
Vina dan Susi keluar dengan wajah merah menahan malu. Niat hati ingin mempermalukan Dina, malah jadi dia yang dipermalukan di depan anak-anak semua.
Saat melewati Dina dia berucap, "kamu jangan main-main denganku brengsek!!" kata Vina.
Lalu Dina menjawab dengan dingin, "kamu yang jangan main-main denganku...putri keong!!" sambil tersenyum smirk.
"Siapa sih itu?? tampak sudah kayak penyihir aja!!" kata Nathan dengan geram.
Tetapi sebaliknya dengan Juma, dia benar-benar kagum pada gadis manis itu. Dengan tenangnya dia menghadapi hinaan tadi.
Tiba-tiba Leo datang menghampiri Dina.
"Din...kamu ngga apa-apa kan?? Keterlaluan memang Vina dan Susi!!" kata Leo berusaha mengatur napasnya.
"Lho...kalian bertiga saling kenal??" tanya Leo saat menyadari Juma dan Nathan berada di dekat Andina.
"Kenal lah...kami dulukan satu sekolah sebelum Dina pindah sekolah kemari." Jawab Juma.
"Boleh aku bergabung di sini?" tanya Leo.
"Silahkan saja...kita di sini semua bersahabat kok!!" jawab Nathan.
"Siapa sih mereka berdua itu, Leo??" tanya Nathan penasaran.
"Pacarnya Leo..." jawab Dina santai.
"Hush...ngawur aja kamu!!" kata Leo.
"Siapa juga yang mau pacaran dengan nenek lampir seperti mereka!!" jawab Leo.
"Kalau seperti kamu, aku mau!!" kata Leo sambil senyum-senyum ngga jelas.
"Nih..." tinju Juma dan Nathan maju bersamaan di depan hidung Leo.
"Rasain!!" kata Dina sambil menyeringai jahat pada Leo.
*****
Tujuh bulan kemudian!!
Aduh....bruak....
Sania jatuh di depan pintu dapur sambil memegangi kepalanya. Tenaganya seolah habis terkuras. Pandangan matanya berkunang-kunang membuatnya semakin hilang keseimbangan tubuhnya.
"Bunda....!!"
Juned yang kebetulan lewat mau kedapur spontan berteriak melihat bundanya tergeletak tak sadarkan diri.
Ada darah di keningnya karena tadi sempat terhantam lantai dengan cukup keras.
Mendengar teriakan Juned, ibu Intan dan yang lain lari keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa dengan bundamu, Juned kata ibu Intan dengan sigap dibantu oleh kak Della dan Dina akhirnya dibaringkan di kamar.
Saat Sania sadar, ibu Intan mendengar percakapannya dengan Della dari balik pintu.
"Nia...kakak lihat sakitmu kian hari kian parah...memang sudah mantapkah hatimu untuk terus mempertahankan kandunganmu??" tanya kak Della.
Ibu Intan terperanjat saat mengetahui kondisi menantunya itu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kak...biarkan dia hidup dan melihat dunia, perjalanannya masih panjang...sementara aku?? hamil atau tidakpun aku juga akan mati kak...karena kankerku ini sudah tahap stadium akhir." Kata Sania berusaha tabah walaupun air mata membanjiri pipi tirusnya.
Ibu Intan yang bersandar dibalik pintu tidak tahan lagi untuk keluar menghampiri Sania dan kak Della.
"Ibu!!" kata Sania dan kak Della berbarengan.
"Nia...jika kamu tidak mampu untuk mengandung sebaiknya niatmu itu jangan diteruskan!!" ibu mertuanya itu memeluknya dengan erat.
"Jangan bu...Riko sangat menginginkan bayi ini sebagai teman Raftar, Nia tidak mungkin mengecewakan harapan Riko, bu!!" isak Sania.
"Tetapi nyawamu sebagai taruhannya, Sania!!" jawab ibu Intan.
Berdoa saja semoga semuanya selamat bu!!" jawab Sania berusaha membesarkan hati ibu mertuanya.
Dan satu lagi Sania mohon tolong Riko jangan sampai tau jika penyakit Nia ini sudah parah, bu!!" katanya sambil berusaha terlihat tegar.
*****
Cepat sedikit, Johan...tadi ibuku mengabarkan bahwa istriku jatuh pingsan lagi!!" Riko tampak sangat cemas.
"Iya..iya sabar bos...ini juga kecepatan mobil kita di atas rata-rata!!" kata Johan.
"Mah...semoga mamah ngga apa-apa...papah takut akan sakitnya mamah!!" Johan menangkap kegelisahan di wajah bosnya itu.
Begitu sampai di depan pintu rumah Riko lari masuk tanpa mengucapkan salam lagi seperti biasanya.
Dia berlari menuju kamar istrinya. Dibukanya perlahan pintu kamar itu.
Sesosok wajah pucat pasi terbaring meringkuk di atas tempat tidur.
Riko menangis melihat sosok istrinya yang sekarang. Riko bukannya tidak tau bahwa hidup istrinya tak akan bertahan lama lagi, dia tau tapi dia berusaha seolah tidak tau karena dia tidak mau menambah beban pikiran sang istri.
