Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 202 Aku Tetap Mencintaimu


__ADS_3

"Seandainya Maya tidak muncul dalam kehidupanku, tentu saat ini aku sudah berada di sampingnya untuk ikut membantu mengasuh anak-anak!!! " batin Niko dengan perasaan sedih.


"Sekarang untuk melihat merekapun aku harus sembunyi...sembunyi begini, sungguh menyedihkan sekali kisah cintaku!!" Niko merasakan dadanya terasa sesak dengan sesuatu yang coba untuk ditahannya.


Setiap dia mempunyai waktu maka Niko akan menjenguk Sania dan anak-anak walaupun harus dengan sembunyi-sembunyi. Rasa cintanya pada Sania tak akan pernah bisa terganti walau dengan kehadiran Maya sekalipun.


*


*


"Pah, masa kita harus menikah tanpa kehadiran orang tuamu?" tanya Sania di sore itu.


"Ayahku sedang sakit, mah...beliau hanya memberi ijin dari Kuala Lunpur."


"Kita mengadakan acara yang sederhana aja yang penting sah di mata hukum dan negara!!" begitu kata Riko saat itu.


Aku sendiri tak menyangka ini akan jadi pernikahan ketigaku, seandainya mas Sofwan datang tepat waktu sebelum Riko, tentu aku akan memilih dia karena dia adalah bapak dari anak-anakku.


Tapi hingga detik ini, jangankan datang kemari sedangkan kabar beritanya pun tak terdengar lagi. Hanya tempo hari Sultan membawakan titipan dari mas Sofwan oleh-oleh dari Jakarta, saat kutanyakan pada Sultan dia di mana, jawaban Sultan simpel saja.


"Pesan Sofwan kamu tak usah lagi menunggunya, menikahlah jika ada orang lain yang tulus dan sayang padamu...tak usah menungguku karena aku bukan laki-laki yang pantas untuk ditunggu."


Ternyata mas Sofwan tak pernah berubah sifatnya masih sama seperti dulu dan itu membuatku sangat kecewa.


Tak banyak orang yang diundang di sore itu. Sekali lagi kulihat Sultan hadir di acara pernikahanku dengan tabahnya. Ketiga sahabat karibku beserta suami mereka, beberapa tetangga dan paman dari Riko yang mewakili pernikahan keponakannya. Ayah Jonathan dan Juma juga hadir, tetapi Niko sama sekali tak datang untuk menghadiri pernikahanku. Dokter Alvin dan keluarganya juga turut hadir.


Saat kata sah dikumandangkan, Riko memcium keningku dan kedua pipiku. Dengan wajahnya yang berseri walaupun ada genangan air mata di sudut matanya.


"Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun!!" bisiknya ketelingaku.


"Maafkan papah ya mah, seandainya mamah tau kedua orang tuaku tak merestui pernikahan kita ini, sekali lagi maaf jika papah harus berbohong!!" bisik Riko dalam hati saat mengecup keningku.


Aku juga serasa bagai mimpi, bocah kecil yang dulu selalu mengintiliku kemana-mana, makan kusuapi, kumandikan, sampai kunina bobokan, nekat melamarku untuk menjadi istrinya.

__ADS_1


Aku memandang cincin berlian yang melingkar di jari manis tangan kananku. Cincin pernikahanku dengan Miko kugantungkan di atas pigura pernikahanku dengan Miko dulu. Pertanda cincin itu akan menjadi bukti aku tetap mencintainya walaupun dia sekarang ada di alam keabadian.


Riko sendiripun tak keberatan photo pernikahanku dan Mimo tetap tergantung di dinding.


Pernah suatu hari aku bertanya apakah dia tidak cemburu saat melihat photo pernikahan itu?


Jawabannya sederhana saja, "jika Miko masih hidup aku pasti akan cemburu, tetapi sekarang Miko kan sudah ngga ada lagi, jadi untuk apa aku cemburu pada orang yang telah meninggal?" begitu katanya saat itu.


"Selamat ya bunda, papah Riko..." ucap Dina tulus.


Walaupun dia sempat menentang hubunganku dan Riko, tapi pada akhirnya hatinya luluh juga melihat keikhlasan dan kebaikan Riko.


