Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 98 Baru Permulaan


__ADS_3

"Pah...apa yang terjadi dengan kaki mamah?" Anggita mengamuk histeris mengetahui kedua kakinya telah di amputasi.


"Tenang mah...tenang dulu..." Sofwan berusaha menenangkan amukan Anggita.


Karena amukannya tak kunjung reda akhirnya suster memberi suntikan penenang untuk Anggita.


"Kenapa harus jadi seperti ini pah? Apakah ini dosa-dosa yang harus mamah bayar karena telah memisahkan papah dengan Sania?" Anggita menangis terisak.


"Sebaiknya mamah tenang dan istirahatlah dulu."


Setelah Anggita tertidur, Sofwan keluar dari ruangan. "Gimana keadaan istrimu Sofwan?"


"Anggita sangat shock mengetahui kedua kakinya telah di amputasi yah..."


"Selalu dampingi dia, Sofwan...teruslah beri dia semangat dan dukungan agar dia tidak merasa sendiri.


"Tentu saja yah...Sofwan akan ada selalu buat Anggita."


Sofwan duduk termenung di sisi pembaringan istrinya. Aisyah mau ngga mau harus meminum susu formula. Karena ibunya selalu histeris, tak mungkin juga bisa memberi asi pada bayinya.


"Mungkin ini sudah jalan yang harus kulalui... Sania, anak- anak...bapak pergi entah dalam waktu yang tak bisa ditentukan...tapi kalian tak usah khawatir, sebisa mungkin bapak akan mengirimkan uang untuk biaya sekolah kalian."


"Mungkin benar apa yang dikatakan Anggita, ini adalah karma dari perbuatanku kepada anak dan istriku dulu."


"Dulu aku yang menyakiti perasaan Sania, sekarang Allah telah membalaskannya kepada keluargaku


"Aku harus memberi tahukan kakak-kakakku, bahwa aku kemungkinan akan menetap di Yogya."


Sofwan keluar ruangan pelan-pelan agar Anggita tak terganggu.


Dia duduk di bangku lobby rumah sakit. "Assalamualaikum....kak, ini Sofwan..."


"Waalaikum salam...iya ada apa dek?" Nuri menjawab dari sana.


Sofwan menceritakan semua masalah yang dialami Anggita tanpa terkecuali.


Ketiga kakak-kakaknya shock mendengar musibah yang telah menimpa keluarga adiknya.


"Inilah yang kutakutkan tempo hari, kak Nuri...Anya...ini juga teguran Allah untuk kita karena telah menyakiti perasaan Sania terus menerus sampai dia dan anak-anaknya berpisah dengan Sofwan."


"Aku takut, ini baru permulaan...dan akan masih ada kelanjutan dari semua ini."


Mereka terdiam mendengar penuturan Juwita, mungkin selama ini mereka memang sudah sangat keterlaluan memperlakukan Sania, tapi semua sudah terjadi dan secara perlahan mereka satu persatu juga akan menerima karma dari perbuatan mereka.

__ADS_1


Dan mereka bergidik ngeri jika itu semua memang terjadi, mampukah mereka setegar dan sekuat Sania?


"Dek...mungkin jika sekarang kamu mendengar musibah yang menimpa keluargaku, kamu akan bersorak kegirangan karena sakit hatimu selama ini telah terbalaskan."


"Dan aku memang pantas menerimanya karena telah menelantarkan anak dan istriku."


Dia duduk termenung di bangku lobby yang sudah sepi ini. Pikirannya benar-benar kalut. Memikirkan keluarganya di sini, juga anak-anaknya di sana.


Sementara itu di tempat kediaman Miko.


"Iya halo selamat malam...betul dengan saya sendiri Jatmiko Sarindra...Apa??? Mabuk lagi??? Oke saya akan segera menjemputnya."


Miko membanting berkas yang sedang dikerjakannya.


"Setiap hari, ada saja kelakuan Alena ini yang membuatku jengkel."


"Bukannya di rumah ngurus suami, ini malah membuat masalah di luar sana."


"Pantas aku pulang tadi sore ngga ada nampak batang hidungnya...ternyata pergi lagi untuk mabuk-mabukan dengan teman-teman sosialitanya."


"Sekarang aku lagi yang direpotkan untuk menjemputnya."


Secara tak sengaja Miko memandang ke dinding kamarnya. Di mana foto pernikahannya dengan Sania terpampang di sana. Senyum Sania seolah mengejek karena kebodohannya.


"Mungkin ini karma yang ayah terima, bun...sifat Alena berbanding terbalik dari semua sifatmu.


"Kelakuan Alena yang meraja lela...kalau ngga menghambur-hamburkan uang, ya mabuk-mabukan, kalau ngga, ya berurusan dengan satpol pp."


