Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 191 Khilaf


__ADS_3

Vivi cemberut mendengar perkataan Sofwan. Hatinya sungguh tak rela melepaskan laki-laki masa lalunya itu.


"Aku harus mengambil apa yang menjadi milikku lagi...enak betul si Sania itu!! Sofwan milikku dan akan tetap jadi milikku selamanya.


"Pokoknya aku ngga mau tau, nanti malam kamu harus datang!! jawab Vivi.


"Aish...si Vivi selalu saja begitu, sejak dulu tak berubah selalu saja memaksakan kehendaknya."


"Ya sudahlah besok aja aku pergi mungkin benar malam ini aku harus bersenang- senang untuk menghilangkan kepenatan setelah dua minggu ini otak dan tenaga terkuras semua." pikir Sofwan.


Ting...


Sebuah pesan dari Vivi yang mengatakan jam tujuh nanti malam akan menunggunya di lobi.


Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul setengah enam. Satu jam setengah lagi Vivi akan menunggu di lobi hotel. Aku memutuskan untuk menelpon Sania dan anak-anak dulu untuk mengabarkan bahwa besok aku akan pulang.


Tut...tut..tut


"Kok ponsel Sania ngga aktif ya? begitu juga dengan ponsel kak Della dan anak-anak!! pada kemana mereka ya?"


Sofwan tak tau, jiwanya yang terguncang membuat kondisi fisik Sania memburuk. Di dalam dekapan Sultan dia terkulai pingsan dengan napas yang hampir tak ada terasa lagi.


Saat keluar mengikuti Sultan menuju ruang tamu, Sania merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya sehingga membuat mimisannya semakin banyak keluar dari hidungnya.


"Sultan..." hanya kata itu yang sempat dia ucapkan sebelum dia roboh menghantam lantai.


Untungnya saat Sania mengucapkan namanya maka Sultan segera menoleh dan mendapati Sania sudah limbung tak sadarkan diri. Dengan cekatan dia menangkap tubuh ringkih itu dan membaringkannya di Sofa.


Semua panik. Untung Sultan cepat tanggap dan langsung memutuskan membawa Nia kerumah sakit.


Dia menelpon kakak iparnya untuk membawa mobil dari rumah untuk mengantar Sania. Dia dan Della yang pergi kerumah sakit sementara Tini menemani anak-anak di rumah.


"Kasihan sekali nasibnya mba Nia ini!!" kata dokter Alvin.


"Perasaan hidupnya dirundung duka terus, ngga ada enak-enaknya."


"Itulah mengapa saya memutuskan untuk diam dan tak mau menceritakan masa lalunya bahwa dia bukan adik kandung saya dokter...saya takut akan berpengaruh buruk pada kesehatannya." jawab Della.


Sultan hanya bisa memandang iba pada wanita malang itu. Hatinya sungguh sakit melihat penderitaan Sania.


*


*


"Ayo turun...kita berangkat!!"


Panggilan dari Vivi membuyarkan lamunan Sofwan. Sebenarnya dia enggan pergi karena sejak sore perasaannya tidak enak tetapi karena terlanjur mengiyakan diapun juga tak enak untuk membatalkan janji dengan Vivi.


Dengan setengah hati dia turun ke lobi. Di sana Vivi sudah menunggu. Baju yang dikenakan Vivi malam ini sungguh menggoda dengan bagian punggung yang terbuka dan bagian dada yang agak rendah.


Punggung putihnya yang seperti batu pualam tampak bersinar di bawah cahaya lampu begitu pula buah da*danya yang menonjol membuat siapa saja menahan napas melihatnya.


"Bajumu itu terbuka sekali, Vi!!" tegur Sofwan risih saat memandangnya.

__ADS_1


"Sekali-sekali berdandan seksi tak apa kan kata Vivi santuy."


Mereka berangkat ke pub tempat di langsungkannya acara. Mereka berangkat menggunakan taxi online.


Suara musik yang hingar bingar malah membuat kepala Sofwan terasa pusing.


"Minum..." kata Vivi.


"Aku soft drink aja, aku tak terbiasa minum!!" kata Sofwan.


"Kita dansa yuk..." ajak Vivi setengah berteriak untuk mengalahkan suara musik.


"Aku ngga bisa dansa!!" balas Sofwan berteriak.


"Kamu ini cemen sekali!! jadi kebisaanmu apa? jangan-jangan anumu juga ngga bisa berdiri!!" teriak Vivi di sela-sela hentakan musik.


"Anuku apa?" kata Sofwan.


"Ini..." kata Vivi lalu dengan santainya tangan itu memegang bagian bawah Sofwan.


"Vivi...jaga tanganmu!!" teriak Sofwan agak panik juga marah. Karena tak ada perempuan manapun yang berani memegang miliknya selain kedua istrinya.


Vivi tersenyum smirk melihat kepanikan Sofwan. Saat irama musik berubah menjadi melow, dia berdiri merapatkan dadanya yang besar dan menempel erat di tubuh Sofwan sambil tangannya melingkar di leher Sofwan.


