
"Yaelah Ted...bahasamu...kalau kamu dipukuli orang satu kampung, yang ada kamu bakalan pulang ke Rahmatullah..." ujar Nathan.
Ckckck...
itu cuma istilah bro...gila aja kali aku dipukuli orang satu kampung...bisa wastet gue!!" kata Tedi sambil berlalu.
Sementara persiapan di sekolah SMA Nusa Bangsa pun tak kalah seriusnya. Leo sang ketua tim basket sibuk berlatih bersama timnya.
Vina dan Susi pun sibuk mencari perhatian anak-anak cowok tim basket yang rata-rata tinggi dan ganteng itu!!"
Saat mereka asyik berlatih, Andina lewat di samping lapangan habis pulang dari perpustakaan.
Bola basket yang dilempar oleh Leo kemudian melesat cepat tak bisa tertangkap oleh lawannya mengarah pada Andina yang tengah berjalan sambil menunduk.
Beberapa anak berteriak memperingatkan tetapi Andina tidak mendengar.
"Waduh...habis tuh kepala rival loe...benjol...benjol dah itu kepala...." kata Susi sementara Vina hanya menyeringai.
Sepersekian detik lagi itu bola basket yang meluncur cepat dan siap menghantam kepalanya.
Buggg...
Jika mereka yang melihat dari samping, seolah bola basket itu menghantam telak wajah imut Andina, tetapi jika diperhatikan lagi bola tadi tidak menghantam karena tangan mungil tetapi kuat dan kekar itu sedang mencengkeram bola tepat disamping pipinya itu.
Perlahan dia menurunkan tangannya dan ternyata bola itu ada dalam cengkeraman tangannya.
Dia melihat sekeliling memperhatikan darimana bola di tangannya ini berasal.
Lalu dia mendrible bola tiga kali dan wuuutttt...
Bola basket yang tergolong lebih berat dari bola voli itu melesat dan blugh....
Bola itu masuk kedalam keranjang di tiang basket.
Ramai riuh tepuk tangan mereka yang berkumpul di situ melihat aksi Dina.
Leo dan tim basket lainnya sampai melongo melihat aksi Dina, secara antara Dina dan tiang keranjang basket cukup jauh.
Leo sampai berdecak kagum pada gadis manis itu.
"Halah....kalau hanya begitu saja aku juga bisa..." kata Vina tidak mau kalah dan tidak mau pamornya sebagai gadis tercantik di sekolah tergeser oleh siswi pindahan seperti Dina.
Dina berhenti mendengar perkataan Vina...
"Oh ya???" kata Dina lalu tersenyum smirk.
"Kemarikan lagi bolanya guys...katanya Vina bisa melakukan seperti yang aku lakukan!!" kata Dina.
Leo melempar bola kearah Andina dan ditangkap oleh gadis manis itu. Sambil mendrible bola dia berkata pada Vina, "jika kamu mampu melempar bola sampai masuk ke ring maka aku akan membantu membuatkan pekerjaan rumahmu selama seminggu penuh tetapi...tetapi nih ya...jika kamu gagal melakukan seperti yang aku lakukan alias hanya besar mulutmu saja, seminggu penuh kamu harus mentraktir teman sekelas..."
__ADS_1
"Oke teman-teman??? deal??" kata Dina memandang kearah teman-teman yang lain sambil memutar bola basket di tangannya dengan satu jari!!"
"Deal...." teriak anak-anak kegirangan.
"Nih tangkap and do it..." kata Dina sambil melempar bola kearah Vina yang wajahnya sudah pucat pasi tak menyangka bicara omong kosongnya akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Bola sudah di tangannya, Susi temannya dan Leo pacarnya pun tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.
"Ayo..." kata Dina...
"Jangan-jangan hanya mulut besarmu saja, atau kamu mau membuat pengakuan diseluruh sekolah bahwa julukanmu adalah si mulut besar atau kamu mau mentraktir teman sekelas selama seminggu penuh??" kata Dina.
Karena tak bisa melakukan seperti yang dia ucapkan, akhirnya Vina mau mentraktir teman sekelas dari pada mendapat julukan si mulut besar dari satu sekolah??
Horeeeee....teman-teman berteriak senang karena tak usah mengeluarkan uang jajan selama seminggu😁😁.
Dina sendiri kembali berbalik pergi tanpa menoleh lagi seolah tidak terjadi apapun.
"Kamu sih!!!" kata Susi pada Vina.
"Aku sudah mencari tau tentang asal usul cewek itu dan bagaimana sepak terjangnya dulu di sekolah yang lama..." kata Susi.
"Oh ya??? apa ada kejelekan tentang gadis itu??" kata Vina kembali semangat.
"Ngga ada...dia memang sudah pendiam dari sekolah lama dulu, pindah sekolah tanpa cela apapun dan dia sering membawa nama sekolah saat pertandingan karate." Kata Susi...
Vina jadi terdiam mendengar penjelasan Susi antara ikhlas dan ngga ikhlas menerima kekalahan nya sebagai ratu tercantik di sekolah.
"Din...terima kasih ya!!" kata beberapa teman sekelasnya saat mereka berpapasan di koridor.
Dina berhenti lalu menatap datar pada mereka yang menyapanya.
"Terima kasih untuk apa??" tanyanya bingung.
