Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 265 Kenangan Kita Semua (tamat)


__ADS_3

Letak perabot di rumah itu juga tidak berubah posisi, begitu juga dengan taman bunga yang telah dibuat Sania, tetap ada di sana.


"Selamat jalan, bu Sania...pak Riko...abadilah cinta kalian berdua!!" kata Hans sebelum pergi meninggalkan pemakaman. Ada beberapa titik air bening yang mengalir begitu saja dari kelopak matanya dan segera dihapusnya.


Tiga bulan kemudian....


"Tante, mengapa tante Della tidak mau menerima lamaran dari om Johan??" tanya Dina pada tante yang sudah dia anggap sebagai pengganti bundanya itu.


Tadi dia sempat mencuri dengar pembicaraan antara nenek sambungnya ibu Intan, om Johan yang sekarang jadi asisten dari neneknya juga tante Della.


Mereka berdua berniat melamar tante Della menjadi istri om Johan tetapi tante Della minta waktu untuk berpikir.


"Dina tau, tante memikirkan kami bertiga...tante ngga usah khawatir, tante bukan baby sitter kami, tante Della sudah Dina anggap sebagai pengganti bunda kami!!"


"Kami bertiga sudah dewasa tante, tahun ini Syifa sudah mau masuk SMP, Juned sudah naik kelas 8 dan Dina sendiri mau naik ke kelas 12, adik Raftar dan Sari sudah diasuh oleh nenek Intan, adik Miko dan Miki lebih banyak menghabiskan waktu dengan om Niko dan kakek Jonathan."


"Sudah saatnya tante memikirkan kebahagiaan tante sendiri...menurut Dina om Johan itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, tante!!"


"Toh kalian kan tinggalnya di sini juga, kita masih bisa bertemu setiap hari...rumah om Niko dan nenek juga tidak terlalu jauh dari sini!!" kata Dina meyakinkan tantenya.


Lama Della merenung hingga akhirnya dia memutuskan sesuatu.


"Baiklah, Dina jika itu sudah menjadi keputusan kalian semua!!" katanya pasrah.


******


Sore itu Dina sekeluarga berniat untuk makan malam di kafe yang dikelola oleh Hans. Dia sudah rindu untuk pergi ketempat kenangan saat dia masih gadis kecil bersama bunda dan om Sultannya.


"Halo...selamat datang...semua!!"


Hans yang menjabat sebagai manajer kafe dan sesekali masih turun ke dapur.


Di bawah tangan dinginnya, kafe peninggalan Sultan Dan Sania itu berkembang pesat bahkan sudah mempunyai dua cabang lainnya.


Suara alunan musik tiba-tiba terhenti saat Hans naik ke atas panggung.


"Mohon perhatiannya sebentar..."


"Kalian lihat gadis manis yang duduk di kursi pojok itu!!" tunjuk Hans pada Dina yang jadi salah tingkah saat semua mata terarah padanya.


"Sewaktu dia masih menjadi gadis kecil, dia, ibu dan om nya yang jadi pemilik kafe ini dulu suka bernyanyi di sini...kini ibu dan pak Sultan pemilik kafe ini telah meninggal dunia...mereka mempunyai suara emas yang patut kita dengar, bagaimana jika kita malam ini mengundang dua gadis cantik dan satu pria tampan bersaudara itu untuk bernyanyi??" kata Hans lagi.


Sorak sorai pengunjung kafe yang memadati tempat itu berteriak memberi semangat.


Yang di maksud Hans adalah Dina, Juned dan Syifa.


Dengan ragu-ragu mereka naik keatas panggung.


Juned mengambil gitar, Syifa memegang organnya dan Dina yang akan menjadi Vokalisnya.

__ADS_1


Setelah berunding akhirnya mereka memutuskan untuk menyanyikan lagu Mesin Waktu dari Budi Doremi.


Kalau harus kumengingatmu lagi


Kutakkan sanggup


Dengan yang terjadi pada kita...


Jika melupakanmu hal yang mudah


Ini takkan berat


Takkan membuat hatiku lelah


Kalah kuakui aku kalah


Cinta ini pahit dan


Tak harus memiliki....


Jika aku bisa kuakan kembali


Kuakan merubah takdir cinta yang


Kupilih


Walaupun kumau...membawa kamu...


