
Setelah meneguk air yang disodorkan Juned sampai setengahnya, barulah dia berhenti batuk.
"Kamu dapat mitos darimana lagi kalau pas makan terus keselek itu sedang dirindukan seseorang?" Tanya Nia.
"Ya kata orang sih bun, Dina ngga tau juga benar atau ngganya." Dina nyengir memandangku.
Kami melanjutkan lagi makan dalam diam. Tak lama...
Uhuk...uhuk...
"Air Juned air...kapan perlu bawa segalon-galonnya dan sedispenser-dispensernya kesini, kayaknya bakal ramai nih yang sedang tersedak makanan." Dina berucap sambil menunduk tapi dia tersenyum menahan tawa.
"Tidak bisa kakak...air galon sama dispensernya kan berat, mana Juned kuat mengangkatnya."
Hufftttt....hahahaha
Akhirnya meledaklah tawa Dina mendengar celetukan adiknya.
"Apa sih kak? Bunda batuk-batuk kok malah ditertawakan sih?" Kata Syifa.
"Bunda itu batuk-batuk kangen dek, ngga usah khawatir!! Kata Dina.
"Emang ada batuk kangen kak? Setahu Juned yang ada tuh, batuk kering sama batuk berdahak...ngga ada yang namanya batuk kangen."
"Lha itu batuk bunda ada yang kangen...kira-kira siapa ya? Ayah ngga mungkin, ayah sudah tenang di sana...masa bapak atau om Sultan?" Dina tampak berpikir.
"Atau om Niko!!!"Celetuk Syifa lantang!!
Uhuk...uhuk...
Kini gantian Niko di sana yang tersedak.
"Kamu kenapa? Keselek pentolan baksokah?" Tanya Jonathan khawatir.
"Atau nasi gorengnya terlalu pedas?" Tanya Jonathan lagi.
"Ngga yah...ngga keselek apa-apa kok!! Niko cepat-cepat menegak minumannya.
Jonathan akhirnya hanya geleng-geleng kepala melihat Niko.
*
*
"Nia, maaf ya jika ayah ikut campur dalam kehidupanmu, tapi maukah kamu bergabung dengan ayah dan Niko di Joni flowerist? Dari pada kamu bekerja di kafe.
"Joni itu siapa yah?" Bukannya menjawab, Sania malah balik bertanya pada ayah mertuanya.
"Joni itu, Jonathan Niko...Sania!" Jawab Jonathan.
"Betul Nia, kita ini kan keluarga...dan sampai kapanpun itu!! Janganlah kamu dan anak-anak menjauhkan diri dari kami." Kata Niko.
Aku tampak berpikir, tanpa kusadari mata hazel milik almarhum suamiku itu terus menatapku.
__ADS_1
"Hatiku ingin mengalihkan pandanganku tapi mata ini ingin terus selalu menatap wajahnya." Batinku berbisik.
"Aku tau kamu masih sangat mencintainya Miko, bahkan matamu pun enggan beralih dari wajahnya." Batinnya berbisik lagi.
Aku lalu menatap Niko yang dengan tergesa-gesa mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ah, ayah...bunda sangat merindukanmu...kapan bunda bisa bertemu ayah lagi?" Hatiku terasa nelangsa mengenangnya.
"Sudah hampir dua bulan ayah pergi, tapi mengapa bunda merasa seolah-olah ayah itu hanya pergi bertugas ke tempat yang jauh dan suatu hari nanti pasti akan kembali lagi?"
Aku tau aku hanya berusaha untuk menghibur diriku sendiri, dengan menolak kenyataan bahwa Miko sebenarnya telah tiada dan yang kulihat sekarang hanyalah Niko dan bukan Miko.
Jonathan menepuk pundakku dan segera menyadarkan lamunanku.
"Bagaimana nak? Kamu mau kan bergabung dengan kami? Usaha toko bunga ini juga berkat bantuan modal dari suamimu, sudah seharusnya kamu ikut andil dalam usaha ini."
"Baiklah yah...Sania bersedia." Akhirnya aku mengalah.
Jonathan dan Niko tampak sangat senang mendengarnya.
"Kebetulan sekali besok ayah banyak keluar mengantarkan pesanan...kamu dan Niko bisa menjaga toko ya!!" Aku hanya mengangguk saja.
"Apa yang harus kukatakan pada Sultan ya? Padahal aku sudah menyanggupi untuk bekerja di kafenya lagi." Pikirku.