"Telah memberi pelajaran pada vina dan susi supaya mereka tidak sering-sering berulah lagi." Kata salah satu dari mereka.
"Tidak juga kawan, aku hanya tidak suka jika seseorang apalagi masih seorang yang berstatus sebagai murid, masih menadah tangan minta uang jajan pada kedua orang tua belum bisa cari uang sendiri sudah berlagak bergaya menjual nama orang tua yang mempunyai kedudukan."
"Semestinya mereka malu dan sadar bahwa yang mempunyai kedudukan itu orang tua mereka, dan bukan mereka lalu apa nya yang membuat bangga?" kata Dina.
Dia seolah teringat semua perjuangan bundanya saat dia dan adik-adiknya masih kecil-kecil dulu, bundanya membanting tulang dengan mengambil pekerjaan sebagai buruh cetak bata merah, bapak mereka terkena gangguan jiwa dengan menelantarkan mereka berempat hidup di rumah sewaan yang atapnya bocor semua.
Lalu setelah waras, bapaknya yang tengah amnesia menikah lagi dengan wanita lain tanpa memberi nafkah pada mereka.
Hidup yang dilaluinya semasa kecil sangat berat. Tak pernah merasakan bagaimana mempunyai uang saku seperti teman-teman sekolahnya yang lain, hanya membawa bekal nasi goreng tanpa embel-embel apapun sebagai lauknya dan sebotol air putih.
Usia 7 tahun sudah pandai memasak, mencuci dan mengasuh adik-adiknya saat bundanya pergi untuk mencetak bata merah.
Keadaan itu pula yang membentuk kepribadiannya menjadi gadis yang keras dan kuat serta tangguh dalam menghadapi apapun termasuk melihat keadaan bundanya yang sekarang terkena kanker darah stadium 4.
__ADS_1
Bunda dan tantenya tak pernah bercerita tentang hal itu tetapi pernah dia melihat suatu malam bundanya menangis bersimpuh dalam doanya agar masih diberikan umur panjang demi melihat anak-anaknya bisa menjadi orang yang sukses.
Bundanya berdoa jangan sampai penyakitnya ini mematahkan semangat dan mentalnya demi mengurus dia dan adik-adiknya.
Dari situlah Dina mulai mencari tau tanpa bertanya, sebenarnya bundanya itu sakit apa dengan melihat ciri-ciri penyakit yang sering dialami bundanya itu.
Dia tau bundanya sakit justru dia bangga melihat bundanya yang sakit tapi tetap berusaha mengurus mereka semua dan mengabaikan penyakitnya sendiri.
Sekuat dan setangguh apapun Andina juga tetap seorang gadis.
Terkadang dia pun sering menangis tanpa diketahui oleh siapapun, menangisi nasib mereka jika suatu hari bundanya itu kelak akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Seperti sekarang, dia baru saja memberi pelajaran pada Vina dan Susi agar tidak semena-mena pada orang lain hanya karena orang tua mereka kaya dan mempunyai kedudukan.
"Din!!"
Panggilan teman sebangkunya sontak mengagetkannya.
"Ada apa Ratna?" tanya dia pada Ratna.
"Sekolah kita akan tanding basket dengan sekolah SMA 1 xxx, kita nonton dan memberi semangat yuk!!" kata Ratna.
Dina berpikir, sepulang sekolah dia harus membantu bundanya di toko fotocopy milik mereka sementara tantenya sedang bekerja di rumah makan sebelah dengan dibantu oleh dua orang karyawan lain, rumah makan yang di modali oleh papahnya Raftar.
Tapi dia juga pengen melihat kawan-kawan sekolahnya bertanding.
"Aku akan minta ijin dulu pada bundaku, ya!!" kata Dina.
Dia termenung. SMA 1 xxx itu sekolahnya dulu sebelum dia pindah kemari, pasti dia akan bertemu lagi dengan Nathan dan Juma yang dia tau juga menjadi tim basket di sekolahnya dulu.
Terkadang dia merasa kangen sama celotehan Juma yang selalu perhatian padanya walaupun Dina sering ketus pada Juma tetapi pemuda itu selalu sabar menghadapinya.
Dan dia juga kangen sama Nathan yang pelan-pelan dia sadari bahwa Nathan itu adalah teman kecilnya semasa sekolah dasar sebelum dia pindah ke kota.
Nathan yang selalu baik walaupun mereka berdua berbeda keyakinan selalu memberinya uang saku bagiannya pada Andina karena dia tau Andina tidak pernah punya uang saku, mengantar Andina pulang karena rumah mereka searah.
Sampai kemudian Andina pindah sekolah ke kota dan Nathan beserta keluarganya pindah ke kota Jakarta selang sebulan kepindahan Andina.
Andina sempat tersenyum kecil membayangkan persahabatannya dengan Nathan dulu. Tanpa dia sadari seseorang sedang mengamatinya dari jendela ruang kelas dan begitu terpesona dengan senyuman Andina yang jarang sekali dia lihat.
*
*
***Bersambung...
Akhirnya dia Dina ingat pada Nathan yang ternyata dulu adalah teman kecilnya, lalu bagaimanakah tentang perasaan mereka berdua?
Ikuti terus kisah mereka ya reader dan jangan lupa dukungannya selalu.
__ADS_1