
"Assalamualaikum...Nia...mas sudah dapat kerja sampingan...jadi mulai hari ini mas pulangnya malam...jadi ngga usah ditunggu ya...kasihan kalau kamu ikut menunggu, kalau mau makan duluan aja."
"Iya...mas hati-hati...yang semangat kerjanya, ya..."
"Suara lembut istriku terdengar dari ujung sana...juga terdengar celoteh Dina yang sedang bermain."
"Maaf ya Nia...mas melakukan ini agar kamu tidak usah mencetak bata merah lagi...kasihan kamu dan Dina."
Aku menerima sharelock lokasi dari ibu Kiki. Jalan Cempaka no 12, tidak begitu jauh dari sini...hanya sekitar 7 menit saja ditempuh dengan motor.
"Bismillahirrahmanirahim...semoga lelahku menjadi berkah ya Allah..."
"Ayo pulang Wan...Anto menghampiriku setelah selesai briefing siang."
"Saya ngga pulang To...saya mau lanjut kerja lagi..."
"Mau ngelemburin siapa Wan? Perasaan anak siang masuk semua?"
"Ngga kok...saya dapat kerja sampingan jadi pelayan kafe gitu...tempatnya ngga terlalu jauh dari sini sih!"
"Lumayan buat tambahan uang dapur bro...dia menepuk pundakku...asal ingat jaga kesehatan, ya..!"
"Kok belum pulang Wan? Ibu Feby menyapaku." Karena setahu dia, aku tuh paling semangat kalau mau pulang.
"Ngga pulang Feb, masih mau lanjutkan kerja lagi...jadi mau istirahat sebentar...kerjanya mulai jam 16.00 sore.
"Wuidih...yang lagi kejar dolar...dapat kerja sampingan di mana?"
"Ngga usah mimpi kejar dolar Feb...kejar rupiah aja susah...saya dapat kerja di kafe Pelangi."
"Seingatku kafe Pelangi itu punya ibu Kiki, kan?"
"Iya...Ibu Kikilah yang merekomendasikan saya bekerja di sana."
Feby sedikit termangu...sejauh mana kedekatan ibu Kiki sama Sofwan ya?
"Ya sudah...nih ngopi dulu biar tetap semangat...Feby mengalihkan pembicaraan dan menyodorkan segelas kopi buatku."
"Terima kasih Feb...semoga aja secangkir kopi darimu ini membuat saya tetap semangat...ku kedipkan sebelah mata padanya sembari tersenyum."
Sangking asyiknya ngopi, sampai aku tak memperhatikan semburat merah di wajah Feby.
"Jika mulai kerjanya jam 16.00 jadi pulang jam berapa Wan? Aku menyeruput kopiku perlahan sambil memandang wajah imutnya."
"Sekitar jam 12.00 malam gitu sih..."
__ADS_1
"Emang ngga capek Wan setiap hari pulang larut malam terus?"
"Seminggu jatahku kerja cuma empat hari Feb...karena mengisi kekosongan aja."
"Jadi ada waktu tiga hari untuk berkumpul dengan anak istri di rumah."
"Semangat ya...semoga sukses kerjanya hari ini, Feby menepuk bahuku."
*
*
Besar juga kafenya Kiki ini, aku masuk dan langsung disambut oleh seorang waiters.
"Dengan mas Sofwan ya...sudah ditunggu pak Anton di dalam mas."
"Wuidih...hebat juga mas nya ini...saya aja belum sempat memperkenalkan diri, tapi langsung nebak aja."
Dia tertawa.. "Kenalkankan nama saya Puguh, masnya bisa manggil saya Puguh aja."
"Lha kan namamu memang cuma Puguh doang, pastilah saya panggil Puguh, kan ngga ada tambahan nama lain di belakangnya."
"Eh iya mas saya lupa....dia nyengir sendiri."
"Mari mas sudah ditunggu pak Anton...sekalian ambil seragam kerjanya di belakang."
"Permisi pak bos...Ini mas Sofwan yang sedang ditunggu." Puguh memperkenalkanku.
"Oh iya langsung aja ya mas Sofwan, ambilkan pakaiannya, Guh...di luar sudah banyak pelanggan yang datang.
Aku memakai seragam yang diberikan Puguh...untung aku pernah bekerja sebagai waiters dulu jadi aku tidak canggung lagi.
