Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 149 Kau Mengingatkanku Akan Dia


__ADS_3

Dan tampaknya Niko juga tidak keberatan dengan panggilan itu, bahkan dia sangat menikmati bermain dengan ponakannya yang telah menganggapnya sebagai ayah mereka.


Tadi aku sempat di tegur Niko saat memarahi kedua anak kembarku.


"Bunda...anak-anak itu jangan di marahi, kalau bisa ditegur pelan-pelan saja karena seusia si kembar ini pasti akan merekam semua ucapan orang tuanya."


Ngilu rasa hatiku mendengar panggilan Niko yang sama persis dengan panggilan pada saat Miko memanggilku dulu.


"Niko!!" Kataku pelan.


"Bisakah kamu jangan memanggilku bunda seperti itu?"


"Memang kenapa? Lagi pula aku memanggil begitu hanya di depan anak-anak kok, tenang aja?" Niko lalu masuk ke dalam mengambilkan minum untuk si kembar.


"Permisi...saya mau beli bunga!!" Aku beranjak meninggalkan si kembar bermain lagi berdua.


"Maaf saya mau beli bunganya...bisa minta tolong dipilihkan untuk orang sakit."


Aku meneliti kearah laki-laki pemesan bunga itu. Kok perasaan aku kenal tapi siapa? Dan di mana?"


Dia mengangkat kepalanya dan menatapku, sepertinya dia juga sedang berpikir.


"Maaf...sepertinya saya mengenalmu tapi saya lupa di mana?" Kataku.


"Wajahmu ini mirip seperti teman almarhum suami saya."


Tak lama Niko keluar dan menuju kearahku setelah memberikan minum untuk Miko dan Miki.


"Miko...awet mudanya aja kamu bro!!" Katanya.


"Oh iya...kamu Arman kan? Arman Ananta...kamu teman sekelasnya Miko yang cengeng itu kan?" Tanyaku.


Kembali dia meneliti wajahku. "Iya, kamu mba Sania kan? Saya baru ingat, makanya tadi saya sepertinya mengenalmu.


"Siapa dia Nia?" Tanya Niko.


"Aku Arman Ananta...teman sebangkumu dulu...sombongnya, masa kamu lupa? Atau kamu amnesia?"


"Akhirnya kalian menikah juga, mana ngga kasih kabar mau nikah lagi?" Arman terus nyerocos.


"Dia memang tidak mengenalmu, Arman...karena dia bukan Miko tetapi Niko saudara kembarnya Miko." Jawabku.


"Jadi waktu itu mba Nia menikahnya bukan sama Miko tetapi Niko kembarannya kah?"


Aku tak mampu menjawab pertanyaan Arman. Dan Niko seolah sadar akan hal itu. Dia menepuk bahuku untuk memberikanku semangat.


"Nia memang menikah dengan Miko saudara kembar saya, tapi Miko sudah meninggal dua bulan yang lalu." Jawab Niko.


"Innalillahi Wa Innallaihi Rojiun."


"Maafkan aku ya mba Nia, turut berduka cita ya!!"


"Tapi memang mereka berdua sangatlah mirip, yang membedakan hanya warna kulitnya saja."

__ADS_1


"Kalau Miko berkulit putih sedangkan Niko kulitnya agak eksotis." Kata Arman.


"Siapa yang sakit Man?" Tanyaku.


"Mamaku mba...biasa namanya juga orang tua..." Jawab Arman.


"Berapa anakmu sekarang Man? Kudengar waktu itu kamu menikah dengan Tiara, gimana istrimu sehat aja kan?"


"Aku ngga punya anak mba, Tiara mungkin sekarang sehat!!"


"Kok mungkin sih?" Memang kalian tinggal berjauhan?" Tanyaku lagi.


"Kami sudah berpisah lima tahun yang lalu, sekarang dia sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak."


"Ups...maaf ya Man!! Terus kenapa kamu juga ngga nikah lagi? Kulihat hidupmu juga mapan sekarang." Aku masih ngobrol dengan Arman tanpa menyadari sepasang mata itu sering mendelik tak suka pada Arman dan aku.


"Belum ada yang cocok mba, aku takut gagal lagi seperti dulu." Katanya.


"Iya seperti aku, Man!!" Aku bergumam pelan.


"Ini bunganya sudah jadi, salam buat mamamu ya semoga lekas sembuh."


