
"Alhamdulillah..."Aku memegang amplop gaji pertamaku, rasanya sudah tak sabar pengen cepat pulang mau ketemu anak-anak di rumah.
Semalam janji dengan mereka mau pergi ke pasar malam berempat.
Sebenarnya aku berencana mau pindah kontrakan. Terlalu jauh rasanya dari rumah kekerjaan, selain aku ingin menghemat ongkos angkot, aku juga bisa istirahat makan di rumah sekalian mengecek keadaan anak-anak.
Beberapa hari lalu sebelum Dina pulang sekolah, Juned mengajak Syifa main di sekitar pembakaran bata. Alhasil, kepala Syifa benjol ke pentok kayu. Mau marah ya gimana...anak umur 4 tahun menjaga adiknya yang baru berumur 2 tahun.
Aku sudah mendapatkan kontrakan yang letaknya tak jauh dari tempat kerjaku, dan tak jauh juga ada sekolah dasar, jadi aku bisa memindahkan sekolah Dina kesana.
Jadi aku juga bisa bekerja dengan tenang...tanpa harus stres setiap hari memikirkan keadaan anak-anakku yang kutinggalkan pagi-pagi buta dan baru kembali setelah sore hari.
Aku juga sudah minta pendapat Miko, dan dia sangat setuju. Karena ide pindah rumah kontrakan sampai sekolah itu ide dari dia. Dia juga yang ikut membantu mencari rumah kontrakan di sekitar sini.
Bahkan maksudnya Miko itu sangat simpel...aku dan anak- anak sekalian pindah ke rumahnya...ya aku ngga maulah...itu namanya enak di Miko, ngga enaknya di aku. Alasannya sih supaya hemat uang kontrakan...tapi mana boleh tinggal satu atap yang bukan muhrimnya.
"Ya makanya...adek halalkan secepatnya kak..jadi rasa tak enaknya berubah jadi enak...siapa tau Syifa bisa cepat punya adik lagi..." Dia berkata sambil senyum-senyum.
"Ngga jelas kamu ini loh Ko...dasar otak mesum..." Kucubit pinggangnya keras-keras.
Selama sebulan dekat dengannya inipun aku selalu menjaga diri, kami sama-sama sudah dewasa...dan kami pun dulu pernah saling mencintai...walaupun sempat dipisahkan oleh keadaan yang tak berpihak pada kami, tapi pada akhirnya takdir mempertemukan kami kembali.
Dan Miko pun secara terang-terangan bilang bahwa perasaannya padaku tidak pernah berubah..itu yang membuatnya hingga kini menutup diri dan menutup hati dari wanita manapun.
Anak-anakku juga sebenarnya tidak masalah...hanya terkadang Dina memandang Miko masih seperti orang asing...mungkin karena dia sangat dekat dengan mas Sofwan, sebelum bapaknya hilang ingatan. Jadi untuk dekat lagi dengan orang lain, dia masih ragu.
Aku juga tidak bisa membohongi kata hatiku...aku masih sayang sama Miko...rasa sayang yang harus kukubur selama belasan tahun akhirnya bersemi kembali...tapi rasa takut dan trauma juga masih menghantuiku.
Aku minta waktu pada Miko untuk berpikir dulu. Aku tidak mau mengambil keputusan yang tergesa-gesa akan membawaku pada kegagalan lagi.
Karena trauma perlakuan mas Sofwan dan keluarganya masih membekas jelas dalam ingatanku.
"Hayo...beb...kamu melamunkan siapa...jangan bilang kamu lagi melamunkan mantanmu itu, ya..."
"Kamu ini Ko...ngapain kesini...nanti dilihat sama karyawan lainnya."
"Memang ngga boleh aku mengunjungi pacarku sendiri? Kak Nia sih...aku sudah berkali-kali mau mengumumkan kebersamaan kita, tapi selalu dilarang."
"Ya sudah...gitu aja ngambekan...kamu mau apa kemari? Mau minta dibuatkan mie atau dibelikan makan siang?"
"Aku mau ngajakin kamu makan siang di luar beb..."
"Nanti terlihat sama karyawan yang lain...aku malu..."
"Ya sudah kamu pergi duluan tunggu di ujung jalan nanti aku keluar juga."
__ADS_1
"Ehem...ehemm...wuidih...kayaknya ada yang lagi pendekatan nih..."
Aku menoleh..."Ih...Mba Fina apaan sih???"
"Tapi benar lho...semenjak ada kamu di sini...pak Miko tampak lebih bahagia...banyak senyum dan mulai banyak bercanda."
"Memang dulu ngga ya..."
"Aku kerja disini sudah 12 tahun...pak Miko masuk di kantor ini 7 tahun lalu."
"Awal beliau masuk, kami jarang melihatnya bicara...jangan kata tertawa, tersenyum aja jarang...dia lebih sering mengurung diri di ruangannya...bekerja dan bekerja..."
