
"Aku sangat bahagia sempat mengenalnya, berada di dekatnya...walaupun kami tidak di takdirkan untuk hidup bersama tapi aku sangat lah bahagia.
"Iya...dia memang lelaki yang sangat baik sehingga Allah cepat memanggilnya.
*
*
Seminggu telah berlalu semenjak kepergian Sultan. Semuanya terasa berat bagi Sania untuk melalui hari. Karena selama ini Sultan selalu memegang peranan penting untuknya, selalu ada saat dibutuhkan, selalu membantu walau tanpa diminta.
Suatu sore yang cerah...
Tok...tok...tok
Sania yang memang kebetulan ada di ruang tamu beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum Salam..." iya cari siapa?" tanya Sania pada seorang lelaki yang datang.
"Maaf apakah ini rumah ibu Sania Marfu'ah??" tanya lelaki itu.
"Iya saya sendiri, ada perlu apa ya mencari saya?" tanya Sania lagi.
"Ehhhmmm bolehkah saya masuk bu!!" katanya.
"Oh, maaf sampai lupa untuk mempersilakan masuk....mari silakan masuk, pak..."
"Ada perlu apa ya bapak mencari saya?" tanya Sania setelah mempersilakan tamu itu duduk.
"Bu, saya minta maaf baru bisa berkunjung kemari, saya hanya mau menyampaikan pada ibu tentang wasiat dari pak Sultan.
Dia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan map berisi surat-surat.
"Ini buku harian dan sepucuk surat dari almarhum, silakan nanti ibu baca dan ini ada berkas yang harus ibu tanda tangani." Lalu dia menyodorkan berkas di tangannya pada Sania.
"Ini maksudnya apa pak? mengapa kafe dan seluruh pengelolaannya diserahkan ke saya?" tanya Sania tak mengerti.
"Itu pesan almarhum sebelum meninggal, bu!! karena almarhum sudah tidak mempunyai anak dan istri."
"Tapi Sultan masih mempunyai kakak, kenapa tidak diserahkan saja pada kakaknya? saya kan jadi ngga enak!!" kata Sania.
"Justru ini semua adalah berdasarkan juga pada pertimbangan keluarga beliau."
"Beliau ingin anda meneruskan usaha kafenya karena beliau mempercayai anda!!"
Aku terdiam sambil membaca berkas itu. Akhirnya akupun menanda tanganinya walau dengan berat hati.
Setelah aku menyerahkan kembali berkas pada laki-laki yang merupakan pengacara Sultan lalu dia pamit untuk pulang.
Aku membuka dulu sepucuk surat dari Sultan itu. Perlahan aku membaca isinya dengan menahan keharuan.
Dear Saniaku...
Jika kamu membaca suratku ini berarti aku sudah tak ada lagi di dunia ini.
Aku cinta, aku sayang padamu dan anak-anakmu. Sangking terlalu sayangnya aku sampai tak berani untuk mengungkapkannya padamu.
Aku tak ingin kamu terluka lagi saat aku tinggalkan pergi.
Yang jelas walaupun aku jauh darimu tetapi aku akan selalu dekat di hatimu.
Jika aku pergi jangan pernah menangis ya...nanti aku tak akan tenang di duniaku yang baru jika selalu mendengar kamu menangis
Love you
SULTAN
__ADS_1
Aku terisak dalam diam mendengar pengakuan Sultan yang memang sudah sangat terlambat itu. Lalu aku beralih ke buku harian berwarna biru laut itu.
Pov Sultan
Senin, 14 januari 2019
Aku sedang memeriksa hasil ulangan murid-muridku saat kak Tini kedatangan tamu seorang wanita yang tengah hamil.
Aku tak akan pernah lupa saat kami berkenalan dan dia menyebutkan namanya.
Sania...
Pertama aku melihatnya, aku langsung jatuh hati pada kelembutan sikapnya dan pada bening kedua bola matanya.
Dia sedang menangis sambil menceritakan kisah hidupnya.
Dia mengatakan bahwa Miko suaminya telah menikah lagi dan membawa istrinya tersebut untuk tinggal bersama dengan mereka.
Mendengar hal itu aku yang sebagai lelaki saja sangat marah pada orang yang di sebut bernama Miko itu.
Alangkah bodohnya dia menyia-nyiakan permata seindah wanita di depanku ini.
Seandainya boleh ingin kuhapus air matanya dengan kedua tanganku ini.
Senin 28 Januari 2019
Aku tuh seneng banget karena hari ini karena aku dan Sania membuat janji untuk pergi naik angkutan umum bersama anak-anaknya menuju alun-alun.
Sepanjang perjalanan gadis kecilnya yang bernama Dina selalu menggodaku dan bundanya.
Sampai supir angkutan umum pun mengira kami adalah pasangan suami istri dan anak-anak kami.
Aku melihat rona merah di wajah cantik nan ayu itu. Rona malu karena ketauan kami berpegangan tangan๐๐๐๐
Aku juga jadi ikutan malu jika ingat saat-saat itu. Saat termanis yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hayatku.
Sabtu 23 februari 2019
Sania dan Dina hari ini mulai bekerja di kafeku. Sebenarnya aku sangat ngga tega melihatnya dengan perutnya yang mulai membuncit harus bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
Di mana suami jaha*nam yang bernama Miko itu? teganya dia melihat istrinya bekerja seperti ini๐ก๐ก
Aku mendengar dia bernyanyi sambil kuiringi dengan gitarku. Suaranya begitu indah dan merdu bahkan bulu romaku merinding mendengar penghayatannya.
