Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 177 Keputusan Tersulit


__ADS_3

Orang tua Maya yang tak terima anaknya hamil di luar nikah terus menginterogasi Maya menanyakan siapa ayah biologis dari anak yang dikandungnya itu.


Maya tetap bungkam. Karena dia tau Niko sama sekali tak bersalah dalam hal ini. Toni yang iba pada sahabatnya mendesak Samsuri untuk menutupi aib Maya, karena Toni tau seandainya Samsuri tak berulah malam itu...tentu saja hal ini tak akan terjadi.


"Sam, gue ngga mau tau...loe harus bertanggung jawab atas kehamilan Maya!" Toni menepuk keras bahu sahabatnya itu.


"Lho kok aku yang mesti tanggung jawab sih? Niko yang dapat nangkanya tapi mengapa aku yang kena getahnya?" Samsuri nampak tak terima.


"Hei 123 alias Jie sam soe...kamu nyadar ngga sih? Akibat perbuatanmu yang ngga ada otak dan ngga ada akhlak itu maka hidup Maya dan Niko menderita? Masih nanya juga loe!!" Toni tampak geram dengan ulah temannya itu.


"Jika kamu tak memberi obat laknat itu kedalam minuman mereka, tentu hingga saat ini hidup mereka baik-baik saja.


"Nikahi Maya karena menurut berita yang kudengar, om Jonathan membawa Niko pergi keluar daerah." Toni kembali memberi ultimatum yang tak dapat dibantah lagi oleh Samsuri.


Mau tidak mau Samsuri harus bertanggung jawab atas keteledorannya. Hubungannya dengan sang pacar yang bernama Aminah harus kandas dengan meninggalkan sakit hati dan luka yang mendalam.


Begitu pula dengan Maya. Orang yang sangat dicintainya adalah Niko terpaksa dia harus menikahi Samsuri demi bayi yang ada dalam kandungannya.


Pernikahannya dan Samsuri diadakan secara sederhana mengingat usia mereka masih sama-sama 18 tahun.


***Flashback off***


Jonathan memandang Niko penuh rasa iba. Dilihatnya anak lelakinya itu terduduk lemas di kursi sambil kedua tangannya memegang kepala.


"Lalu kemana sekarang Samsuri suamimu, Maya?" Tanya Jonathan pada Maya.


"Suamiku meninggalkanku saat aku sedang mengandung Diva." Maya berkata pelan.


"Dia meninggal?" Tanya Jonathan lagi.


Maya menggeleng lemah, "dia berselingkuh dengan karyawannya sendiri dan sekarang sudah menikah dan pindah kekota lain."


"Maya, aku akan menikahimu..." Tiba-tiba Niko berdiri dan berucap.


"Juma adalah darah dagingku, walaupun aku tahu dia lahir karena sebuah kesalahan tapi aku akan tetap bertanggung jawab...anggap saja sebagai penebus dosaku padamu belasan tahun lalu."


"Aku ingin menghubungimu Niko tapi kamu dan om Jonathan bagai lenyap ditelan bumi." Kata Maya sambil meneteskan air mata.


"Kami tidak hilang nak, Niko mengalami kecelakaan dan mengalami kebutaan selama belasan tahun." Sahut Jonathan.

__ADS_1


Maya tercengang mendengarnya. Dia memandang Niko dengan penuh rasa iba.


"Aku mau kedalam dulu membuatkan teh untuk kalian, Juma bawa adikmu bermain ya?" Kata Maya lalu masuk ke dapur penginapan untuk membuatkan teh.


Jonathan duduk di sebelah Niko yang masih menutupi wajahnya dengan dua telapak tangannya. Dia tampak sangat terpukul. Dia mengatakan akan menikahi Maya tapi hatinya sendiri hancur berkeping-keping.


"Nak, apa kamu sudah bulat pada keputusanmu untuk menikahi Maya? Lalu bagaimana janjimu pada Sania untuk melamar dan menikahinya? Jika kamu merasa tertekan untuk menikahi Maya mending kamu batalkan saja daripada kamu harus mengorbankan rasa cinta dan perasaanmu sendiri!!"


"Lagian peristiwa itu sudah lama berlalu dan Juma pun sekarang sudah remaja, dan itu semua terjadi juga bukan murni karena kesalahanmu." Jonathan memegang bahu putranya itu.