Perlahan Riko masuk. Setelah terlebih dulu membersihkan diri lalu dia berbaring di samping Sania.
Dibelainya pipi wanita yang telah berhasil membuatnya menjadi seorang ayah, berhasil membuatnya untuk tidak menjadi seorang player lagi.
Sania menggeliat lalu perlahan membuka matanya.
"Papah...sudah pulang??" Sania berusaha duduk tapi di tahan oleh Riko.
"Ngga usah duduk...berbaring saja, mamah masih nampak lemas!!" kata Riko pada istrinya.
Mamah belum menyiapkan makan malam buat papah." kata Sania.
Sstt...
"Papah tidak ingin makan, papah hanya ingin berbaring di samping mamah saja, memeluk mamah...merasakan tendangan jagoan papah!!" kata Riko membelai perut istrinya yang usia kehamilannya sudah menginjak tujuh bulan.
Entah karena berbaring dekat suaminya maka Saniapun kembali tertidur.
Dan tak lama karena lelah maka Riko segera menyusul istrinya tertidur.
******
"Aku ada di mana sih?? tempat ini sunyi sekali tetapi terasa begitu sejuk, tenang dan damai!!" gumam Sania.
"Eh tapi aku tidak sendiri...itu seperti ibu dan bapak di kejauhan dan hei...bukankah itu mas Sofwan dan ada ayah Miko juga, eh itu bukannya yang lagi duduk di atas batu itu Sultan?" kata Sania merasa sangat senang telah bertemu dengan orang-orang yang dia cintai.
Lalu Sania menghampiri mereka semua.
__ADS_1
"Sania anakku, kami semua menantimu...kita akan pergi bersama..." kata ibu Kamsiah.
Ketiga lelaki yang dia cintai itupun mendekat dan menyapanya.
"Mas Sofwan, ayah, Sultan...apa kabar kalian?? Sania kangen sama kalian semua!!" kata Sania tersenyum bahagia.
"Ayah juga kangen banget sama bunda...sudah lama ya kita tidak bertemu, bun!!" kata Miko.
"Bunda sekarang terlihat semakin kurus...maafkan ayah yang terlalu cepat meninggalkan bunda, seandainya ayah tidak cepat pergi tentu bunda tidak akan berjuang sendiri seperti sekarang ini!" kata Miko sambil membelai kepala istrinya dengan sedih.
"Ayah tenang saja...bunda tidak sendiri kok, ada anak-anak juga ada Riko menemani bunda!!" kata Sania.
"Iya ayah tau...Riko laki-laki yang baik dan bertanggung jawab!!" kata Miko.
"Ya sudah, untuk sementara kami pergi dulu...sampaikan salam ayah untuk anak-anak ya bun, terutama untuk anak kembar kita Miko dan Miki, maaf ayah tidak diberi kesempatan untuk ikut merawat mereka sedari bayi dulu."
"Kita pergi dulu, suatu hari kami akan menjemputmu, dek...jaga dirimu baik-baik!!" kata mas Sofwan sambil tersenyum.
Sultan hanya tersenyum sambil memandangi Sania. Lalu mereka semua melangkah pergi meninggalkan Sania sendiri.
"Jangan pergi...jangan pergi!!" lirih Sania dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mengalir deras di dahinya.
"Mah...mamah..." Riko mengguncang pelan lengan istrinya.
"Bangun mah...mamah mimpi apa??" tanya Riko.
Dia nampak cemas, tubuh Sania tampak menggigil seperti orang sedang demam, dahinya mengeluarkan keringat dingin.
"Mah...mamah...bangun...jangan buat papah cemas!!" Riko mengguncang sedikit lebih keras!!
Mata Sania terbuka lalu memandang sekelilingnya.
"Hanya mimpi!!" desisnya.
"Minumlah dulu mah!!" Riko menyodorkan segelas air putih pada istrinya supaya bisa lebih tenang.
"Terima kasih pah!!" kata Sania.
"Mamah mimpi buruk??" tanta Riko.
"Sebenarnya bukan mimpi buruk...mamah mimpi didatangi oleh ayah dan ibu, lalu ada mas Sofwan, Sultan dan ayahnya Miko dan Miki!!" jawab Sania.
Riko termangu mendengar perkataan istrinya.
"Apakah sudah akan tiba waktunya??" Riko membatin sedih.
"Rasanya aku belum siap bahkan tak akan pernah siap jiwa dan ragaku jika aku harus kehilangan dia, ya Allah!!" desis Riko sambil memandangi wajah istrinya yang semakin hari kian memucat.
"Papah kenapa?? kok nampak sedih seperti itu??" tanya Sania pada suaminya.
"Papah sekarang takut jauh dari mamah, takut sewaktu-waktu mamah pergi papah tak ada di samping mamah!!" ucap Riko pelan seolah menahan beban berat di dalm hatinya.
*
*
***Bersambung...
Pertandakah?? akankah Sania pergi bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya??
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya, reader🙏🙏