Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 40 Aku Kesal Tapi Masih Cinta


__ADS_3

Jam 16.00. Staff kantor sudah pada pulang. Di lantai 1 tinggal beberapa saja yang belum pulang, entahlah yang ada di lantai 2. Aku mulai membersihkan meja-meja karyawan yang berserakan dengan sampah dan bekas-bekas makanan. Dibantu mbak Fina sebentar sebelum dia naik kelantai 2.


Aku melirik kearah gang kecil menuju ke belakang tempat ruangan Miko. Aku berharap dia sudah pulang.


Aku harus bergegas...tadi Dina menelpon kalau Juned dan Syifa sudah mulai rewel karena ditinggal kerja seharian.


Pekerjaanku hampir rampung ketika kulirik dari sudut mataku pintu ruangan Miko terbuka.


Aku pura-pura tidak melihatnya, asyik membersihkan meja-meja yang tersisa.


"Nanti tolong bersihkan ruangan saya ya...setelah selesai ruangannya dikunci, kuncinya titipkan sekuriti."


Tanpa berkata lagi dia meninggalkanku. Raut wajahnya datar dan dingin berbanding terbalik dengan Miko yang kukenal. Tapi syukurlah dia sudah lupa dengan pembicaraannya siang tadi yang mau mengantarku pulang.


satu jam kemudian kerjaanku kelar semua. Kutelpon mbak Fina untuk minta izin pulang.


Dengan cepat kubereskan tasku lalu pergi. Kacau pikiranku mendengar Dina bilang adik-adiknya rewel semua.


"Haduh...nih angkot pada kemana ya sore begini sepi amat yang lewat."


"Gimana ini..." Aku berinisiatif jalan kaki dulu sambil menunggu angkot.


Perasaan tuh mobil hitam dari tadi ada di belakangku terus. Aku mempercepat langkahku supaya cepat sampai ke jalan besar yang banyak angkot lalu lalang.


Agak jauh dari kantor, tuh mobil berhenti tepat di sampingku. Jendelanya terbuka menongolkan sosok wajah yang sangat kukenal. Dia membuka kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung.


"Masuk...." Dia membukakan pintu.


"Tapi aku mau pulang Miko...anak-anakku sudah rewel semua menunggu kepulanganku."


"Masuk kak Nia...biar sekalian kuantar pulang..."


Dengan berat hati aku masuk ke mobilnya. Entah mengapa belasan tahun tak bertemu dan bersama lagi dengannya, membuat aku merasa takut.


"Kita pulang dulu...kasihan anakmu di rumah..." Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Kami sama-sama diam tidak bicara...aku juga tidak tau mau mulai pembicaraan dari mana dan tentang apa.


"Suamimu kemana dan kerja di mana kak? Kenapa dia membiarkanmu bekerja dengan meninggalkan anak-anak kalian dari pagi buta sampai sore begini."


Aku yang tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu jadi tergagap. Bingung mau jawab apa...masa aku mau bilang mas Sofwan gila dan dibawa pergi keluarganya dan setelah sembuh dia mengajukan cerai untuk menikah lagi dengan wanita lain pilihan keluarganya? Apa nanti kata Miko mendengar itu semua.


"Kenapa kamu diam? Apa ada rahasia yang kamu sembunyikan dariku?"


Dia menghentikan mobilnya di depan supermarket.

__ADS_1


"Kok kita turun di sini Ko?" Aku menoleh padanya.


"Turunlah...kita akan berbelanja keperluanmu dan anak-anakmu."


Aku tak berani membantahnya. Padahal dulu aja, jika aku melihat ada sedikit saja kelakuannya yang menjengkelkan, aku langsung memarahinya dan seperti biasa dia akan memasang tampang cemberut lalu bergelanyut manja di bahuku atau lenganku.


Kami masuk ke dalam dengan diiringi tatapan banyak mata yang memandang kami dengan berbagai macam penilaian tentang kami.


Aku berjalan mengekor di belakangnya, tapi..."Ngapain jalan di belakangku kak..." Dia lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat."


"Kakak malu Ko...?" Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangannya sambil melihat kanan kiriku.


Aku seperti seorang upik abu yang berjalan dengan seorang pangeran tampan. Untung tadi sebelum pulang aku sudah mengganti seragam kerjaku dengan baju biasa.


"Sudah tidak usah liat kiri kanan...cueki aja..." Dia tersenyum tipis memandang tanganku yang menggenggam erat jari-jari tangannya.


Padahal dulu dia yang selalu begitu persis seperti seorang anak yang takut kehilangan ibunya.


Dia mengambil kereta belanjaan dan mendorongnya menuju ke bagian camilan anak-anak.