"Kamu ngga usah khawatir, nanti aku yang akan membatalkan pekerjaanmu di kafe milik Sultan!!" Kata Niko.
*
*
Krompyangggg....
Vas bunga dari kristal itu hancur, pecahannya berserakan di lantai.
"Aku juga bosan dengan pernikahan ini Faisal, kurasa kita sudah tidak ada kecocokan lagi, kurasa lebih baik kita berpisah saja!!" Alena berteriak tak kalah lantangnya.
"Oke jika itu mau kamu, aku akan segera pergi dari rumah ini...asal kamu tau, aku sangat bahagia dengan perpisahan ini!!" Faisal bangkit berdiri menuju kamar untuk membereskan pakaiannya.
"Jahan*m kamu Faisal...mengapa aku dulu bisa terjebak nafsu bersama laki-laki sepertimu?" Alena melemparkan foto pernikahan mereka di atas meja.
Tak lama Faisal keluar membawa kopernya sambil menelpon seseorang.
📱"Halo sayang?
📱"Halo?"
📱"Jemput aku dari jalan xxx no xxx ya!!"
📱"Apakah kamu sudah berpisah dengan istri posesifmu itu, sayang?"
📱"Tentulah sudah, aku tunggu ya...ngga pakai lama...aku sudah kangen sama kamu!!
Teleponpun terputus. Alena menatap antara jengkel dan jijik pada laki-laki yang sudah hampir setahun ini hidup bersamanya.
__ADS_1
Faisal melewati Alena tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Rupanya benar kata teman-temanku yang mengatakan bahwa kamu telah berselingkuh di belakangku." Geram Alena.
"Bukan hanya berselingkuh Alena, tapi sebentar lagi kami akan memiliki seorang baby...dia seorang wanita yang sempurna, bukan wanita mandul sepertimu."
"Suamimu saja mencampakkanmu Alena, sungguh tragis nasibmu." Ejek Faisal.
"Aku bersyukur tidak sampai memiliki anak dari laki-laki sepertimu, Faisal!!" Jerit Alena penuh kemarahan.
Faisal hanya mengangkat bahu tak menangapinya.
Tak lama muncul mobil ayla berwarna merah menjemputnya.
"Selamat tinggal istri mandulku!! Terima kasih atas segala kenikmatan dan tumpangan gratis yang sudah kamu berikan!!"
"Pergilah yang jauh Faisal, mampirlah kalian berdua keneraka, semoga mobil yang kalian tumpangi terlindas truk di jalan."
Berbagai sumpah serapah, di lontarkan Alena, sampai pada akhirnya dia terduduk di sofa dan menangis.
"Bang Miko, aku sangat merindukanmu...bolehkah aku kembali lagi ke rumah kita yang dulu? Aku akan berjanji untuk menjadi istri yang baik dan tak akan selingkuh lagi."
Alena menangis tersedu-sedu mengenang suami sirinya itu tanpa dia tau bahwa orang yang ditangisi tersebut sudah pergi untuk selamanya.
"Aku janji tak akan mengganggu kehidupan kak Sania lagi, bang?" Tangisnya.
"Aku harus kembali kesana, apapun akan aku lakukan walau harus bersimpuh di kakimu bang!!"
"Besok aku harus kesana, tekadnya!!"
*******
Aku sibuk melayani pembeli sementara Niko hanya sibuk bermain dengan dua ponakan kembarnya itu.
Dina, Juned dan Syifa masih bersekolah...ayah Jonathan sedang keluar mengantarkan pesanan bunga untuk beberapa acara pernikahan.
"Ayah...ayah...Iki ama Iko aus..."
Anak kembarku menghentikan permainan mereka.
"Oooh anak ayah haus ya!!! Sebentar ayah buatkan susunya dulu ya!!" Lalu Niko beranjak ke dapur.
Hatiku mendenyut nyeri saat aku mendengar si kembar memanggil Niko dengan sebutan ayah!!
Dan tampaknya Niko juga tidak keberatan dengan panggilan itu, bahkan dia sangat menikmati bermain dengan ponakannya yang telah menganggapnya sebagai ayah mereka.
Tadi aku sempat di tegur Niko saat memarahi kedua anak kembarku.
*
*
Happy reading!! Jangan lupa jejak cintanya ya!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya ya🙏🙏
__ADS_1