
"Malam ini pengunjung kafe rame ya, mba Nia!!!"
"Iya, Yanti padahal ini kan hari senin...atau karena anak-anak sekolah pada libur, ya..."
"Atau mba Nia sama Dina kali yang bawa hoki ke sini, biasanya kafe ini ngga seramai ini...semenjak ada mba Nia dan Dina yang menyanyi, kafe jadi ramai."
"Ngga gitu juga kali, Yan...rejekikan sudah ada yang mengatur."
"Ya sudah kamu antarkan makanan sana dulu, jangan sampai dikomplain sama pembeli."
"Mba Nia...bisakah nyanyi satu dua lagu...biarkan Dina dan Tia istirahat sebentar?" Sultan mendatangiku.
"Hah...kamu dapat saran dari mana? Mana saya bisa nyanyi?" Tentu saja aku menolaknya.
"Kalau ngga dicoba mana tau mba!! Dicoba aja...biar nanti saya yang main gitarnya, supaya pengunjung ngga bosen denger suara itu ke itu aja."
"Tapi saya ngga nanggung kalau suara saya jelek lho, Sultan!!" Sultan hanya tersenyum saja penuh arti.
"Terus siapa yang jaga kasir?"
"Gampang aja, Tia sama Dina suruh jaga dulu sebentar."
"Haduh...ni Sultan dapat ide dari mana sih? minta aku suruh nyanyi segala? Pasti ide gila dari Tini ini...hanya trio kwek-kwek itu aja yang tau kalau aku bisa menyanyi.
Aku maju bersama Sultan naik ke atas panggung. Sebenarnya malu juga sih...perutku sudah kelihatan agak menonjol walaupun aku sudah menutupinya dengan sweater.
"Mohon maaf para pengunjung kafe...minta waktunya sebentar ya...sementara dua penyanyi di kafe ini beristirahat sejenak, saya sebagai pemilik kafe ini ingin mengisi kekosongan waktu dengan mengajak teman saya untuk menyanyi satu atau dua lagu."
Sultan langsung mengambil gitar yang biasa dipakai Dina.
"Mba Nia mau menyanyi lagu apa?"
"Hati yang kau sakiti..." Jawabku spontan.
Dia terdiam sesaat sambil menatapku, lalu dia mulai memetik gitarnya.
"Siap ya mba..." Bisiknya padaku...dan aku hanya mengacungkan jempolku.
***Jangan pernah katakan bahwa
Cintamu hanyalah untukku
Karena kini kau telah membaginya...
Maafkan jika memang kini
Harus kutinggalkan dirimu
Karena hatiku selalu kau lukai...
Tak ada lagi yang bisa kulakukan tanpamu
Ku hanya bisa merasakan apa yang kurasa...
Kumenangis...membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya...ho...ho...
Kumenangis melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku
__ADS_1
Harus selalu kau tahu...
Akulah hati yang telah kau sakiti***...
Pengunjung yang tadinya ramai mendadak terdiam semua. Mereka seperti terhipnotis dengan suara dari Sania yang sangat dalam dan penuh penghayatan.
Sultanpun memainkan gitarnya dengan perasaan yang campur aduk.
Seseorang yang tadinya akan memasuki kafe jadi menghentikan langkahnya, berdiri mematung di depan pintu kafe.
Hatinya teriris perih, dia tahu istrinya menyanyikan itu untuk mengungkapkan perasaan di hatinya.
Dia tau istrinya mempunyai suara yang bagus tapi dia jarang melihat istrinya menyanyi, apa lagi di depan umum begini.
"Lagi...lagi...sorak pengunjung saat lagu pertama telah usai dinyanyikan.
"Gimana mba? Pengunjung minta mba Nia menyanyi lagi tuh..."
"Okelah satu lagu aja lagi ya..." Napasku mulai terengah-engah.
"Siapa yang suka lagu nostalgia?" Sultan berusaha berinteraksi dengan pengunjung. Tentu saja sambutan pengunjung kafe riuh menanggapinya.
"Mau nyanyi lagu apa, mba?" Bisik Sultan lagi!!
"Mawar berdurinya Teti Kadi...kamu tau lagunya kan?"
Sultan memandangku lagi..."Lagi-lagi lagu patah hati, batinnya."
"Oke mba, siap ya...
****Tertulislah kisah tentang bunga mawar
di tengah belukar yang penuh dengan duri...
Semerbak harumnya...yang tiada tara
Banyak kumbang yang datang...
ingin mengisap madunya...aduh sayang...
Banyak kumbang yang mati...
karena tertusuk duri...aduh sayang...