"Terima kasih mba, aku permisi dulu...mari Niko aku duluan ya?" Lalu dia pamit pergi.


"Arman ganteng ya? Apalah jika dibandingkan dengan aku yang seorang penggangguran ini?" Dia bicara sambil menata bunga-bunga itu.


Aku melongo melirik kearah Niko tak mengerti pada apa yang dia maksudkan.


"Jangan main melulu sayang, makan dulu yuk...ayah suapi...lekas kalian berdua bobo siang."


"Bunda juga makan sana dulu bun...nanti sakit!!" Dia menggendong Miko dan Miki ke dalam dan mengambil makanan untuk mereka.


Airmataku tak terasa mengalir dari kedua kelopak mataku, semakin hari perhatian Niko sudah mirip denga perhatian Miko padaku.


"Sadarlah hati...dia Niko bukan Miko...Mereka sama tapi mereka itu berbeda."


"Bun, ini kuambilkan makanan untukmu...makanlah dulu nanti setelah menyuapi si kembar aku juga akan makan."


"Oh iya, terima kasih ya!!" Aku menyembunyikan wajahku darinya agar dia tak tau kalau aku sedang menangis.


Dia asyik menyuapi Miko dan Miki, setelah selesai lalu dia menidurkan anak-anakku di dalam.


Sementara aku duduk sambil terus melanjutkan lamunanku tentang Miko.


*


*


"Mengapa berkali-kali kuhubungi, tapi telepon bang Miko ngga diangkat ya? Apa dia sudah ganti nomor baru?"


"Ahhh...seandainya bukan karena kebodohanku ketauan selingkuh, tentu sampai kini aku masih bersama bang Miko."


"Apa dia sudah kembali bersama dengan istri kampungannya itu ya?"

__ADS_1


"Ah, bodo amat...aku ngga peduli!! Bang Miko itu milikku dan akan tetap menjadi milikku sampai kapanpun."


"Besok pagi aku akan ke tempat kediaman bang Miko ah...aku kangen banget sama dia...apa kabarnya dia sekarang ya? Sudah hampir setahun kami berpisah."


"Pengennya aku hari ini pergi kesana, tapi perjalanan kesana lumayan jauh."


"Hari ini aku mau kesalon aja ah...mau mempercantik diri dulu sebelum bertemu dengan pujaan hati." Alena nampak senyum-senyum sendiri.


Dia menuju salon langganannya saat dia melihat dua sejoli masuk ke dalam restoran yang letaknya bersebelahan dengan salon langganannya.


"Itu kan si Faisal? Dan perempuan di sebelahnya itu? Pastilah wanita yang dikatakannya sedang hamil anaknya kemarin.


"Aku ikuti ah...aku kerjai mereka berdua biar kapok...berani-beraninya mempermainkan Alena."


Dia sengaja memilih tempat duduk tak jauh dari Faisal dan pacarnya. Alena sengaja duduk membelakangi mereka.


Dia memesan dua gelas jus. Dia sempat menoleh kearah dua sejoli yang asyik suap-suapan makanan itu.


Setelah jus pesanannya datang.


"Mas saya mau pindah tempat duduk bolehkan?" Katanya pada pelayan laki-laki itu.


"Boleh mba, mau pindah duduk kemana nanti saya bantu membawakan minumannya."


"Ngga usah mas saya bawa sendiri saja." Jawabnya.


Alena berdiri membawa dua gelas jusnya, tepat di depan Faisal dan pacarnya...Alena pura-pura limbung dan menumpahkan isi gelas itu ke kepala mereka berdua.


"Mba...punya mata ngga sih? Sengaja ya?"


Mereka berdua emosi dan Faisal melihat kearah siempunya minuman.


Alena menyeringai.


"Iya sengaja...supaya kepala kalian berdua yang tukang berselingkuh ini menjadi adem dan dingin."


"Alena...apa-apaan kamu?" Faisal membentaknya.


"Kalian semua yang ada di sini dengar? Laki-laki ini suami saya, dan wanita ini adalah selingkuhannya...mereka berdua selingkuh di belakang saya saat saya sedang hamil begini."


Alena memperlihatkan ekspresi muka sedih dan pihak yang tersakiti.


*


*


***Bersambung...


*


*


Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya ya reader!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya...😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2