Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 34 Cobaan Itu Pasti Selalu Ada


__ADS_3

Aku masih diam saja. Kejadian sehabis maghrib tadi masih membekas diingatanku.


Aku tidur di samping Dina, sementara Mas Sofwan masih menonton televisi di luar. Aku tak habis pikir wanita masa kini, nyata-nyata laki-laki sudah beristri, tapi masih saja terobsesi untuk mengejarnya.


Perasaan dari awal pernikahan, cobaan cinta kami sudah datang bertubi-tubi. Kehidupan cinta kami seperti layaknya sebuah kutukan.


"Aku berusaha untuk meredam kecemburuan di hatiku, lebih memilih diam dari pada meributkan masalah yang malah akan memicu pertengkaran di antara kami.


"Dek...kamu sudah tidur? Aku pura-pura memejamkan mata, aku malas membahas soal yang tadi."


Aku merasa mas Sofwan duduk ditepi pembaringan. Dibelainya rambutku dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan mas ya dek...perasaan sejak menikah dengan mas, kamu tak ada bahagia-bahagianya. Sampai kamu kehilangan rumah seperti sekarang ini dan caci makian dari kakak-kakakku."


"Tapi mas bahagia bisa menikah dengan wanita baik dan bijaksana sepertimu."


"Jika hanya melihat dari segi fisik, banyak di luar sana wanita-wanita cantik, tapi jika dilihat dari sisi kelembutan dan kesabaran maka kamulah orangnya."


"Istri yang tak pernah bersuara dan banyak menuntut, istri yang setia dan selalu ada di dalam suka dan duka."


Dadaku bergemuruh menahan suatu rasa yang aku sendiri tak bisa mengungkapkan. Suami tampanku, suami yang dulu ternyata menjadi rebutan para wanita, yang pada akhirnya rela menjatuhkan pilihan hidupnya kepadaku, seorang wanita yang jauh dari sekedar biasa saja.


Aku sering bertanya kepadanya apa yang membuatnya tertarik hingga mencintaiku dan akhirnya menikahiku. Secara usiaku terpaut 4 tahun di atasnya, aku tidak cantik, aku tidak kaya dan mungkin aku juga wanita bodoh seperti yang sering di katakan para kakak iparku, bahkan kakakku sendiri mengatakanku wanita kuno dan bodoh.


Jawabannya sederhana saja..." Aku mencintaimu pertama karena Allah, aku tak memandangmu dari segi fisikmu atau segi finansialmu."


"Aku tak melihatmu hanya dengan mataku, tapi aku melihatmu dengan hatiku...dengan perasaanku...jadi jangan pernah lagi kamu tanyakan, mengapa aku mencintaimu."


"Aku berharap kamu akan tetap mendampingiku sampai maut memisahkan kita kelak...yakinlah istriku...seberapa jauhpun ombak menghantam dan membawa bahteraku, tapi suatu hari nanti pasti akan kembali berlabuh di pelabuhan hatimu...karena ku tahu hanya di sinilah tempatku kembali...!"


Aku merasakan setetes air bening jatuh di keningku. Suamiku meneteskan air matanya, tanpa dia tahu aku mendengarkan semua curahan hatinya.


Lalu dia mengambil bantal dan memilih tidur di depan televisi, mungkin dia tak mau mengganggu kelelapan tidurku dan Dina.


*


*


"Dek...kayaknya beberapa hari ini mas akan lembur, menggantikan teman yang lagi cuti."


"Jadi mas akan pulang malam terus beberapa hari ini."


"Tapi mas juga harus jaga kesehatan ya...karena pagi ketemu malam terus besoknya masuk pagi lagi...nanti mas malah sakit..." Kataku sambil memasukan bekal makanan kedalam tasnya.


"Iya istriku sayang...baik-baik kamu dan Dina di rumah ya...mas pergi dulu...Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikum salam...aku mencium punggung tangannya dan melambaikan tangan di depan pintu mengantar kepergiannya."


"Kasihan mas Sofwan...dia tahu kebutuhan kami jadi bertambah saat kami mengontrak rumah begini, dia harus lebih bekerja keras untuk mencukupi kehidupan kami."


Sepeninggal mas Sofwan, aku berjalan ke sekeliling rumah. Kulihat ada beberapa gubuk-gubuk dan agak jauh dari kontrakanku, ada seperti gudang yang isinya bata merah yang mungkin sudah dikeringkan dan siap dibakar.


Aku berjalan sambil menggendong Dina. Kuhampiri seorang ibu yang sedang mencetak bata merah dan suaminya yang sedang menjemur batu bata keluar agar terkena panas matahari.


"Selamat pagi bu...sapaku...sibuk banget ya bu..."


"Pagi mbak...eh mbak ini yang ngontrak di rumah ujung itukan?"


"Iya bu...mau jalan-jalan...sekalian pengen liat ibunya bekerja siapa tau bisa mencoba juga untuk nambah-nambah penghasilan."


"Iya mbak...sekarang ini pekerjaan apapun yang penting halal, dicoba dilakoni aja."