"Tapi Niko seorang laki-laki, ayah!! Seorang laki-laki sejati harus mempertanggung jawabkan perbuatannya...walaupun Niko tidak bersalah tetapi tetap saja di sini Maya sebagai pihak yang dirugikan."


"Lalu bagaimana dengan Sania? Apakah kamu sudah berhenti mencintainya saat tau kamu memiliki anak dari Maya?" Tanya Jonathan.


"Niko tak pernah berhenti mencintai Nia dan menyayangi para keponakan Niko seperti anak Niko sendiri."


"Niko akan memberikan penjelasan pada Sania semoga dia bisa memahami keadaan Niko sekarang ini." Suara Niko bergetar. Jelas dia berusaha melawan gejolak perasaannya sendiri.


Mata Niko berkabut. Separuh jiwanya seolah pergi saat dia tau akan membatalkan pernikahannya dengan Sania.


"Ayah bangga padamu nak, kamu rela mengorbankan perasaanmu sendiri tapi apa kamu yakin hati Sania tak akan terluka? Dia pernah mengalami luka yang sama yang pernah ditorehkan Miko pada hidupnya dulu, haruskah itu terulang lagi dengan saudara kembar Miko, yaitu kamu?"


"Lalu Niko harus bagaimana ayah? Niko juga tak mungkin mengabaikan Maya dan Juma, ayah?" Jawab Niko.


"Sebaiknya kamu jangan membawa Maya dan Juma dulu saat pulang nanti, supaya Nia tak akan kaget jika tiba-tiba kamu pulang langsung membawa mereka kerumah."


"Baik ayah!!" Jawab Niko tak bersemangat.


Maya keluar dari dapur membawa nampan teh dan camilan lalu ikut duduk bersama Niko dan Jonathan.


"Maya, jika kita sudah menikah nanti...maukah kamu dan Juma tetap tinggal di sini dulu? Ada hal yang harus aku selesaikan dulu di sana!!" Kata Niko.


"Kamu jangan khawatir, biaya hidup kalian akan menjadi tanggung jawabku sekarang!!" Niko menggenggam tangan Maya untuk meyakinkannya..


"Iya...aku dan Juma akan menunggumu di sini Niko...aku percaya kamu tak akan mengingkari janjimu padaku." Maya mengangguk dan tersenyum.


"Okelah besok pagi kita akan menemui orang tuamu!!" Kata Jonathan.


"Ayah dan ibu sudah lama meninggal dunia, om!! Maya menghidupi anak-anak hanya mengandalkan penginapan ini saja." Maya berucap sedih.

__ADS_1


Niko menarik napas. Dia turut prihatin pada nasib ibu dari anaknya itu.


"Jadi kalian bertiga tinggal di sini?" Tanya Niko.


Maya hanya menganggukan kepalanya saja.


"Yah, sepertinya kita harus menunda kepulangan kita, Niko akan mengurus pernikahan Niko dan Maya dulu." Jonathan tak mampu menjawab, dia hanya mengangguk saja. Dia sangat tau berat buat Niko untuk mengambil keputusan ini karena dia tahu betapa besarnya cinta Niko untuk Sania.


*


*


Krompyang....


"Aduh, bunda pelan-pelan dong!! Nanti tangan bunda terluka!!" Juned yang kebetulan sedang minum di dapur terkejut melihat gelas yang di pegang Sania jatuh begitu saja.


Sania terduduk di kursi, tadi dia ingin minum tapi kepalanya mendadak terasa sakit. Dia tanpa sadar meraba di bawah hidungnya. Benar saja darah mimisan itu merembes lagi mengalir begitu saja.


"Kakak...tante Della...hidung bunda berdarah lagi!!" Juned berteriak panik.


Sontak Dina dan Della keluar dari kamar mendengar teriakan Juned.


"Bundamu terluka kah Juned? Kok banyak pecahan beling berserakan di lantai? Tanya Della.


Lalu dia mengambil sapu dan serok untuk membersihkan lantai.


Dina membantu memijit hidung bundanya untuk menghentikan pendarahan.


"Dina, paman Niko dan kakekmu sudah ada menelponkah?" Tanya Sania pelan.


"Belum ada bunda, tumben-tumbennya mereka seharian ngga ada nelpon...apa ngga ada jaringan kali!!" Jawab Dina.


*


*


***Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2