Lewat mesin....waktu...


Mereka bernyanyi dan bermain musik dengan penuh penghayatan, Hans yang berada bersama mereka merasa sangat sedih...seolah kenangan bersama ibu Sania kembali lagi dalam memori ingatannya.


Seolah Sania berdiri di pojok panggung sedang tersenyum melambai kearahnya.


"Ibu...!!" desis Hans pelan.


Tak terasa kembali butiran bening turun dari dua kelopak matanya, untuk lampu agak temaram hingga tak ada yang melihat matanya yang berkaca-kaca.


Sejenak hening seolah pengunjung terhipnotis lalu terdengar suara tepuk tangan bergemuruh dari para pengunjung.


Ketiga anak Sania itupun terdiam, apalagi saat bernyanyi tadi ketiganya berusaha menahan isak tangis mereka.


Semenjak berpisah dari almarhum Miko ayah sambung mereka, bunda mereka menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai penyanyi dan kasir di kafe ini dengan membawa perut besarnya dan melangkah tertatih-tatih karena bunda mereka saat itu sedang mengandung Miko dan Miki adik kembar mereka.


Kenangan itu jelas terekam di dalam otak mereka bertiga.


"I love you, bunda..." kata mereka pelan.


Mereka bertiga tak sanggup untuk meneruskan permintaan pengunjung kafe untuk menyanyi lagi apalagi Syifa gadis kecil yang sensitif perasaannya itu telah terisak sesunggukan.

__ADS_1


*******


Terjadi kesibukan di rumah Sania. Hari itu tante Della akan menikah dengan om Johan.


Karena calon pasangan mempelai itu sama-sama sudah tidak mempunyai keluarga lagi maka mereka memutuskan untuk menikah di satu tempat yaitu di rumah almarhumah Sania.


Tidak banyak tamu undangan yang datang, hanya sekedar kerabat dekat saja dan karyawan kafe serta karyawan kantor di tempat perusahaan almarhum Riko.


"Tante Della cantik banget!!" kata Dina sambil memeluk Della.


"Terima kasih karena selalu ada untuk menjaga kami tante!! sekarang tiba saatnya tante harus memikirkan kebahagiaan tante sendiri!!" kata Dina lagi.


"Tante akan tetap sayang dengan kalian semua, begitu juga dengan om Johan...Dina!!" kata Della mencium dan mengelus kepala ponakan tercintanya itu.


Tok...tok...tok


"Tante ayo cepetan...kita semua sudah menunggu!!" teriak Juned dari luar.


Dengan langkah anggun tante Della keluar dengan memakai kebaya brokat berwarna putih di dampingi oleh Dina.


"Din, tante gugup banget..." kata Della.


Della memang pernah menikah dulu dengan Bram suami pertamanya tetapi hanya sebagai istri simpanan bukan sebagai seorang istri yang sah menurut negara.


"Tenang tante....!!" bisik Dina.


"Om John tidak akan menggigit, kok!!" katanya sambil tertawa.


Suara penghulu sudah lantang berucap...


"Saya nikahkan saudara Johan Alexander bin Marion Alexander dengan saudari Della Puspita binti Marwan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.


Jawaban Johanpun tak kalah lantangnya.


"Sah....!!" kata semua yang hadir di situ.


Della memcium tangan suaminya begitu pula Johan mengecup kening sang istri.


"Bermimpipun tidak pernah bagi seorang Della untuk menikah lagi setelah kegagalan pernikahan pertamanya belasan tahun lalu dengan Bram.


Kini statusnya sudah berubah menjadi istri seorang Johan, lelaki yang irit bicara itu kini sudah berhasil menaklukan hatinya.


"Bunda dan papah pasti bahagia jika melihat tante Della kini bahagia!!' isak Dina saat sekali lagi dia memeluk tantenya lalu menyalami Johan yang kini sudah berubah status menjadi suami tantenya.


"Semoga kebahagiaan akan selalu menjadi milik kalian selamanya...."


Akhirnya kutukan cinta berakhir terkubur bersama mereka. Tidak ada yang salah dari takdir hidup mereka, hanya mungkin jalan hidup mereka yang sudah diatur demikian oleh Yang Maha Pencipta.


...(TAMAT)...

__ADS_1


__ADS_2