Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 179 Rasa Di Hatiku


__ADS_3

"Maafkan aku yang egois, Niko...tapi wanita yang bernama Nia itu tak tau bagaimana perasaanku hidup selama belasan tahun ini tanpamu, hamil, melahirkan dan membesarkan Juma tanpamu...setiap saat aku harus menerima perlakuan yang tak menyenangkan dari Samsuri." Ternyata sosok yang sedang menguping itu adalah Maya yang awalnya tak sengaja lewat di depan kamar Niko dan Jonathan.


"Aku harus mengambil apa yang sudah hilang dariku belasan tahun lalu." Maya mengepalkan tangannya.


"Aku tau sejak dulu Niko tak pernah mencintaiku, tapi dengan adanya Juma bersamaku bisa membuatnya kembali padaku." Perlahan Maya meninggalkan tempat itu.


Kembali kepercakapan Niko dan ayahnya di dalam kamar...


"Ayah, apakah Nia akan memaafkan Niko? Dia pernah membenci Miko karena telah melakukan kesalahan ini, dan sekarang mengapa harus terjadi lagi dan ternyata aku sebagai saudara kembar Miko yang melakukan padanya." Niko terduduk lemas di bawah tempat tidur, dia seperti tak punya tenaga lagi untuk beringsut berdiri.


"Sudahlah sekarang kamu istirahatlah...besok pagi kamu akan menikahi Maya, bukan!!" Jonathan terus memberi dukungan pada putranya yang malam ini tampak rapuh itu.


Niko menuruti permintaan ayahnya untuk beristirahat.


Di sisi lain...


"Benarkah itu ayahku? Pantas wajah kami berdua mirip sekali!! Pantas perlakuan ayah Samsuri berbeda saat memperlakukanku dengan Dian dan Diva." Juma sedari malam tadi sama sekali tak bisa memejamkan matanya.


"Aku anak yang lahir di luar nikah, itu semua karena perbuatan ayah Samsuri ke ayah dan ibuku." Remaja lelaki itu bergumam sendiri. Wajahnya berubah-ubah, terkadang terlihat senang tapi tak lama terlihat sedih kembali.


Sifat dan perilakunya seratus persen sangat mirip dengan Niko, begitu pula dengan wajah tampannya.


Dia rajin membantu ibunya menjaga adik-adiknya, membantu mengurus penginapan bahkan tak jarang mencuci dan memasak untuk keluarganya, apalagi jika dilihatnya sang ibu sibuk dengan penginapan di saat banyak tamu yang menginap.


Sejak dua tahun lalu saat ayah tirinya kepincut dan menikah lagi meninggalkan ibu dan adik-adiknya, ibunya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiga anak-anaknya. Memaksa Juma juga harus ikut membantu sang ibu.


"Tampaknya orang yang di bilang ibu sebagai ayah kandungku itu tak terlalu bisa menerima pernikahan ini, mungkin dia juga shock mendengar kenyataan masa lalunya...Tapi aku bangga dengannya karena dia masih mau bertanggung jawab kepada aku dan ibuku." Juma terus berbicara sendiri di dalam kamarnya.


"Besok mereka menikah, aku bahagia sekali membayangkan akhirnya aku bisa punya ayah!!" Juma tersenyum-senyum sendiri.


*


*

__ADS_1


"Nia, kamu sudah siap?" Sofwan pagi-pagi sudah menjemput mantan istri dan iparnya itu untuk kerumah sakit.


"Della menelponnya semalam untuk mengantarkan mereka karena Sultan masih sakit sementara Niko dan Jonathan belum bisa pulang dari luar kota untuk mengantar Sania.


"Maafkan Nia ya mas, karena mengantar Nia kerumah sakit maka mas Sofwan hari ini harus ijin tidak masuk bekerja." Aku merasa teramat bersalah karena melibatkan mas Sofwan dalam masalahku.


"Mestinya aku marah pada diriku sendiri dek, mengapa aku tidak tau kalau kamu sakit separah ini." Sofwan membelai kepalaku dengan lembut.


Kak Della memperhatikan kedekatan kami dari belakang sambil tersenyum bahagia.


"Sofwan, mengapa kalian berdua tidak rujuk untuk kembali saja? Kakak liat kalian berdua masih saling memcintai satu sama lain." Kak Della berucap dari kursi belakang.


