Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 127 Cerita Cinta


__ADS_3

Alvin memandang iba pada sahabatnya itu. Hidupnya, kisah percintaannya....semua berakhir tragis.


"Aku akan menjaga rahasia ini Miko, aku akan berusaha menjaga dan menjalankan amanat yang kamu berikan."


"Bun, mungkin dalam beberapa hari ini ayah akan di operasi, doakan agar operasinya berjalan lancar ya bun..."


"Ayah tempo hari janji mau ajak anak-anak liburan agar mereka tak suntuk di rumah terus."


"Tentu bunda akan selalu mendoakan ayah."


"Bun..."


"Apa yah? Ayah mau minum?"


"Bunda cintakah sama ayah?" Miko tampak memegang jemari istrinya dan menggenggamnya erat.


"Kalau bunda tidak cinta sama ayah, bunda tak akan mau kembali untuk hidup bersama ayah lagi."


"Seandainya nanti operasi pengangkatan sel-sel tumor di otak ayah tidak berjalan lancar, dan ayah tidak bisa terselamatkan...maukah bunda memenuhi permintaan terakhir ayah?"


"Coba jangan bicara seperti itu yah... jodoh, rejeki, hidup dan mati manusia ada di tangan Allah!! Bunda ngga suka dengar ayah bicara seperti itu."


"Bunda akan selalu mendoakan keselamatan ayah, karena bunda sayang banget sama ayah...."


"Dengar yah, bunda tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi meluncur dari mulut ayah."


Sania menangis terisak. Miko merasa teramat bersalah karena lagi-lagi hanya bisa memberikan tangisan dan air mata untuk istrinya tercinta.


Dengan lemah diraihnya kepala Sania dan diletakkannya di dadanya. Tampak tulang-tulang rusuk Miko semakin menonjol dan perutnya yang semakin rata menandakan betapa kurusnya dia sekarang.


"Bun...terima kasih ya!"


"Terima kasih untuk apa, yah?"


"Karena bunda selalu ada untuk ayah dalam suka dan duka, selalu mencintai ayah walaupun ayah dalam keadaan sakit seperti ini."


Dia membelai rambut istrinya dengan jari-jari tangannya yang kurus.


"Bun, ceritakan buat ayah dong!!"


Aku mengangkat kepalaku. "Cerita tentang apa, yah?"


"Tentang kisah cinta kita dulu semasa putih abu-abu."


Aku tersenyum kembali jika mengingat semua itu.


"Ayah dulu adalah siswa yang paling berani...bagaimana bunda ngga bilang ayah pemberani, masih pakai celana biru sudah berani bikin puisi cinta untuk kakak kelasnya...kelas 12 lagi, ngga tanggung-tanggungkan!!"


"Tapi bunda suka kan?? Waktu itu aja ayah ingat wajah bunda jadi merah seperti kepiting rebus!!" Miko tersenyum memandangku.

__ADS_1


"Suka dari mananya, yah?? Yang ada malu iya...apalagi seluruh siswa dan siswi bersorak."


"Terus ayah itu maksa aja kerjanya, kalau ngga mau terima cinta ayah...maka ayah akan ngikutin kemanapun bunda pergi termasuk ke toilet, apa ngga illfil tuh jadinya."


Miko tersenyum lagi membayangkan masa belasan tahun lalu yang tak akan pernah hilang dari ingatannya.


"Kenapa sih ayah suka sama bunda waktu itu? Kan banyak tuh siswi yang seangkatan, kenapa harus bunda yang usianya lebih tua?"


"Ayah juga ngga tau, bun...ayah suka aja waktu pertama kali liat bunda...di mata ayah itu bunda paling cantik di antara anak osis lainnya."


"Pokoknya dalam pikiran ayah saat itu, bunda harus jadi pacar ayah...harus!!"


"Ayah harus menyatakan perasaan ayah ke bunda, soal mau diterima atau ngganya itu urusan nanti yang penting ngomong duluan."


"Gara-gara ayah juga tuh, bunda sering bohong sama ibu, bapak dan kak Dela...supaya ngga ketauan kalau sering jalan berduaan dengan ayah."


Miko tersenyum sambil menciumi rambut istrinya.


"Bun, kalau ayah sembuh nanti...kita ajak anak-anak jalan ke pantai tempat kita suka pacaran dulu, yuk!!"