"Kadang beliau lembur sampai malam...tapi sekarang semenjak kehadiranmu di kantor ini, mampu mengubah suasana hatinya."
"Kami itu sebenarnya sudah lama saling kenal mbak...tapi kemudian pak Miko menghilang tidak ada kabar berita...baru setelah 19 tahun kemudian, kami dipertemukan malah di kantor ini secara tak sengaja."
"Sudah lama saling kenal dan sudah lama saling cinta...gitu kan?" Mbak Fina menggodaku.
"Ah mbak Fina ini...mana ada mbak!!!"
""Mulut bisa berbohong Nia...tapi mata kalian saat saling menatap tak bisa berdusta, dan aku tau itu sejak awal kamu di sini."
"Makanya aku sering menyuruhmu ke ruangannya..."
"Tapi mbak liat kan, kami itu berbeda...aku sering merasa minder jika di dekatnya."
"Maksudmu berbeda apa? Karena kamu hanya seorang office girl dan pak Miko itu seorang Manajer personalia, begitu?"
"Di mata Tuhan, kita itu sama Nia...ngga ada perbedaannya.Jadi jangan merasa minder hanya karena beda pekerjaan saja."
Aku hanya bisa diam mendengar petuah mbak Fina yang panjang lebar.
"Ya sudah...ini sudah jam istirahat...katanya tadi mau pergi makan siang dengan pak Miko"
"Jadi tadi mbak mendengar percakapan kami? Berarti mbak Fina sudah lama dong ada di samping pintu!!" Wajahku memerah karena malu.
"Ngga apa-apa toh...kamu berdua juga ngobrolnya yang biasa-biasa aja...ngga ada yang menjurus-menjurus begitu...mbak Fina mengedipkan matanya...lalu sambil tertawa dia pergi berlalu."
*
*
Haduh...kenapa hari ini panas sekali ya...aku berjalan menyusuri jalan menuju kejalan raya...
Tiiiiitttt...aku terlonjak kaget mendengar suara klakson mobil tepat di sampingku.
__ADS_1
"Naik...." Miko membukakan pintu untukku.
Aku berpikir dulu sebelum naik..."Ayo naik kak...mikir apalagi? Apa perlu kugendong?"
"Ngga...anu...aku hanya ngga enak takut nanti ada yang ngeliat aku naik mobilmu."
"Kalau ngga enak, kasih kucing aja...ayo cepat naik...atau mau ku naiki?" Miko tersenyum nakal.
"Ishhhh...mau ngga mau aku naik juga...aku tidak mau reputasinya buruk karena dekat denganku yang hanya seorang office girl di kantor."
"Kak...sudah sebulan ini aku menunggumu untuk bercerita, semua tentang masalah yang menimpamu."
Huftttt....aku menghempas napas kasar..."Apakah itu penting untuk diceritakan, Ko?"
"Bagiku itu sangat penting kak...aku tidak mau melihatmu menyimpan semua masalahmu seorang diri."
"Jika kamu masih menganggap aku ada, maka ceritakanlah padaku."
"Karena aku sering sekali melihatmu termenung sendirian di dalam janitor, aku khawatir pada kesehatanmu."
"Oke...gini aja...bagaimana kalau kita barteran...kamu ceritakan semua masalahmu dan aku akan menceritakan semua kisahku, sampai aku menghilang belasan tahun darimu."
"Baiklah Ko...walaupun sebenarnya aku berat berbagi kisah hidupku dengan orang lain."
"Kak...aku bukan orang lain...aku lebih dulu mengenalmu dan bersamamu, ketimbang dia?"
"Kalau menuruti kata hati yang kecewa, aku sangat kecewa denganmu..."
"Kamu bisa menikah dan hidup bahagia bersama yang lain walaupun itu hanya sesaat...tapi aku?"
"Aku terus menerus hidup dalam keterpurukan kak?? Diusia balita aku kehilangan papi dan saudara perempuanku...di usia remaja di mana saat aku baru mulai mengenal indahnya jatuh cinta, aku harus kehilangan dua orang sekaligus."
"Kehilangan mami yang meregang nyawa tepat didepan mataku...demi apa? Demi merelakan agar aku tetap hidup..."
"Lalu aku harus hidup belasan tahun di negeri orang...hanya diasuh oleh kakekku setelah nenek meninggal, tanpa aku bisa kembali mencari wanita yang kucintai."
"Wanita yang menjadi cinta pertama dan kuharapkan akan menjadi cinta terakhir dalam hidupku?"
"Bertahun-tahun aku hidup dalam bimbingan kakek yang keras...dan di malam-malamku yang sunyi hati dan pikiranku selalu berkelana untuk mencarimu?"
"Berharap kamupun sedang memikirkanku dan merindukanku, seperti aku yang selalu memikirkanmu?"
^^^***Bersambung....^^^
Jangan lupa komen dan likenya ...Vote dan favoritenya ...Biar author tetap semangat dalam berkarya....🙏🙏🙏***
__ADS_1