
Perlahan Jonathan mendekati sosok yang duduk di samping pintu sambil memegang ke dua lututnya itu....
"Mira...ngapain malam-malam hujan-hujan nongkrong di situ?"
Mira Maharani mendongakan kepalanya memandang ke arah datangnya suara yang menyapanya.
"Jona..." Mira berdiri lalu lari dan memeluk Jonathan.
"Ada apa Mira? Ayolah kita masuk dulu dan bercerita di dalam saja.
Jonathan membuka kuncian pintu dan mempersilahkan Mira masuk ke dalam. Dia nelihat ke arah tas kresek yang di bawa Mira.
"Apa isi tas kresekmu itu Mira? Jonathan bertanya setelah mempersilahkan Mira duduk.
"Ini pakaian semua Mira punya..."
"Lho....emang kamu kabur dari rumahkah? Kok bawa pakaian segala?"
"Iya Jona...karena saya hendak dijodohkan dengan anak teman kolega bisnis papi."
"Mira, apapun yang di inginkan oleh orang tua kita adalah untuk kebaikan kita juga."
"Mira masih untung masih punya orang tua yang lengkap, kalo saya hingga detik ini tak tau siapa ibu yang sudah melahirkan saya lalu kenapa ibu tega membuang saya di depan pintu panti asuhan."
"Apakah Jona sudah lupa?" Tanya Mira.
"Soal apa Mira?"
"Bukankah minggu lalu Jona sudah meminta Mira untuk menjadi istri Jona? Itulah sebabnya Mira tak mau lagi menerima lelaki manapun selain Jona."
"Ya Allah Mira...waktu itu saya cuma bercanda...lagi pula mana mungkin wanita secantik kamu, sekaya dan sepintar kamu, mau dengan pemuda miskin seperti saya?"
Kulihat Mira menangis, ada rasa bersalah dalam hatiku telah membuat wanita cantik yang ada di depanku ini bersedih dan terluka oleh ucapanku.
"Ya sudah...sekarang bawa tasmu ke dalam kamar, saya akan menyiapkan makan malam dulu...kamu tidurlah di kamar dan saya tidur di ruang tengah saja."
Malam itu hujan semakin turun dengan derasnya. Sebelum aku tidur aku kembali mengecek Mira di kamarnya. Alangkah kagetnya aku melihat tubuh Mira menggigil. Ternyata dia demam. Aku mengompresnya dan menjaganya semalaman.
Karena aku juga lelah dan mengantuk tak sadar aku ikut tidur di samping Mira.
"Jona??? Apa yang sudah kita lakukan semalam??" Mira menjerit di tempat tidur.
__ADS_1
Aku yang baru saja bangun karena kaget mendengar teriakannya otomatis ngga connect dengan apa yang di maksud Mira.
"Melakukan apa? Saya tak merasa melakukan apa-apa?" Kataku.
"Pokoknya Mira ngga mau tau, Jonathan harus menikahi Mira, Mira malu jika sampai ada yang tau kita sudah tidur bersama."
Mira terus menangis...dan aku semakin bingung karena aku merasa tak melakukan apapun padanya.
"Oke...oke..." Akhirnya aku menyerah. "Kita akan menikah, tapi bagaimana dengan ke dua orang tuamu?"
"Kita menikah di penghulu saja dulu Jona, supaya kita sah menurut agama." Kata Mira.
"Waduh...kok pinteran dia dari pada aku ya?? Aku aja ngga paham soal pernikahan!! Batinku.
"Kamu mandilah duluan, kita akan pergi ke rumah penghulu untuk menikahkan kita...setelah kamu mandi saya juga akan mandi."
Di dalam kamar mandi, Mira tersenyum-senyum...hilang sudah ekspresi sedih dan air matanya tadi.
"Maafkan Mira ya Jona, Mira melakukan ini karena Mira sayang sama Jona...Mira sudah jatuh cinta pada Jona sejak kita pertama bertemu seminggu yang lalu."
"Mira hanya ingin menikah dengan Jona, dan bukan dengan Alvino Sarendra."
