu aku punya rasa curiga dan cemburu, tapi aku juga berpikir dengan logika bukan hanya dengan perasaan saja."
"Ya sudah...apa kamu mau mendengar pembicaraan mas dengannya? Ini mas mau telepon dia dulu."
Tanpa menunggu persetujuanku, dia menekan tombol handphonenya.
"Akhirnya kamu menelponku juga, Wan? Suara manja terdengar dari seberang sana, karena mas Sofwan menyalakan speaker handphonenya."
"Iya...tadi istriku yang meminta untuk menelponmu...ada perlu apa Vi? Apa ada yang bisa kubantu?"
"Ih...kok gitu sih ngomongnya...aku kan kangen sama kamu Wan!"
"Tapi aku sekarang sudah beristri dan punya anak, Vi...tak pantas kamu bilang begitu padaku."
"Habisnya...kalau ngga di telepon, kamu ngga mau telepon aku...sombong banget sekarang setelah menikah...memang kamu dilarang istrimu kah?"
"Bukan Sombong Vi...aku juga sibuk mengurus keluarga dan sibuk bekerja untuk menafkahi keluargaku."
"Istriku tak pernah melarangku berteman dengan siapapun, hanya sekarang akulah yang membatasi diri...aku menghormatinya dan aku tidak mau menyakiti perasaannya."
"Ih....sudah ah...pokoknya Vivi ngga mau tau...kapan kamu mau ke rumah?"
Aku menghela napas panjang mendengar perkataan Vivi. Dia memang wanita yang manja dan keras kepala. Kulihat ekspresi wajah istriku datar-datar saja, tak ada ekspresi apapun di sana...tapi siapa yang tau kedalaman hati manusia? Karena sejak dulu aku tau, bahwa Sania memang selalu pandai menyimpan perasaannya.
"Nantilah jika aku punya waktu Vi, ya sudah kututup dulu ya...Assalamualaikum..." Tak perlu menunggu lama segera kututup pembicaraanku dengannya.
...***Bersambung.......
Mohon dukungannya untuk selalu memberi like dan komennya ya teman-teman...Memberi votenya jika berkenan...Terima kasih...😀😀🙏🙏***
__ADS_1