"Ayah kangen bunda...kangen suara tawa dan canda anak-anak...rumah ini sekarang kembali sunyi seperti sebelum kedatangan kalian di rumah ini."


Miko memeluk dua bingkai foto yang ada di meja kamar tidurnya.


Selama ditinggalkan Sania, Miko memang selalu mengunci pintu kamar itu. Dia tidak mau berjuta kenangan yang telah dilewatinya bersama Sania, akan diobrak-abrik oleh Alena.


Alena memang istrinya, tapi dia tak lagi menyentuhnya. Hanya pada saat malam jahanam itu di mana dia tak mampu lagi mengontrol emosi dan api cemburunya pada Sofwan dan Sania.


Alena dan dia tetap tidur terpisah di kamar masing-masing. Makanya dia sering tak tahu jika Alena tak ada di rumah.


Dengan geram diambilnya kunci mobil di meja setelah memakai hodienya dia keluar rumah mau menjemput Alena di bar. Mereka tadi menelpon mengatakan Alena mabuk berat dan membuat keributan di sana.


"Bikin kerjaan terus Alena ini...sudah aku banyak kerjaan yang harus selesai malam ini juga...sekarang aku malah kelayapan malam-malam begini nyariin dia."


Dengan kesal kutarik paksa Alena yang masih mengoceh tak karuan di mejanya.

__ADS_1


"Ohh suamiku tercinta akhirnya menjemput juga hikhikhiks...mau mabuk bareng?" Hihihi...


"Huek..huek..." Bau alkohol menyusup masuk kedalam hidungku.


"Sialan kau Alena...jangan sampai muntahmu mengenaiku dan mengotori mobilku."


Puas muntah akhirnya dia tertidur di mobil. Dengan kesal aku melajukan mobil pulang ke rumah.


"Untung bibi belum pulang...tolong uruskan non Alena bi, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


Dalam hati bibi menggerutu. "Coba tadi bibi langsung pulang aja, non Alena ini buat susah aja kerjanya."


"Jauh banget bedanya sama ibu, bapak selalu betah di rumah...bermanja-manja dengan ibu, tidak pernah uring-uringan terus seperti sekarang."


"Kalau bapak sudah mulai tak enak hati, ibu selalu bisa menenangkan dengan kelembutannya."


"Ibu sosok yang lembut dan penyayang...kenapa juga bapak bisa menikahi wanita kasar seperti non Alena ini...buntut-buntutnya bibi yang juga ketiban apesnya...hadeuh...."


Miko membaringkan diri di pembaringan. Tak terasa sudah jam 23.00. Pembaringan yang sering di lewatinya bersama istri tercinta, pembaringan yang juga menjadi saksi bisu atas apa yang telah dia lakukan pada Alena di depan mata Sania malam itu.


Sebenarnya sudah berkali-kali dia mencoba menelpon Sania tapi tak pernah aktif lagi. Bukan sekali dua kali dia mencoba mencari keberadaan istrinya itu tapi Sania dan anak-anak seolah lenyap di telan bumi.


Bahkan dia pernah mencoba datang ke sekolah Juned dan Dina, tapi pihak sekolah mengatakan mereka sudah dipindahkan ke sekolah lain.


"Sedang apa sekarang kamu bun? Bunda tau, sedang apa ayah sekarang? Ayah sedang memikirkan bunda!!! Miko senyum-senyum sendiri mengkhayalkan berbicara dengan istrinya.


"Online...bunda sedang online...kucoba saja menelponnya siapa tau diangkat..


"Assalamualaikum...iya ada apa Miko?"


"Ayah hanya kangen sama bunda, pulanglah bun...ayah membutuhkan bunda di samping ayah."


"Berapa kali pun kamu minta, aku tak akan menginjakan kakiku ke rumah itu lagi, paham?"


"Dan ayah akan terus mencoba untuk meluluhkan hati bunda."


"Terserah...kau saja...lakukan apapun yang kamu mau...aku sudah tidak peduli."


Tut..tut..tut..


"Bun...bun...kok diputus bun....ayah masih kangen....walaupun bunda menanggapinya dengan dingin, ayah tidak peduli."


Air mata meleleh dari kelopak matanya, ada kesedihan yang tak bisa lagi dia lukiskan. Suara yang dulu selalu terdengar lemah lembut, sekarang menjadi dingin sedingin es di kutub selatan. Maafkan segala kekhilafan ayah bun...maafkan segala kesalahan yang telah ayah perbuat...

__ADS_1


***Bersambung....


Jangan lupa selalu dukungannya ya...like, komen, vote dan favoritnya....🙏🙏🙏🙏


__ADS_2