Sementara aku pusing tujuh keliling. Bagaimana ngga pusing, aku tak pernah mimpi untuk menikah...pacar saja aku tak punya, apalagi mau nikah? Mau nikah sama siapa? Sama pohon!!
Mira sudah keluar dari kamar mandi dan sudah semakin cantik walau tanpa polesan apapun.
"Ayo Jona lekas mandi, lekas kita berangkat."
"Mira kita singgah sebentar ke pasar ya!!" Ucapku.
"Memang rumah penghulunya dekat pasar ya, Jona?"
"Bukan Mira, tapi ada yang mau saya belikan untukmu sebagai mas kawinnya."
Sampai di pasar aku mengajak Mira singgah ke toko perhiasan. Kubelikan dia sebuah cincin dan kulingkarkan di jari manisnya.
Dia tampak senang sekali memakainya. "Mira akan selalu memakainya walaupun suatu hari nanti kita tak bersama lagi, Jona!"
Aku terharu mendengar perkataannya. sepuluh tahun di New York tak membuat dia lupa pada adab ke timurannya.
"Karena kami tak membawa saksi, akhirnya di ambilah saksi dari tetangga pak penghulu. Dengan alasan kami menikah karena orang tua jauh, kami takut berbuat zina.
__ADS_1
Mira tampak bahagia sekali walaupun pernikahan kami tak direstui oleh ke dua orang tuanya.
"Mira, mulai sekarang ganti panggilannya...jangan Jona lagi...panggil mas ya...kan Mira sudah sah menjadi istri mas, dan mas akan memanggil Mira dengan sebutan adek."
"Adek terserah mas aja...."
Sementara di kediaman tuan Napoleon...
"Dasar anak durhaka...anakmu itu betul-betul keterlaluan, mi...mau taruh di mana mukanya papi ini dan apa yang harus kita bilang pada keluarga pak Samuel?"
Asisten rumah tangga sampai sekuriti kena amuk oleh tuan Napoleon karena dianggap tak becus bekerja sampai-sampai Mira bisa pergi dari rumah tidak ketauan siapapun.
"Kalau sampai ketauan dengan siapa Mira kabur, papi tak akan ssgan-segan memasukan laki-laki itu ke dalam penjara." Gigi tuan Napoleon sampai bergemeletuk karena menahan amarahnya.
"Dek, mas mau berangkat kerja dulu ya!! Ingat ngga usah keluar rumah kalau mas ngga ada...kan semua kebutuhan dapur sudah mas siapkan."
"Mas takut orang-orang suruhan papimu akan menemukanmu."
Sudah dua bulan sejak kepergian Mira dari rumah, kini Mira tengah mengandung bayi mereka. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke lima.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai akhirnya tercium juga. Mungkin pepatah itu benar karena di sore itu saat aku baru saja pulang bekerja, di rumah kontrakan telah ramai.
"Ada ramai-ramai apa ya?" Perasaanku mendadak jadi tak enak.
"Nah itu laki-laki yang telah membawa Mira kabur..." Telunjuk tuan Napoleon lurus mengarah padaku yang baru saja tiba.
"Pi, Mira sudah katakan...Jonathan tak salah dalam hal ini, Miralah yang harus di persalahkan."
Hampir aku jadi bonyok dipukuli oleh orang-orang tuan Napoleon.
"Jika orang-orang papi berani menyakiti mas Jona sehelai rambut saja...maka Mira akan bunuh diri bersama bayi yang Mira kandung di dalam rahim Mira ini.
Tuan Napoleon mengerenyitkan dahinya. "Kamu hamil?"
"Iya pi, Mira hamil anak mas Jonathan...usia kandungan Mira hampir berjalan dua bulan.
Tuan Napoleon menarik napas berusaha menahan kemarahannya.
"Oke...papi kasih waktu sampai anak kalian berumur setahun. Setelah itu kalian harus bercerai, jika tidak maka suamimu lah yang akan menanggung semua akibatnya.
***Bersambung....
__ADS_1
Happy reading ya guys...semoga suka dengan karya-karyaku ya guys. Jangan lupa tekan like, favorit. rate berikan komennya dan votenya...terima kasih🙏🙏🙏