Pengunjung banyak yang meneteskan air mata mendengar dia bernyanyi termasuk aku, seolah akulah yang merasa tersakiti dalam hal ini.
Minggu 31 maret 2019
Hatiku sakit melihat laki-laki itu mendatangi rumahnya dan memohon-mohon seperti anak kecil agar Saniaku mau kembali lagi ke rumah mereka.
Ingin rasanya kutonjok laki-laki brensek yang bernama Miko itu. Mentang-mentang keren, ganteng dan kaya lalu mau seenak-enaknya memperlakukan istrinya.
Jika kamu sudah tak cinta lepaskan dia, aku akan dengan senang hati melamarnya untuk menjadi pendamping hidupku.
Minggu 2 juni 2019
Aku panik sekali hari ini, Sania akan melahirkan dan aku sangat panik, takut jika wanitaku itu tak bisa melewati masa kritisnya apalagi setelah operasi dia dinyatakan koma.
Dan aku lebih murka pada Miko karena dialah penyebab Sania mengalami pendarahan hebat.
Di saat Sania membutuhkan pertolongan dia malah bercinta dengan istri mudanya...cisshh...laki-laki macam apa kamu Miko๐คฌ๐ก๐ก
Aku yang terpontang panting mengkhawatirkannya.
Tapi aku sekaligus bangga dan bahagia aku di minta oleh dokter mengazani bayi kembar yang tampan itu๐๐
Aku serasa menjadi ayah dan suami yang lengkap dan bahagia.
__ADS_1
Tetapi Saniaku belum juga tersadar dari komanya, bagaimana ini๐ญ๐ญ
Rabu 5 juni 2019
Gila...ada yang mau mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada Saniaku.๐ก๐ก
Aku geram dan kesal bagaimana mungkin di rumah sakit ini bisa menyusup seorang pembunuh?
Terlebih lagi aku tak bisa menangkap si pembunuh itu, dia terlalu cepat menghilang di dalam kegelapan.
Hampir saja Saniaku meninggal dunia karena itu.
Dan si pembunuh datang hampir bersamaan dengan kedatangan Miko ke rumah sakit, mungkinkah itu istri keduanya Miko?
Minggu, 7 juli 2019
Hatiku sedih saat melihat Miko berbaikan kembali dengan Saniaku.
Tetapi aku juga bahagia, akhirnya Miko sadar siapa sebenarnya wanita yang benar-benar dicintainya.
Aku rela menyimpan sendiri kesedihanku asal aku melihat Saniaku bahagia.
Aku sebagai saksi saat mereka berdua melangsungkan pernikahan kembali.
Apa kabar dengan hatiku? tentu hatiku sakit, aku juga manusia yang bisa marah, emosi dan kecewa.
Aku mulai menjaga jarak begitupun dengan Sania. Kami saling menjauh satu dengan yang lain.
Aku sangat kesepian, aku merindukan hari-hari bersamanya dan anak-anak. Tetapi sekarang Miko sudah kembali bahkan mereka tinggal di rumah Sania bukan di rumah utama bersama siapa itu namanya!! Oh iya, namanya Alena...
Aku tetap memantau tercintaku dari kejauhan. Entah pura-pura lewat di depan rumahnya atau mengorek keterangan dari Dina.
Minggu 1 oktober 2019
Miko sakit? itu hal pertama yang aku dengar. Kasihan Sania, Miko bersama dengannya hanya untuk mengantar penyakitnya, di rawat oleh istri pertamanya!! Egois...sungguh laki-laki egois
Tapi Sania yah...tetap Sania!! jika hatinya tidak dipenuhi dengan kelembutan dan kasih sayang, bukam Sania namanya.
Lagi-lagi dia memaafkan Miko dan menerimanya dengan tangan terbuka.
Kesabarannya memang patut diacungkan jempol. Berkali-kali tersakiti, berkali-kali pula pintu maafnya selalu terbuka.
Miko...Miko...kamu adalah manusia paling bodoh yang pernah aku kenal. Setelah kamu tau jika kamu sakit, kamu menempel pada Sania seperti benalu๐ก๐ก
Kok aku rasanya kesel banget ya!! entahlah, aku harus apa sekarang.
Selasa 31desember 2019
Miko menghembuskan napas terakhirnya. Hatiku ikut menangis saat kulihat Sania menangis.
Miko...lagi-lagi kamu membuat Saniaku menangis karenamu.
Mengapa kebahagiaan tak pernah singgah lebih lama padanya, ya? sungguh aku sangat kasihan padanya, tapi aku bisa apa?
Aku tetap mengawasi Sania yang hampir pingsan di pemakaman Miko, tapi aku lagi-lagi membenci diriku sendiri yang tak mampu berbuat banyak untuk membantunya.
Aku hanya bisa berusaha untuk menghiburnya agar dia tidak terus tenggelam dalam kesedihannya.
*
*
***Bersambung...
Buku harianmu menjadi saksi bisu, buku harianmu menjadi bacaan untuk pengobat rinduku๐ฅ๐ฅ
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya๐๐
__ADS_1