Kau memberi hati kepada diriku...
seluruh hidupku...kudambakan padamu...
Tak kusangka-sangka...bukan hanya daku
mendapat kasihmu membuat hati luka...
Mawar berduri....kini ku pergi....
dengan membawa luka di hati...
Mawar berduri...cukup sekali...
kau melukai...hatiku...hatiku...***
Sambil memainkan gitar, kupandangi terus wajahnya. Berkali-kali titik bening mengalir dari kelopak mata indahnya.
Pengunjungpun terdiam ada pula yang ikut bernyanyi mengikuti alunan suara merdu dan lembut dari Sania.
Hening sesaat setelah lagu selesai dinyanyikan...lalu terdengar riuh tepuk tangan menyambutnya.
__ADS_1
"Cukup dua lagu pengisi ya...Mba Nia nya agak kesulitan bernapas...maklum lagi hamil."
Sultan menyudahi bermain gitarnya. Kami berdua turun dan menuju ke meja kasir lalu digantikan lagi oleh Dina da Tia yang menyanyi.
Miko tak jadi masuk ke kafe, dia kembali ke mobil dan duduk termenung di sana. Dia sempat melihat bagaimana Sultan memandang Sania dengan mesra.
Dan sempat pula dia melihat butiran-butiran kristal bening mengalir di pipi halus istrinya.
"Maafkan segala kesalahan ayah ya, bunda...ingin sekali ayah memeluk bunda untuk memberikan kekuatan. Tapi ayah tau pasti bunda akan menepis tangan ayah lagi."
Di dalam kafe. Tiba-tiba seorang pria yang tadi duduk sendiri di meja nomor 3 maju ke arahku.
"Selamat malam..." Sapanya ramah!!
"Malam, " Kataku sambil mengangkat wajah untuk melihat siapa yang menyapaku.
"Maaf...mba ini Sania Marfiah anak kelas 12 ipa 1 ya, dulu."
Aku memandang lekat-lekat wajah pria di depanku.
"Siapa ya?" Aku sama sekali tidak mengenali pria berkulit hitam manis yang tersenyum di depanku.
"Saya Diwa mba...Diwa Seira...dulu saya sekelas dengan Jatmiko sebelum dia pergi ke Singapura.
Ingatanku mulai bekerja kembali. "Oh...Diwa yang celananya robek waktu di suruh jalan jongkok itukah?"
"Ish...mba Sania ini kok yang diingat yang jelek-jeleknya sih??"
Kami tertawa..."Ya maaf, Wa..."
"Dengan siapa kamu ke mari? Dengan istrimu kah?"
"Aku sudah bercerai dari istriku, mba...aku kan jarang pulang...waktuku hanya kuhabiskan untuk berlayar...mungkin istriku tidak tahan ditinggalkan terus, pada akhirnya dia selingkuh."
"Kabar terakhir yang kudengar, mba Nia menikah dengan Miko...selamat ya...penantian belasan tahun terwujud juga." Katanya.
"Ini di mana dia? Kok mba Nia sendirian di sini!! Mba kerja di sinikah?"
"Dia di rumahnya lah, Diwa...ngapain dia ke mari!!" Kataku pelan.
"Maksudnya gimana sih, mba? Kok aku ngga paham ya!!"
"Miko sudah menikah lagi, Wa...dia sekarang tinggal sama istri ke duanya."
"Gila si Miko...kalian ini kan belum ada setengah tahun menikah? Kulihat mba sepertinya juga sedang hamil?"
"Ceritanya panjang, Wa...dua hari dua malam ngga akan kelar bila kuceritakan."
"Bisa minta nomornya mba Saniakah? Jadi kita bisa leluasa ngobrol, kapalku masih berlabuh di kota ini kok...nanti dua hari lagi aku berangkat."
Diwa menyimpan nomorku dan segera berlalu dari kafe.
"Siapa dia mba?" Aku kaget tiba-tiba Sultan bicara di belakangku.
"Teman sekelas Miko dulu, "kataku.
"Ganteng ya, mba...keliatannya orang berduit."
"Kamu juga ganteng, Sultan...kamu juga banyak duit, "kataku sambil tersenyum padanya.
Wajahnya merah sampai ke telinga. Entah mengapa aku suka sekali menggodanya apa lagi sampai dia tersipu malu begitu.
***Bersambung...
Untuk mengenang sahabatku Diwa Seira...maaf jika namamu kumasukan ke dalam novelku...semoga kamu tenang di sana ya, sahabat😓😓...doaku selalu menyertai kepergianmu.
__ADS_1
Juga selalu mohon dukungannya ya guys...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