"Bukan main kafe milik Kiki ini...semakin malam semakin ramai pengunjungnya...suasana yang nyaman disertai alunan musik yang merdu."
"Kakak ganteng...orang baru di sini ya...kita-kita kok baru liat?"
Aku menoleh kearah beberapa anak abg yang menyapaku...bukan main anak-anak zaman sekarang...tongkrongannya di kafe-kafe...coba zamanku dulu jam segini pada pulang dari mushola habis mengaji. Kalau ngga mau mengaji, habis telingaku putus di jewer sama ibu. Mana kakak-kakakku tukang ngadu lagi.
"Iya kakak baru di sini...adik...adik ada yang mau di pesan lagi?"
"Bolehlah kak...kita minta tambah kentang goreng sama pisang crispynya ya..."
"Oke...minumnya ngga nambah? Masa hanya cemilannya aja yang nambah, tapi minumnya kagak?" Aku mulai berpromosi.
"Ih...kakak ganteng bisa aja...boleh deh minumnya..."
__ADS_1
Dari kejauhan pak Anton senyum-senyum melihat cara kerjaku. "Boleh juga anak baru itu...kafe jadi tambah ramai begini."
Aku rehat sebentar sambil meluruskan kedua kakiku...perasaan dari datang sampai sekarang aku berdiri dan jalan mondar-mandir kesana kemari. Sudah hampir pukul 12.00 sudah waktunya aku pergantian shift.
"Mas Sofwan sudah mau pulang? Puguh menyapaku."
"Iya guh, sudah hampir jam 12 malam, oh iya...yang shift malam sudah datangkah?"
"Sudah kak...sudah pergantian shift...ayo kita pulang yuk..."
Aku berganti seragam dan mengambil tasku...rasanya badanku penat sekali. Aku harus cepat pulang...kasihan Nia dan Dina di rumah...baru besok aku harus masuk pagi lagi.
Dirumah sudah sepi lampu teras saja yang menyala...aku membuka pintu perlahan takut mengganggu istri dan anakku.
Aku kaget sekali karena Nia dan Dina tidur di lantai beralaskan tikar, kasihan mereka menungguku. Kupandangi wajah istri dan anakku. Kasihan mereka berdua...betapa aku sangat mencintai mereka berdua...sedih rasanya melihat mereka tidur dirumah kontrakan sempit begini. Tapi mau bagaimana lagi, kami mencari kontrakan yang sesuai dengan gajiku.
Selepas mengganti baju aku berbaring disamping Nia...aku tak berani menyentuhnya takut dia akan terbangun...kulihat wajahnya juga tampak lelah. Ku setel alarm pukul lima subuh, agar aku juga tidak kesiangan besok.
*
*
"Astaghfirullah...kok mas Sofwan ikut baring disini? Aku sampai tidak tau suamiku pulang semalam."
Biasanya setiap dia pulang kerja selalu kusiapkan secangkir teh untuknya, tadi malam aku ketiduran...tubuhku juga lelah sekali.
Aku bergegas ke dapur menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuknya bekerja nanti.
Alarm berbunyi tapi mas Sofwan belum juga beranjak bangun. "Mungkin dia kecapean sekali... pikirku."
"Setengah jam lagi aja baru kubangunkan...Kulihat dia asyik memeluk Dina."
"Mas...mas...bangun...sudah hampir jam 5, mandi sana, sholat subuh lalu sarapan dulu...kopinya sudah Nia siapkan tuh di dapur."
"Iya dek...terimakasih ya...maaf tadi malam kamu tidak mas bangunkan.
"Nia yang minta maaf mas, ngga tau kalo mas sudah pulang kerumah."
"Gimana ditempat kerjanya mas...lancar aja kan? Ngga ada yang godain kan?"
Aku tertawa mendengar perkataannya."Digodain itu wajar-wajar saja dek...namanya juga kerja di kafe...asalkan kita menanggapinya biasa aja lah."
"Kamu percaya aja sama mas...tidak ada terbersit sedikitpun niat untuk selingkuh...hanya akan menghambat rejeki kita aja, Lillahita'ala mas hanya ingin kerja cari uang tambahan buatmu dan Dina.
"Iya mas...aku cuma bercanda saja...gitu aja diambil hati..." Aku tertawa sambil berlalu kedapur.
__ADS_1
...***Bersambung........
Jangan lupa memberikan like, komen, favorit...Agar author tambah semangat untuk menulis....Terimakasih🙏🙏🙏***