"Pah, jaga bunda kami baik-baik...jangan pernah sakiti bunda seperti mereka menyakiti bunda kami, jika papah melanggarnya, papah akan berhadapan dengan kami semua." Dina berpesan pada Riko.


"Tentu nak, hanya maut yang bisa memisahkan kami berdua...papah janji bukan hanya pada bundamu tapi pada kalian semua!!"


Jederrrr...jederrrr


Bertepatan saat Riko menyelesaikan kalimat terakhirnya, guntur menggelegar di angkasa.


*


*


"Sultan...akhirnya dia menikah juga dengan orang lain???" suara Sofwan serak menahan isaknya sendiri.


Matanya merah saat dia melakukan video call dengan Sultan.


"Terima kasih kamu sudah mengikhlaskannya dan membiarkan dia bahagia, Sofwan!!" ucap Sultan tersenyum walaupun dalam hatinya tak kalah sakit dengan apa yang dirasakan Sofwan.


"Aku berusaha mengikhlaskannya, Sultan...karena jika dia bersamaku kembali tentu akan lebih banyak rasa sakit hati yang akan dia terima...justru malah akan mempercepat kematiannya saja.


Sofwan mengalihkan pandangannya kearah lain tetapi Sultan tau bahwa Sofwan sedang meneteskan air mata.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu laki-laki yang baik, Sofwan...hanya saja mungkin jodoh kalian untuk bersama telah habis cukup sampai di sini saja!!" kata Sultan berusaha membesarkan hati Sofwan.


"Aku telah banyak belajar darimu Sultan, kesabaranmu, ketabahanmu...walaupun sakit kamu tetap berusaha mengikhlaskan dan selalu beranggapan jika dia jodohku, seberliku apapun perjalanan hidup membawa kita dia pasti akan kembali, dan seberapapun perjuangan yang kita lakoni jika kita tidak berjodoh, maka dia juga akan pergi jauh dari kita."


"Walaupun sulit awalnya, ternyata belajar mengikhlaskan akan membuat hidup kita terasa jauh lebih tenang."


"Berapa lama kamu di Yogyakarta, Sofwan?" kata Sultan lagi.


"Aku bukan di Yogyakarta, Sultan...hanya Aisyah yang tinggal di sana bersama kakeknya, aku ada di Batam menggantikan posisi Angga yang sekarang mengurus perusahaan ayah mertuaku di Jakarta."


"Kamu bersyukur memiliki ayah mertua sebaik pak Irawan, walaupun kamu bukanlah lagi menantunya tetapi dia tetap menyayangimu seperti anak kandungnya sendiri dan tetap memberikan kepercayaan penuh kepadamu untuk mengurus perusahaannya...jangan kamu sia-siakan kebaikan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh ayah mertuamu itu, Sofwan."


"Kepercayaan tidak akan pernah datang dua kali, sekali kita berkhianat maka orang akan tetap menganggap kita sebagai pengkhianat walaupun kita berusaha untuk merubahnya."


Wajah Sofwan seperti ditampar mendengar perkataan Sultan yang secara halus telah menyindirnya.


"Tetapi semua perkataan Sultan adalah. benar, dia adalah seorang pengkhianat cinta dan pengkhianat keluarga.


Bagaimana pun suatu hari nanti dia mau berubah, bagi Sania dan ank-anak dia adalah tetap seorang pengkhianat.


"Sampaikan salam ku untuknya ya, Sultan!! Selamat menempuh hidup yang baru dan selamat berbahagia."


Setelah panggilan telepon berakhir, Sofwan duduk meringkuk di pojok kamarnya. Galau, sedih, kecewa, marah terus berkumpul menjadi satu memenuhi otaknya.


"Seharusnya aku yang saat ini duduk kembali di depan penghulu menikahi Sania dan berkumpul bersama lagi dengan anak-anak, bukannya bocah kemarin sore itu!!" Sofwan terus merutuki kebodohannya sendiri.


"Persetan dengan Vivi, yah...mungkin lebih baik aku menyendiri seorang diri di Batam ini!! aku ingin melupakan semua masa laluku, semoga aku bisa bangkit kembali dari keterpurukanku."


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Selamat mengucilkan diri babang Sofwan, semoga dengan kesendirian kamu bisa menyadari semua kesalahanmu!!


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya!!


__ADS_2