Entah karena rasa kangennya pada sang mantan istri yang sejak sore tak bisa dia hubungi membuat Sofwan merasa seolah-olah Sania yang tengah berdiri menempel di hadapannya.


Perlahan bibir mereka saling mendekat entah siapa yang memulainya terlebih dahulu kedua bibir itu bertaut dan menyatu.


Vivi tanggap dengan apa yang sudah diinginkan oleh kekasih masa lalunya itu.


Dia menarik tangan Sofwan menuju ke belakang pub yang memang di sediakan bagi mereka yang sudah kebelet pengen main tapi terlalu jauh untuk menjangkau hotel.


Vivi memberikan beberapa lembar uang merah pada pelayan agar mereka bisa leluasa di kamar tanpa di ganggu oleh siapapun.


Lelaki mana sih yang menolak wajah cantik dan tubuh molek? seberapapun kuatnya Sofwan berusaha bertahan akhirnya pertahanannya pun runtuh juga.


Di dalam kamar yang luasnya kurang lebih 3Γ—3 itu di atas ranjang single mereka berdua berpacu berkejaran bersama nafsu.


Tak ada lagi ingatan tentang anak-anak, tak ada lagi ingatan tentang Sania, yang ada hanyalah percikan-percikan api gairah keduanya yang semakin membara dan membakar tubuh mereka.


Rin*tihan dan desa*han Vivi membuat Sofwan semakin menggila.


Tak henti-hentinya senjata pusaka yang telah lama tak keluar dari sarungnya itu menghunjam bertubi-tubi ke dalam sarung senjata pusaka milik Vivi...membuat si empunya merasakan kenikmatan yang tiada tara dan mereka berduapun telah berkali-kali melepaskan lahar panas itu.


Sofwan menjatuhkan diri kesamping tubuh Vivi yang terbadai tak berdaya di atas ranjang. Keringat mengucur deras dari tubuh keduanya padahal kamar itu ber AC.


Nafsu telah membutakan mata dan menulikan telinganya.


Kekhilafan sesaat membuat dia harus menanggung beban seumur hidupnya.


"Sayang...aku minta pertanggung jawabanmu untuk menikahiku, aku tak mau jika perbuatan kita malam ini membuatku hamil dan melahirkan tanpa suami."


"Aku bukan lelaki pengecut yang melepaskan tanggung jawab begitu saja, Vi...aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku untuk menikahimu."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan rencanamu sepulang dari Jakarta nanti untuk melamar kembali mantan istrimu?" tanya Vivi lagi.


"Aku tidak tau, otak ku tak bisa berpikir lagi..." kata Sofwan.


"Sebaiknya kamu tak usah berpikir, kita ulangi aja lagi yuk kegiatan kita tadi...aku jadi kepengen lagi!!" ucap Vivi lalu merangkak naik dan menduduki Sofwan untuk memegang kendali.


"Maksudmu kamu jadi jokinya dan aku hanya jadi kudanya begitu?" tanya Sofwan.


Vivi hanya tersenyum dan mengangguk lalu bergerak pelan menancapkan senjata pamungkas itu ke sarung miliknya kembali.


Kembali keringat dosa itu mengalir membanjiri tubuh mereka yang seolah tak kenal lelah berpacu bersama malam.


Tak ada satupun yang mau mengalah. Keduanya sama-sama bersikukuh untuk saling berlomba menggoyang untuk menjatuhkan pasangannya.


(Maaf ya sedikit menghalu...sebenarnya author ngga bisa menuliskan yang begini tetapi anggap aja bonus dehπŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™)


*


*


Kita tinggalkan saja dulu Vivi dan Sofwan yang tengah bergelut dengan olah raga malamnya.


"Mah...mamah...sayang!!"


Riko terburu-buru turun dari mobilnya. Dia tadi bergegas pulang kerumah saat wanita yang dicintainya itu sama sekali tak mengangkat telepon darinya.


Hening...


Rumah Sania hanya lampu teras yang menyala tetapi di dalamnya gelap.


Berkali-kali dia mengetuk pintu rumah yang terkunci.


Sampai kemudian ada seorang bapak yang lewat habis pulang dari mesjid menyapanya.


"Mas cari siapa?" tanya bapak itu.


"Ibu Sanianya mana ya pak? anak-anaknya juga ngga ada di rumah?" tanya Riko.


"Kalau tidak salah tadi sore ibu Sania diangkat pak Sultan dan diantar oleh kakaknya ibu Sania dalam keadaan pingsan dan dibawa ke rumah sakit...kalau anak-anaknya paling di rumah iparnya pak Sultan.


"Oh ya sudah kalau begitu terima kasih banyak ya, pak!!" kata Riko lalu bergegas menuju rumah Tini.


*


*


***Bersambung...


Nasi yang sudah menjadi bubur tak akan mungkin bisa berubah menjadi nasi kembali...itulah yang telah di alami oleh Sofwan sekarang.


Lalu bagaimana kelanjutan kisah cinta yang rumit yang menimpa tokoh-tokohnya...


Jangan lupa ikuti terua lanjutannya ya guysπŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2