"Bapak lho kerjanya cuma jadi sekuriti dibpabrik...jaganya khusus malam saja jadi pagi bisa bantu ibu sebentar di sini. Sebab jika cetakan bata kita sudah penuh, biasanya yang punya usaha atau anak buahnya yang menjemur keluar."


"Mbaknya liatkan para bapak-bapak yang melumpur membuat adonan lumpur untuk bisa dijadikan bata merah itu...."


"Tugas kita yang perempuan hanya mencetaknya saja."


"Bagaimana cara menghitungnya bu...aku semakin tertarik mendengar cerita ibunya itu."


"Kalau kita bisa mencetak bata sebanyak 1000 biji maka seratus ribulah upah yang akan kita dapatkan."


"Kalau ibu...bisa menghasilkan 1000 biji bata itu berapa hari bu?"


"Sekitar dua harian mbak...kerjanya ibu lambat...baru harus ngurusi anak dan rumah juga."


"Menurut saya itu termasuk cepat bu...jangankan dapat 500 biji sehari, 100 biji aja susah kalau masih pemula kayak saya."


"Ngga ada yang susah mbak jika mau belajar..." ibunya tersenyum padaku.


Dari si ibulah aku pelan-pelan belajar membuat bata merah. Saat mas Sofwan sudah berangkat kerja, aku juga setelah menyelesaikan pekerjaan rumah langsung menuju ketempat ibu yang belakangan aku ketahui namanya ibu Sri.


Memang tidak mudah, tapi seperti yang dikatakan ibu Sri, jika ada kemauan untuk belajar pasti bisa, apapun itu.


*


*


"Kamu lembur lagi Wan? Aku menoleh pada Anto yang menyapaku.


"Jaga kesehatan bro...nanti kalau sakit kamu sendiri yang rugi."

__ADS_1


"Insyaallah saya sanggup To, kurang dua hari lagi ini selesai."


"Pengeluaran saya bertambah To, semenjak kami mengontrak rumah, jadi lumayankan 5 hari dikalikan 200 ribu saya bisa dapat sejuta."


"Asalkan kamu bisa jaga kesehatan aja Wan...jangan sampai sakit...aku pulang duluan ya Wan..."


"Masih kurang 2 hari lagi, kamu masih kuat ajakah Wan?" Feby menghampiriku.


"Insyaallah Feb..."


"Ya sudah saya mau bekerja lagi ya..." kutinggalkan Feby yang masih menatapku.


Sekarang aku harus bisa menjaga jarak dengan perempuan manapun. Kasihan Sania...aku berada di sini untuk bekerja mencari nafkah buat keluarga...bukan mau menebar pesona.


"Wan...sebuah tepukan di bahuku mengagetkanku."


"Oh ibu Kiki...ada yang bisa saya bantu bu?"


"Kalau hanya kita berdua...ngga usah formal amat kali bahasanya, Wan!"


"Tetap saja saya harus menghormati, inikan masih posisi di lingkungan kerja, bu..."


""Terserah kamulah...sejak dulu aku juga ngga pernah menang adu debat mulut sama kamu, Wan..." Ibu Kiki seraya tersenyum.


"Wan...aku dititipin pesan sama Vivi...katanya sudah tiga hari ini nomor handphonemu ngga aktif...selalu di luar jangkauan jika di telepon."


Aku menghela napas panjang mendengarnya. Aku memang sengaja tidak mengaktifkan nomorku itu karena aku tau pasti Vivi akan menelpon terus.


Masa aku tega melihat Sania yang selalu murung, mendengar suara Vivi menelpon terus menerus.


Kuceritakanlah pada Kiki permasalahanku dan Vivi. Dan tentang Vivi yang menelpon tak tau waktu walaupun itu di rumah dan ada Nia sekalipun.


"Iya juga sih Wan...untung kena istrimu yang sabar, kalau kena aku apa ngga sudah mencak-mencak kebakaran jenggot jika suamiku di telepon wanita lain di depan mataku."


"Nah itu kamu juga tau...makanya saya harus menjaga perasaan istri saya, Ki."


"Cobalah kamu beri pengertian pada Vivi, kalian berdua kan sahabatan."


"Ya sudah...Wan...nanti kucoba beri pengertian kepadanya, ya kamu maklumin aja, Vivi memang agak manja yang semua-semua kemauannya harus dituruti." Terima kasih ya ibu Kiki yang terhormat..." Senyumku mengembang...


"Makanya jangan terlalu banyak senyum Wan...nanti banyak lagi wanita bisa jatuh cinta sama kamu..."


"Termasuk kamu? selorohku sambil tertawa dan pergi berlalu."


"Iya Wan...termasuk aku...kamu tuh tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang tetap cute tetap imut...mantra apa sih yang kamu punya, sehingga pesonamu luar biasa seperti ini?"

__ADS_1


...***Bersambung.......


Mohon dukungannya ya teman-teman...Like dan komennya...Jika berkenan vote dan favoritenya biar author tetap semangat menulisπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™***


__ADS_2