"Kalau Sofwan mau saja kak, mau banget malah...tapi nampaknya Nia sudah tidak punya perasaan apapun lagi pada Sofwan!! Apalagi dia sebentar lagi akan menikah dengan Niko." Jawab Sofwan sambil melirikku.


Aku yang dilirik hanya bisa diam saja. Aku tak tau mesti ngomong apa.


Dalam hatiku berkata, "Maafkan aku mas, aku tidak mau kembali padamu bukan berarti aku sudah berhenti mencintaimu tapi aku tak sanggup menghadapi sikap kakak-kakakmu...sudah cukup sekian tahun aku dihina, dibully, direndahkan seolah aku tak mempunyai harga diri sama sekali...bahkan hingga seminggu kemarin saat bertemu, mereka tetap saja menghinaku seperti pengemis."


Melihat kabut luka menggantung di wajahku, Sofwan menepi menghentikan mobilnya. Diraihnya aku masuk kedalam pelukannya seraya berkata, "Aku mengerti perasaanmu dek, aku sudah pernah berjanji untuk tetap menjagamu dan anak-anak walaupun kita tak lagi bersama."


Sofwan memeluk Sania dengan erat. Terkadang dia berpikir mengapa cinta tak pernah berpihak pada mereka berdua...padahal mereka berdua saling mencintai, ada saja hambatannya yang memisahkan mereka hingga mereka tak pernah seiring sejalan.


Dikecupnya berulang-ulang pucuk kepala itu. Ditepuknya perlahan berkali-kali punggung wanita cantik yang pernah mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya selama sembilan tahun itu.


Dada Sofwan bergemuruh saat melihat air mata Sania. Dan lebih bergemuruh lagi saat tubuh ringkih itu mulai terkulai lemas dengan mata terpejam tak sadarkan.diri.


"Dek...Sania...Sania sayang...kamu kenapa?" Sofwan menepuk-nepuk pipiku tapi aku tak kunjung sadarkan diri.


"Cepat Sofwan, cepat bawa dia kerumah sakit..." Kak Della juga panik tapi otaknya masih bisa berpikir sehat.


Segera Sofwan melarikan mobilnya dengan kencang menuju kerumah sakit yang sudah tak terlalu jauh.


"Suster....tolong..."

__ADS_1


Sofwan menggendong Sania menuju UGD. Kebetulan saat itu Dr. Alvin yang dulu menangani penyakit Miko sebagai dokter jaga di UGD.


"Lho...mba Sania? Cepat letakan di bed dulu mas...saya akan memeriksanya."


Setelah selesai memeriksa dia menyibakkan tirai dan menemui Sofwan serta kak Della.


"Apa sekarang dia semakin sering pingsan seperti ini?" Tanyanya.


"Tidak juga dokter hanya jika kondisinya sedang sedih, tertekan dan sedang menyimpan banyak masalah saja." Jawab kak Della.


"Bukankah hari ini dia mau memeriksakan kesehatannya? Sudah ketemu pendonornya kah?: Tanya dokter Alvin lagi.


"Saya yang akan mendonorkannya dokter." Jawab kak Della.


'Sebaiknya tunggu sebentar sampai kesehatannya pulih dulu, sebaiknya mba Nia dipindahkan keruangan dulu supaya bisa beristirahat penuh beberapa jam kedepan sebelum diadakan pemeriksaan lagi."


Kami menyetujui saran dokter Alvin. Kak Della meminta tolong pada Sofwan untuk menjaga Nia sebentar sementara dia akan pulang mengambil baju ganti dan selimut.


Sepeninggal Della, Sofwan duduk di depan Sania dan menggenggam erat tangannya.


"Semoga kamu cepat sehat sayangku...teruslah kuat demi anak-anak kita." Sofwan membelai rambut Sania dengan penuh kasih sayang.


"Sampai kapanpun perasaanku padamu tak akan pernah berubah, dek...cukup sekali aku mengkhianatimu dalam hidupku dan tak akan kuulangi lagi semua kesalahan itu, aku janji!!" Air mata Sofwan tak terasa menetes di pipinya.


"Inginnya aku kembali kemasa lalu yang indah kala bersamamu." Dia terus mengecupi tangan Sania yang ada dalam genggamannya.


*


*


***Bersambung...


Dukungannya selalu kuharapkan guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2