"Kita kenalkan pada mereka bahwa ayah sama bundanya dulu pacarannya di situ."


"Terus bunda juga ngambek gara-gara ayah kiss pipi bunda untuk pertama kalinya dengan jalan menipu!!"


"Iya ayah curang ihh...." Aku memcubit pipinya.


"Berani ya cubit..cubit ayah...ntar ayah cium baru tau rasa..." Miko kembali menggoda istrinya.


"Iya bun!!!"


"Maukah juga ayah berjanji?"


"Janji apa bun?"


"Janji untuk selalu bersama bunda sampai maut memisahkan kita!!"


"Ayah jangan meninggalkan bunda menikah lagi seperti dulu, ya!!"


"Bunda tidak bisa kehilangan ayah lagi...hiks..hiks..." Sania mulai menangis lagi.


"Cup...cup...jangan menangis bunda...ayah janji kita akan bersama selamanya..."


Sementara dari luar pintu tanpa sepengetahuan kami...


"Miko, kamu dan Sania di takdirkan untuk bersama...mana tega aku mengambil Sania darimu walaupun kamu telah tiada nanti Miko!!"


Sultan berdiri di samping pintu dengan perasaan perih.


"Aku akan memenuhi janjiku padamu untuk menjaga Sania dan anak-anaknya, tapi aku tidak akan menikahinya."

__ADS_1


"Bukan karena aku tak cinta, jujur aku sayang dan mencintai Sania serta anak-anak...apalagi si kembar yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri."


"Aku yang menjaganya waktu masih dalam kandungan, aku yang membawa Sania ke rumah sakit, sampai aku juga yang mengadzani mereka pada waktu lahir..."


"Tapi aku egois jika aku memaksakan Sania untuk menerimaku terlebih lagi untuk mencintaiku."


"Padahal aku tau, dia hanya mencintaimu."


"Semoga kamu cepat sembuh Miko, supaya kalian bisa bersama lagi."


"Semoga ada keajaiban terjadi pada cinta kalian, Miko dan Sania." Sultan tersenyum getir ikut merasakan kesedihan dua insan yang ada di dalam sana.


*


*


"Ayah...kenapa Miko sudah sebulan ini tak pernah kemari lagi?"


Juan berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk di depan kios bunga mereka yang kini bertambah besar dan ramai karena telah mendapat suntikan dana dari Miko.


Dia berjalan dengan bantuan tongkat di tangannya. Bertahun-tahun dia hanya hidup dalam kegelapan tanpa bisa melihat lagi indahnya dunia.


Juan Niko dan Jatmiko sangat mirip satu dengan yang lain, hanya saja Juan lebih manis karena dia sering tersenyum dan lebih lembut, sementara Miko karena sifatnya yang serius dan jarang tersenyum membuat Miko jadi terlihat lebih dingin.


Dan perawakannya, Juan dengan kulit lebih kecoklatan karena sering membantu ayahnya di kios, sedangkan Miko kulitnya lebih putih karena ditunjang juga dengan pekerjaannya di kantor.


"Entahlah Juan, ayah teleponpun dia ngga angkat...biarlah mungkin saudaramu itu sedang sibuk Juan.


"Juan hanya merasa ngga enak hati, ayah...seperti tengah terjadi sesuatu pada Miko."


"Apa kita susul ke rumahnya aja ya yah?? Niko benar-benar khawatir..."


"Ayah ngga tau di mana Miko tinggal Niko, Kita juga lupa bertanya waktu itu."


Niko memandang jauh ke depan walaupun dia hanya melihat kegelapan saja.


"Tenangkan dirimu Niko, jangan gelisah seperti itu...berdoa saja semoga saudaramu baik-baik saja."


"Iya yah..." Jawab Niko. Walaupun pada kenyataannya hati Niko tetap gelisah.


"Aku yakin sekali, sudah terjadi sesuatu dengan saudara kembarku itu."


"Mungkin ayah tidak bisa merasakannya, tapi aku bisa!!"


"Aku merasa Miko tengah kesakitan sekarang..."


Niko mengetuk-ngetukkan tongkatnya kelantai tanda dia sedang dilanda kegelisahan.


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih 🙏🙏


__ADS_2