"Kamu tidak malu jalan sama kak Nia begini Ko?" Aku berbisik pelan.


"Kak...bukankah dulu kak Nia pernah menanyakan hal yang sama ya...tentu kakak masih ingat kan jawaban Miko apa waktu itu?"


"Kak...apa di rumahmu masih ada beras dan keperluan dapurmu yang lain?" Tanpa basa-basi dia langsung bicara pada intinya.


Aku diam dan kembali mengingat bahwa masak subuh tadi memang beras di rumah hanya tinggal sekilo, telur tinggal 3 butir yang kudadar untuk bekal makanku juga untuk makan anak-anak di rumah.


Dia menoleh memandangku yang tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Ck..ck..kamu kelamaan mikir sayang...." Dia mendorong kereta kearah kebutuhan dapur.


Aku bergeming mendengar sebutan yang baru dia ucapkan tadi..."


"Sayang....? Dulu aku yang sering menyebutnya begitu jika aku lagi kesal padanya, sekarang dia yang menyebutku begitu."


Diambilnya beras, gula, minyak goreng, telur dan mie instan. Lalu setelah dirasanya cukup didorongnya kereta belanjaan kekasir.


"ibu beruntung punya suami yang mau belanja sendiri keperluan dapurnya." Kata mbak kasirnya sambil tersenyum memandang kami.


"Hah..." Aku tergagap...tapi Miko cepat tanggap.


"Iya mbak...Istri saya sedang hamil muda jadi kasiankan kalau belanja sendiri."


Aku mendelik memandangnya...apa-apaan sih Miko ini main ngaku aja.

__ADS_1


"Totalnya 300 ribu rupiah pak..." Dia mengambil tiga lembar uang ratusan dari dalam dompetnya dan segera membayar.


"Mas bisa sekalian bawakan ke mobil saya kan?" Lalu belanjaanku diangkat pelayan toko yang laki-laki ke mobil Miko.


"Apa-apaan sih kamu Ko...bilang suamiku segala, pake bilang aku hamil muda lagi!!"


"Kan dari dulu aku sudah bilang...aku calon suamimu...bukan dia...dia hanya datang sesaat untuk membuat kebahagiaan semu lalu kemudian pergi lagi dan menghilang."


"Sebentar...dari mana kamu tau suamiku pergi?" Aku memutar badanku menghadapnya.


"Lho... Itu kak Nia sendiri yang barusan bilang kalau suamimu pergi."


"Sekarang kita bicara pakai logika dan kenyataan saja kak, seorang istri tugasnya mengurus anak, mengurus suami...intinya mengurus rumah tangganya."


"Jika ada seorang wanita yang telah mempunyai anak, tapi rela meninggalkan anak-anaknya di luar rumah mencari nafkah...menurut penilaianku hanya ada dua kemungkinan...bercerai atau meninggal...ya kan?"


Aku diam lalu membuang pandanganku keluar jendela. Tak terasa mataku berembun mendengar kata-katanya.


"Sudah jangan menangis...aku paling ngga bisa melihatmu menangis, apalagi karena orang itu...ada penegasan juga ada kebencian di dalam setiap kata-katanya."


Lalu kami saling diam tak saling berkata-kata lagi, setelah aku memberi tahu alamat yang dituju.


"Kak..kita sudah sampai...Miko memarkir mobil di samping rumah."


Ketiga anak-anakku lari keluar rumah menyongsongku. Juned dan Syifa tampak habis menangis.


"Mamak...kenapa lama sekali pulangnya...adik-adik sudah pada rewel dan menangis."


"Sudah sekarang tidak usah menangis...Lihat om bawa apa buat kalian?" Miko mengangkat tas snack dan satunya tas isi keperluan dapur."


Syifa dan Juned sontak berhenti menangis...mereka menatap dulu pada Miko..."Om ini siapa?"Juned langsung bertanya.


"Calon ayah kalian..." Dengan entengnya Miko menjawab.


"Miko masuk dulu yuk...nanti kubuatkan minum." Aku segera memutus pembicaraan Miko supaya tidak tambah ngawur."


"Ayo sini sama om!!! Dia masuk sambil menggandeng Juned dan Syifa."


"Om itu siapa mak?" Dina berbisik padaku...


"Teman mamak dulu waktu sekolah..." Jawabku!!! Tak mungkin juga kan aku bilang bahwa Miko itu mantan pacarku."


***Bersambung.....


Tinggalkan pesan cinta untuk author berupa like dan komennya dan jika berkenan berikan juga vote dan favoritenya....Terima kasih🙏🙏😀***

__ADS_1


__ADS_2